
"Besok aku harus kembali dulu ke rumahku di Sacramento. Aku harus kembali dulu untuk mendapatkan informasi mengenai penembakan tadi siang. Jika kamu tidak memiliki kesibukan. Ikutlah denganku, nanti aku kenalkan dengan ayahku."
"Arga… kenapa kamu tidak mengajakku makan? Aku juga lapar." Kedatangan Bella yang tiba-tiba membuyarkan pembicaraan mereka berdua yang menurut Arga adalah sebuah kesempatan dengan mengenal kepala negara bagian California.
"Kamu yang menghilang dan tiba-tiba muncul di sini. Memangnya kamu harus selalu butuh makan?" Arga berbicara kepada Bella yang meringik di sebelahnya dengan menginjak-injak lantai berkali-kali.
"Kamu kira aku bukan manusia dan hanya sebuah robot? Aku juga manusia yang memiliki lapar." Bella menjawab Arga dengan kesal dan terus merengek kesal kepada Arga. Sedangkan Adline yang melihat tingkah kekanak-kanakan Bella menjadi tertawa dan terheran. Sebab, wanita sehebat Bella bisa manja dan merengek seperti itu.
Sedangkan Arga terpukau dengan kecantikan Adline saat tersenyum dan tertawa melihat tingkah Bella. Melihat Arga yang kini memalingkan wajahnya dan memandang Adline, Bella semakin kesal hingga lupa dan memukul bahu Arga. Tetapi hal mengejutkan terjadi, sebelum tangan Bella menyentuh Arga, Bella terlempar dengan keras ke belakang hingga menghantam beberapa meja dan kursi.
Dengan segera Arga beranjak dari kursinya dan meraih Bella yang terlihat lemas di lantai. Dengan segera Arga mengangkat Bella dan membawanya ke sofa untuk di tidurkan.
"Apa yang terjadi padamu?" Dengan rasa khawatir tinggi, Arga bertanya dengan penuh perhatian kepada Bella.
"Sistem melarangku memukulmu. Karena hal itu terbaca sebagai aku menyakitimu." Bella berucap dengan manja dan menempelkan wajahnya ke lengan Arga yang memang berada di dekat kepala Bella.
Sedangkan Adline terlihat bingung dengan kejadian tersebut. Adline yang duduk di depan Arga, sangat jelas melihat jika tangan Bella belum menyentuh Arga tetapi Bella sudah terpental seakan ada tegangan listrik yang melempar Bella. Adline juga bertanya-tanya kepada dirinya sendiri dengan hubungan Arga-Bella yang terlihat sangat aneh dan unik.
****
Di pagi hari, Arga telah siap dan menunggu Adline di lobi hotel bersama Bella. Arga berharap Adline lebih cepat untuk bersiap. Sebab jika sampai terlalu siang, Arga khawatir Siska datang dan menggodanya kembali. Semakin hari, Siska semakin agresif menggoda arga, hingga terkadang Arga seakan sudah tidak dapat menahan nafsunya.
Triiing… Triiing… Triiing… suara handphone Adline berbunyi.
__ADS_1
"Hallo. Ada apa?" Adline mengangkat telpon dari Arga.
"Mengapa kamu bertanya ada apa? Kamu belum bersiap-siap?"
"Bersiap-siap? Ke mana?" Adline menjawab dengan kebingungan atas pertanyaan Arga.
"Kamu kemarin bicara pagi ini akan ke Sacramento? Kita berangkat sekarang."
"Ini terlalu pagi."
"Tidak ada kalimat terlalu pagi. Kita berangkat sebelum Siska datang. Aku menuju kamarmu, cepat bersiap atau aku akan membuka kamarmu dengan akses yang aku miliki." Setelah berbicara demikian, Arga menutup telponnya dan menuju resepsionis untuk menanyakan kamar Adline.
Mendengar perkataan Arga yang akan masuk ke kamarnya dengan akses pribadinya, Adline buru-buru menuju kamar mandi dan bersiap. Adline juga membawa serta baju gantinya ke kamar mandi jaga-jaga jika Adline belum selesai mandi tetapi Arga sudah berada di dalam kamarnya.
****
"Tidak pantas membuka kamar wanita tanpa ijin." Bella menghentikan tangan Arga ketika Arga menekan kode akses pintu untuk memasuki kamar Arga.
"Bagaimana jika dia belum siap dan masih tidak mengenakan busana?" Bella melanjutkan bicaranya.
"Jika aku masuk dengan Adline tanpa busana di dalam.. Itu berarti keberuntunganku." Arga berbicara dengan menelan ludahnya dan mengulang kode akses pintu Adline.
Mendengar perkataan Arga yang seperti seorang b*j*ng*n. Ingin rasanya Bella menampar Arga, tetapi hal itu tidaklah mungkin. Saat Arga membuka pintu kamar Adline, Arga memanggil Adline dengan menutup matanya. Sebab Arga juga tidak ingin melihat tubuh Adline tanpa busana tanpa ijin.
__ADS_1
"Mengapa kamu masih di sana? Cepat masuk. Adline tidak ada." Bella mendahului Arga untuk masuk ke kamar Adline dan ternyata Adline tidak ada di ranjangnya. Bella juga tersenyum lega, ternyata Arga tidak seb*j*ng*n yang Bella pikirkan. Karena Arga menutup matanya ketika membuka pintu hingga Bella mengatakan Adline tidak ada. Mendengar ucapan Bella yang mengatakan Adline tidak ada, Arga segera masuk dan memanggil-manggil Adline yang ternyata berada di kamar mandi.
"Dia benar-benar masuk ke kamarku dengan kode akses yang dia miliki. B*j*ng*n. Berani sekali dia. Beruntung aku sudah membawa pakaian ganti ke dalam." Adline berbicara sendiri di kamar mandi. Setelah beberapa menit, Adline telah siap dan keluar dari kamar mandi. Tetapi Arga berdiri di jendela menatap keluar.
"Cepat ganti pakaianmu, aku tidak akan mengintip." Arga berbicara saat mengetahui pintu kamar mandi terbuka dan Adline melihat Arga berdiri di jendela tanpa menoleh serta melihat Bella duduk di ranjangnya.
"Aku sudah berganti pakaian di dalam. Ayo pergi, aku sudah siap." Adline berbucara dengan ketus dan mendahului keluar dari kamar.
****
Mereka bertiga berjalan menuju lift untuk keluar dari hotel. Saat berada di dalam hotel, Adline bingung karena Arga menekan lift untuk ke atas dan bukannya ke bawah. Hingga Adline mempertanyakan kepada Arga mengapa harus ke atas. Sedangkan mereka harus menuju bandara untuk pergi ke Sacramento.
"Kita akan naik helikopter pribadiku. Pilotku juga pilot yang handal. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Mendengar Arga memiliki helikopter, Adline mengatakan lumayan di dalam hatinya.
Saat sudah berada di atas hotel, merekapun menaiki helikopter. Tetapi hal mengejutkan ketika Adline mengetahui pilot yang dikatakan arga adalah Mancini. Sebab adline sangat mengenal Mancini karena ketika Adline masih berusia sebelas tahun, Mancini merupakan pengawal dari ayah Adline. Melihat orang yang sangat dia kenal dan telah menganggapnya sebagai keluarga, Adline segera memeluk Mancini dari belakang kemudi.
"Paman Mancini..? Kau melupakanku hingga tidak menyapaku meski kau tau ini diriku?" Adline memprotes Mancini karena tidak menyapanya saat mengetahui jika calon penumpangnya adalah Adline.
"Tentu aku tidak akan pernah melupakanmu." Dengan dingin Mancini berbicara kepada Adline. Karena kemunculan Adline membuka luka atas kematian istri dan anak Mancini yang saat itu mengalami kecelakaan saat bersama dengan Adline.
Seharusnya anak Mancini seumuran dengan Adline. Di ketahui juga, kecelakaan tersebut karena Adline yang sedang bergurau dengan anak Mancini secara tidak sengaja menyenggol tangan Mancini yang saat itu sedang mengemudikan mobil.
Pertemuan tersebut seakan membuka luka lama yang sangat sulit di sembuhkan. Mancini juga sampai harus berhenti dari pekerjaannya yang merupakan pasukan khusus karena kesedihan atas kematian istri dan anaknya. Pertemuan yang sangat tidak di harapkan oleh Mancini.
__ADS_1