
"Aku harus pergi lagi, kamu tunggu saja di apartemen" Aiden mengecup kening Ayra sebelum pergi. Setelah menjemput istrinya, Aiden langsung pergi menemui Saqila di perusahaannya. Aiden tidak bisa menunggu lagi untuk menanyakan masalah yang di ketahuinya dari Rega.
"Selamat siang Tuan"
Karyawan perusahaan ini yang sudah tahu siapa Aiden tentu langsung menyapanya dengan hormat. Tanpa harus permisi, Aiden langsung menuju ruangan Saqila. Masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aiden melihat ada seorang pria di dalam ruangan Saqila. Mungkin rekan kerjanya.
Saqila terlihat terkejut melihat kedatangan Aiden. Tidak biasanya suaminya itu datang ke perusahaannya. Dia segera berdiri, dan menghampiri Aiden. "Honey ada apa datang kesini?"
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu"
Suara dingin Aiden membuat Saqila sedikit merinding. Dia melirik pria yang ada di ruangannya dan memberi kode untuk pria itu keluar dari ruangannya. Dia mengangguk hormat pada Saqila dan Aiden. Lalu keluar dari ruangan.
Aiden sudah duduk di sofa dengan bertumpang kaki, menatap Saqila dengan wajah datar dan dingin. Saqila mulai berjalan menuju sofa, perasaannya sudah mulai merasa tidak enak. Dia tahu kalau suaminya pasti tidak mungkin datang kesini jika tidak ada yang ingin dia bicarakan serius dengannya. Saqila menghampirinya dan duduk di depan Aiden.
"Ada apa?"
Aiden membuka ponselnya dan menunjukan rekamab cctv yang di berikan oleh Rega. "Jelaskan, apa maksudnya ini?"
Saqila terdiam, raut wajahnya tidak bisa membohongi jika dirinya terkejut. Tapi Saqila mencoba untuk tenang, dia tidak boleh terlihat kaget oleh suaminya. Saqila tidak bersalah, dirinya hanya sedang memperjuangkan apa yang selama ini selalu menjadi miliknya. Saqila tidak mau berbagi, karena semuanya ada pada Aiden. Karirnya semakin maju karena dia yang menikahi Aiden. Saqila yang semakin di kenal banyak orang juga karena Aiden. Bahkan semua investor di perusahaannya ini berasal dari Aiden. Perusahaannya yang awalnya hanya sebuah perusahaan kecil, kini sudah semakin maju dan berkempang pesat karena penjualannya yang meningkat dan semakin di kenal banyak orang karena Aiden juga.
Kesuksesan Saqila berawal dari dirinya yang menikahi Aiden. Entah karena cinta atau hanya obsesi semata, yang jelas Saqila bahagia menikah dengan Aiden. Tapi, semuanya berubah sejak kecelakaan itu terjadi dan membuat dirinya tidak bisa lagi mengandung dan memberikan anak pada suaminya. Hingga perniakahan diam-diam Aiden dan Saqila semakin membuat rumit kisah rumah tangganya.
"Aku hanya mengajaknya makan beberapa kali. Kalau tidak percaya tanyakan saja pada Ayra, kan kau sendiri yang bilang kalau aku harus bersikap baik pada Ayra"
Aiden menghela nafas, tentu dia tidak akan langsung percaya begitu saja pada apa yang di ucapkan Saqila. "Aku bertanya pada Ayra hanya akan buang waktu saja. Tentu Ayra akan selalu menutupi semuanya. Dia pasti akan membelamu"
__ADS_1
Saqila mengangkat bahu acuh dengan wajah yang berpaling ke arah lain. "Aku tidak peduli, memang itu kenyataannya. Aku tahu jika kita sudah tidak baik-baik saja semenjak kehadiran Ayra, tapi aku masih mencoba baik padanya. Tapi, apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Yang kamu fikirkan sekarang hanya perasaan Ayra. Ya, aku mengerti karena dia memang sedang mengandung anakmu. Hal yang mungkin tidak akan pernah bisa aku rasakan lagi"
Entahlah ada apa dengan diri Aiden. Jika biasanya saat Saqila mengungkit tentang keadaannya yang tidak bisa mempunyai anak, selalu membuat hati Aiden sedih dan kasihan. Tapi, kali ini Aiden merasa biasa saja. Aiden merasa jika apa yang di katakan Saqila memang benar adanya. Hubungan pernikahan mereka memang sudah tidak baik-baik saja. Bukan sejak kehadiran Ayra, tapi sudah sejak lama. Hanya saja Aiden yang terus mencoba untuk memperbaikinya.
"Jadi sekarang apa yang kamu inginkan?" tanya Aiden
Saqila tersenyum tipis, suaminya memang sudah berbeda. Jika dulu Aiden selalu memeluknya dan menenangkannya jika Saqila sudah membahas tentang keadaannya yang tidak bisa hamil. Kini Aiden malah bertanya apa yang di inginkannya.
Aku tidak salah.. Aku tidak salah.. Semuanya tergantung pada sikap suamiku.
"Jangan ceraikan aku sampai kapanpun, biarkan aku tetap menjadi istrimu meski aku tahu jika hatimu sudah tidak lagi milikku"
Aiden berdiri, dia memang belum berniat untuk menceraikan Saqila. Aiden tahu jika wanita itu juga cukup berjasa dalam hidupnya. Saqila telah menemaninya selama 5 tahun sejak pertama kali mereka bertemu. Aiden tahu jika di dunia ini tidak akan ada wanita yang benar-benar rela dan ikhlas di madu. Jadi, Aiden mencoba memahami keadaan Saqila.
"Baiklah, aku akan tetap bersikap adil padamu dan Ayra"
"Tuan" Dia langsung berdiri dan mengangguk hormat saat Aidej keluar dari ruangan Saqila.
"Kau masih disini?"
"Iya Tuan, saya ingin memberikan laporan pada Nyonya"
Aiden mengangguk mengerti, tanpa berkata-kata lagi dia langsung pergi meninggalkan pria itu. Aiden masuk ke dalam lift.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
__ADS_1
Ayra menatap suaminya dengan bingung, dia tidak merasa membuat kesalahan apapun tapi kenapa suaminya mendiamkannya seperti ini. Padahal seingat Ayra, dia masih baik-baik saja saat menjemputnya pulang kuliah tadi siang. Entah apa yang membuat Aiden mendiamkannya.
Ayra masuk ke dalam kamar setelah meminum habis susunya. Dia melihat Aiden yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. Segera Ayra menghampirinya, naik ke tempat tidur dan duduk bersila di samping suaminya. Ayra melirik Aiden yang sedang memainkan ponselnya. Pria itu terlihat dingin. Membuat Ayra takut saja.
Duh, aku melakukan kesalahan apa ya? Perasaan aku gak ngelakuin apa-apa.
Ekhem..
Ayra sengaja berdehem beberapa kali untuk menarik perhatian Aiden. Tapi suaminya, tetap fokus pada layar ponsel. Tidak sama sekali menoleh ke arahnya. Ayra menghela nafas. "Sayang, kamu kenapa?"
Bershasil, Aiden mematikan layar ponselnya dan menaruhnya di atas nakas samping tempat tidur. Lalu dia naik ke atas tempat tidur dan berbaring dengan membelakangi Ayra. Hal itu semakin membuat Ayra takut saja, sepertinya suaminya benar-benar marah padanya.
Ayra ikut berbaring, dia sedikit bergeser dan memeluk tubuh suaminya. Ini adalah cara terakhir Ayra agar suaminya mau berbicara lagi padanya. Tangan mungilnya tidak sampai untuk memeluk Aiden. Hanya menggantung di dada saja.
"Sayang, kenapa si? Kamu marah ya? Gara-gara apa, aku gak ngerasa buat salah"
Mendengar itu Aiden langsung berbalik, menatap Ayra dengan tajam. Tentu saja Ayra langsung beringsut menjauh dari suaminya. Dia takut dengan tatapan dingin dan tajam suaminya.
Apa salahku?
Aiden masih menatap istrinya dengan tajam. "Apa yang kau bicarakan saat kau dan Saqila bertemu secara diam-diam?"
Deg..
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5