
"Apakah ini akhir hidupku? Ternyata sosok pencabut nyawa seperti kalian. Tapi aku tidak yakin jika pencabut nyawa itu kalian."
"Dua… Tiga…" Hitungan terus berlanjut bersamaan dengan bicaranya Mancini.
"Empat."
"Kumohon lakukan dengan cepat hingga aku hanya mati dengan satu peluru saja." Mancini berucap setelah hitungan ke empat di ucapkan.
"Permintaan diterima." Orang yang dari tadi menghitung, berbicara selain menghitung. Setelah mengucapkan kata-kata yang lain selain menghitung. Kedua pria tersebut mundur ½ langkah ke belakang dan memindah tangan mereka yang awalnya menodongkan pistolnya ke perut dan dada Mancini, kini bergerak ke arah kepala.
Di dalam hati, Mancini menghitung gerak tangan mereka untuk sampai ke kepala. Saat baru saja pistol terakhir berhenti di kepala Mancini, dengan cepat Mancini menunduk bersamaan dengan menembak kedua orang tersebut dengan pistol Mancini yang masih berada di dada samping bawah ketiak. Tanpa melihat sasaran, Mancini menembak keduanya hanya dengan mengandalkan instingnya.
Kedua orang tersebut tertembak di leher hingga menembus pangkal leher belakang mereka berdua. Tertembaknya pangkal leher belakang, membuat jari mereka yang sudah berada di pelatuk menjadi kaku seperti sedang kram. Dengan segera Arga memegang kedua tangan yang memegang pistol dan mengarahkannya ke atas. Sesaat setelah Mancini menggerakkan tangan mereka ke atas sebelum mereka berdua roboh. Letusan dari pistol keluar hingga beberapa kali.
Tembakan tersebut sudah diantisipasi oleh Mancini. Sehingga Mancini menggerakkan tangan mereka ke atas bersamaan ketika mereka hampir roboh. Pengalaman di militer membuat Mancini mengerti dengan gerak otot yang mengejang ketika pangkal leher belakang tertembak. Dan beberapa saat kemudian jemarinya kejang hingga dapat dengan tidak sengaja menekan pelatuk pistol.
Sontak tembakan-tembakan di toilet membuat gempar seisi rumah sakit. Mancini menyempatkan memperhatikan ciri fisik dari keduanya. Tetapi tidak ada yang aneh dengan fisik mereka berdua. Akan tetapi kini pandangan Mancini tertuju pada dua pistol yang digunakan oleh kedua pelaku berjenis SIG Sauer P226.
Sontak hal tersebut mengejutkan Mancini. Sebab pistol jenis itu hanya digunakan pasukan elite. Pistol jenis SIG Sauer P226 tidak mungkin di jual di pasar bebas sebab pistol tersebut hanya diproduksi untuk militer.
__ADS_1
"Sial… militer juga ada di balik ini semua." Siapa sebetulnya Arga Litohu ini. Apakah aku mengikuti penjahat kelas kakap dan menjalankan aksinya secara halus dan dikemas dengan kebaikan? Jika Militer yang juga berada di balik ini semua. Itu artinya Arga Litohu melakukan kejahatan yang membahayakan negara." Mancini membatin dengan mengepalkan tangan. Setelah benar memastikan pistol tersebut, Mancini segera meninggalkan lokasi dengan berlari seolah-olah sedang ketakutan.
Mancini sesegera mungkin menuju balkon sebelum pihak keamanan menemukannya dan meminta keterangan Mancini karena terlihat baru keluar dari toilet yang di dalamnya ada mayat.
"Mancini, kenapa kamu lama sekali ke toilet?"
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Sebenarnya Mancini sangat ingin memukul Arga. Akan tetapi akan banyak yang melihatnya jika memukul Arga karena gedung-gedung di sebelah banyak yang lebih tinggi dari gedung rumah sakit. Melihat ekspresi serius Mancini, dengan segera Arga dan Bella naik ke dalam helikopter.
****
Mancini masih menahan amarahnya dan menahan pertanyaannya. Mancini masih bisa mengendalikan mulutnya agar bertanya tentang kecurigaan Mancini setelah turun dari helikopter.
"Sepertinya suasana hatimu sedang tidak nyaman. Sebaiknya kita kembali ke San Diego dan mendarat di Hard Rock Hotel Valent Stand." Pernyataan Arga tidak dijawab oleh Mancini dan hanya terus menerbangkan Helikopter ke arah San Diego sesuai dengan permintaan Arga.
****
Setelah beberapa jam terbang, akhirnya mereka sampai di Hard Rock Hotel Valent Stand. Matahari yang sudah terbenam membuat penerangan di balkon dan helipad Hard Rock Hotel Valent Stand hanya menggunakan lampu-lampu sorot. Saat helikopter mendarat dan mesin dimatikan, Arga dan Bella turun seperti biasanya.
"Arga Litohu…!!!" Arga yang baru berjalan beberapa meter dari helikopter, diteriaki oleh Mancini yang terlihat emosi. Setelah Mancini sampai di dekat Arga, Mancini menarik kerah baju Arga dengan tangan kiri.
__ADS_1
"Siapa kau sebenarnya!!" Mancini bertanya dengan suara keras khas dari seorang militer. Meski Mancini sudah berhenti dari Militer, jiwa Militer yang berada pada Mancini sudah seolah mendarah daging.
Mendapati perlakuan kasar dari Mancini dengan menarik dan menggenggam krah baju Arga dengan tangan kiri, dengan cepat Arga mendorong sisi terlemah dari tangan Mancini saat menggenggam krah baju Arga.
Sikut tangan Mancini di dorong ke samping dengan tangan kanan Arga dan di dorong ke arah dalam hingga siku Mancini terangkat ke samping dalam atas hingga genggaman di kerah baju Arga terlepas. Dengan otomatis tubuh Mancini juga setengah memutar lalu Arga menginjak belakang lutut kaki kiri Mancini hingga lutut Mancini menyentuh lantai. Setelah Mancini berada di posisi lebih rendah dari pada Arga dan tubuh yang sedikit memutar. Tangan kanan Arga yang tadinya mendorong tangan kiri Mancini, kini menggenggam leher Mancini dan mendorong dan menekan leher Mancini ke samping belakang Arga hingga menyentuh lantai. Setelah Mancini telah terjatuh, lutut Mancini menekan pangkal leher Mancini.
"Aku Arga Litohu. Apa maksudmu masih bertanya dengan kasar?" Arga berbicara kepada Mancini yang sudah di lumpuhkan oleh Arga. Setelah Arga bertanya demikian, Arga melepaskan kunciannya dan berdiri menunggu Mancini berdiri.
"Militer menginginkan nyawamu. Kejahatan apa yang kau perbuat?" Mancini berbicara saat masih dalam posisi duduk berlutut dan merasakan sakit di lehernya.
"Kejahatan? Militer? Tidak ada kejahatan yang aku perbuat. Apa membantu imigran dan ingin merubah aturan yang merugikan imigran adalah kejahatan?"
"… … … …" Mancini berdiam dan berfikir atas ucapan Arga.
"Itu artinya, kau di anggap membahayakan kepala negara. Karena ingin merubah keputusannya. Oleh sebab itu kau juga di incar Militer." Mancini menjawab Arga setelah nampak berfikir. Lalu Mancini berdiri dari posisinya dengan tetap memegang lehernya.
"Kau harus lebih berhati-hati lagi. Militer tidak dapat di buat main-main. Aku mungkin perlu istirahat. Maafkan aku." Nampak wajah Mancini masih merasa tidak yakin dan berusaha mencari kebenaran.
"Kau tidak boleh pergi. Ikutlah denganku sebentar." Arga berbicara saat Mancini baru beberapa langkah mendahului Arga.
__ADS_1
Mendapat ucapan demikian, Mancini berhenti dan menunggu Arga mendahului untuk Mancini ikuti. Mancini menuruti karena Mancini ingin tau kebenarannya. Sebab jika Arga memang menentang negara. Mancini berniat berhenti dari pekerjaannya saat ini.