
Kini tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh Siska. Lidah dan bibir Arga kini semakin liat menjelajahi tubuh Siska. Suara yang awalnya hening, kini terdengar lirih suara ******* Siska. Suara lirih ******* kenikmatan yang keluar dari mulut Siska membuat Arga semakin bergejolak. Arga yang sudah tidak tahan lagi, kini berdiri untuk melepaskan semua pakaiannya. Hingga terlihat sebuah golok tumpul menantang maut.
Dengan perlahan kini Arga sudah berada di atas tubuh Siska dan kembali bermain dengan kedua balon yang dimiliki Siska. Golok tumpul Arga kini telah siap membelah duren manis legit Siska. Di saat Arga telah bersiap, Arga memandang perut hingga ke wajah Siska dengan lekat. Di saat Arga melihat wajah Siska, terlihat air mata mengalir dari mata Siska yang setengah terpejam.
Melihat hal tersebut, Arga mengerem dengan cakram dan seketika menghentikan gerakannya yang sudah menempel di duren yang siap di belah. Perlahan namun pasti, golok tumpul mundur dengan tertib.
"Kau tidak menginginkannya. Jangan memaksakan diri jika tidak menginginkannya. Aku tidak pernah memaksa." Arga berbicara lalu mengecup bibir dan kening Siska. Dengan segera Arga mengenakan kembali bajunya dan menutup tubuh Siska dengan selimut. Arga berjalan menuju kamar mandi, dan membersihkan diri di sana. Setelah Arga membersihkan diri, Arga kembali menemui Siska yang masih tiduran dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Aku akan ke restoran terlebih dahulu, kenakan semua pakaianmu lalu temani aku makan di restoran bawah." Arga kembali berucap dan pergi keluar menuju restoran. Pagi itu, Arga belum mengetahui jika Bella, Mancini dan Roby telah melewati malam yang berat di kantor kepolisian. Arga juga belum mengetahui jika Kate saat ini menjadi tahanan Polisi Militer.
****
"Tuan, makanannya telah kami siapkan di restoran atas." Seorang pelayanan berbicara kepada Arga dengan sangat sopan.
"Pagi ini aku ingin sarapan di sini."
"Baik tuan, kami akan memindahkan makanannya ke sini." Dengan segera, pelayan tersebut pergi untuk menghilangkan makanan Arga di restoran atas.
"Tuan, saya memiliki beberapa berita untuk tuan Arga." Alerto datang dan ingin menyampaikan laporannya tentang para imigran dan juga ingin melaporkan kejadian semalam yang dialami Bella, Mancini dan Roby.
__ADS_1
Akan tetapi, sebelum Alerto memberikan informasi. Puluhan militer bersenjata lengkap datang dengan mengendarai belasan kendaraan lapis baja. Puluhan Militer menyerbu masuk ke Hard Rock Hotel Valent Stand. Sekitar 80an tentara masuk ke hotel dengan paksa. Para pengawal Arga yang melakukan perlawanan di pintu masuk dengan segera dilumpuhkan dengan tembakan listrik.
Penyergapan dengan jumlah pasukan militer yang banyak, membuat Alerto membuat keputusan untuk tidak melawan terlebih dahulu sebelum mengetahui kejelasan yang militer inginkan. Puluhan militer terus masuk setelah mengamankan lantai dasar dan menaiki gedung sesuai informasi yang mereka dapatkan. Beberapa ada yang lewat lift, lebih banyak yang melewati tangga darurat untuk menyergap.
Hampir semua lantai mereka jelajahi dan di amankan. Dalam sebuah koridor salah satu lantai, komandan penyergapan dari pihak militer bertemu sosok misterius di Hard Rock Hotel Valent Stand.
"Apa yang kau lakukan di sini dengan membawa pasukan sebanyak ini? Kau mau menggagalkan rencanaku? Cepat kembali dan katakan kamu salah informasi." Sang komandan penyergapan sangat terkejut ketika bertemu dengan sosok misterius yang memarahinya. Dia tidak menyangka jika sosok misterius tersebut ada di antara orang-orang dari Arga Litohu.
Jangankan untuk membantah, melihat wajahnya saja komandan penyergapan tersebut tidak berani. Dengan segera komandan penyergapan tersebut melakukan komunikasi lewat radio kepada pasukan yang lain. Dan meminta mereka semua untuk mundur.
Akan tetapi hal tidak terduga terjadi dan membuat sosok misterius tersebut marah. Terdengar saling tembak di luar hotel. Para pengawal Arga yang berada di gedung-gedung sebelah Hard Rock Hotel Valent Stand memberikan tembakan peringatan kepada para militer, dengan menembak kendaraan lapis baja yang digunakan. Sontak hal tersebut langsung di respon dengan tembakan balasan oleh militer yang berada di luar di sekitar kendaraan lapis baja.
"Hentikan tembakan… Hentikan tembakan… kami salah informasi… Hentikan tembakan… kami salah informasi…" Sontak teriakan dari komandan penyergapan dengan segera membuat situasi mulai terkendali. Sebab dari pihak militer langsung menahan tembakan balasan meski beberapa tembakan masih terdengar dari para pengawal Arga yang terlambat mendapat informasi untuk menahan tembakan.
Alerto yang juga mendengar teriakan komandan penyergapan, dengan bersusah payah berusaha menghentikan anak buahnya yang masih melakukan tembakan kepada pihak militer di luar hotel. Setelah tidak ada lagi suara tembakan, komandan penyergapan meminta kepada anak buahnya untuk segera pergi dari tempat tersebut. Terlihat dari raut wajah komandan penyergapan seperti seorang yang ketakutan.
Bahkan komandan penyergapan dengan segera menampar salah satu pasukannya yang akan melaporkan jika ada korban dari pihak militer di luar hotel. Komandan penyergapan tidak peduli dengan laporan dari prajuritnya dan tetap meminta untuk mundur tanpa syarat.
"Apa maksud mereka datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba." Arga bertanya kepada Alerto.
__ADS_1
"Entahlah tuan, aku awal mereka mencari tuan. Oleh sebab itu tadi saya meminta tuan untuk diam tidak menampakkan diri. Atau mereka sedang mencari Bella, Mancini dan Roby. Sebab tadi malam mereka terlibat masalah dengan militer."
"Mengapa kau tidak mengatakan padaku dari awal, di mana Mancini, Bella dan Roby saat ini."
"Saya tadi memang akan menyampaikan hal itu tuan, tetapi sebelum mulut saya berucap. Puluhan militer terse." Belum selesai Alerto berbicara, Bella datng dan memutuskan pembicaraan Arga dan Alerto.
"Aku mencarimu di kamarmu saat aku terbangun karena mendengar tembakan. Tetapi kamarmu sudah kosong, untunglah sistem dapat menemukan lokasimu dengan cepat." Setelah berucap, Bella memeluk Arga karena bersyukur tidak terjadi hal apapun kepada Arga.
"Selanjutnya jika kau akan keluar kamar, ketuk kamarku terlebih dahulu jika aku belum berada di depan kamarmu. Jangan seperti ini lagi." Bella berbicara dengan suara khas manjanya dengan memeluk Arga dengan erat.
"Jika kamu ingin selalu tau kapan aku keluar dari kamar, setiap malam tidurlah denganku." Arga berbisik di telinga Bella. Sontak setelah Arga berbisik, Bella mendorong Arga supaya menjauh darinya.
"Tidak akan. Kau akan mengambil keuntungan dariku. Aku tidak akan tidu." Dengan segera Arga menutup mulut Bella yang berbicara dengan keras.
"Jangan berisik, hal seperti itu kau berbicara sangat keras." Taaaak… Suara ketukan di kepala Bella sesaat setelah menutup mulut Bella dan Arga berbicara dengan pelan kepada Bella.
Kejadian Arga dan Bella di restoran bawah. Terlihat secara jelas oleh Siska. Melihat Arga berpelukan dan terlihat sangat senang hingga mengetuk kepala Bella, membuat Siska semakin yakin jika salah satu pesaingnya adalah Bella. Wajah muram terlihat di wajah Siska saat mulai memasuki restoran dan melihat Arga dan Bella.
Arga yang mengetahui wajah muram Siska, di buat serba salah dan bingung bagaimana harus bersikap di depan kedua wanita tersebut.
__ADS_1