
"Hallo, tuan Arga?"
"Ya, siapa ini!!!" Arga berbicara dengan sangat ketus. Sebab karena telepon ini, Arga jadi kehilangan kenikmatan pelukan Elena.
"Sa… Saya sekretaris nona Siska." Dengan terbata, sekretaris Siska tersebut berbicara kepada Arga yang berada di sambungan telepon.
"Tuan, saya mohon… tolong nona Siska. Hal ini juga berawal dari tindakan tuan saat meminta nona Siska menghapus ID tuan Sein. Kini nona Siska berada dalam bahaya tuan." Dengan menangis, sekretaris Siska berbicara kepada Arga. Mendengarkan hal tersebut, Arga kini mengerutkan alisnya.
"Nona Siska kini berhadapan dengan para petinggi perusahaan. Hal itu di karenakan, Sein adalah salah satu keponakan dari pemilik saham tertinggi di perusahaan."
"Kini nona Siska, berada di ruang rapat. Tetapi bukan untuk rapat tuan, mereka meminta nona Siska menemani mereka minum. Wajah mereka juga sangat mesum ketika memandang tubuh nona Siska. Tolong tuan, saya benar-benar meminta tolong."
"Tanpa kamu meminta tolong, aku akan ke sana sekarang juga, aku akan sampai 1,5jam lagi."
"Tuan, aku rasa nona Siska tidak akan bertahan sampai 1,5jam."
"Diamlah, aku akan mengusahakannya." Setelah berucap dengan kesal, Arga menutup telponnya.
"Bagaimanapun, Siska adalah wanita yang sangat cantik. Aku selalu bergairah jika di dekatnya. Aku harus menolongnya." Arga berbicara di dalam hati.
****
"Nona Elena jika kita kembali ke bandara San Diego, kita akan membutuhkan waktu berapa lama?"
__ADS_1
"Tuan, ini bukan bus pariwisata yang dapat berputar haluan sesuka hati. Semua penerbangan tercatat dengan rapi dan diawasi oleh menara pengawas. Bahkan radar militer juga memiliki rekam jejak alur jet ini. Jangankan itu, kecepatan dan ketinggian terbang kita juga diatur."
"Aku tidak mau tau caranya, kita harus kembali sekarang juga dengan kecepatan penuh dari jet ini. Aku akan tetap membayar untuk 5 jam terbang ketika turun nantinya, itu artinya aku pemilik pesawat ini sekarang. Dan sekarang akulah bosnya. Aku ingin kembali, maka kalian harus mencarikan cara agar aku kembali sekarang juga." Dengan nada kesal dan gelisah, Arga berbicara kepada Elena dan kedua pilot yang menerbangkan pesawatnya.
"Bagaimana Nona?" Tanya seorang Co-pilot kepada Elena.
"Kita turuti perintahnya, dia bosnya" Elena menjawab pertanyaan dari Co-pilot. Mendapati perintah tersebut, kedua pilot dengan segera menghubungi menara pengawas dan meminta untuk kembali ke bandara San Diego karena suatu hal yang mendesak. Sang pilot juga meminta izin untuk menggunakan kecepatan maksimal. Setelah mendapat izin, pesawat memutar untuk menuju bandara San Diego.
Dengan kecepatan maksimal, itu artinya Arga bisa mendarat 30 menit lagi. Dan mungkin dengan kecepatan maksimal mobil dari bandara, Arga bisa sampai di Hard Rock Hotel valent Stand 30 menit kemudian. Hal itu masih di rasa kurang cepat oleh Arga.
"Nona Elena, apakah kamu bisa memberiku helikopter ketika aku sampai di bandara, aku harus segera sampai di Hard Rock Hotel Valent Stand."
"Bisa tuan, aku akan menghubungi rekan ku agar menyediakan heli kopternya sekarang." Setelah mendapat jawaban demikian, Arga berusaha duduk dengan tenang. Tetapi pikirannya terus berjalan dan bertanya kepada dirinya sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga sekretaris Siska berkata ini adalah hal berbahaya. Terlebih dia mengatakan ini ada hubungannya dengan Sein dan Sein ternyata keponakan dari pemilik saham perusahaan yang menaungi hotel yang sedang Siska pimpin.
Setelah Elena menghubungi rekannya di bandara yang memiliki helikopter, Elena menatap Arga dengan lekat.
"Aduh, perasaan apa ini, apakah benih-benih cinta tumbuh di dalam hatiku? Tetapi mengapa bisa datang begitu cepat. Bahkan aku belum mengenalnya lebih dari 1 hari. Apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini?" Elena terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang perasaan yang kini dia rasakan.
Arga yang sebenarnya mengetahui jika Elena sedang memperhatikannya dan seolah ingin bertanya, "ada apa sebenarnya?" Pertanyaan tersebut seolah tertulis di kening Elena saat ini saat Elena terus memperhatikan Arga.
"Maafkan aku Elena, kamu memang sangat cantik, dan sepertinya aku menyukaimu. Tetapi aku harus meninggalkanmu sejenak dan menyingkirkan kesempatan yang ada untuk mendekatimu. Siska kini membutuhkanku. Bagaimanapun, Siska dapat membuatku bergairah. Aku harus mengesampingkan dirimu dulu sejenak." Arga berbicara di dalam hatinya saat mengetahui jika Elena terus memperhatikannya.
"Bos, ada apa senenarnya?" Salah satu pengawal Arga membuyarkan lamunan Arga dengan pertanyaannya yang tiba-tiba dan cukup mengejutkan Arga yang sedang melamun.
__ADS_1
"Ada hal yang sangat genting. Kalian hubungi yang lain agar datang ke Hard Rock Hotel Valent Stand dan jangan melakukan apapun seblum mendapat perintah dariku."
"Siap Bos." Mendengar panggilan dari pengawalnya kepada Arga, membuat Arga risih dan tidak nyaman.
"Dalam 2 hari terakhir ini kalian semua memanggilku Bos. Aku ingin kalian mengubah cara memanggilku. Kalian cukup panggil aku dengan panggilan tuan. Beri tahu kepada yang lain tentang bagaimana mereka harus memanggilku." Arga berucap kepada pengawalnya yang sedang bertugas mengawal Arga.
"Baik tuan." Setelah menjawab pertanyaan Arga, dengan segera pengawal tersebut menelpon dan menghubungi semua rekannya.
****
Beberapa waktu kemudian, Elena mengatakan kepada para penumpang untuk bersiap. Karena 5 menit lagi jet akan landing. Elena mulai memandu Arga dan kedua pengawal Arga yang merupakan penumpang di jet tersebut.
Setelah semua proses di lalui, kini jet pribadi tersebut mendarat dan langsung menuju ke tempat hanggar helikopter. Terlihat di kejauhan, sebuah helikopter sudah siap dengan mesin yang mulai di nyalakan.
"Aku masih akan terbang ke New York setelah urusanku selesai. Kemari handphonemu." Arga berbicara sambil menjulurkan tangannya. Melihat Arga yang sedang terburu-buru, dengan cepat Elena memberikan handphone miliknya. Arga meminta kode akses untuk membuka dompet digital milik Elena di handphone Elena. Setelah dompet digital tersebut terbuka, dengan segera Arga top up ke dalam dompet digital Elena.
"Ini." Arga memberikan handphone Elena kembali.
"Itu adalah pembayaran penerbanganku yang baru saja dan sebentar lagi."
"Tunggu aku, kau harus tetap menjadi pramugariku." Setelah berkata demikian, Arga mulai menuruni jet dan terlihat Elena berada di pintu jet dan terus memandangi Arga yang berjalan menuju helikopter bersama para pengawalnya.
Saat Arga sudah beberapa meter lagi sampai pada helikopter, Arga meminta pengawalnya untuk langsung menuju helikopter. Sedangkan Arga kembali menuju jet yang masih terlihat Elena tidak berpindah dari pintu jet. Tetapi kini Elena terlihat sedang melamun, hingga Elena tidak menyadari jika Arga kembali berjalan menuju dirinya.
__ADS_1
Pandangan Elena memang tertuju pada arah helikopter berada, tetapi pikiran Elena entah di mana hingga baru menyadari ada Arga di depannya. Dengan terkejut, Elena seakan mau mundur. Tetapi Arga menggenggam kedua bahunya lalu salah satu tangan Arga berpindah ke kepala belakang Elena. Dengan sekejap, Arga mengecup kening Elena dan pergi meninggalkan Elena dengan berlari menuju helikopter.
Elena sangat terkejut dengan tindakan Arga. Tetapi kini dia seakan tidak dapat menolak karena seolah Elena memang mengharapkan hal itu. Dengan malu-malu Elena tersenyum kecil dan memandang Arga dengan lekat.