
Arga menggendong Siska keluar ruangan tersebut yang telah di sambut oleh beberapa staf hotel dan sekretaris Siska. Arga meminta sekretaris Siska untuk membukakan sebuah kamar dan meminta es sebanyak dua timba.
"Dia memintaku membukakan kamar? Sial, apa aku salah orang? Setelah keluar dari gerombolan mulut singa, Nona Siska masuk ke mulut buaya. Aku yakin dia ingin memanfaatkan situasi dan mengambil keuntungan dari lemahnya Nona Siska. Apa yang harus aku lakukan? Ayo Zilda… berpikirlah agar Nona Siska tidak masuk ke mulut buaya ini." Siska berbicara di dalam hatinya dan berpikir negatif kepada Arga setelah Arga meminta Zilda membukakan kamar untuk mereka.
Sebenarnya Arga bisa saja membawa Siska ke kamar yang di khususkan kepada Arga yang masih memiliki fasilitas kamar gratis di hotel tersebut karena merupakan anggota VVIP. Tetapi kamar itu terlalu jauh dari tempat Arga sekarang.
"Hei, cepat bukakan aku kamar sebelum terlambat. Aku harus merendamnya di bak mandi dengan air es. Hal itu harus cepat aku lakukan agar dapat mengurangi efek dari alkohol yang sepertinya dicampur oleh obat perangsang." Arga yang memiliki pengalaman untuk memberi penanganan pertama agar seseorang cepat sadar dan mengurangi efek dari alkohol yang dicampur obat perangsang sebelum benar-benar kehilangan akal sehatnya. Arga memiliki pengalaman tersebut karena sering menggunakan obat perangsang kepada ternak yang dia rawat agar memiliki keinginan kawin yang tinggi.
Zilda yang mendengar penjelasan dari Arga, dengan segera membukakan sebuah kamar dengan kode akses khusus tanpa kunci dan kini Zilda merasa bersalah karena sempat berfikir negatif terhadap Arga.
"Cepat bawakan aku es yang aku minta!!" Arga mengulangi permintaannya kepada Zilda untuk membawakannya es karena Arga melihat Zilda terdiam dan melamun di depan pintu.
"Semoga cara ini juga dapat diterapkan kepada manusia. Aku memang belum pernah mencoba kepada manusia, tetapi metode ini sangat ampuh terhadap sapi ternak yang mulai kehilangan kesadaran karena kelebihan dosis saat memakan makanan yang sudah dicampur dengan obat perangsang." Arga membatin di dalam hatinya saat akan menaruh Siska masuk kedalam bak mandi. Sedangkan Siska terus mengerang ketika mendapat pergerakan sentuhan dari Arga yang melakukan pergerakan untuk mengubah posisi gendongannya terhadap Siska.
__ADS_1
Kini tubuh Siska yang masih mengenakan pakaian lengkap dan mulai terendam dengan air dingin. Tetapi hal itu belum cukup karena suhu air masih kurang rendah. Karena Zilda terlalu lama membawakan es yang Arga minta, dengan terpaksa Arga mulai melepaskan pakaian Siska satu persatu. Hingga kini Siska hanya mengenakan pakaian dalamnya.
Ketika suhu tubuh Siska mulai rendah, kesadaran Siska mulai kembali meski masih sangat sedikit dan masih merasakan rangsangan yang sangat tinggi. Tetapi kini Siska dapat mengenali Arga yang berada di luar bak mandi.
"Sayang, tolong aku. Cumbu aku dengan sentuhan-sentuhan lembutmu. Aku sangat tersiksa seperti ini. Tolong aku, aku sudah tidak dapat menahannya lagi." Saat Siska sudah memiliki sedikit kesadaran, Siska merasa tersiksa dengan rangsangan yang sangat sensitif di tubuhnya.
Siska terlihat sangat cantik di mata Arga dengan wajah Siska yang terlihat sedikit memerah karena sedang menahan rangsangan yang sangat sensitif di sekujur tubuhnya. Kini Siska meraih tangan Arga dan mengarahkan tangan Arga ke dada Siska lalu turun ke perut. Siska mengerang keenakan saat tangan Arga mulai menyentuh kulitnya. Arga yang tidak menolak saat tangannya diarahkan ke tubuh Siska, kini mulai merasakan gejolak di tubuh arga hingga kepala Arga terasa panas.
"Apa yang kamu lakukan kepada nona Siska!! Dasar mesum, kamu mencari kesempatan dalam kesempitan bukan. Bahkan kamu sudah melepas pakaian nona Siska dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja." Mendapati suara perempuan sedang membentaknya dari belakang, dengan segera Arga menarik tangan Arga dari tubuh Siska dan menoleh ke arah belakang yang merupakan sumber suara yang membentaknya. Terlihat hidung Arga mengeluarkan darah karena Arga mendapati gejolak di tubuhnya hingga panas tubuh yang mengarah ke kepala.
"Ini.. Ini tidak seperti yang kamu lihat." Arga berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Zilda sekretaris Siska tidak mau mendengarnya dan menggeser tubuh Arga yang sejak awal berada di dekat bak mandi.
Arga hanya menghela nafas mendapati tuduhan negatif dari Zilda. Lalu mengelap darah yang ada di hidungnya, setelah Zilda menggeser tempat dia berada sebelumnya dan digantikan oleh Zilda.
__ADS_1
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan dengan es ini? Sial aku tidak mengerti harus melakukan apa. Hanya mesum ini yang tau caranya. Tetapi harga diriku akan kembali jatuh jika aku memintanya kembali mengurus nona Siska. Aaaahhh… Apa yang harus aku lakukan." Zilda membatin di dalam pikirannya dan dengan terpaksa serta malu-malu, meminta Arga untuk membantu Siska.
"Dasar wanita, setelah membentakku. Kini meminta bantuanku karena tidak tahu harus melakukan apa." Arga membatin di dalam hatinya saat Zilda dengan malu-malu meminta bantuan Arga. Dengan segera, Arga menuangkan es ke dalam bak mandi. Saat suhu semakin dingin, kini Siska merasa kesadarannya semakin meningkat. Terlebih saat Arga mengguyurkan air es ke kepalanya. Seolah efek dari obat perangsang sudah hilang dari tubuhnya. Tetapi kini tubuh Siska seolah menggigil kedinginan.
Setelah melihat Siska sudah mendapat kesadaran dari obat perangsang, Arga membuang air es yang berada di dalam bak mandi dan menggantinya dengan air hangat dan meminta Siska berendam kembali hingga suhu tubuhnya kembali normal.
"Kau, temani dia di sini, aku akan mengurus para bajingan-bajingan yang hampir membuat Siska celaka. Oh ya. Satu lagi, jangan berpikir macam-macam, aku dari tadi hanya membantunya agar efek obat perangsangnya cepat hilang." Arga berbicara sambil menunjuk Zilda lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ya benar, kamu memang terlihat membantu. Tetapi kamu tetap mengambil keuntungan dan tidak menyia-nykakan kesempatan di depan mata. Dasar buaya." Zilda membatin saat mendengar pernyataan Arga.
****
Di tempat terpisah, Elena duduk di kantornya dan melamun mengingat kejadian-kejadian yang hampir tidak dia percaya. Dia mengingat kembali kejadian dari awal Arga datang menemuinya. Elena seolah tidak percaya jika dirinya seolah tertarik kepada Arga. Sebab ketika Arga memeluknya, Elena seolah tidak memiliki kemampuan untuk memberontak. Terlebih ketika Arga mencium keningnya, bukannya merasa keberatan dengan tindakan tersebut. Tetapi senyum senang yang keluar dari bibirnya, sehingga hal tersebut membuat Elena bertanya-tanya kepada diri sendiri.
__ADS_1
Saat mengingat hal tersebut, Elena baru mengingat jika tadi Arga mengirimkan uang untuk pembayaran sewa jet pribadi yang Arga sewa, Arga juga mengatakan selama dirinya pergi. Arga meminta sewa jet tetap dihitung karena Arga tidak ingin jet pribadi tersebut dipakai oleh orang lain dan tetap meminta Elena sebagai pramugarinya. Setelah Elena membuka handphone dan melihat uang digitalnya. Tertera angka $10.000.000.
"Apa!! 10jt dollar!! Ini sama dengan Arga menyewa jet itu 10 hari 10 jam. Seberapa kaya dia sebenarnya? Mudah sekali dia mengeluarkan uang sebesar 10jt dollar hanya untuk menyewa jet pribadi yang tidak tau kapan dia gunakan." Elena membatin dalam pikirannya saat melihat angka yang tertera di layar handphonenya.