
"Tuan, hidangannya sudah siap. Akan tetapi meja ini tidak akan cukup untuk semua makanan yang tuan pesan. Silahkan tuan pindah ke meja yang sudah saya siapkan." Pelayan wanita berbicara dengan mempersilahkan Arga menuju meja yang sudah penuh dengan makanan terbaik dari tempat tersebut.
"Baik, terimakasih pelayan.
Nona, mari kau ikut denganku. Kita makan bersama." Arga mengajak wanita penghibur tersebut untuk ikut berpindah ke meja yang sudah di penuhi makanan terbaik serta dengan pelayanan terbaik di restoran tersebut.
"Nona, jika nona tidak keberatan. Bolehkah saya mengetahui nama nona?" Arga berbicara dengan mempersilahkan wanita penghibur tersebut duduk. Arga juga melayani wanita penghibur tersebut layaknya pasangannya yang sangat dia cintai. Mulai dari menarik kursi dan mempersilahkannya, membalikkan piring dan mempersiapkan alat makannya baru Arga duduk di kursinya.
Wanita tersebut di buat tersipu oleh Arga. Meski bukan pertama kalinya makan dengan tamu yang akan dia layani. Tetapi dia baru pertama kali mendapat perlakuan layaknya seorang kekasih.
"Riris.. Panggil aku Riris." Wanita penghibur tersebut berbicara memberitahukan namanya setelah Arga duduk di kursinya.
"Aku berasal dari Suriname." Riris melanjutkan kata-katanya dan mengatakan asal negaranya.
"Baiklah nona Riris, mari nikmati hidangannya." Setelah Arga mempersilahkan Riris untuk makan, Arga mempersilahkan Riris untuk mendahului mengambil makanannya.
Arga dan Riris makan dengan sedikit mengobrol santai dan bergurau. Dalam pembicaraan, Arga menanyakan suku dan ras asli Riris. Sebab Arga melihat Riris seperti orang Asia tetapi memiliki darah Eropa. Mendapati pertanyaan tersebut, Riris mengatakan jika dirinya memang memiliki keturunan Asia Eropa. Kakek buyut Riris adalah orang Belanda yang menjajah Indonesia waktu itu. Lalu nenek buyut Riris yang merupakan orang Jawa Indonesia di pindah oleh Belanda ke Suriname ketika sedang hamil dari prajurit Belanda.
Di saat Arga dan Riris sedang enak mengibrol, Bella datang dan langsung duduk berjauhan dengan Arga. Tanpa sepatah kata apapun, Bella langsung saja makan hidangan yang berada di meja tanpa menghiraukan Arga dan Riris. Ketika Riris mau menegur Bella, Arga memberi kode supaya Riris mengurungkan niatnya. Arga juga memberi kode tanpa suara kepada Riris jika Arga mengenal wanita tersebut.
"Pria ini sudah memiliki wanita yang sangat teramat cantik, tetapi dia masih belum puas dan menerimaku sebagai wanita penghibur." Riris membatin di dalam hatinya ketika melihat Bella yang sangat cantik.
__ADS_1
Bella tidak makan banyak seperti biasanya, Bella hanya memakan sewajarnya dengan cepat lalu beranjak dari duduknya dan pergi tanpa mengatakan suatu hal apapun lagi.
"Mengapa dadaku terasa sesak dan sakit saat makan dan melihat Arga dengan wanita lain? Seolah perasaanku memberontak atas kehadiran wanita tersebut di dekat agra. Hhmmmhh.. Apakah ini yang dinamakan cemburu? Tetapi aku tidak boleh membiarkan perasaan ini mengalahkanku. Aku adalah pelindung pemilik sistem. Aku memiliki tugas melindungi Arga sebagai pemilik sistem. Aku harus kuat. Aku harus kuat." Bella membatin di dalam hatinya saat dirinya pergi meninggalkan Arga menuju kamar.
Tempat makan Arga yang menghadap ke jalan, memperlihatkan truk kontainer besar di luar hotel sedang terparkir. Tetapi tidak berselang lama, empat orang pria berjalan dari hotel menuju ke kontainer. Salah satu dari mereka mengenakan baju kemeja berdasi dan sepatu hitam mengkilap. Dan satu lagi membawa buku dan pulpen terlihat bersiap mencatat. Dua orang lainnya membuka pintu kontainer dan terlihat seperti berbicara kepada orang yang berada di dalam kontainer.
Beberapa saat kemudian, wanita muda-muda keluar dari dalam kontainer dengan berbagai macam warna kulit. Hal itu menandakan jika mereka berasal dari beberapa negara di luar USA. Melihat hal tersebut, Arga semakin memperhatikan wanita-wanita yang baru saja turun dari kontainer.
"Siapa mereka?" Arga bertanya kepada Riris.
"Biasalah, wanita baru yang ingin memiliki banyak uang dengan memberi kepuasan kepada pria. Apakah kau ingin memakai beberapa jasa mereka?" Riris menjawab pertanyaan Arga dengan nada suara acuh. Sebab Riris tidak ingin Arga beralih wanita.
"Sebaiknya kita ke kamarmu sekarang saja." Riris yang khawatir Arga benar-benar berpaling darinya, menarik Arga dari restoran yang terlihat terus memperhatikan wanita-wanita yang baru saja keluar dari kontainer.
Arga mengikuti keinginan Riris untuk segera menuju kamarnya. Dalam perjalanan menuju kamar, Arga hanya terdiam seakan memikirkan sesuatu hingga mereka tiba di kamar Arga.
Setelah masuk ke kamar dan menutup pintu, dengan segera Arga mendorong Riris ke ranjang. Dorongan tersebut tidak mendapat perlawanan sama sekali dari Riris dan hanya mengikuti keinginan Arga. Setelah Riris terbaring di ranjang, Arga duduk di sofa dan hanya memandangi Riris yang terbaring pasrah menunggu kelanjutan drama yang di mulai oleh Arga dengan mendorong tubuh Riris.
Riris merlihat Arga hanya terdiam entah hanya memandangnua atau sedang memikirkan sesuatu. Karena Riris merasa Arga terlalu lama untuk melakukan kelanjutannya, Riris menganggap bahwa Arga sedang menunggu permainan gaya Riris.
"Hentikan itu." Arga berbicara saat Riris mulai melepas pakaiannya sendiri. Riris sampai bingung ketika Arga berbicara demikian.
__ADS_1
"Aku membawamu kemari karena aku ingin menyelamatkanmu dari perdagangan manusia." Arga kembali berbicara ketika Riris menghentikan geraknya yang akan melepaskan pakaian.
"Ohh.. Ternyata ada pahlawan kesiangan di sini? Memangnya siapa yang akan kau bebeskan?" Riris menjawab pernyataan dari Arga.
"Diriku? Atau para wanita yang baru saja turun dari kontainer?"
"Semua.. Kalian semua yang terpaksa harus menjual diri atas keinginan penyalur kalian." Arga sudah merasakan ada yang aneh dari jawaban Riris. Tetapi Arga tetap menjawab dengan seharusnya yang memang Arga ingin sampaikan.
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. " Riris tertawa dengan kencang hingga Bella yang berada di kamar sebela mendengar tertawa Riris yang begitu kencang.
"Munaf*k… apakah kau pikir ada yang meminta untuk di selamatkan? Aku… Kami semua di sini menikmatinya. Kami menginginkan pekerjaan ini. Apa kau pikir ada pekerjaan yang lebih nikmat dari pada kenikmatan di ranjang? Selain kenikmatan, kami juga mendapatkan uang. Aku tidak butuh pahlawan kesiangan sepertimu." Setelah mengatakan hal itu, Riris berdiri dari ranjang dan berdiri di depan Arga.
"Mana bayaranku, kau sudah menyita waktuku setara dengan waktuku melayani seorang tamu." Riris kembali berbicara setelah berdiri di depan Arga.
"Berapa bayaranmu? Untuk 1 hari..?"
"Kau akan menyewaku satu hari..? Untuk apa? Jika hanya ingin menyadarkanku atau merayuku untuk pergi dari sini. Itu hanya akan membuang-buang waktumu dan uangmu. Sebab jawabanku pasti tidak."
"Bukankankah itu urusanku? Kau hanya harus menentukan tarifmu, dan aku membayarmu. Bukankah hanya uang yang kau inginkan? Maka aku akan memberinya." Arga berbicara dengan sombong kepada Riris yang mulai tidak menghiraukan Arga dan hanya menghiraukan uang.
"Aku sudah di sini. Aku harus bisa menambah Poin skilku yang telah habis." Arga membatin saat melihat Riris sedang berpikir atas tawaran Arga.
__ADS_1