Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Menemukan Kenyamanan Baru


__ADS_3

Malam ini Ayra tidur sendirian di Kamarnya. Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Saat ini Ayra harus mulai membagi waktu suaminya dengan Saqila. Ayra tidak bisa egois, memang Saqila lebih berhak atas Aiden. Bukan hanya dirinya yang selalu ingin bersama Aiden. Tapi Saqila juga pasti begitu. Ayra mencoba mengerti situasi ini, meski entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman saat mengingat jika malam ini suaminya tidur bersama istri pertamanya.


Ayra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mengelus perutnya dengan lembut. Dia ingin Aiden yang mengelus perutnya saat akan tertidur. Keinginan ini sudah lama, namun karena kehamilannya yang dulu masih di sembunyikan oleh Ayra membuat dia tidak berani meminta hal itu pada suaminya.


"Tidur yuk Sayang, kita tidur berdua saja malam ini. Kamu baik-baik ya sama Bunda, biar kita bisa sama-sama sehat dan berjuang bersama sampai waktunya kamu lahir"


Ayra mulai menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. Dia mulai terlelap, dengan tangan berada di perutnya. Malam ini Ayra harus mulai membiasakan diri dengan hal seperti ini.


Sementara di kamar lain, Saqila sedang dalam mood buruk. Bagaimana bisa suaminya malah terlelap di saat dirinya sudah mempersiapkan malam yang indah untuk mereka berdua setelah dua bulan berlalu. Namun baru saja dia berganti baju dengan pakaian tidur yang seksi, tapi Aiden malah sudah terlelap di atas tempat tidur.


"Ternyata selama dua bulan aku pergi, kamu sudah benar-benar menemukan kenyamanan mu bersama gadis itu"


Saqila duduk di depan meja rias, dia menelepon seseorang disana. "Hallo. Aku lagi kesal, besok kita bertemu"


Tanpa mendengar jawaban di sebrang sana, Saqila langsung memutuskan sambungan telepon dan menyimpan dengan kasar ponselnya dia atas meja rias. Lalu, Saqila berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Aiden. Membelakangi Aiden, dia masih sangat kesal dengan sikap suaminya ini. Tidak seharusnya dia bersikap seperti ini pada Saqila yang sudah dua bulan pergi.


Ternyata tidak semudah ini di madu. Aku kesal, aku tidak sesabar istri-istri lain yang sabar menerima suaminya menikah lagi hanya karena kekurangan istri pertama.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


"Pagi Ay"


Saqila berjalan ke arah dapur dan madunya itu ternyata sedang menyiapkan sarapan. Saqila duduk di salah satu kursi meja makan. Menatap menu sarapan pagi ini di atas meja. "Wahh.. Ini semua kamu yang masak Ay?"

__ADS_1


Ayra tersenyum, dia menyimpan sepiring masakan terakhirnya. "Iya Nyonya, saya yang masak. Silahkan dimakan, semoga Nyonya suka dengan masakan saya"


"Pasti aku suka, masakan Ibu kamu saja dulu sangat cocok dengan lidahku. Pasti masakan kamu juga gak jauh beda rasanya. Oh ya, sekarang dimana Ibu kamu?" Saqila mulai mengambil makanan yang di masak oleh Ayra.


Ibu? Ayra hampir saja melupakan sesuatu. Ibu tidak boleh sampai tahu jika dirinya kini telah tinggal di rumah majikannya dulu. Sepertinya siang ini, Ayra harus menemui Ibu. "Ibu ada di rumah saja Nyonya, sudah tua jadi Ay larang Ibu untuk bekerja"


Saqila mengangguk, dia mulai memakan makanannya itu. Suapan pertama, tidak jauh berbeda dari dugaannya. Masakan Ayra memang tidak jauh berbeda dengan masakan Ibunya. Sangat cocok di lidah Saqila.


"Ohh ya Ay, berapa bulan kehamilanmu itu?"


"Sudah dua bulan Nyonya"


"Wahh. Senang ya bisa hamil, aku juga dulu ngalamin hamil. Tapi Tuhan mengambilnya kembali sebelum dia lahir. Bahkan dengan rahimku sekalian"


"Tapi, sekarang aku senang karena sebentar lagi aku dan suamiku akan mempunyai anak dari kamu. Makasih ya Ay, sudah mau menampung benih suamiku hingga siap melahirkan anak untuk kita. Tenang saja, aku akan merawat dan menyayangi anak itu seperti anakku sendiri"


Deg..


Apa maksudnya ini? Apa Saqila tahu soal perjanjian pernikahan yang di buat antara Aiden dan Ayra. Tentu saja dia pasti tahu, tidak mungkin jika Aiden tidak memberi tahunya. Karena memang ini adalah tujuan utama Aiden. Mendapatkan anak dan akan dia urus bersama istri tercintanya. Lalu Ayra bagaimana? Ayra memegang perutnya tanpa sadar, seolah melarang bayinya untuk di miliki orang lain selain dirinya.


Menikahlah denganku dan lahirkan anak untukku.


Sepenggal kalimat itu terdengar jelas di telinga Ayra saat itu. Hingga hidupnya kini sudah berubah. Dan sekarang Ayra hanya perlu menerima kenyataan jika dia ada di keluarga ini hanya untuk melahirkan anak saja. Bukan untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Ayra terlalu berharap lebih.

__ADS_1


"Emm. Saya permisi dulu Nyonya, mau siap-siap untuk kuliah" Ayra melangkah menjauh dari meja makan. Rasanya selera makannya langsung hilang seketika.


"Emm. Ay, tolong hari ini jangan ganggu Aiden dulu ya. Aku ingin memberikan kejutan untuknya. Biarkan dia bersamaku dulu. Aku sangat merindukannya, sudah lama aku tidak berdua dengannya"


Lagi-lagi Ayra hanya bisa menghela nafas untuk meredakan hatinya yang mulai terasa sesak. "Saya tidak pernah mengganggu Tuan, tapi Tuan sendiri yang suka tiba-tiba datang dan menghubungi saya. Jadi, saya tidak mungkin menolaknya Nyonya"


Saqila menatap punggung Ayra yang menjauh dengan tatapan sulit di artikan. Dia melanjutkan makan saat Aiden menghampirinya, sudah siap dengan pakaian kerja. "Sarapan dulu Honey, ini Ayra yang masak. Enak banget masakannya ini"


Aiden melirik ke lantai atas, mencari keberadaan istri keduanya yang tidak terlihat. "Lalu dimana Ayra? Apa dia tidak ikut sarapan?"


"Katanya mau siap-siap, mungkin dia udah sarapan duluan. Ayo duduk, kamu mau makan yang mana? Biar aku ambilkan"


Aiden duduk di kursi samping Saqila, dia menunjukan beberapa makanan yang ingin di makannya. Saqila pun segera mengambilkannya untuk Aiden. Mereka pun sarapan dengan tenang saat Ayra kembali menghampiri mereka, sudah siap untuk kuliah. Melihat pemandangan itu, Ayra merasa jika keberadaannya bagaikan angin lalu yang tidak di anggap. Bahkan suaminya pun tidak mengajaknya sarapan. Apa karena sudah kembalinya Saqila, membuat Aiden berubah dan menjadi melupakan keberadaan Ayra.


Dia tetap Tuan Aiden yang sangat mencintai Nyonya Saqila. Cinta mereka tidak mungkin hilang hanya karena kehadiran ku.


Ayra mengelus perutnya, dia tidak jadi menghampiri mereka ke ruang makan. Ayra memilih duduk di sofa ruang tamu. Duduk menyandar sambil memejamkan matanya. Ingin istirahat sejenak dari setiap hal yang dia lewati dalam hidup ini. Mencoba menegarkan hatinya yang rapuh saat melihat kebersamaan Aiden dan Saqila. Ya, Ayra cemburu melihat itu. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika dia telah terjebak dengan pesona Aiden. Ayra telah jatuh cinta pada suaminya, seiring berjalannya waktu. Kebersamaan dirinya dan suaminya mengikis benteng yang dia bangun sendiri tapi dia juga yang menghancurkannya. Karena cinta itu hadir tanpa bisa dia cegah.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Kasih bintang rate 5 juga..


Yuk mampir di karya temanku.. Ceritanya bagus..

__ADS_1



__ADS_2