
Kini waktu sudah menunjukkan jam 9 pagi. Waktu di mana kepala negara berjanji akan melakukan jumpa pers. Hal yang sedang di nantikan oleh banyak orang.
Terlihat di semua stasiun televisi, kepala negara sedang melakukan sambutan pembukaan untuk memulai pembicaraan inti.
"Saya, sebagai kepala negara. Menanggapi hal serius dengan apa yang terjadi baru-baru ini. Saya melihat dan mendengar seperti apa yang sudah semua saudara lihat dan saudara dengar. Tetapi, setelah saya melihat vidio-vidio yang telah di sebar luaskan ke publik, hingga membuat kegaduhan bahkan kekacauan di sejumlah kota."
"Vidio tersebut belum terbukti benar di mata hukum. Saya sebagai tertuduh, juga tidak merasa melakukan satu hal pun yang berada di vidio tersebut. Oleh karena itu, saya menganggap penyebar vidio dengan sengaja ingin memecah belah negara kita. Negara tercinta kita."
"Oleh karena itu, saya memerintahkan kepada pihak berwajib untuk menangkap penyebar vidio palsu yang membuat gaduh bahkan memancing kerusuhan yang sudah di kenali identitasnya sebagai Jendral Julio. Saya sebagai kepala negara, memerintahkan penangkapan kepada Julio, atau yang lebih tepat di panggil dengan sebutan pemberontak Julio."
"Bersamaan dengan jumpa pers saya saat ini, saya meminta kepada pemberontak Julio untuk menyerahkan diri bersama dengan anggotanya. Saya mengerikan waktu 1x24 jam untuk menyerahkan diri."
****
"Sial..!!! Apa-apaan ini..!!" Julio yang melihat siaran langsung kepala negara, di buat terkejut dengan pernyataan yang memutar balikkan keadaan.
****
"Bisa-bisanya dia masih mengelak." Melisa tidak menyangka akan melihat suatu hal yang tidak sesuai dengan harapan.
"Aku sudah menduga hal ini. Tidak akan semudah itu menumbangkan pohon besar." Arga berbicara kepada lainnya setelah melihat siaran di televisi.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Melisa bertanya kepada Arga mengenai tindakan selanjutnya.
"Aku tidak bisa menjalankan rencanaku sesuai dengan yang aku inginkan sebelumnya. Pemilik sistem lainnya telah di utus oleh pencipta sistem. Kelompok TP&P juga pasti akan lebih berhati-hati. Atau bahkan mungkin mereka sudah mulai menyiapkan jebakan untukku."
"Aku harus cepat bertambah kuat. Aku tidak bisa terus menerus lari. Saat ini, aku masih jauh dari kata kuat." Arga berbicara kepada Melisa dan Bella.
Setelah berucap demikian, dengan segera Arga menghubungi wakil kepala negara yang juga tidak menyangka jika kepala negara masih tidak menyerah.
Wakil kepala negara yang berambisi menjadi kepala negara untuk pemilihan berikutnya, ingin mendapat keuntungan dengan dekat kepada Arga Litohu yang memiliki perhatian lebih kepada para imigran. Wakil kepala negara ingin bertemu dengan Arga dan mereka menyepakati pertemuan di sebuah tempat.
****
__ADS_1
"Apa kau percaya kepada tuan Jonathan?"
"Dia di percaya oleh Julio, mungkin aku harus mencoba percaya kepadanya. Julio merupakan militer yang bersih, aku yakin Julio memiliki alasan untuk percaya kepada tuan Jonathan yang merupakan wakil kepala negara." Arga menjawab pernyataan Bella dengan santai.
"Aku memiliki janji bertemu dengan tuan Jonathan 2 hari lagi. Aku ingin kamu membawa tuan Jonathan ke sini besok. Dengan kecepatan yang kamu miliki, aku yakin kamu bisa membawanya tanpa di ketahui oleh para pengawalnya." Arga berbicara kepada Bella.
"Kenapa harus menculiknya?"
"Lebih tepatnya memintanya bertemu denganku tetapi tidak di ketahui orang lain. Aku ingin memastikan jika semuanya dalam kondisi steril tanpa ada sadapan atau mata-mata."
"Itu sama saja dengan menculiknya."
"Terserah padamu menyebutnya apa. Yang penting besok kau bawa dia padaku."
"Baiklah, aku hanya membutuhkan mobil yang cepat dan pengemudi yang handal." Bella menjawab dengan santai lalu berdiri untuk bersiap.
"Pengemudi yang handal kita sudah memilikinya. Untuk mobil, kau harus bertanya kepada pengemudinya."
Setelah pembicaraan tersebut, Bella membawa Smith untuk membeli mobil yang dapat membawa wakil kepala negara dengan cepat dengan kemungkinan akan di kejar oleh pihak kepolisian atau pengawal wakil kepala negara.
****
"Ha.. Ha.. Ha..H.. Ini yang aku tunggu-tunggu. Ayo.." Smith sangat bersemangat ketika Bella mengatakan jika Smith di minta untuk membeli mobil yang sesuai dan yang paling di inginkan Smith untuk bisa berkendara dengan cepat dan lolos dari kejaran.
Dengan segera Smith bersiap dan pergi menuju dealer Dodge, salah satu merek mobil paling terkenal di Amerika. Dengan segera, Smith memilih Dodge Charger SRT Hellcat Redeye.
Mobil di produksi masal dengan akselarasi terbaik dan sering di gunakan untuk balap mobil. Meski masih ada mobil yang memiliki top speed lebih cepat, Smith memilih Dodge Charger SRT Hellcat Redeye karena memiliki gambaran yang pas untuk lolos dari kejaran.
****
Tiiin.. Tiiin.. Smith yang berada di luar hotel, membunyikan klaksonnya ketika melihat Bella dan Arga yang berada di restoran hotel dan menghadap ke jalan.
__ADS_1
Seketika Bella dan Arga melihat ke arah mobil yang membunyikan klakson. Ketika mereka semakin memperhatikan mobil tersebut, jendela mobil terbuka dan terlihatlah Smith yang berada di kursi kemudi.
"Apakah kita akan berangkat besok pagi saja..? Aku sudah siap beraksi." Smith berteriak dari dalam mobil supaya Bella dan Arga dapat mendengarnya.
Mendengar teriakan dari Smith, dengan segera Arga dan Bella menghampiri.
"Apakah mobil ini bisa membantu?" Bella bertanya kepada Smith yang terlihat sangat yakin.
"Kau akan mengerti kenapa aku memilih mobil ini ketika aku sudah beraksi."
"Baiklah, ayo kita berangkat."
"Hanya kita berdua!!" Smith cukup terkejut saat mengetahui hanya Bella yang naik di kursi depan sebelah pengemudi. Sedangkan Arga tetap berdiri di luar mobil.
"Jangan terlalu banyak bertanya. Kau akan terkejut ketika nanti tau siapa penumpang berikutnya."
"Asal tidak merampok bank, aku akan bersemangat untuk mengemudi. Karena akan sulit jika lari dari kejaran puluhan mibil polisi."
"Sebaiknya kamu cepat berangkat. Karena kini mulutmu sangat cerewet." Dengan segera Smith diam dan menutup kaca mobil dan melaju membawa Bella bersamanya.
"Kemana tujuan kita?"
"New York." Dengan singkat Bella menjawab pertanyaan Bella.
****
Melisa yang memperhatikan Arga dari dalam restoran hanya tersenyum tipis dan melanjutkan makannya.
"Apakah makanmu sudah selesai?"
"Aku baru akan selesai makan besok siang, jadi kau kembalilah ke kamar terlebih dahulu." Melisa berbicara dengan senyum menggoda kepada Arga.
"Jika kamu tidak ikut denganku, aku juga akan ke New York untuk membantu Bella menyelesaikan pekerjaannya." Arga menjawab ucapan Melisa lalu berbalik untuk menuju kamarnya. Setelah beberapa langkah Arga jalan, melisa menggandeng Arga dengan tersenyum dan mengejek Arga yang terlihat cemberut.
__ADS_1
****
Sekarang Arga dan Melisa hanya berdua di kamar hotel, tanpa ingin menyia-nyiakan kesempatan. Arga langsung memeluk dan mencium leher Melisa dari belakang sesaat setelah menutup pintu kamar.