
Sesampai di sebuah komputer yang memiliki koneksi dengan sistem hotel, sekretaris Siska dengan segera mencari daftar pelanggan. Daftar pelanggan yang sangat banyak, membuat sekretaris Siska belum juga mendapatkan nomor Arga. Hal tersebut karena sekretaris Siska mencari dengan hati gelisah, sehingga tidak berpikir dengan jernih.
"Bagaimana aku mencari… Mengapa aku belum menemukan data tuan Arga." Sekretaris Siska mencari benar-benar dengan hati yang gelisah karena memikirkan Siska. Dengan menghela nafas panjang, agar dapat berpikir jernih.
"Astaga, kenapa aku tidak mencari data tamu VVIP. Hal itu akan memudahkanku." Sekretaris Siska berbicara dalam hati dengan memukul keningnga sendiri.
Saat sekretaris Siska mencari di data tamu VVIP, hanya muncul 4 nama di sana, tetapi tiga lainnya menggunakan nama sebuah perusahaan dan hanya satu yang menggunakan nama pribadi. (Arga Litohu) berada di baris ke empat. Dengan hati sangat gembira, sekretaris Siska sampai lompat-lompat seperti orang yang sedang menemukan harta karun di dasar lautan karena bisa mendapatkan data Arga.
"Ini dia no tuan Arga, aku akan menelponnya." Dengan mengambil handphone miliknya dan mulai mengetikkan nomor Arga.
****
Di sisi lain, Arga sudah dapat mengobrol dengan Elena. Bahkan pembicaraan mereka sudah sampai pada pembicaraan tentang pribadi.
"Pemuda kaya ini tidak seperti penilaian awalku. Mungkin aku memang terlalu cepat menilainya dan terlalu menghakimi bahwa semua pemuda kaya akan arogan. Ternyata tuan Arga sangat berbeda, dengan bahasa yang sopan dan menghargai wanita. Dia juga lebih sering mendengar dari tadi daripada bercerita." Elena berbicara di dalam hatinya ketika mendengar jawaban dari Arga atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, dari tadi kita berbicara kesana kemari. Aku merasa ada yang janggal."
"Ada yang janggal? Apa itu tuan? Bisakah anda memberi tahu ku?" Dengan penasaran Elena menjawab pernyataan Arga yang sebenarnya bukan sebuah pertanyaan. Tetapi karena Elena merasa penasaran, Elena mempertanyakannya.
"Sepertinya aku tadi membaca nama maskapai ini dengan nama Elenair. Bukankah itu namamu? Aku rasa kamu memiliki hubungan khusus dengan pemilik maskapai ini? Kamu istri dari pemilik maskapai ini ya?"
"Tidak.. Tidak.. Masa aku sudah terlihat seperti wanita yang sudah menikah? Aku masih 19 tahun." Dengan sedikit gugup dan tergesa-gesa Elena menjawab pertanyaan Arga.
"Nah dapat kau. Dari tadi aku mencari cara agar aku dapat mengetahui statusmu. Dengan cara ini, pasti kamu akan bercerita lebih pribadi lagi kepadaku. Hmm hmm… Aku siap mendengar dengan senang hati cantik." Arga berbicara di dalam hatinya dengan perasaan gembira di saat Elena menjawab pertanyaan Arga.
Tetapi papa tidak dapat berbuat banyak, tidak dapat juga terlalu marah kepada mereka. Sebab jika mereka balik marah kepada maskapai. Mereka pasti akan menuntut upah mereka. Bahkan bisa saja mereka menggunakan pengacara. Jika sampai hal itu terjadi, akan semakin menyulitkan maskapai ini. Secara mendadak, beberapa pesawat tiba-tiba rusak berat dan membutuhkan biaya besar untuk perawatan. Jika hanya satu atau dua jet saja, itu bukan masalah sulit. Tetapi 11 jet rusak hampir dalam waktu yang bersamaan."
"Kini armada yang dapat beroperasional hanya tersisa 5 jet saja. Jika 1 hari saja ada 3 pesawat yang tidak jalan, maka maskapai akan merugi ribuan dollar hanya dalam urusan operasional. Belum lagi angsuran hutang maskapai di beberapa bank. Papa sampai terlihat kurus memikirkan hal ini. Itu sebabnya aku memutuskan membantu papa." Elena bercerita sambil meneteskan air mata. Elena juga sampai terbawa suasana hingga menceritakan semua yang beberapa bulan terakhir menjadi bebannya.
Elena merasa nyaman dan aman saat bercerita tentang pribadinya dan permasalahan yang sedang dihadapi keluarganya. Melihat Elena bercerita dengan sedih, Arga berdiri lalu menghampiri Elena yang masih fokus dengan tangisannya. Tiba-tiba Elena merasa ada yang meraih dan menarik lembut kepalanya untuk lebih condong ke samping kanan. Setelah merasakan sebuah tangan yang meraih kepalanya dengan lembut, kini Elena merasakan sentuhan kelembutan dengan kehangatan di bahu, serta menariknya secara perlahan juga ke arah samping kanan.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian, sepersekian detik dari Elena merasakan kelembutan dengan kehangatan di bahunya. Elena kini merasakan dahinya sedang menyentuh sesuatu dengan suara seperti suara detak jantung. Saat Elena berusaha meraih kesadaran dari tangisannya, Elena sudah berada dalam pelukan Arga. Ingin rasanya Elena memerintah karena merasa Arga sangat lancang karena berani memeluknya. Tetapi di lain sisi, Elena merasakan kenyamanan yang lama tidak dia rasakan.
Elena hanya pernah merasakan kenyamanan di peluk seperti ini ketika masih kecil dengan perasaan sedih, lalu di peluk oleh papanya. Kenyamanan seperti itu yang kini di dapatkan oleh Elena. Hingga Elena sangat berat untuk memberontak sikap Arga yang lancang. Semakin lama, Elena semakin menikmati pelukan Arga.
"Perasaan ini, mengapa aku merasa jantungku berdebar dengan kuat. Apa aku harus membiarkannya melakukan ini. Tapi tanganku terasa berat hingga lemas ketika aku ingin memberontak. Pikiranku terasa kacau ketika aku terus melawan rasa nyaman ini." Elena terus berpikir di dalam pikirannya. Seolah ada dua keinginan yang saling bertentangan di dalam otak dan jiwa Elena. Di lain sisi, Elena merasa sangat keberatan dengan pelukan Arga yang sangat lancang. Di sisi lain, jiwa Elena sangat tenang hingga tangisannya kini semakin menjadi karena rasa nyaman dan aman yang di rasakan Elena. Sehingga Elena terus meluapkan kesedihannya di dalam pelukan Arga.
"Ya Tuhan, luka yang dalam seolah tertutup oleh kehangatan wanita ini. Elena benar-benar dapat membuat luka yang telah membekas oleh Efely seakan tertutup. Aku kini merasa seperti laki-laki yang penuh dengan kebanggaan ada diri sendiri. Semakin lama merasakan pelukan Elena dengan nafas hangat yang sampai terasa di dada, membuatku merasa memiliki arti hidup yang lain." Arga juga membatin di dalam hatinya.
Tlululululululut… Tlululululululut…Tlululululululut… Suara HP Arga dengan seketika membuyarkan pelukan mereka berdua. Elena yang terkejut dengan suara handphone Arga yang berdering, spontan mendorong Arga menjauh.
"Sial, kau seharusnya tidak berbunyi sekeras itu." Arga berbicara di dalam hati seolah sedang berbicara kepada handphonenya.
"Maaf tuan, aku… aku…" Elena tidak melanjutkan kata-katanya dan kembali duduk di belakang ruang kokpit yang memang terdapat kursi yang di sediakan untuk pramugari.
"Nomor baru. Siapa yang ingin bicara kepadaku? Bagaimana dia mendapatkan nomorku? Foto yang tertera… Aku tidak mengenalnya." Arga berbicara sendiri ketika melihat layar yang berada pada handphonenya. Dengan ragu, Arga mengangkat handphonenya.
__ADS_1
"Hallo?"