
Dini hari, Ayra terbangun saat merasakan perutnya yang mengencang. Dia terbangun, duduk menyandar di atas tempat tidur dengan mengelus perutnya.
"Nak, kenapa? Apa kamu sudah ingin lahir?" Ayra mencoba menenangkan dirinya, perut yang mengencang itu mulai terasa sedikit sakit. Ayra yakin jika saat ini dirinya sedang mengalami kontraksi awal.
Ayra mengelus kepala suaminya yang terlelap di sampingnya. Ingin membangunkannya, tapi merasa tidak tega saat melihat suaminya yang tidur terlelap. Akhirnya Ayra masih menunggu hingga menjelang subuh. Barulah dia berani membangunkan suaminya dengan caranya yang biasa. Mencium pipi suaminya dan mengelus kepalanya.
Aiden menggeliat saat merasakan ada yang menciumnya. Dia membuka kedua matanya dan melihat istrinya yang duduk di sampingnya. Adien melirik ke arah jam dinding, ini masih pagi buta. Tapi Ayra sudah bangun di jam segini. Aiden meraih tangan istrinya dan menciumnya.
"Sayang, tumben sudah bangun sepagi ini? Tidur lagi saja, ini masih sangat pagi"
Ayra tersenyum, meski sedetik kemudian dia mulai meringis saat merasakan kontraksi yang kembali datang. "Sayang, bangun yuk. Kita siap-siap ke rumah sakit"
Aiden langsung bangun saat mendengar kata rumah sakit yang keluar dari mulut istrinya. Aiden menatap Ayra yang mengelus perutnya dengan tangan yang sedikit bergetar karena menahan rasa sakit yang dia rasakan.
"Sayang, apa sudah waktunya"
Ayra mengangguk, dia mengelus perutnya yang mengencang dan terasa sakit. Aiden bangun dan segera berlari ke ruang ganti. "Tunggu Sayang, aku ganti baju dulu"
Aiden berganti baju dengan secepat mungkin, lalu dia segera keluar dan menemui istrinya dengan membawa tas berukuran besar yang berisi segala perlengkapan untuk melahirkan yang telah di siapkan jauh-jauh hari.
Aiden mengambil ponselnya dan menelepon seorang supir keluarganya untuk datang saat ini dan menyiapkan mobil untuknya. Aiden menyimpan kembali ponselnya di atas nakas, lalu dia menghampiri istrinya yang masih duduk menyandar di atas tempat tidur. Aiden duduk di pinggir tempat tidur.
"Sayang, ayo kita berganti pakaian dulu"
Aiden menggendong istrinya ke ruang ganti. Dia membantu Ayra membersihkan diri dan berganti pakaian. Ayra duduk di sebuah sofa tunggal yang berada di dekat cermin di ruang ganti. Aiden berlutut di depannya dan memegang tangan istrinya yang berada di pangkuannya.
"Sayang, apa sakit sekali?"
__ADS_1
Ayra mencoba tersenyum di tengah rasa sakit yang dia rasakan. "Sayang, ini adalah kodratnya aku sebagai seorang perempuan. Jadi kamu jangan terlalu panik"
Aiden tidak mungkin tidak panik saat melihat istrinya yang terus meringis untuk terus mencoba menahan rasa sakit di perutnya. Aiden tahu, saat ini istrinya hanya sedang mencoba menenangkan Aiden dengan menahan rasa sakitnya.
"Jangan terus bilang jika kamu tidak papa, karena aku tahu jika sesakit itu"
Ayra akhirnya tidak bisa mempertahan semuanya. Dia menangis juga saat melihat ketulusan dan segala perhatian yang suaminya berikan padanya. Aiden berdiri dan langsung memeluk Ayra yang menangis.
"Menangislah jika itu bisa membuat kamu sedikit saja mengurangi rasa sakit itu"
"Sayang, sebenarnya belum sesakit itu. Tapi aku sangat bahagia bisa bersama kamu"
Aiden mencium puncak kepala Istrinya, sebenarnya dia sangat panik. Namun dia berusaha untuk tetap tenang karena tidak mungkin dia menunjukan kekhawatirannya di depan istrinya yang sedang kesakitan.
"Yaudah, sekarang ayo kita berjuang bersama-sama"
Namun, saat sudah berada di rumah sakit Ayra mulai tidak bisa setenang itu. Kontraksi yang semakin menyiksanya. Apalagi untuk kelahiran anak pertama yang terkadang mengalami proses yang cukup panjang. Ayra meringkuk di atas ranjang pasien dengan tangan terus menggenggam erat tangan suaminya. Melihat air mata yang terus menetes di pipi istrinya, Aiden mulai tidak tahan. Seorang Dokter ahli telah berada di ruangan untuk memastikan jika semuanya baik-baik saja.
Ya, memang ini adalah persalinan paling dramatis yang pernah Dokter itu alami. Jika bukan Aiden yang membayarnya dengan limit yang membuat siapa saja tidak mungkin menolaknya. Meski sebenarnya hari ini adalah jadwal Dokter untuk libur. Tapi karena Aiden, dia tidak jadi libur.
"Apa kita operasi saja?"
Ucapan Aiden berhasil membuat Ayra melupakan rasa sakitnya. Dia menatap suaminya dengan terkejut. "Sayang, aku tidak mau operasi. Lagian aku akan baik-baik saja"
"Baik-baik saja bagaimana? Kau sudah kesakitan sejak tadi, apa ini masih bisa di bilang baik-baik saja?!"
Aiden yang awalnya mencoba untuk tenang, tapi pada akhirnya dia tetap tidak bisa tenang saat melihat istrinya yang terus kesakitan sudah beberapa jam yang lalu. Aiden tidak tega melihat itu.
__ADS_1
"Tapi Tuan, sebaiknya memang Nona melahirkan secara normal saja. Karena jika sekarang melakukan operasi, maka Nona akan merasakan sakit dua kali lipat dari ini. Mengalami kontraksi dan sakit saat di operasi"
Sepertinya Dokter mengerti kepanikan Aiden dan keterkejutan Ayra saat suaminya ingin memilih jalur operasi untuk proses persalinan dirinya. Jadi, Dokter mencoba menjadi penengah dari perbedaan keinginan dari pasangan suami istri ini.
Melihat cinta yang begitu besar yang di berikan Aiden pada istrinya benar-benar membuat Dokter merasa iri. Apalah dia yang masih sendiri di usianya yang sudah matang. Sementara gadis kecil seperti Ayra saja sudah menikah dan akan menjadi seorang Ibu beberapa saat lagi.
Aiden mengusap wajah kasar saat mendengar ucapan Dokter. Dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun saat melihat istrinya yang kesakitan.
Ayra meraih tangan suaminya, menatapnya dengan tatapan sayu. "Sayang, percayalah aku akan baik-baik saja. Aku akan berjuang melahirkan anak kita dengan selamat dan sehat"
Aiden menatap istrinya dengan wajah yang sangat cemas dan khawatir. Rasanya Aiden benar-benar tidak tega melihat istrinya yang seperti ini. Kesakitan.
Hingga dua jam kemudian, waktunya telah tiba. Rasanya semuanya semakin menegangkan saat Aiden masuk ke dalam ruang bersalin. Menyaksikan bagaimana istrinya benar-benar berjuang untuk melahirkan anaknya. Ternyata perjuangan Ayra baru di mulai saat dia memasuki ruangan persalinan. Istrinya benar-benar bergaruh nyawa untuk melahirkan anak mereka.
Suara tangisan bayi yang menggema di ruangan ini membuat tangisan Aiden benar-benar tidak bisa tertahan lagi. Dia mencium kening istrinya yang di penuhi peluh itu, dengan tetesan air mata yang tidak bisa lagi dia tahan.
"Terima kasih atas perjuangannya, aku tidak akan pernah melupakan semua ini. Aku akan selalu membuatmu bahagia dan mencintaimu"
Ayra hanya tersenyum lirih dengan bibir pucatnya. Perjuangannya akhirnya berhasil, dia bisa melahirkan anaknya dengan sehat dan selamat. Setidaknya dia telah melewati banyak hal untuk sampai di titik ini.
Pernikahan di atas perjanjian, harus tertekan saat dia harus menajalani hidup di atas surat perjanjian. Harus merelakan anaknya setelah lahir dan meninggalkannya. Namun, takdir Tuhan lebih indah dari perkiraannya. Akhirnya Ayra bisa melewati banyak hal dalam hidupnya dan bisa sampai di saat ini. Dimana dia mendengar tangisan bayinya setelah perjuangan yang dia lewati selama ini.
Terima kasih Tuhan.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1