
"Hari ini kita akan kemana?" Bella yang baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi, bertanya kepada Arga yang sudah terlihat rapi.
"Kita? Astaga, aku sudah hampir lupa jika aku sekarang memiliki pelindung dari sistem ini." Arga membatin di dalam hatinya.
"Aku akan ke rumah istri dari pengawalku yang tewas terbunuh karena telah mengawalku. Aku harus menjamin kebutuhan mereka tercukupi sampai anak-anaknya sudah dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Bahkan jika perlu, sampai istri mereka tua dan mati." Arga menjawab pertanyaan Bella.
"Kau tidak bisa membahagiakan semua orang, sebab langkahmu terbatas. Kau tidak dapat melindungi semua orang, sebab pandanganmu dapat terhalang sesuatu. Dan kau tidak dapat meraih semua yang kau inginkan, sebab tanganmu hanya dua. Kau hanya dapat berusaha sebaik mungkin untuk melakukan itu semua. Jadi jangan terlalu menjanjikan jauh kedepan yang belum tentu dapat kau realisasikan. Karena kau memiliki batas kemampuan." Bella memberikan masukan kepada Arga yang mengucapkan keinginan terlalu tinggi.
****
Tok.. Tok.. Tok.. Suara pintu diketuk oleh Arga.
"Iya paman..? Mencari siapa?" Seorang anak perempuan kisaran berumur 7 tahun membukakan pintu untuk Arga.
"Hai, Aku Arga Litihu. Aku sahabat ayahmu. Bisakah kamu panggilkan Ibumu? Paman.." Arga belum menyelesaikan kalimatnya, ibu dari anak tersebut keluar dengan setengah berlari dan dengan segera meraih putrinya yang masih usia 7 tahun untuk segera berdiri di belakangnya.
"Untuk apa kau kemari? Kau bahkan tidak ikut memakamkan suamiku Adam. Padahal dia menjaga nyawamu hingga nyawanya yang hilang. PERGI.. PERGI.. aku tidak menerima kunjunganmu."
"Siapa di luar bila..? Mengapa kamu marah-marah..?" Wanita tua yang merupakan ibu dari Adam mantan pengawal Arga yang tewas saat tertembak sesaat baru keluar lift dalam serangan pertama.
"Tidak apa ibu.. Ada pihak bank kemari, aku sudah membayar angsurannya tetapi dia masih belum mau pergi."
Tok.. Klok.. Tok.. Klok.. Suara langkah kaki wanita tua dengan sandal kayu melangkah menuju luar yang di mana terdapat Arga.
"Jangan sampai ibu tahu jika suamiku Adam yang merupakan anaknya telah meninggal dunia. Atau kau akan tau sendiri akibatnya." Nabila, istri dari pengawal Arga mengancam Arga dengan mengacungkan kepalan tangannya terhadap Arga.
__ADS_1
"Bibi… Maafkan aku jika mengganggumu. Aku memang bekerja di bank, namun aku tidak sedang menagih angsuran. Nona nabila salah sangka kepadaku, aku adalah sahabat Adam. Dulu nyawaku pernah di tolong oleh Adam, Dan kini aku akan pindah jauh. Oleh sebab itu, aku ingin menitipkan ini untuk keluarga Adam. Di dalam koper ini juga ada nomor handphone ku. Jika suatu saat keluarga ini membutuhkan bantuan, jangan sungkan-sungkan menghubungiku. Baiklah bibi, aku permisi dulu." Dengan meninggalkan koper berisi uang di depan ibu Adam, Arga berlalu pergi meninggalkan rumah tersebut dengan meneteskan air mata.
"Selanjutnya kau saja yang mengantarkan kedua koper ini." Arga berbicara kepada Roby saat sudah berada di dalam mobil.
****
"Kau belum melakukan misi 3 hari ini, sebaiknya kamu meminta misi kepada sistem. Jika sudah lebih dari 3 hari, kamu akan mendapat misi yang sulit nanti." Bella yang duduk di samping Arga, berbicara seakan seorang sekretaris yang selalu mengingatkan jadwal atasannya.
Trululululululut… Trululululululut… suara handphone Arga berbunyi saat Arga akan meminta misi terhadap sistem.
Hallo?
"Sayang, kamu di mana? Di hotel ada tuan Paulo dan sedang marah-marah mencarimu."
"Baiklah, aku segera kembali ke hotel." Arga menjawab Siska lalu menutup handphonenya.
"Siap tuan." Letto yang mengemudikan mobil, dengan segera memutar balik mobilnya menuju kembali ke hotel.
****
"Hei, kau mencariku?" Arga memanggil Paulo yang sedang marah-marah dan hanya diperhatikan saja oleh keamanan hotel dan pengawal Arga yang sedang standby di hotel. Sebab Paulo tidak melakukan pengrusakan. Mendapat panggilan dari Arga, Paulo segera menoleh lalu mengeluarkan pistol yang dia selipkan di balik jasnya.
Door… Suara tembakan yang dilepaskan Paulo mengarah tepat di dada Arga.
"Apakah ini rasanya tertembus peluru dengan kecepatan tinggi? Benar kata orang yang pernah merasakan tertembus peluru, awal tidak terasa sakit dan tidak merasakan apa-apa. Tapi beberapa detik kemudian akan terasa sakit yang teramat sangat. Berarti sebentar lagi aku akan merasakan sakit itu." Arga bergumam saat mendapati Paulo melepaskan tembakan mengarah padanya dengan meraba dada yang kira-kira tertembus peluru.
__ADS_1
"Tentu saja kau tidak merasakan sakit terkena peluru. Karena pelurunya aku tangkap sebelum mengenaimu." Bella menjawab gumaman Arga dan menunjukkan peluru yang telah dia tangkap kepada Arga.
"Hah, apa? Aku tidak tertembus peluru? Syukurlah kau bisa menangkapnya." Dengan senang Arga berucap kepada Bella. Sedangkan Paulo sudah di bekuk dan dilumpuhkan oleh pengawal Arga sesaat setelah menembak Arga.
"Ba.. Bagaimana bisa..? Tidak mungkin, seharusnya dia telah mati terkena peluruku." Paulo yang sudah berada dalam posisi tertelungkup, memaksa melihat Arga dengan sekuat tenaga **** punggungnya telah di tindih dengan dengkul salah satu pengawal Arga.
"Kirim dia ke kepolisian kita tidak berhak menghukumnya." Beberapa pengawal Arga membawa Paulo ke kantor polisi dengan membawa rekaman penembakan.
Arga kini sangat kagum terhadap Bella. Dan berfikir untuk lebih mengandalkan Bella di sampingnya. Arga juga berfikir jika pergi kemana-mana cukup hanya berdua dengan Bella supaya pergerakannya lebih efisien.
"Roby, Letto. Ikuti aku." Arga mengajak Roby dan Letto ke cafe hotel dan menjelaskan jika mulai saat ini, Arga akan pergi kemana-mana cukup berdua. Sedangkan Roby dan Letto di perintahkan untuk memimpin dan mengatur jadwal pengawalan terhadap Arga dari jarak jauh.
Mendapati perintah demikian, Roby dan Letto dengan segera mengimplementasikan rencana Arga untuk penjagaan dari jauh.
Kini Arga membuka layar transparannya untuk meminta misi kepada sistem supaya tidak mendapatkan misi yang sulit ketika arga tidak meminta misi lebih dari 3 hari.
(Menemukan rumah tahanan imigran gelap tersembunyi di San Diego.)
"Hah.. Apa maksud misi ini? Hanya di minta menemukan rumah tahanan saja? Atau juga membebaskan tahanannya?"
"Bodoh, namanya menemukan ya menemukan saja. Jika membebaskan itu akan menjadi hal berbeda." Bella mengejek Arga saat mempertanyakan hal tersebut pada dirinya sendiri dengan bergumam.
Swuut.. Arga yang berusaha mengetuk kepala Bella, tidak berhasil karena Bella menghindar dengan cepat.
Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Weeekk… Tidak kena. Gerakanmu terlalu lambat. Jangan kira kamu dari kemarin bisa mengetuk kepalaku karena kamu hebat.. Itu semua hanya karena aku memberimu kesempatan kemarin. Dan pukulanmu juga tidak sakit sebenarnya. Terasa… Emmm… Seperti apa ya.. Seperti di pukul anak berumur 2 tahun.. Ki.. Ki.. Ki.. Ki..
__ADS_1
"Tunggu aku memiliki kesempatan, akan ku ketuk kepalamu. Kau bukan hanya centil. Tapi juga usil. Lihat saja nanti.