Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap

Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap
Tangisan Bayi


__ADS_3

"Apa… Apa yang terjadi di sini…?" Arga cukup syok melihat kejadian tersebut. Meski mereka bukan keluarga asli Arga dan di kenal sebagai keluarga majikan sebelumnya. Tetapi setelah mendapat cerita dari ayah angkat Arga yaitu tuan Wesley yang ternyata keluarga tersebut sebenarnya selalu melindungi ibu Arga dan Arga selama lebih kurang 20th. Arga yang dulunya mengetahui jika hidupnya sengsara karena ibu Arga mendapat perlakuan yang berbeda dari pekerja yang lain. Yaitu upah yang jauh lebih sedikit. 


Ternyata hal itu tidaklah benar. Gaji ibu Arga di potong hingga 50% untuk membayar kepada oknum yang dapat membuat ibu Arga tidak di temukan selama lebih dari 20th. Bahkan ayah angkat Arga masih harus menambah uang yang harus di bayarkan kepada oknum tersebut dengan uang pribadinya. Jika semua di bebankan kepada ibu Arga, maka seluruh gaji ibu Arga tidak akan cukup membayar kepada sejumlah oknum yang menutupi keberadaan ibu Arga di imigrasi. 


Arga juga yang dulunya mengetahui jika dirinya membantu bekerja selama bertahun-tahun tidak mendapat gaji. Hal itu juga tidak benar. Sebab hasil kerja keras Arga untuk membantu peternakan yang di kira milik majikan ibu Arga atau ayah angkat Arga. Ternyata Arga bekerja keras pada peternakan nya sendiri. Sebab petak yang selama ini Arga garap dan Arga kerjakan ternyata dari awal adalah milik Arga. Dan semua nama kepemilikan sudah diatas namakan Arga Litohu sebagai anak terakhir pemilik peternakan saat Arga menginjak usia 17th.


Semua itu dirahasiakan oleh ayah angkat Arga karena menginginkan Arga bekerja keras dan tidak bermalas-malasan. Dan semua itu terungkap dan diungkapkan oleh ayah angkat Arga ketika Arga bertemu dengan ayah angkat Arga di 700 Front ST San Diego. 


"Ada Apa tuan?" Mendengar keterkejutan Arga akan sesuatu, kedua pengawal Arga yang berada di sisi yang lain, dengan segera menghampiri Arga.


"Cepat hubungi yang lain, perintahkan mereka semua kemari. Hubungi juga mancini, perintahkan dia membawa helikopter ke sini."


"Siap tuan." Kedua pengawal Arga sibuk menghubungi pengawal yang lain. Sedangkan Arga memeriksa rumah yang lain. Setelah Arga sampai di rumah terdekat dari rumah sebelumnya, Arga sudah melihat mayat di halaman rumah. Mayat itu merupakan pekerja peternakan. Arga terus memasuki rumah tersebut, bau lebih menyengat menusuk hidung. Terlihat noda darah di lantai yang menandakan korban sedang di seret di saat sudah kritis menuju ke ruangan belakang. Ketika Arga sampai di ruang belakang, Arga melihat 5 orang di gantung di bagian leher. Bahkan salah satunya masih balita. 

__ADS_1


Arga mengenal mereka semua yang kini sudah tidak bernyawa dan tergantung di ruang belakang. Kini tangisan Arga pecah. Arga menangis sejadi-jadinya. Marah, sakit hati, sedih semua menjadi satu. Tetapi Arga tidak tahu harus marah dan bertanya kepada siapa. Sebab tidak ada satupun yang hidup. Arga hanya menemukan mayat di 2 rumah yang sudah Arga masuki. 


Kini Arga duduk di teras rumah ke dua dengan menangis dan berteriak. Arga mengingat betul ketika Arga jalan melewati depan rumah ini, Arga terkadang menggoda anak balita yang tadi juga tergantung di ruang belakan. 


"Pembunuh ini sungguh kejam. Sungguh biadab. Aaaaaaaaaaaaaaa… ... … …" Arga berteriak untuk meluapkan emosinya. 


Kedua pengawal Arga yang mendengar teriakan Arga, dengan segera menaiki mobil dan bergegas menuju sumber suara teriakan Arga. Jarak antara rumah satu dengan lainnya memang cukup jauh. Sekitar 100-200 meter tiap rumah. Ketika kedua pengawal Arga sampai di tempat Arga, terlihat Arga menangis dengan kesedihan mendalam. Satu pengawal Arga hanya diam di dekat Arga, sedangkan satu lagi memasuki rumah tersebut dan melihat apa yang terjadi hingga tuannya berteriak dan menangis. 


Pengawal Arga yang tidak mengenal dengan keluarga di rumah tersebut sampai ikut meneteskan air mata melihat bekas kekejaman pembunuhan terhadap keluarga tersebut. 


"Ya… ya… hubungi pihak kepolisian." Dengan lemas Arga menjawab pengawalnya. 


"Siap tuan." Dengan segera pengawal tersebut menghubungi pihak kepolisian. 

__ADS_1


Kini Arga berjalan menuju mobil untuk mengantarnya ke rumah tuan Wesley yang merupakan ayah angkatnya. Kaki Arga sudah lemas tidak memiliki tenaga karena syok. Arga tidak ingin melihat rumah yang lain terlebih dahulu. Arga ingin melihat rumah tuan Wesley terlebih dahulu karena Arga yakin jika nasib tuan Wesley juga sama dengan 2 rumah yang sebelumnya Arga lihat. Arga juga meyakini, kematian ini ada hubungannya dengan organisasi tersembunyi. 


Di dalam mobil Arga berteriak dan menangis dengan kencang. Arga seakan tidak memiliki nyali untuk menghadapi kenyataan. Arga yang belum pernah membalas kebaikan tuan Wesley beserta keluarga besarnya. Kini hanya mendapati mereka menjadi mayat dan sudah mulai membusuk. 


Beberapa rumah telah Arga lewati, saat Arga melewati salah satu rumah, Arga dan kedua pengawal Arga mendengar suara tangisan bayi yang sangat lemah. Dengan segera Arga meminta pengawalnya menghentikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, dengan cepat Arga berlari menuju sumber suara tangisan bayi yang seakan sudah kehabisan suara dan tubuhnya sudah melemah. 


Rumah yang Arga ketahui memang memiliki bayi berumur 1 tahun dan rumah tersebut dalam keadaan pintu tertutup. Dengan segera Arga membuka pintu dan menemukan mayat wanita yang juga dia kenali sedang dipeluk oleh bayi laki-laki yang Arga ketahui baru berumur 13 bulan. Dengan sayup bayi laki-laki tersebut membuka matanya yang sepertinya lama dia pejamkan karena sudah lelah dan lemas. Panggilan mama di tangisannya tidak lagi dihiraukan oleh sosok mayat yang semasa hidupnya dia kenal dengan sebutan mama. 


Dengan perlahan dan juga tangisan yang berusaha Arga tahan sekuat mungkin, Arga meraih bayi laki-laki tersebut yang sudah terlihat sangat lemah. Bahkan saat Arga mengangkat bayi tersebut, terlihat dia ingin melawan dan tidak ingin dipisahkan dari mayat mamanya. Saat Arga mengangkat bayi tersebut dengan perlahan, terlihat juga kulit mamanya mengelupas karena sudah mulai membusuk dan menempel di pipi dan bibir bayi tersebut. Sebab bayi tersebut memeluk mamanya dalam kondisi pipi di dekat p*y*d*r* mamanya, Hal itu menandakan cukup lama bayi tersebut terdiam di posisinya saat ini. 


Setelah Arga berhasil menggendongnya, Arga meminta pengawalnya untuk duduk di kursi dengan menyandarkan punggung. Setelah pengawal tersebut duduk dan menyandar, Arga memberikan bayi tersebut kepada pengawalnya untuk di pangku. 


"Kalian tunggu di sini. Aku akan mencarikan susu hangat untuknya." Setelah mengucapkan hal itu, Arga berlari sekuat tenaga. Arga berlari menuju kandang sapi yang tidak jauh dari rumah tersebut. 

__ADS_1


Dengan segera Arga memerah susu sapi yang ada di kandang. Sapi tersebut memberontak saat Arga mencoba untuk memerah susunya. Sebab sapi tersebut sedang dalam kondisi lapar berat. Sapi tersebut tidak diberi pakan selama pemiliknya meninggal. 


__ADS_2