Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap

Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap
Peternakan


__ADS_3

Meski mendengar penjelasan dari putrinya, ayah Melisa tetap mempersilahkan duduk kepada Arga. Ayah Melisa sebelumnya merasa tidak yakin jika pemuda yang bersama putrinya adalah pemuda yang sedang viral di media sosial dan telah beberapa kali masuk berita karena kekayaannya dan kehebatannya ketika menghadapi puluhan orang bersenjata tajam. Tetapi ketika Arga memperkenalkan dirinya, kini ayah Melisa merasa tidak salah mengira. Ayah Melisa juga cukup senang melihat putrinya bersama Arga, yang pastinya dapat melindungi Melisa di berbagai situasi. 


Akan tetapi, dengan segera Melisa menarik tangan ayahnya untuk mengikutinya pergi menjauh dari Arga. 


"Ayah, jangan mempersilahkan dia duduk. Usir saja dia. Dia adalah pria yang menjengkelkan. Ini bukanlah tempat kerja, jadi aku tidak harus menghargai pria menjengkelkan seperti itu." Mendengar permintaan putrinya, ayah Melisa tidak dapat menolak permintaan putri kesayangannya yang sudah rela bekerja untuk membantunya memenuhi biaya perawatan adiknya yang sedang sakit kanker otak. 


Dengan sopan, ayah Melisa berbicara dan meminta Arga untuk meninggalkan Melisa terlebih dahulu. Meski ayah Melisa tidak mengetahui kebenaran hubungan mereka berdua. Sebab Arga mengaku sebagai kekasih Melisa, sedangkan Melisa tidak mengakuinya. Ayah Melisa menganggap bisa saja mereka memang memiliki hubungan spesial tetapi karena saat ini suasana hati Melisa sedang tidak baik, jadi tidak mau mengakui Arga di depannya. 


"Baik tuan, saya akan pergi sesuai permintaan anda. Tetapi izinkan saya menjenguk adik melisa terlebih dahulu meski hanya sebentar."


"Baik, silahkan. Biar aku yang menemanimu. Sebab sepertinya Melisa tidak akan mau menemanimu ke dalam." Terlihat Melisa cemberut melihat Arga yang meminta izin untuk melihat adiknya. 


Setelah Arga menjenguk adik Melisa, Arga berpamitan karena masih memiliki urusan. Setelah Arga berpamitan dan keluar dari ruang rawat inap untuk kembali ke ruang ICU tempat Alerto di rawat, barulah Melisa memasuki ruang rawat inap adiknya. 


****


"Ayah, kita harus membawa adik ke New York. Di sana adik akan mendapatkan perawatan dan alat lebih canggih. Tadi dokter spesialis bedah dan saraf mengatakan hal itu. Operasi kedua harus segera dilakukan. Jika tidak, keadaan adik bisa memburuk." Dengan berat hati Melisa berbicara kepada ayahnya tentang apa yang sudah dia bicarakan dengan dokter spesialis menangani adiknya. Meski Melisa sebenarnya tahu keadaan ayahnya sudah hancur-hancuran memperjuangkan almarhum ibunya dan adiknya yang kini sedang di rawat. Ibu Melisa baru 2 bulan yang lalu meninggal karena kanker otak. Sama seperti adik Melisa. 


"Ayah sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Rumah yang ayah jadikan jaminan atas pinjaman ayah untuk perawatan almarhum ibumu dan adikmu telah lama jatuh tempo. Hari ini rumah kita akan di segel karena keputusan pengadilan telah keluar. Rumah tersebut akan di lelang beberapa hari lagi."


"Kita harus bagaimana ayah. Aku tidak ingin kehilangan adik setelah aku kehilangan ibu. Uang fee dari penjualan unit 2206 sudah aku buat membayar biaya operasi pertama adik. Sebab kita memiliki tanggungan atas operasi pertama adik ke pihak rumah sakit." Melisa kembali menangis atas apa yang dihadapi oleh keluarganya. Bahkan ayah Melisa juga ikut menangis merasa sedih karena tidak dapat berbuat apa-apa di saat anaknya sakit dan hanya memiliki kemungkinan bisa diselamatkan dengan cara operasi kedua dan perawatan di rumah sakit New York. 


****


Trulululululut… trulululululut… Handphone Arga berbunyi. 


"Hallo?"

__ADS_1


"Apa benar ini tuan Arga Litohu?"


"Ya, benar. Dengan siapa saya berbicara?"


"Saya Liliv dari maskapai Anina Air. Helikopter anda harus dipindahkan dari bandara San Diego tuan. Di sini juga ada Mancini pilot anda kemarin, tetapi dari informasi Mancini, dia tidak tahu harus membawa Helikopter ini kemana. Dia juga berbicara jika tuan Arga belum membayar Mancini."


"Kenapa aku sampai lupa tidak membayar Mancini. Aku terlupa karena petugas imigrasi yang sangat sombongnya memaksa para imigran untuk diamankan." Arga membatin di dalam hatinya. 


"Baik nona, saya akan ke Bandara San Diego sekarang."


Arga menuju ruang ICU dengan cepat dan meminta 2 dari 4 pengawalnya untuk tetap tinggal menjaga Alerto. Sedangkan dua lagi di minta untuk ikut ke bandara. 


****


"Maaf… Maaf… aku benar-benar terlupa. Kemarin benar-benar hari yang melelahkan." Arga berbicara kepada Mancini yang sudah menunggu di kantor maskapai Anina Air. 


"Ha.. Ha.. Ha.. Aku sudah menduga hal itu. Oleh karena itu, aku kemarin tidak menunggu di sini. Tetapi karena aku di minta memindah helikopter, aku kemari. Dan juga kesempatan untuk bertemu dengan tuan Arga. " Mancini menjawab ucapan Arga. 


(Baru saja melakukan pembayaran pilot sebesar $2.000.000. Sisa saldo $999.984.709.553.286.")


(0 poin baru didapatkan) 


(Total 4 poin skil belum digunakan) 


(Skill saat ini) 


(Fisik 22) 

__ADS_1


(Kecerdasan 40) 


(Kecepatan 30) 


(Kekuatan otot 25) 


(Akurasi 25)


"Karena sekarang aku memiliki Helikopter, maukah kamu menjadi pilotku?"


"Tentu saja saya mau tuan."


"Jika begitu, kamu urus pemindahan helikopternya. Pindahkan ke Hard Rock Hotel Valent Stand."


"Siap tuan." Mancini menjawab Arga dengan gembira.


****


Sekarang Arga sudah berada di luar bandara dan berniat untuk mengunjungi ayah angkatnya dan juga ingin melihat keadaan rumahnya setelah terbakar. Arga juga ingin ke makam ibunya. 


Arga duduk di kursi belakang mobil dan dengan segera pengawal Arga melajukan mobilnya menuju rumah Arga di peternakan pinggiran kota San Diego. 


****


Ketika Arga sudah sampai di area peternakan, Arga membuka jendela mobil dan melihat sapi-sapi yang berkelompok. Tetapi Arga merasa terheran karena di tengah lapangan, tidak ada tumpukan rumput yang seperti biasa Arga berikan. Arga berfikir jika ayahnya telah mengubah metode pakan ternak dengan makanan dari pabrik yang sudah berbentuk kapsul. 


Tetapi ketika Arga sudah berada di area rumah-rumah yang merupakan area rumah keluarga besar ayah angkat Arga. Tercium bau yang sangat menyengat. Seketika pikiran Arga menjadi kacau di penuhi segala pemikiran negatif. Terlebih, area rumah-rumah yang biasanya ramai. Saat ini terlihat sepi dan kosong, bahkan Arga melihat rumah yang pintunya terbuka. 

__ADS_1


Setelah Arga turun dari mobil, Arga mencoba memanggil semua nama yang dia kenal dengan suara keras. Tetapi tidak ada satupun yang menjawab panggilan Arga. Hingga akhirnya Arga melangkah ke sebuah rumah terdekat yang merupakan rumah dari paman ayah angkat Arga. 


Saat Arga sudah beberapa meter, bau menyengat semakin menusuk hidungnya. Karena sudah tidak tahan dengan aromanya, Arga menutup hidung dengan jasnya. Hal mengejutkan ketika Arga baru berada di depan pintu di rumah yang terbuka tersebut. Terlihat mayat bergeletak di dalam ruang tamu dekat dengan pintu. Mayat tersebut sudah membusuk dengan luka sayatan sangat lebar di punggunggnya. 


__ADS_2