
Saat hendak memasuki bangunan hotel, Roby dan beberapa pengawal yang lain mendahului sampai di balkon hotel. Melihat Arga sudah berdiri santai, Roby merasa lega. Tetapi Roby tetap menghampiri Mancini dan memberikan pukulan ke wajah Mancini.
Pukulan tiba-tiba datang dari Roby dan tidak dapat diantisipasi oleh Mancini karena Mancini tidak sedang fokus terhadap Roby. Tetapi pandangan Mancini terfokus pada salah satu pengawal Arga yang mengikuti Roby. Mancini merasa tidak asing dengan orang tersebut. Tetapi Mancini juga lupa dengan pengawal Arga tersebut, siapa dan di mana bertemu.
Dengan segera Arga menghentikan tindakan Roby dan mengajak Roby dan Mancini untuk mengikutinya. Sedangkan pengawal Arga yang lain di minta kembali di posisi mereka masing-masing.
****
"Mancini… Apa yang kamu ketahui sehingga kau secara tiba-tiba menyebutkan tentang Militer. Selama ini tidak ada Militer yang mengincarku." Arga bertanya kepada Mancini setelah mengajak Mancini ke sebuah ruangan di Hard Rock Hotel Valent Stand.
"Tadi aku mengirim pesan WhatsApp kepadamu. Bahwa aku berada di toilet. Di sana aku di todong oleh dua orang saat aku buang air kecil. Tetapi keberuntungan masih berpihak padaku. Aku dapat membunuh mereka berdua. Tetapi keanehan baru aku lihat ketika aku melihat senjata pistol yang mereka gunakan. Mereka berdua sama-sama menggunakan pistol jenis SIG Sauer P226, pistol yang menjadi ciri khas pasukan elite Militer dan senjata tersebut tidak di perdagangan bebas."
"Aku meyakini jika mereka adalah anggota militer dan aku membunuhnya. Hal ini akan semakin rumit, karena pasukan khusus tidak pernah melepaskan orang yang membunuh salah satu pasukannya." Terlihat raut wajah penyesalan dan khawatir pada Mancini. Belum sampai Arga menanggapi cerita Mancini, handphone Mancini berbunyi.
"Hallo kier.." Atga berbicara sesaat mengangkat teleponnya
"Mancini, kau berada di mana?" Berbicara dengan suara tergesa-gesa dan penuh ketakutan.
"Ada Militer datang bersama pihak kepolisian. Mereka mendobrak pintu apartemenmu. Mereka juga bertanya kepada seluruh penghuni gedung."
"Apa yang mereka cari? Aku tidak memiliki kesalahan apapun." Mancini berpura-pura tidak tahu.
"Entahlah, tadi aku hanya ditanya sudah berapa hari tidak melihatmu dan mengatakan supaya aku menghubungi kepolisian atau Militer jika melihatmu. Aku bertanya apa kesalahanmu pada mereka, tetapi mereka tidak menjawab dan mengatakan hal itu urusan Militer."
__ADS_1
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Aku tidak bersalah, mengapa harus takut. Ingatlah, dulu aku bagian dari mereka, bahkan aku salah satu yang terbaik di antara yang terbaik." Mancini berusaha menenangkan dan meyakinkan temannya yang juga memiliki apartemen di gedung tersebut.
"Sebaiknya kau tidak kembali dulu kemari. Ini semua demi keselamatanmu. Aku akan terus memberi informasi terbaru kepadamu. Berhati-hatilah dan sampai jumpa." Setelah berkata demikian, kier yang merupakan teman Mancini menutup handphonenya.
"Apakah secepat itu mereka dapat memastikan jika aku pembunuhnya." Mancini membatin di dalam hati dan merasa tidak percaya dengan apa yang sudah Arga hadapi.
"Ada apa Mancini?" Arga bertanya setelah Arga melihat raut wajah Mancini yang terlihat khawatir.
"Mereka sudah mencariku ke apartemen."
"Mereka? Di apartemenmu?" Arga kini berbicara dengan sangat terkejut atas ucapan Arga yang secara tba
"Ya, Militer dan kepolisian mencariku bersama. Sebaiknya aku menyerahkan diri. Aku memiliki cara untuk melepaskan tuduhan." Setelah Mancini berkata demikian, Mancini melepaskan semua senjata yang melekat pada tubuhnya.
"Dalam perjalanan, Bella akan menjelaskan semuanya kepadamu." Arga berbicara kepada Mancini yang belum memiliki jawaban atas kecurigaannya terhadap Arga. Sehingga membuat Mancini curiga dan kurang respect terhadap Arga.
"Tolong beri tahu yang sebenarnya kepada Mancini dan Roby. Mungkin Roby sudah tahu sedikit. Tapi jelaskan lebih padanya. Hanya mereka berdua yang paling aku percaya dari yang lainnya." Setelah Arga berbicara kepada Mancini, Arga menoleh ke arah Bella dan berucap kepada Bella. Meski Bella merasa berat untuk meninggalkan Arga, tetapi Bella tetap menuruti perintah Arga karena di gedung hotel sudah banyak pengawal yang lain. Lagi pula jika ada penyusup, Arga sudah dapat mempertahankan diri jika lawannya memiliki kemampuan rata-rata dan menggunakan tangan kosong.
Setelah mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut, Arga juga keluar untuk menuju kamarnya.
****
"Menurutmu aturan kepala negara tentang imigran tepat atau tidak?" Bella memulai pembicaraan ketika mereka bertiga jalan di parkiran mobil menuju mobil yang akan mereka bertiga gunakan.
__ADS_1
"Memang tidak menguntungkan bagi para imigran. Tetapi hal itu dapat mengurangi pengeluaran negara." Mancini menjawab pertanyaan Bella.
"Seberapa besar pengeluaran tersebut dibandingkan pengiriman Militer ke negara-negara Afrika dan Timur Tengah..? Lagi pula, secara tidak langsung para imigran juga dibutuhkan oleh warga negara kita. Sekarang coba bayangkan jika tidak ada imigran di negara ini. Apa ada yang akan bekerja kasar di kebun..? Apakah pertanian akan berjalan? Apakah peternakan akan berjalan?"
"Tidak akan berjalan." Roby dan Mancini hampir bersama menjawab pertanyaan bella. Mereka bertiga melakukan pembahasan hingga mereka memasuki mobil.
"Itulah yang di lakukan Arga saat ini. Selain Arga membantu para imigran gelap, Arga juga membantu kehancuran secara perlahan negara ini."
"Arga memiliki misi untuk merubah aturan yang salah tersebut hingga ibunya menjadi korban." Bella kembali berbicara kepada Roby dan Mancini.
"Mengapa bisa demikian? Mengapa ibu Arga yang menjadi korban?"
"Hmmh.. Sepertinya untuk yang ini.. Akan lebih pantas Arga yang menceritakannya." Mendapati jawaban demikian dari Bella. Mancini dan Roby kini lebih dapat bisa mengerti dengan apa yang terjadi.
****
"Apa yang harus aku lakukan?" Arga yang sudah berada di dalam kamarnya, sedang termenung memikirkan jawabannya atas Melisa.
"Jika aku menerima Melisa, aku harus membawanya kemari. Sebab sangat berbahaya jika orang-orang yang mengincarku tahu jika aku sudah memiliki istri dan dia berada di luaran." Arga terus berfikir sambil memegang kepalanya. Arga terus berbicara kepada dirinya sendiri.
"Jika aku menerima Melisa. Bagaimana dengan Siska dan Bella? Meski Bella berucap tidak masalah jika aku memiliki Melisa, tetapi aku yakin jika akan berdampak pada sikap Bella kedepannya. Sedangkan aku tidak menginginkan itu. Sedangkan dengan Siska… Tentu saja dia akan marah besar dan mungkin akan menjauhiku. Sedangkan aku tidak menginginkan hal itu juga." Kini Arga berbicara dengan menopang kepalanya dengan tangan.
"Haaaahhh… dulu hidupku sulit. Begitu juga tentang wanita. Aku hanya bisa dapat dikatakan beruntung dulu pernah memiliki Efely. Tetapi setelah aku meninggalkan Efely dan jika saja aku tidak memiliki sistem ini, tentu aku akan tetap menyendiri dengan kejombloan." Arga berbicara sendiri dengan merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
__ADS_1