
"Jika bisa memiliki dua sampai tiga wanita dalam hidupku, akan sangat menyenangkan. Tapi apa mereka mau di duakan atau bahkan di tigakan. Aku tidak rela kehilangan salah satu dari wanita cantik yang saat ini sedang dekat denganku. Bella, Siska, Melisa, mereka semua begitu cantik. Atau mungkin jika Kate polisi galak itu juga sangat memukau. Jika di tambah lagi dengan Adline anak kepala negara bagian California juga menjadi pasanganku, mungkin hidupku akan semakin berwarna dengan kenikmatan tiada akhir."
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Berkhayal ku terlalu tinggi. Mana mungkin mereka semua akan menjadi milikku. Yang ada mungkin mereka akan ribut lalu memaksaku memilih salah satu. Jika aku harus memilih salah satu dari mereka, apa yang harus aku lakukan? Memikirkan sekarang saja seakan aku tidak rela. Padahal ini hanya khayalan ku. Sistem ini ternyata juga bisa membuatku bahagia dan sakit hati. Benar-benar sistem laknat." Arga berbicara sendiri di dalam kamarnya.
"Oh ya, aku harus menelpon Kate. Aku harus meminta bantuannya tentang masalah yang dialami Mancini." Setelah keluar dari dunia imajinasinya, Arga mengambil handphonenya untuk menghubungi Kate.
"Hallo.." Kate segera menjawab telpon Arga saat mengetahui foto yang tertera di handphonenya adalah Arga Litohu.
"Hall.."
"Kebetulan sekali kau menelpon ku. Kenapa kau selalu merepotkan akhir-akhir ini. Belum selesai yang lain, kini anak buahmu membuat gempar kepolisian San Diego. Mancini salah satu anak buahmu bukan? Dia pilot helikoptermu bukan? Di mana dia sekarang? Cepat serahkan dia padaku." Belum sempat Arga menjawab sapaan Kate, Kata-kata Kate sudah di potong dengan ucapan Kate yang mirip dengan omelan.
"Apa ak."
"Jika sampai kau menyembunyikannya. Lihat saja, aku akan merobohkan gedung hotelmu." Belum selesai Arga berbicara, Kate kembali memotong bicaranya Arga.
"...................." Kini Arga hanya diam dan tidak langsung menjawab. Arga khawatir Kate belum selesai bicara, sehingga akan memotong pembicaraannya lagi.
"Kenapa kamu diam saja? Cepat jawab pertanyaanku. Atau, kamu memang ingi aku merobohkan gedung hotelmu?" Kate kembali berbicara saat Arga hanya diam saja.
"Apa aku sudah boleh bicara? Dari tadi aku tidak mendapatkan kesempatan itu."
__ADS_1
"Ya, bicaralah." Dengan ketua Kate menjawab Arga.
"Aku menelpon mu karena aku ingin menyam."
"Nona, orang yang kita cari, yang bernama Mancini datang bersama dua orang. Mereka berada di pusat pelayanan masyarakat." Salah satu anak buah Kate menyampaikan apa yang dia ketahui hampir bersamaan di saat Arga mulai berbicara.
"Aku tidak butuh ucapanmu lagi, Mancini sudah berada di sini." Kate kembali memutus pembicaraan Arga dan langsung menutup telepon Arga.
"Haaaaahhhh… Dasar wanita, cantik-cantik cerewet. Bagaimana bisa kau menjadi pelayanan masyarakat, siapa dulu yang meloloskan testmu." Arga berbicara sambil melihat handphonenya seolah handphonenya adalah Kate.
****
"Wanita menjengkelkan ini juga ikut kemari. Lihat saja, aku masih tidak terima dengan kekalahanku di hutan pinggiran laut Tijuana River." Kate membatin saat melihat Bella bersama dengan Mancini.
Kini mereka bertiga di bawa ke ruang kerja Kate. Di mana di ruangan tersebut juga ada 6 polisi pria.
"Silahkan duduk." Kursi di depan meja menyidik hanya ada dua, dan Kate hanya mempersilahkan Mancini dan Roby untuk duduk. Akan tetapi Roby tidak mau untuk duduk dan mempersilahkan Bella untuk duduk.
"Bukan dia yang harus duduk di sini, tetapi kamu." Kate berbicara dengan suara tegas kepada Roby. Tanpa bisa membantah, Roby duduk di sebelah Mancini. Sedangkan Bella tetap berdiri di belakang Mancini dan Roby.
"Kasihan sekali jika wanita cantik seperti itu harus berdiri dan tidak duduk." Seorang polisi pria membatin dan akan memberikan kursinya kepada bella yang sangat cantik. Bukan hanya polisi tersebut saja yang memiliki pemikiran tersebut, ke enam polisi pria seakan terhipnotis oleh kecantikan Bella.
__ADS_1
"Kalian mau apa? Kembali duduk, dan kerjakan pekerjaan kalian masing-masing." Kate membentak anak buahnya yang sedang berebut untuk memberikan kursinya kepada Bella.
Hingga tengah malam introgasi di lakukan kepada Mancini. Berbagai pertanyaan dilayangkan kepada Mancini. Tetapi jawaban sederhana selalu di utarakan Mancini, dia sedang buang air besar saat terdengar tembakan dan sebelum terdengar tembakan, Mancini berucap mendengar keributan antara keduanya. Beruntung peluru yang di gunakan Mancini saat menembak kedua orang di toilet memiliki jenis dan merek yang sama di gunakan militer. Meski pistol mereka berbeda tetapi peluru yang di gunakan sama persis.
Keberuntungan juga sedang memihak kepada Mancini, sebab dua peluru yang marah ke atas, masuk ke lubang ventilasi. Sehingga dua peluru tersebut tidak meninggalkan jejak saat melewati celah dan memasuki lubang ventilasi. Polisi tidak sampai mengecek di dalam lubang ventilasi sehingga peluru yang terhitung, sama dengan slongsong peluru yang ada.
Ketika Mancini sudah hampir selesai di introgasi, beberapa pihak militer datang dan masuk dengan paksa ke ruangan Kate. Saat mereka sudah berada di ruangan Kate, mereka memaksa untuk membawa Mancini ke markas mereka. Mereka mengucapkan jika Mancini akan di mintai keterangan di sana.
Tetapi, Kate yang merupakan polisi wanita pemberani dan selalu sacara maksimal menangani kasus-kasus yang dia tangani. Menghalangi pihak militer untuk membawa Mancini pergi dari sana. Hingga ketegangan terjadi antara dua kubu, dimana kubu militer menginginkan Mancini di bawa, sedangkan kubu Kate menghalangi karena kasus ini sudah ditangani pihak kepolisian.
Menganggap perlakuan kubu Kate adalah penghinaan bagi pasukan elit militer yang notabene seharusnya mendapat hormat dari semua kalangan keamanan negara, termasuk pihak kepolisian. Kubu militer mulai emosi dan melayangkan pukulan kepada Kate. Tetapi tidak semudah itu dapat memukul Kate yang merupakan juara bela diri di kepolisian San Diego. Meski tubuh seksi Kate terlihat tidak sebanding dengan tubuh kekar seorang militer yang ingin memukulnya, tetapi Kate dengan mudah membanting pasukan elite tersebut hingga menghancurkan sebuah meja dan komputer.
Mendapati hal tersebut, para anak buah Kate kini mengeluarkan pistol mereka dan menodongkannya kepada pihak militer yang datang tanpa senjata.
"Apa!! Mau menembakku, Tembak.. Tembak.. Kalian pikir kalian berhadapan dengan siapa? Cepat tembak." Dengan membentak-bentak seorang tentara dari pasukan elite militer terus melangkah mendekati seorang anak buah Kate yang sedang menodongkan pistolnya, sedangkan polisi tersebut terus mundur hingga punggungnya kini sudah menempel pada dinding.
Saat ujung pistol sudah menempel di dada anggota militer tersebut. Nampak tangan anggota polisi yang merupakan anak buah dari Kate gemetar karena takut pada reputasi dari pasukan elite militer.
"Jika kau tidak bisa menembak. SINI… biar aku ajari caranya." Anggota militer tersebut berbicara dengan membentak sehingga semakin membuat ciut nyali dari anggota Kate. Bersamaan dengan bentaan tersebut, pistol yang di genggam anggota Kate di ambil sedikit paksa karena anggota Kate tidak terlalu melawan saat pistolnya akan di rampas oleh anggota militer.
Kini, salah satu anggota pasukan elite militer telah menggenggam sebuah pistol dan memang sudah sangat berniat menembak seseorang karena emosi.
__ADS_1