
Akhir pekan pertama yang di jalani Ayra setelah pindah ke rumah suaminya bersama sang istri pertama. Sebenarnya Ayra sangat tidak nyaman saat lebih lama berada di rumah bersama Aiden dan Saqila. Apalagi dengan tiba-tiba orang tua Aiden datang mengunjungi mereka. Mami dan Papi terkejut saat melihat Ayra yang berada di rumah yang sama dengan Saqila.
"Ini gimana ceritanya Den? Kok bisa Ayra ada disini?"
Saat ini Aiden dan Papi sedang berada di ruang kerja. Mereka hanya berdua saja karena Papi sangat ingin mengintrpgasi anaknya ini, dengan apa yang dia lihat barusan.
"Saqila sudah tahu Pi, dan dia menerima Ayra sebagai madunya. Dia juga yang menginginkan kami tinggal bersama"
Papi mulai melihat ada yang berbeda dengan anak semata wayangnya ini. Aiden terlihat lebih bahagia dan ceria. Apa ini karena kehadiran Ayra?
"Jadi apa Ayra sudah hamil?"
Aiden mengangguk dengan senyuman kebahagiaan. "Iya Pi, sudah jalan 3 bulan"
Papi tentu ikut senang mendengarnya, keturunan Narendra selanjutnya akan segera hadir. "Syukur kalau begitu, Papi senang sekali. Mami juga pasti sangat senang"
"Iya Pi, aku juga tidak menyangka akan secepat ini Ayra hamil anakku"
"Tapi, apa Saqila bersikap baik padanya?"
Aiden mengangguk "Dia baik, ya meski terkadang rasa cemburunya masih sangat besar"
Papi menepuk bahu Aiden yang duduk di sampingnya. "Wajar saja jika Saqila seperti itu. Dia sudah memiliki kamu selama ini. Dan sekarang dia harus di paksa keadaan untuk menerima suaminya yang sudah menikah lagi dan tidak lagi hanya miliknya seorang. Kamu harus berusaha bersikap adil Aiden, Saqila dan Ayra sekarang adalah tanggung jawab kamu. Beban kamu semakin berat, jangan sampai menyakiti salah satu dari mereka"
Di saat Papi dan Aiden asyik mengobrol, maka berbeda dengan suasana di ruang tamu. Saqila menatap tidak suka saat Mami lebih memerhatikan Ayra karena dia yang sedang hamil. Kalau bisa pun, mungkin Saqila juga ingin mengandung anak suaminya. Tapi, kecelakaan itu telah merenggut semua kebahagiaan dalam hidupnya dan Aiden. Hingga dia harus memilih jalan ini, saat ini. Semuanya hanya sebagai pelampiasan Saqila yang kecewa dan sakit hati dengan pernikahan suaminya dan Ayra. Hatinya tak lagi bisa di bohongi, jika dirinya tidak mau berbagi suami dengan Ayra. Aiden hanya boleh menjadi miliknya.
"Kamu pokoknya jangan banyak fikiran, jangan kecapean juga. Kalau ada yang kamu mau, langsung bicara sama Aiden ya. Ngidam itu harus di penuhi oleh calon Ayah si bayi loh. Biarkan suamimu merasakan kesusahan juga, bukan hanya ingin enaknya saja setelah membuat kamu hamil"
Ayra hanya tersenyum mendengar ucapan Ibu mertuanya. Tidak menyangka jika Mami akan sebaik ini pada dirinya. "Terimakasih Mi, sudah menerima Ay di keluarga ini"
__ADS_1
"Tentu Sayang, kamu adalah menantu Mami juga. Saqila juga menantu Mami, jadi Mami akan adil pada kalian"
"Iyalah Mi, itu harus.." Saqila mencoba tersenyum di saat hatinya sedang sangat terbakar cemburu. "...Kan Suamiku Dan Suami Ayra sama. Anak Mami"
Ayra tersenyum mendengarnya, Saqila masih terlihat baik padanya di saat dirinya sudah merebut suaminya. "Iya, Suamiku Dan Suamimu sama"
Mereka tertawa dengan beban di hati masing-masing. Tertawa hanya untuk sekedar menghilangkan gelisah yang melanda hatinya.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
"Honey, malam ini tidur di kamarku ya?"
Aiden yang sedang menyeduhkan susu hamil untuk Ayra terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. Saqila memeluknya dari belakang, dengan menyandarkan kepalanya di punggung lebar suaminya.
"Loh malam ini bukannya jadwal Ayra ya" kata Aiden, dia memang membagi waktu dengan satu malam bersama Saqila dan satu malam bersama Ayra begitulah seterusnya dia menjadwal tidur dengan dua istrinya.
"Tapi aku sedang tidak enak badan, meriang gitu. Masa kamu tega mau biarin aku tidur sendirian. Besok saja Ayra dua hari berturut"
Saqila mengangguk dengan tersenyum, dia membiarkan Aiden yang berlalu ke kamar Ayra. Dia juga segera berlalu ke kamarnya. Aiden masuk ke dalam kamar Ayra, melihat istrinya sedang duduk menyandar di atas tempat tidur dengan sebuah buku ibu dan anak di tangannya. Kacamata baca yang dia gunakan dia benarkan dengan jari telunjuknya.
"Sayang, minum dulu susunya" Aiden menaruh susu hangat yang dia bawa di atas nakas samping tempat tidur.
Ayra menutup buka yang sedang di bacanya dan membuka kacamata baca lalu menaruhnya di atas nakas. "Terimakasih Sayang"
Selalu ada debaran aneh di hati keduanya saat panggilan baru mereka terucap. Meski Ayra maupun Aiden hanya berani memanggil seperti itu jika mereka hanya berdua saja. Jika di depan Saqila mereka tetap memanggil dengan nama biasanya. Karena tidak mau membuat Saqila yang semakin terasingkan oleh suaminya.
Setelah Ayra meminum habis susu hangat yang di buatkan suaminya. Aiden mengelus puncak kepala istrinya, lalu beralih pada perut Ayra yang mulai terasa kencang. "Sayang, maaf banget malam ini aku tidak bisa tidur di sini. Saqila sakit, dan dia minta aku menemainya malam ini"
Entah kenapa aku merasa jika ini hanyalah alasan Nyonya saja.
__ADS_1
"Kan ada pelayan, kenapa harus kamu yang menemani. Padahal malam ini memang jadwal kamu tidur disini 'kan?"
"Iya maaf banget Sayang, aku juga tidak bisa menolak. Kasihan Saqila jika harus tidur sendirian apalagi sedang sakit seperti ini. Dia bisa tidur sendirian tanpa aku saja sudah sangat beruntung, karena selama ini dia tidak pernah mau tidur sebelum aku pulang dan memeluknya"
Bisa tidak untuk tidak menceritakan keharmonisan keluarga kalian. Aku semakin merasa bersalah karena telah menghancurkan keharmonisan keluarga kalian.
"Tapi, aku ingin tidur denganmu malam ini" Entah kenapa Ayra merasa tidak bisa mengalah untuk malam ini. Dia sangat menginginkan tidur bersama suaminya malam ini. Ayra ingin di peluk hangat oleh suaminya.
"Ay, tolonglah jangan membuat aku sulit. Aku hanya malam ini saja untuk tidak tidur denganmu. Saqila janji maka malam besok aku bisa tidur denganmu dua malam sekalian"
Mau bagaimanapun, Saqila tetap istri pertama Aiden. Cinta pertama Aiden dan pacar pertama Aiden hingga mereka bisa menikahi sampai saat ini. Saqila tetap menjadi prioritas Aiden. Tapi Ayra juga sama, dia juga menjadi prioritas Aiden.
"Tapi aku juga ingin tidur denganmu. Ini kemauan dari bayi kamu"
"Cukup Ay! Jangan selalu menyangkut pautkan keegoisanmu dengan bayi dalam kandungan mu. Aku mengerti jika kamu tidak suka dengan Saqila. Tapi, dia tetap istri pertamaku"
Deg...
Ayra tidak menyangka Aiden akan menegaskan hal itu. Ayra tahu tentang itu, tidak perlu Aiden perjelas. Saqila memang istri pertamanya dan akan selalu menjadi prioritasnya.
Sekarang aku sadar, berharap terlalu tinggi hanya akan membuat aku sakit saat terjatuh.
"Baiklah, sana temani Nyonya tidur. Aku bisa tidur sendiri" kata Ayra yang langsung merebahkan tubuhnya dan membelakangi Aiden.
Di saat seperti ini, Aiden baru menyadari jika ucapannya telah membuat Ayra tersakiti. Namun, saat ini Saqila juga tetap membutuhkan dirinya. Aiden harus memberikan perhatian lebih pada Saqila, karena istri pertamanya sudah mau menerima kehadiran Ayra di dalam pernikahan mereka.
Maafkan aku Ay..
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5