Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap

Sistem Kuadrilliun Imigran Gelap
Pengorbanan Prinsip Siska


__ADS_3

Mendapti ancaman seperti itu, Alek merasa gusar dan mulai menghubungi orang-orangnya yang bertugas mengawal para imigran tersebut untuk kembali ke negaranya masing-masing. 


"Alerto, hubungi mereka semua. Tanyakan apakah mereka sudah keluar dari negara ini. Laporkan padaku besok saat aku sarapan." Arga berbicara kepada Alerto dan berlalu meninggalkan Alerto yang langsung mengerjakan perintah Arga. 


****


"Nona, tuan Arga sudah kembali, beliau masih belum turun dan masih berada di kamarnya. 


"Arga sudah kembali?" Siska yang mendapat laporan dari karyawannya bahwa Arga sudah kembali, sangat senang dan langsung menuju ke kamar Arga. 


Dengan akses yang dimiliki, Siska dapat masuk ke kamar Arga tanpa harus Arga membukakannya dari dalam. Terlihat Arga masih tertidur dengan posisi memeluk guling. 


"5 hari aku tidak bertemu denganmu. Aku juga tidak tau apa yang kamu lakukan olehmu di luar sana. Tetapi kau terlihat sangat lelah." Siska membatin dalam hati saat melihat Arga masih tertidur memeluk guling. 


"Apa aku harus menghiburmu? Tetapi bagaimana dengan prinsipku? Aku ingin melakukannya jika aku memang sudah menikah. Tetapi jika aku mempertahankan prinsip tersebut, aku akan kalah dalam persaingan mendapatkan Arga. Aku yakin dia sudah menikmati tubuh beberapa wanita yang berusaha mendekatinya. Sebab, dari yang aku rasakan. Nafsu Arga sangat besar."


"Demi dirimu tuan. Aku akan mengesampingkan prinsipku" Siska membatin di dalam hatinya. Jantung Siska terasa sangat berdebar setelah Siska akan mengesampingkan prinsipnya. 

__ADS_1


Siska perlahan berjalan menuju ranjang Arga. Dengan perlahan, Siska mulai melepas setiap helai kain yang menutupi keindahan tubuhnya. Kulit mulus Siska perlahan mulai nampak, meski pencahayaan di kamar Arga tidak begitu terang karena tirai jendela tidak di buka sepenuhnya. 


Pakaian yang menutupi tubuh atasnya kini telah Siska tanggalkan. Rok di atas lutut perlahan Siska buka. Tanpa terasa, air mata Siska jatuh dari pelupuk matanya. Mahkota yang dia jaga selama 24 tahun harus dia serahkan kepada Arga demi sebuah tujuan. Kini Siska hanya mengenakan pakaian d*lam dan terus perlahan Siska lepaskan. 


Setiap gerakan tangan Siska yang melepaskan pakaiannya sendiri, terasa seperti sayatan silet menyayat hatinya. Terasa sangat berat tetapi tetap harus Siska lakukan. Siska tidak mungkin bisa mendapatkan Arga hanya dengan merayunya. Sedangkan saingan Siska sangat cantik dan muda. Siska menyadari itu, usia menjadi pembeda antara Siska dan lainnya. Akan tetapi, jika kehalusan kulit Siska akan terasa sama seperti gadis di bawah 20 tahun. 


Dada yang begitu besar nan indah kini mulai terbuka satu persatu. Ingin Siska membatalkan niatnya. Tetapi Siska seakan sudah tidak memiliki cara lain lagi selain senjata terampuh dari setiap wanita, memberi kenikmatan. 


Kini hanya tersisa celana d*lam yang menutupi tubuhnya. perlahan Siska duduk di ranjang tempat Arga terlelap. Siska mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Air mata yang keluar dari matanya, Siska usap hingga mengering. 


Arga yang sudah membuka mata, mencoba merasakan kehangatan dan kenikmatan yang terasa kenyal di punggungnya. Arga tidak segera merespon kenikmatan ciuman di leher yang diberikan siska kepada Arga. Sebab, Arga belum mengetahui siapa yang kini berada di belakangnya. 


"Apakah ini mimpi? Atau memang ini benar-benar nyata? Jika ini nyata, siapa di belakangku ini? Apakah Bella? Atau Melisa? Tidak mungkin. Aku yakin aku sudah mengunci pintunya. Lagi pula, pintu hotel ini tidak dapat di buka dari luar tanpa kunci. Astaga… Ini siska." Arga membatin di dalam hatinya dengan terus menahan gejolak dari dalam tubuhnya. 


Meski Arga masih terus berusaha menahan gejolak di tubuhnya. Adek kecil yang berada di bawah pusarnya, dengan cepat bertransformasi menjadi raksasa yang siap bertarung menunjukkan kejantanannya. 


"Mengapa Siska? Aaahh.. Kepalaku jadi pusing menahan gejolak ini." Siska yang susah mengetahui Arga sudah terbangun, semakin mencium mesra leher dan punggung Arga yang semakin tidak dapat Arga tahan. 

__ADS_1


"Menahan rasa ini benar-benar menyiksaku. Tetapi jika aku menuruti nafsuku yang terus menabuh genderang perang ini, aku akan semakin terjebak dalam pusaran kebingungan yang bisa semakin kacau. Aku akan semakin bingung untuk menjawab pertanyaan Melisa." Arga terus meredam nafsunya meski genderang perang di dalam hatinya terus bertabuh semakin kencang hingga membuat sang monster otot kini berdenyut mencari lawan. 


"Aku tidak dapat menahan jika Siska terus menggodaku seperti ini." Arga membatin dan berbalik untuk meminta Siska berhenti menggodanya. 


Tetapi hal mengejutkan terjadi saat Arga berbalik, Arga langsung dihadapkan dengan kemulusan kulit Siska serta kekenyalan balon yang sering Arga bayangkan. Saat Arga termenung dengan pemandangan alam yang baru saja dia lihat. Dengan sekejap bibir Siska sudah mengecup bibir Arga. Kecupan bibir yang sangat lembut dan nikmat siaka berikan kepada Arga. 


Gejolak di dalam tubuh Arga semakin memberontak mendapatkan kenikmatan bibir Siska. Tanpa bisa menahan lagi, tangan Arga yang sebelumnya mengkaku di samping tubuhnya. Kini mulai bergerak menyentuh kulit mulus Siska dari paha menuju benjolan di bawah pinggang Siska. 


Tangan yang kini menggenggam benjolan di bawah pinggang Siska mulai meremas dan berputar-putar dengan lembut. Dengan gejolak yang semakin memburu, tangan Arga kembali berjalan keatas dan mulai meraih balon yang sangat lembut. Jemari Arga kini mulai mencari ujung dari balon tersebut dan mulai perlahan-lahan memainkannya seperti sebuah kelereng. 


Kini Arga seolah sudah lupa dengan dunia yang akhir-akhir ini telah menyiksa tubuh dan pikirannya. Yang ada dalam otak Arga hanya sebuah kenikmatan keindahan alam tiada tara dengan sentuhan-sentuhan lembut menggairahkan. Arga mulai melepaskan ciumannya dan mulai menjelajahi leher Siska dengan bibir dan lidahnya. Wangi tubuh Siska semakin membuat gejolak peperangan semakin meningkat. 


Sedangkan Siska kini memejamkan mata mendapatkan kenikmatan di sekujur kulitnya. Tetapi hal tersebut seakan sebuah tikaman yang terus menghujam tiada henti. Dada Siska terasa sangat sakit merasakan kenikmatan dari ciuman Arga yang kini mulai menjelajah turun dan berputar-putar di kedua balon yang terletak di dadanya. 


Siska mulai merintih merasakan sentuhan lidah di ujung balonnya. Semakin Siska merintih merasakan kenikmatan, semakin bergejolak semangat Arga untuk berperang. Tetapi rintihan kenikmatan di tiap inci tubuh Siska semakin merobek-robek perasaannya. 


Saat lidah Arga menjelajah di dada Siska, kini tangan Arga mulai turun kebawah dan meraih kain satu-satunya yang menutupi keindahan tubuh Siska secara menyeluruh. Saat jemari Arga telah mengunci kain terakhir di pinggang Siska, dengan perlahan Arga mendorongnya ke bawah supaya terlepas. Kaki Siska mulai di angkat untuk memudahkan Arga melepas kain satu-satunya yang menutupi keindahan tubuh siaka. 

__ADS_1


__ADS_2