
Arga dengan segera merebahkan tubuhnya di sofa saat baru memasuki kamar hotel. Arga duduk sambil melihat kebakaran yang dapat Arga saksikan dari kamar hotel.
"Apa kau akan menjelajahi seluruh negara bagian?" Bella bertanya kepada Arga Litohu.
"Ya… Aku akan selalu menikmati saat-saat moment seperti ini. Menyaksikan kebakaran di rumah-rumah mereka yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung atas kematian ibuku."
"Cara ini tidaklah efisien… Kau harus memikirkan cara yang lebih efisien untuk membalas kematian ibumu."
Sedangkan Melisa dengan Smith hanya menjadi pendengar dan menyaksikan pembicaraan keduanya. Sebab mereka masih belum begitu paham dengan langkah-langkah yang akan Arga lakukan. Mereka juga belum begitu mengerti dengan kekuatan musuh yang di hadapi oleh Arga.
"Setelah ini, mereka pasti akan lebih waspada lagi. Mereka juga pasti akan meningkatkan keamanan dari semua pemimpin wilayah mereka. Terlebih dengan pemimpin tertinggi. Hal itu juga akan semakin menyulitkanmu. Ini Amerika.. Negara paling maju tentang militer. Jika kamu menghadapi dan membalas dengan cara seperti ini, kau akan semakin di cap pemberontak negara. Bukan hanya pistol yang akan kamu hadapi. Tetapi juga rudal dan senjata-senjata canggih lainnya." Bella memberikan pandangannya kepada Arga.
Sebenarnya, Bella ingin berbicara demikian sebelum Arga pergi ke Springfield. Tetapi Bella mengurungkan niatnya karena tidak ingin membuat Arga marah. Sebab saat itu, Arga terlihat selalu memikirkan pembalasan atas kematian ibunya. Terlebih, saat itu Arga sudah menyiapkan rencana pembalasannya.
Arga nampak berfikir atas masukan dari Bella. Dengan keterbatasan kemampuan, Arga pasti akan terbunuh ketika harus menghadapi senjata yang lebih canggih.
"Baiklah, aku akan memikirkannya lagi nanti. Untuk saat ini, aku ingin menikmati pemandangan yang ada di luar. Aku harus menikmatinya untuk mengurangi rasa sakit di dadaku saat aku mengingat kematian ibuku." Pemandangan yang dimaksud Arga adalah kebakaran atas rumah Kapten Lion.
****
Tring.. Tring.. Tring.. Tring.. Suara handphone pemimpin tertinggi berbunyi. Handphone yang selalu di pegang oleh pengawal pribadinya.
"Hallo."
"Apakah pemimpin tertinggi ada?"
__ADS_1
"Dia sedang beristirahat. Tidak bisa di ganggu." Pengawal pribadi pemimpin tertinggi menjawab dengan tegas. Meski ini adalah telepon kesekian kalinya dari berbagai pemimpin wilayah.
"Ada apa Boris? Sepertinya kau dari tadi sibuk menjawab telepon terus menerus." Pemimpin wilayah yang baru bangun, mendengar boris sang pengawal pribadinya sedang berbicara dengan sangat tegas kepada orang yang menelponnya.
"Maaf tuan, dari tadi beberapa pemimpin wilayah menghubungi tuan. Saya menjawab jika tuan sedang tidur. Bahkan ada beberapa pemimpin wilayah yang memaksa. Hingga saya harus berbicara sedikit lebih tegas lagi."
"Baiklah, hubungi mereka semua jika 30 menit lagi kita akan meeting secara online."
"Siap tuan.."
****
"Kota Springfield… Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ini adalah keberuntunganku." Pitter pemilik sistem mafia membatin saat melihat berita kebakaran di blok st.pierta.
"Kau masih memiliki hutang padaku.." Pitter kembali berbicara setelah orang di dalam telepon menjawab ucapan Pitter dengan gemetar.
"Kau akan membayar atau tidak..?" Pitter kembali berbicara saat orang di dalam telepon memberi berbagai alasan karena belum dapat membayar hutangnya.
"Jika kau tidak memiliki dana yang cukup, aku memiliki tugas untukmu. Setelah tugas ini selesai aku selesaikan, maka hutangmu lunas. Tapi jika gagal, aku tidak lagi menginginkan uangmu. Tapi nyawamu." Pitter menjelaskan hal yang harus di lakukan jika ingin hutangnya dianggap lunas oleh Pitter kepada orang di balik telepon.
"Tugas yang harus kau lakukan adalah, kau harus menemukan Arga Litohu yang kini berada di kotamu, Springfield. Aku saat ini di Chicago. Aku ingin kau menemukan Arga Litohu sebelum aku sampai." Setelah berucap demikian, Pitter menutup teleponnya.
****
"Sial.. Dia sudah berpindah lagi." Lawndoski dan Lukman membatin hampir sama setelah melihat siaran berita terkini saat masih di dalam pesawat.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama menaiki sebuah pesawat tetapi sama-sama tidak tahu jika menaiki pesawat yang sama.
****
"Berberapa hari belakangan ini aku memang tidak berpikir untuk menambah Poin skil yang aku miliki. Aku terlalu fokus membalas dendam dan mengincar nyawa orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan ibuku. Sehingga membuatku tidak berfikir jernih. Caraku yang terlalu bernafsu tanpa rencana yang matang, seakan menggali kubur ku sendiri." Arga membatin saat melihat kebakaran yang dia buat dari jendela.
"Arga, lihat ini." Melisa memanggil Arga saat melihat keluar dari sisi yang lain.
Terlihat titik-titik api bermunculan di berbagai tempat. Saat Arga berusaha memahami dengan kejadian yang dia saksikan, ratusan titik api bermunculan dengan cepat. Bahkan api semakin membesar di mana-mana di seluruh kota.
"Ada apa ini? Apakah ini ada kaitannya dengan kelompok TP&P. Tidak mungkin, bagaimanapun mereka seorang militer. Tidak mungkin mereka membakar fasilitas publik atau properti rakyat." Titik-titik api terus bertambah. Akibat kebakatan di mana-mana, lampu kota menjadi mati. Hingga beberapa detik kemudian gedung-gedung dan usaha-usaha kecil dan menengah kembali menyalakan lampu dengan tenaga diesel atapun batrai yang mereka siapkan. Kini jalanan kota hanya di terangi oleh Lampu-lampu kendaraan yang berlalu-lalang.
Gedung-gedung perkantoran hanya menyalakan lampu seperlunya. Sedangkan gedung-gedung permukiman dan apartemen, menyalakan lampu mereka secara normal dengan mesin diesel dan baterai yang besar. Listrik yang mati, memperparah kebakaran. Sebab bangunan yang memiliki sistem pemadam api elektronik, menjadi tidak berfungsi karena listrik mati. Sedangkan gedung yang memiliki sistem pemadam api sensor, tetap dat menjalankan sistem pemadam nya karena sekali sensor aktif, maka air tidak akan berhenti jika air di tandon tidak kosong.
Saat Arga membatin karena kejadian kebakaran di mana-mana dan di tambah kota yang tidak seterang biasanya, alarm kebakaran gedung berbunyi. Hotel yang di tempati arga juga mengalami kebakaran sehingga memaksa Arga dan lainnya untuk turun.
Smith mengajak Arga dan lainnya untuk tidak menaiki tangga darurat, tetapi menaiki mobil yang terparkir di lantai yang sama dengan kamar Arga berada. Smith meyakinkan Arga dan lainnya untuk menaiki mobil, sebab Smith yakin jika mereka tidak akan selamat jika menuruni tangga darurat karena asap yang akan membumbung ke atas.
Dengan terpaksa Arga dan lainnya mengikuti Smith yang terlihat sangat meyakinkan. Saat sampai di sebelah mobil, Arga dan lainnya melihat jika jalan menuju turun juga macet karena banyak yang ingin keluar bersama mobil mereka. , sedangkan asap sudah mulai sampai di lantai tempat mereka berada.
Saat mereka semua menaiki mobil, Smith menancapkan gas mobil. Tetapi jalan yang di pilih Smith bukanlah jalan untuk turun. Melainkan jalan naik yang mengarah ke atas gedung.
"Kini apa yang akan kita lakukan jika sudah di atas gedung seperti ini. Mencari bantuan juga akan sia-sia karena begitu banyak tempat yang terbakar." Arga bertanya kepada Smith yang tadi memaksanya untuk menaiki mobil.
Mendapati teguran dan pertanyaan dari Arga, Smith hanya menanggapi dengan tersenyum.
__ADS_1