Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap

Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap
Memaksa Frank Bicara


__ADS_3

"Br*ngsek..!! Pengkhianat." Adline kembali meronta. 


Sedangkan prajurit yang baru datang, semakin yakin saat melihat beberapa orang yang memang bertugas di ruangan tersebut dalam kondisi pingsan. 


"Cepat kalian borgol mereka berdua terlebih dahulu." Frank memerintah prajuritnya untuk memborgol Arga dan Bella. Dengan segera mereka memborgol dan melucuti senjata yang mereka miliki. Setelah mereka berdua di borgol, barulah David melepaskan dekapannya kepada Adline dan memborgol Adline juga. 


"Rantai borgol ini tidak akan cukup kuat menahan kita, kau juga pasti bisa melepaskannya. Kita tunggu kesempatan bagus." Bella berbicara pelan kepada Arga. 


"Kalian berdua, bawa wanita durhaka ini ke gudang bawah tanah. Kurung dia di sana." Frank mengutus dua tentara untuk mengurung Adline di ruang bawah tanah. 


"Siap pak." Kedua prajurit tersebut membawa Adline untuk meninggalkan tempat tersebut. Sebenarnya mereka berdua sangat tidak yakin jika Adline sampai tega membunuh ayahnya atau menjadi otak pembunuhan ayahnya. Belasan tentara tersebut bertugas di kediaman tersebut semenjak pertama kali David menjabat sebagai kepala negara bagian California. Mereka cukup mengenal bagaimana hubungan Adline dan David. 


Sepanjang jalan, Adline memohon kepada mereka berdua untuk melepaskannya. Adline juga berbicara jika mereka sedang di perdaya oleh Frank. Tetapi kedua tentara tersebut tidak menjawab dan hanya bisa berbicara pada hati mereka masing-masing jika mungkin yang di ucapkan Adline adalah benar. Tetapi mereka berdua tidak memiliki keberanian untuk melawan Frank yang memiliki jabatan sebagai Letkol. 


Saat sampai di depan pintu ruang bawah tanah, mereka hanya dapat meminta maaf kepada Adline lalu memaksa Adline masuk ke ruangan tersebut. Salah satu dari mereka mengunci pintu dan menarik kuncinya dari ganggang pintu. 


"Aku sangat tidak yakin dengan apa yang di tuduhkan kepada nona Adline." Salah satu prajurit berbicara kepada prajurit lainnya saat mereka mulai melangkah meninggalkan pintu ruang bawah tanah. 


"Ya, aku juga tidak yakin karena sifat letkol yang demikian." Prajurit yang satu lagi menjawab. Mendengar jawaban rekannya yang sepaham dengannya. Prajurit yang memegang kunci, melepas satu di antara 4 kunci yang ada dan berniat memberikannya kepada Adline. Ke empat kunci tersebut adalah kunci yang sama. 


Saat satu kunci di berikan kepada Bella melewati celah pintu, mereka berdua segera pergi meninggalkan tempat tersebut dan akan menyerahkan tiga kunci tersisa kepada Frank sebagai bukti jika mereka telah melaksanakan perintah. 


Sedangkan Adline yang sudah mendapatkan kunci, dengan segera membuka pintu dan pergi menuju ruangan ayahnya tertembak melewati pintu lantai dua. Adline juga menyempatkan diri mengambil pistol di ruang kerja David. 

__ADS_1


****


Sedangkan Arga dan Bella yang melihat Adline di bawa keluar ruangan tersebut, sangat senang. Karena kini mereka berdua dapat bergerak lebih bebas. Tanpa harus memikirkan keselamatan Adline sementara waktu. 


"Ingat, para tentara tersebut tidak bersalah, sebisa mungkin jangan membunuh mereka kecuali dalam situasi kita terancam." Arga mengingatkan Bella yang hanya akan memikirkan keselamatannya tanpa begitu menghiraukan hal lainnya. 


Frank sangat bangga dengan hasil tangkapannya. Bahkan Frank tidak sabar untuk membagikan foto hasil tangkapannya ke salah satu grup WhatsApp. Hingga Frank meminta salah satu prajuritnya untuk memfoto Frank yang berhasil memborgol Arga dan bella. 


Frank berakting menekan leher Arga dan Bella ke bawah. Dimana Arga dan Bella berada pada posisi berlutut di sisi kanan dan kiri Frank. Sedangkan Arga dan Bella tersenyum puas saat Frank melakukan hal tersebut. Saat Frank berpose, serta siap untuk di foto. 


Trak.. Trak. Suara rantai borgol putus. Dengan cepat arga meraih leher Frank hingga Frank tidak dapat berkutik lagi. 


"Jatuhkan senjata kalian atau dia akan mati." Arga mengancam belasan prajurut tersebut dengan semakin menarik tenggorokan Frank. Hingga Frank meminta belasan prajuritnya untuk menjatuhkan senjatanya dan menendang senjata tersebut menjauh dari tempat mereka. Saat senjata sudah di tendang menjauh, dengan segera Bella melesat untuk melumpuhkan belasan tentara tersebut. 


"Ha.. Ha.. Ha.. Ha.." Frank tertawa keras karena Arga melepaskan dekapannya terhadap Frank. 


"Kau pikir kau siapa bisa memaksaku bicara." Frank berucap dengan memasukkan tangannya ke balik jas yang dia kenakan. 


Krak.. Suara tulang patah. 


"Aaaaaaaaaaaaaaaa.. Aaaaaaaaaaaaa.." Suara teriakan Frank merasakan kesakitan. 


"Kau pikir aku takut dengan tertawamu yang keras." Arga berucap sesaat setelah mematahkan bahu Frank dan perlahan meraih pistol kecil di balik jasnya. 

__ADS_1


"Br*ngsek.. Br*ngsek.. Bocah b*jingan.." Frank mengumpat sambil memegangi lengannya yang patah. 


"Kau masih tidak mau mengaku?" Arga bertanya dengan dingin dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Frank. Mendapat perlakuan demikian, Frank masih tidak mau untuk menyerah dan berusaha untuk memukul Arga dengan tangannya yang satu lagi. 


Tetapi dengan mudah Arga menggenggam pukulan Frank lalu meremukkan genggamannya. Rintihan kesakitan kembali terdengar dari mulut Frank. Tangan Frank kini tidak dapat di genggamkan lagi karena tulang-tulang jari di atas pergelangan tangannya remuk. 


Frank sampai berlutut karena menahan sakit yang teramat sangat di kedua tangannya. Bibir Frank terlihat bergetar menahan sakit. 


"Kau masih tidak ingin berbicara!!" Sekali lagi Arga bertanya dengan membentak kepada Frank. Tetapi lagi-lagi Frank tetap bungkam. Mental militernya yang sudah sangat terbentuk dengan segala ujian penyiksaan untuk tetap bungkam. 


"Aa…ku… Sudah per…pernah mengalami hal seperti i…ni." Dengan terbata dan bibir bergetar, Frank kembali menguji kesabaran Arga dengan kalimat yang dapat di artikan sebuah tantangan. 


"Ya.. Mungkin.. Di dalam latihan bungkammu, kau pernah merasakan siksaan patah tulang. Tetapi, tidak mungkin kau pernah merasakan patah tulang di setiap persendianmu bukan..!" 


Krak.. Krrtak.. Karak.. Suara beberapa tulang patah saat Arga mendorong tubuh Frank yang sedang berlutut hingga terjatuh lalu Arga menginjak lengan satu lagi hingga mematahkan tulang lengan Frank menjadi beberapa patahan. 


Krrrtak.. Krrrtak.. Kedua dengkul Frank juga di patahkan oleh Arga. Tetapi tetap saja Frank hanya mengeluarkan rontaan karena rasa sakit yang luar biasa. Setelah suara teriakan kesakitan Frank menghilang, Frank pingsan karena tidak kuat menahan rasa sakit yang teramat sangat. 


"Kau pikir, kau bisa bebas dari sakitmu karena pingsan?" Arga berbicara sendiri dan memberikan totokan kepada Frank agar Frank kembali tersadar. 


Aaaaaaaaaaaaaaaa… Aaaaaaaaaaaaaaaa… Suara pertama kali yang keluar dari mulut Frank saat tersadar. Lalu Frank kembali pingsan. Namun Arga kembali memberikan totokannya supaya Frank kembali tersadar. Setelah Frank tersadar, Arga kembali menotok Frank di titik berbeda. 


"Kini kau tidak akan pingsan dengan totokan itu. Kau akan terus tersadar merasakan semua tulangmu patah. Bahkan kau tidak akan mati hanya karena merasakan sakit dari tulang-tulangmu yang patah dan remuk." Mendengar hal itu, Frank meneteskan air mata karena sudah tidak terbayang rasa sakit yang akan dia derita lagi. Jika Frank mampu, Frank lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri. 

__ADS_1


Tetapi dengan kondisi saat ini, jangankan meraih senjata, berpindah tempat dari tempatnya kini tergelatak saja sudah tidak mungkin. 


__ADS_2