Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap

Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap
Kematian Yang Menyakitkan


__ADS_3

"Nona cantik, sepertinya kau salah memilih lawan." Siska berbicara dan bangkit dari lantai. 


"Hmmmmh… Kau pikir aku juga hanya wanita feminim yang tidak bisa berbuat apa-apa? Jika mulut sudah tidak bisa memberi kedamaian? Mari kita selesaikan ini." Adline membalas ucapan Siska dan bersiap dengan kuda-kuda. 


Siska hanya tersenyum mendengarkan ucapan Adline. Lalu menjulurkan tangannya dan melambaikan tangan mengisyaratkan supaya Adline maju menyerangnya terlebih dahulu. 


"Baiklah jika itu keinginanmu. Aku tidak akan merasa sungkan." Setelah mengucapkan hal itu, Adline berdiri dari kuda-kudanya lalu berjalan melenggak lenggok layaknya wanita lemah lembut mendekat ke arah Siska berada. 


Jarak keduanya yang awalnya 6 meter, kini hanya menyisakan jarak kurang dari 2 meter. Saat sudah berjarak kurang dari 2 meter, Adline melakukan persiapan dengan kuda-kuda ringan bersiap melakukan serangan. 


"Kapanpun kau siap. Tidak perlu sungkan." Siska berbicara saat Adline telah bersiap dengan kuda-kuda ringannya dengan sedikit melompat-lompat. 


Adline yang merupakan seorang atlet Taekwondo dan pernah menyabet gelar juara di tingkat antar perguruan tinggi se negara bagian, merasa ada di atas angin. Terlebih, ketika tendangan dari Adline tidak dapat di hindari dan sangat terlihat jika Siska tidak memiliki kemampuan beladiri. 


Dengan kuda-kuda ringan, Adline melompat ringan ke kanan ke kiri dan mengganti kaki kanan di depan atau kaki kiri di depan secara bergantian untuk mengecoh Siska.


Saat Adline berada di sebelah kanan Siska, lalu melompat kembali ke kiri Siska, dengan cepat Adline melakukan gerakan cepat saat berpindah dan langsung melesakkan tendangan menyamping ke arah kepala Siska dengan kaki kiri. 


Tetapi dengan gerakan reflek, Siska menghindar dengan gerakan mundur selangkah ke belakang. 


Mengetahui serangannya dapat di hindari, kaki kiri Adline di turunkan di samping tubuh Adline dan melanjutkan meyerang kembali dengan tendangan kaki kanan dengan setengah memutar ke belakang. Tetapi kini Siska tidak menghindari tendangan kaki kanan Adline. 


Tetapi justru mengangkat tangan kirinya ke atas dengan melangkahkan kakinya maju. Adline yang dalam posisi hanya menggunakan satu kaki sebagai tumpuan, terjungkal karena dorongan tubuh Siska yang menangkis tendangan Adline di paha. Sehingga tendangan Adline tidak memiliki tenaga. 

__ADS_1


Melihat Adline jatuh terjungkal, Siska kembali menjulurkan tangannya dan melambaikan tangan mengisyaratkan supaya Adline kembali menyerang Siska. Melihat hal tersebut, Adline merasa di remehkan oleh Siska. 


"Hyaaa…" Adline dengan segera kip dan berdiri kembali dengan cepat. Setelah Adline berdiri, Adline menyerang Siska dengan berbagai tendangan dan pukulan mengarah ke tubuh dan kepala Siska. 


Tetapi dengan santai dan mudahnya, Siska menangkis semua serangan yang di arahkan kepadanya. Tanpa berpindah satu langkahpun, Siska terus menangkis serangan Adline dengan mudah. Bahkan Siska masih sempat untuk berbicara saat terus menerus menangkis serangan dari Adline. 


Adline yang semakin emosi, semakin menyerang Siska dengan gerakan lebih cepat. Tetapi tetap saja tidak dapat menggoyahkan kaki Siska untuk melangkah dan berpindah dari posisinya. 


"Apakah ini sudah serangan terbaikmu?" Bersamaan dengan pertanyaan itu kepada Adline. Siska memukul ke arah perut Adline dan pipi Adline hingga membuat Adline mundur dengan memutar karena kuatnya pukulan Siska. 


"Bagaimana mungkin kau bisa melakukan ini!! Setahuku, kau bahkan hanya dapat lari ketika terjadi perkelahian. Tetapi kenapa kini kau begitu mudah menangkis dan menghindari seranganku?" Adline yang merasa terheran dengan gerakan cepat Siska yang belum pernah Adline saksikan sebelumnya. 


"Jika kau ingin mengetahuinya, maka kau harus mati terlebih dahulu atau aku akan menunjukkannya sebelum kematian dengan siksaan yang akan kau dapatkan." Siska berbicara kepada Adline yang kini merasa ragu untuk menyerang. 


"Hah.. Hah.. Hah.. Hah.." Nafas Adline sampai tersengal-sengal. Akan tetapi Siska belum sama sekali merasakan goresan apapun dalam pertarungan ini. Bahkan nafas Siska terdengar masih normal tanpa ada kendala apapun. 


"Apakah hanya itu kemampuanmu? Jika hanya sampai di sini kemampuanmu, maka matilah." Dengan gerakan cepat, Siska melesakkan tendangan ke arah kepala Adline hingga membuat Adline terjatuh dengan cara berputar terlebih dahulu. 


"Bukankah kau tadi ingin tau siapa aku..?" Siska berbicara sambil menginjak pangkal leher Adline. 


Adline sampai kesulitan bernafas karena injakan dari Siska. Bahkan kini Adline bergerak-gerak dengan berbagai usaha agar dapat lolos dari injakan yang di lakukan oleh Siska. Tetapi usaha Adline terasa sia-sia. 


Semakin keras Siska menginjak leher Adline, sampai Adline tidak dapat menghirup udara. Beberapa detik Adline tidak dapat bernafas karena injakan dari Siska. 

__ADS_1


Hingga Siska melonggarkan injakannya. Kelonggaran injakan Siska, tidak di sia-sia kan oleh Adline untuk menghirup udara dengan bebas. Tetapi, tidak lama Adline menghirup udara segar, Siska duduk di dada Adline dan mulai menampar wajah Adline berulang-ulang hingga mengeluarkan darah dari hidung dan juga mulut Adline. 


"Bukankah aku tadi menjawab oertanyaanmu? Jika kau ingin mengetahui siapa aku, maka matilah terlebih dahulu." Bersamaan dengan ucapan dari Siska, tangan Siska menggenggam kepala Adline seperti gerakan tangan yang akan menangkap bola Baseball. Dengan menggencet kepala Adline dengan kedua tangan Siska. Dan menaruh kedua ibu jari ke dahi Adline. 


Adline berteriak kesakitan merasakan tekanan dari kedua sisi kanan dan kiri kepalanya. Adline sampai menangis dan memohon kepada Siska agar mau melepaskannya. Permohonan dan tangisan Adline berhasil membuatnya lepas dari cengkraman Siska. 


"Apa kau tidak jadi ingin mengetahui siapa diriku? Tapi sayangnya semua sudah terlambat. Kau sudah terlalu membuatku jengkel dan marah." Setelah mengucapkan hal itu, kini Siska kembali menggenggam kepala Adline. Tetapi, kini Adline lebih berusaha lagi untuk memberontak. 


Tetapi percobaan itu sia-sia setelah Siska memukul kedua bahu Adline hingga meremukkan tulang bahu Adline. 


Teriakan dan tangisan Adline tidak di dengar oleh siapapun. Sebab, setelah kejadian kematian dari David, ayah Adline. Semua pembantu dan pekerja di rumah Adline di liburkan supaya mereka bisa lebih fres lagi. Sehingga teriakan dan tangisan Adline kini tak dapat di dengar oleh siapapun. Lahan pekarangan sekitar rumah yang luas, semakin membuat rumah tersebut jauh dari bantuan siapapun. 


Ibu jari tangan kanan Siska, kini berhasil membuat retakan di tengkorak depan Adline. Tetapi Adline masih tersadar dengan hal itu. Siska semakin menekan tengkorang yang retak hingga terdengar sebuah suara yang mirip dengan permen yang pecah karena di gigit. Tengkorak Adline remuk sebesar ibu jari Siska. 


"Kau masih hidup tersadar rupanya. Tenanglah, hal ini tidaklah lama, nikmati saja rasa sakitnya." Siska berbicara kepada Adline yang kini sudah berhenti menangis tetapi kini terlihat seperti seorang yang syok dan tidak dapat berkata apapun. 


"Aku membutuhkan memegang otak segarmu untuk mengambil ingatanmu." Bersamaan dengan ucapan tersebut, jari telunjuk Siska menusuk ke arah tengkorak kepala Adline yang sudah remuk hingga mengeluarkan darah segar yang sangat banyak. 


Mendapat tusukan di kepalanya, kini Adline kejang dengan mata masih terbuka seperti seseorang yang syok karena ketakutan. Tidak sampai 1 menit, Siska mengeluarkan jari telunjuknya dari kepala Adline. 


"Aku tau kau masih hidup dan dapat melihat ini. Meski kau mungkin sudah setengah mati." Setelah mengucapkan hal itu, Siska berdiri dan mengubah bentuk wajah dan tubuh serta kulit sama persis seperti Adline. 


Meski kematian sudah menunggu waktu, Adline masih bisa melihat perubahan Siska menjadi dirinya. Melihat hal itu, membuat Adline meneteskan air mata sebelum Adline benar-benar tewas. 

__ADS_1


__ADS_2