
Bolehkah jika saat ini serkah? Dia sudah memiliki Aiden seutuhnya dan sampai kapan pun Ayra hanya ingin Aiden hanya menjadi miliknya. Ayra menatap wajah tampan suaminya yang sedang terlelap itu. Garis wajah yang nyaris sempurna dan membuat Ayra merasa sangat candu melihatnya.
Suamiku yang tampan, suamiku yang tidak pernah membuat aku merasa jika aku tidak pantas untuknya. Dia selalu menumbuhkan kepercayaan diri dalam diriku. Terima kasih Tuhan, karena telah menjadikan dia pendamping hidupku yang nyaris sempurna.
"Sayang ayo bangun, sudah pagi"
Seperti biasa, Ayra membangunkan suaminya dengan memberikan kecupan di pipinya dengan lembut. Dan hal itu selalu berhasil membangunkan Aiden dari tidur lelapnya.
Cup..
Aiden membuka mata dan langsung memberikan kecupan di bibir istrinya yang sedang berada diatas wajahnya.Sepertinya Ayra ingin mengecup kembali pipi Aiden, namun ternyata suaminya telah bangun dan melangkah lebih maju dan berhasil mendapatkan kecupan di bibir Ayra.
"Selamat pagi Sayang" Aiden tekekeh sendiri ketika dia melihat wajah tegang istrinya itu.
"Ish, kamu ini" Ayra memukul pelan lengan suaminya itu atas apa yang Aiden lakukan barusan.
"Kenapa? Memangnya tidak boleh mencium istri sendiri?"
Ayra hanya mendengus kesal dengan senyuman nakal suaminya itu. Dan Ayra langsung menarik selimut yang sedikit melorot dan menunjukan dadanya yang polos. Ayra sudah merasa was-was ketika melihat tatapan Aiden yang tertuju pada dadanya itu.
"Jangan macam-macam ya Sayang, aku sudah lelah dengan kelakuanmu semalam"
Aiden tertawa kecil, dia selalu merasa gemas dengan mimik wajah istrinya ini. Ayra yang selalu terlihat gemas dengan segala ekspresi wajahnya dimata Aiden.
"Sayang, kenapa kau selalu terlihat menggemaskan dimataku"
Aiden langsung memeluk Ayra dan mencium pipinya beberapa kali. Memberikan kehangatan pada istrinya dengan pelukannya ini.
"Apaan si kamu ini. Ayo mandi, kita mandi bersama"
Mendengar itu semangat dalam diri Aiden langsung menggelora seketika. Aiden langsung menggendong tubuh Ayra dan membawanya ke kamar mandi.
"Hanya mandi, ingat! Jangan melakukan hal lain dari mandi bersama"
Aiden mengangguk, dia mengecup sekilas bibir istrinya itu. Meski hanya mandi bersama, tapi itu adalah sebuah momen yang Aiden suka. Jadi dia tidak akan menolak ketika Ayra mengajaknya mandi bersama.
__ADS_1
Di dalam bak mandi yang berisi air hangat bercampur busa sabun dan wangi aroma terapi itu. Kedua insan yang sedang di mabuk cinta sedang berendam dengan si pria yang berada di belakang tubuh si wanita. Mengelus lembut seluruh tubuh wanitanya tanpa ada yang terlewat sedikit pun.
"Sayang, apa kamu belum ingin hamil lagi?" Aiden mengelus perut istrinya yang rata. Rasanya dia merindukan saat tangannya itu mengelus perut istrinya yang membuncit, karena sedang mengandung anaknya.
Ayra menyandarkan kepalanya di dada Aiden dengan tangan yang menyentuh tangan Aiden yang berada di perutnya ini. "Alerio masih terlalu kecil untuk mempunyai adik"
"Aku rasa tidak, lagian dia juga sudah lepas asi. Kita bisa memulai program hamil lagi"
Ayra merasa jika suaminya itu memang menginginkan anak lagi. Namun Ayra masih merasa ragu. "Kita lihat saja nanti ya, aku masih ingin memberikan perhatianku dengan full pada Alerio dulu sebelum nanti dia mempunyai adik dan pastinya akan membuat Aerio merasa tersisihkan"
Jangankan Alerio, dia saja selalu merasa tersisihkan saat aku lebih memperhatikan Alerio daripada dirinya,
Rasanya Ayra ingin tertawa sendiri ketika dia mengingat sikap suaminya ketika Ayra terlalu lama bersama Alerio dan mengabaikannya ketika dia berada di rumah. Maka Aiden akan benar-benar merajuk dan memberi hukuman pada Ayra, yang sudah hukumannya adalah sebuah kenikmatan yang tidak bisa Ayra hindari juga.
"Sudah yuk, airnya sudah mulai dingin"
Keduanya keluar dari dalam bak mandi dan langsung membersihkan tubuh mereka di bawah shower.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Pagi ini setelah suaminya pergi bekerja, Ayra membawa Alerio main di taman belakang. Hangatnya sinar matahari pagi masih bagus untuk kulit dan tubuh. Ayra menggandeng tangan anaknya untuk mengelilingi taman. Ketika suaminya sedang bekerja, maka akan menjadi kesempatan untuk Ayra bisa menghabiskan waktunya bersama anaknya sampai bayi besarnya kembali dari kantor. Maka Aiden akan merajuk jika Ayra mengabaikannya.
Ayra mengajak ngobrol anaknya itu, Alerio terlihat sangat senang ketika melihat ikan-ikan di kolam. Ayra berjongkok dengan memeluk anaknya yang sedang berdiri itu.
"Ale, mau memberi makan ikan?"
"Ikan makan"
Ayra tersenyum mendengar ucapan anaknya yang sebenarnya masih belum terlalu dimegerti. Namun sebagai seorang Ibu, Ayra tentu mengerti dengan ucapan anaknya itu. Ayra menoleh pada pengasuh Alerio yang sejak tadi terus mengikutinya.
"Mbak tolong ambilkan pakan ikan ya"
"Baik Nona"
Dan pagi ini, Alerio terlihat begitu senang ketika dia bisa memberi makan ikan-ikan di kolam. Sesekali dia tertawa dan berjingkrak senang saat ikan-ikan yang berebut makanan yang dia lemparkan ke dalam kolam.
__ADS_1
"Sudah yuk Nak, panasnya mulai terik"
Ayra menggendong Alerio yang masih asyik bermain ditaman dan tidak mau dibawa masuk ke dalam rumah hingga akhirnya Alerio menangis dalam pelukan Ibunya itu.
"Sudah panas Sayang, besok pagi kita beri makan ikan lagi ya. Sudah dong jangan menangis lagi"
"Kan ikan agi"
Ayra merasa gemas dengan anaknya ini, dengan hidung yang memerah karena habis menangis dan ucapannya yang masih khas balita usia 2 tahun.
"Iya, nanti kita kasih makan ikan lagi. Sekarang mandi sama Mbak ya"
"Mandi, Mbak"
"Iya mandi sama Mbak"
Setelah Alerio diserahkan pada pengasuhnya dan Ayra pun kembali ke kamarnya. Mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar.
"Ada apa suamiku menelepon ya?"
Ayra langsung menghubungi balik nomor suaminya ketika dia menemukan panggilan tidak terjawab dari suaminya di ponselnya ini.
"Hallo Sayang, ada apa? Aku sedang di bawah tadi, ponsel tidak aku bawa"
Terdengar dengusan kesal disebrang sana dan hal itu membuat Ayra tersenyum, membayangkan wajah suaminya yang sedang kesal itu.
"Kau datang kesini ya pas jam makan siang, aku ingin makan siang bersamamu. Aku merindukanmu"
Ayra menggeleng tidak percaya dengan tingkah suaminya ini. Padahal baru dua jam lalu suaminya pergi bekerja dan sekarang sudah mengatakan rindu padanya.
"Iya, iya nanti aku akan datang ke kantor kamu pas jam makan siang"
Dan tentu Aiden begitu senang mendengar itu. Entah kenapa dia selalu merindukan istrinya dalam keadaan apapun. Seolah jika ada istrinya berada di kantor, itu akan membuat dirinya lebih bersemangat dalam bekerja.
"Aku tunggu ya Sayang, jangan lama-lama datang kesini nya"
__ADS_1
"Iya, iya" Terkadang Ayra juga merasa heran dengan sikap manja suaminya ini. Benar-benar jauh dari Aiden yang di kenal dingin oleh banyak orang.
Bersambung