
"Aku ada pekerjaan besok di luar kota, apa tidak papa aku tinggal beberapa hari ini?"
Ayra yang berada di pelukan Aiden langsung mendongak dan menatap wajah suaminya. "Tidak papa, ini 'kan urusan pekerjaan"
Meski sebenarnya Ayra sedikit tidak rela di tinggal lama oleh suaminya. Tapi, dia tidak bisa melarang itu karena pekerjaan juga membutuhkan Aiden saat ini. Ayra tidak boleh menjadi seorang istri yang egois dan hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Suaminya juga punya tanggung jawab lain di perusahaannya.
Aiden mengecup singkat bibir istrinya, rasanya dia selalu tidak pernah merasa puas untuk mencumbu istrinya ini. "Malam ini berikan aku bekal ya, biar nanti tidak rindu saat jauh darimu"
Ayra terdiam, dia tahu arti dari kata 'bekal' yang di maksud suaminya. Tentu buka bekal dalam arti sebenarnya. Tangan nakal suaminya sudah mulai mengelus perutnya, namun beberapa detik kemudian langsung naik ke bagian dada Ayra. Sudah pasrah dan tidak mungkin menolaknya, Ayra sudah terbiasa dengan kewajibannya yang ini sejak menjadi istri Aiden.
Malam ini semuanya di mulai dari kecupan di kening Ayra dan berlanjut ke hal lain yang membuat Aiden puas dan bangun dengan wajah segar di pagi hari. Dia sudah bsrsiap untuk pergi ke perusahaan sebelum dia langsung pergi ke tempat Saqila dan Alvino disana.
Aiden menatap istrinya yang masih bergelung di bawah selimut. Berjalan menghampirinya, duduk di pinggir tempat tidur. Aiden mencium pipi istrinya, sedikit merapikan anak rambut yang menghalangi wajah Ayra.
"Sayang, aku pergi dulu ya"
Ayra menggeliat pelan, hari weekend seharusnya Aiden tidak bekerja. Tapi ini malah ke luar kota untuk mengurus pekerjaan. Ingin protes juga Ayra tidak berhak melakukan itu. Dia juga tidak ingin jadi wanita egois.
"Pergi sekarang ya, berapa hari disana?"
Aiden tersenyum, dia membantu Ayra bangun. Mengelus perut buncitnya dengan lembut. "Mungkin hanya beberapa hari saja, atau paling lama satu minggu. Aku juga gak mau lama-lama disana, aku akan merindukanmu"
Ayra menghela nafas, sebenarnya dia tidak ingin jauh dari Aiden disaat waktu masih bisa dia manfaatkan untuk bersama suaminya ini. Tapi, Ayra tidak bisa egois. Lagi-lagi dia selalu berfikir jika dirinya tidak terlalu memiliki hak untuk mengatur suaminya apalagi melarang suaminya pergi saat ini.
"Yaudah, kamu hati-hati. Kabari aku jika sudah sampai disana"
__ADS_1
Aiden mengangguk, dia mencium kening dan kedua pipi istrinya. "Aku pergi ya Sayang, baik-baik disini. Aku sudah siapkan supir untuk kamu kuliah"
"Emm. Kalau aku mau keluar selain pergi kuliah boleh gak?"
Aiden langsung menatap tajam istrinya itu. Dia tidak akan membiarkan Ayra pergi sendirian tanpa dirinya. Bukan masalah dia takut Ayra bertemu dengan pria lain atau apapun itu. Tapi, Aiden mengkhawatirkan keadaan AyraΒ yang sedang hamil besar. Takut terjadi apa-apa padanya. Pergi kuliah saja, Aiden sudah sering takut jika istrinya akan kelelahan atau terjadi sesuatu padanya. Apalagi pergi keluar seorang diri.
"Emangnya mau kemana? Gak ingat itu perut sudah sebesar itu, berdiri saja sudah susah"
Suara sinis dan tajam suaminya membuat Ayra meringis. Tubuh mungilnya memang sudah mulai sulit bergerak dengan perut yang besar. Memang benar juga apa yang di katakan suaminya barusan. "Apasi, padahal cuma mau jalan-jalan, kita belum cari pakaian bayi loh dan perlengkapan lainnya"
"Nanti saja pas aku pulang, kita akan cari bersama jika kau terus memaksa untuk belanja sendiri. Padahal kita bisa saja menggunakan Mami dan pelayan rumah untuk membelikan semuanya"
Ayra cemberut, selalu seperti itu jawaban Aiden. Dia memang bisa menyuruh mereka untuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk calon bayinya. Tapi, sebagai seorang Ibu tentu saja Ayra ingin memilih semua barang dan pakaian yang akan di gunakan anaknya seorang diri.
Apalagi ini adalah anak pertamanya dan yang paling membuat Ayra antusias untuk membeli sendiri semua perlengkapan untuk bayinya. Karena jika nanti dia harus pergi meninggalkan anaknya, setidaknya dia sudah memastikan jika anaknya memakai perlengkapan yang dia beli dan yang dia pastikan nyaman untuk anaknya nanti. Mengingat itu, Ayra selalu merasa terluka. Hati Ibu mana yang tidak akan terluka saat harus di paksa berpisah dengan anaknya.
"Yaudah, nanti kita beli semuanya ya. Sekarang aku harus benar-benar pergi, kamu baik-baik ya disini" Aiden mengecup sekilas bibir Ayra sebelum dia benar-benar pergi.
Setelah kepergian suaminya, Ayra hanya diam. Dia mengelus perutnya dengan fikiran yang melayang menembus waktu ke masa yang akan datang. Membayangkan dirinya yang akan hidup tanpa Aiden lagi, apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini?
"Semuanya terasa sangat cepat berlalu, sebentar lagi kamu akan bertemu dunia ini Sayang.." Ayra tersenyum sambil sedikit menunduk untuk melihat perut buncitnya. Tangannya tidak berhenti mengelus perutnya, apalagi saat tendangan di dalam sana semakin terasa sering dan kuat. "...Tapi, maafkan Bunda jika Bunda tidak akan bisa menemanimu sampai besar. Tugas Bunda hanya sampai kau lahir saja, setelahnya kau akan hidup bahagia dengan Daddy dan Mommy kamu. Bunda harap kamu tidak akan marah ya sama Bunda"
Tendangan dari dalam perutnya terasa semakin kuat. Mungkin anaknya sedang memberikan respon pada Ibunya tentang apa yang Ayra bicarakan barusan.
Bunda hanya ingin kamu dan Daddymu bahagia, Nak.
__ADS_1
...π²π²π²π²π²π²π²π²π²...
Aiden menatap bangunan di depannya, dia baru saja sampai di pulau tempat Saqila dan Alvino liburan. Di tangannya ada sebuah map berwarna coklat yang tadi di berikan oleh Rega. Di dalam map itu adalah segala berkas perceraian yang sudah Rega siapkan kemarin, melalui pengacara handal andalan keluarga Narendra.
Sepasang kekasih yang baru saja selesai bermain di pantai langsung terdiam kaku saat melihat Aiden yang berdiri di depan mereka. Minuman di tangan Saqila langsung jatuh menimpa kakinya.
"A-aiden"
Aiden menoleh dan tersenyum melihat Saqila dan Alvino yang sedang saling merangkul itu. Segera Saqila melepaskan rangkulan tangannya dan tangan Alvino yang berada di bahunya. Sekarang dia tidak mungkin mengelak lagi, Aiden jelas sudah tahu semuanya. Karena tidak mungkin dia tiba-tiba datang kesini jika dia belum mengetahui tentang hubungan Saqila dan Alvino.
"Honey, aku..." Rasanya Saqila tidak bisa lagi untuk berkata-kata saat ini. Dia tidak bisa menjelaskan apapun karena semuanya telah di ketahui oleh suaminya. "...Ya, aku bermain gila di belakangmu bersama Alvino. Tapi kamu jangan hanya menyalahkan ku, karena aku seperti ini juga karena kamu yang menikah lagi secara diam-diam di belakang ku. Ini adalah bentuk kekecewaan ku padamu, Aiden"
Akhirnya Saqila memilih jujur dengan sedikit membela dirinya sendiri dengan mencangkupkan kesalahan Aiden sebelum semua ini terjadi.
Aiden tersenyum, hatinya sudah biasa saja mendengar semua itu. Ya, memang dia tidak akan menyalahkan Saqila. Karena semua ini terjadi karena dirinya. "Aku tidak akan menyalahkan kamu ataupun Vino. Aku hanya sedang mencari tahu saja apa kalian benar-benar saling mencintai?"
"Ya, aku mencintai Saqila bahkan sebelum dia menikah denganmu" ucapan lantang Alvino membuat senyum tipis terukir di wajah Aiden.
Benar apa yang di katakan Rega.
Saqila yang mendengar ucapan Alvino, tentu langsung menoleh dengan wajah terkejut. Dia tidak tahu soal ini, yang dia tahu Alvino melakukan ini hanya karena ingin membantu Saqila untuk meluapkan segala kekecewaannya pada Aiden saja. Pantas saja selama hubungan terlarang ini terjalin, Alvino selalu bersikap sangat tulus pada Saqila. Bahkan dia seolah menjadikan Saqila sebagai seorang ratu dalam hidupnya. Itulah yang membuat Saqila selalu merasa nyaman bersama Alvino.
Aiden mendekati mereka, dia memberikan map berwarna coklat itu pada Saqila. "Tanda tangani surat gugatan cerai ini, kita bisa memulai semuanya dengan hidup masing-masing"
Deg..
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5