
Saqila masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang lebih lega. Setidaknya hanya ini yang bisa dia lakukan untuk bisa membantu adiknya. Setelah apa yang pernah Saqila lakukan pada Ayra, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal seperti ini.
Alvino yang berada di samping kemudi, tersenyum melihat wajah bahagia calon istrinya itu. Dia mengelus kepala Saqila dengan rasa bangga dalam hatinya dengan apa yang di lakukan wanita itu.
"Aku bangga padamu Sayang"
Saqila tersenyum, dia meraih tangan Alvino dan mengecup telapak tangannya. "Semuanya telah berakhir, aku sudah bahagia bersamamu dan Aiden juga sudah bahagia dengan adikku. Semuanya telah bahagia"
Alvino mengangguk, setidaknya takdir telah menyatakan mereka berdua. Alvino yang menunggu Saqila hingga wanita itu menikah dengan Aiden. Namun, ternyata takdir tidak bisa membuat mereka berpisah. Nyatanya Alvino bisa bersama Saqila sekarang.
Di tempat yang berbeda, Aiden menatap televisi dengan senyuman tipis di bibirnya. Meski sebenarnya dia masih tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya di layar televisi saat ini.
"Hai semuanya, aku Saqila. Beradanya aku disini adalah untuk menjawab setiap kebingungan dari kalian tentang berita yang tiba-tiba tersebar. Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa bisa ada berita seperti ini. Tapi yang harus kalian semua tahu, jika aku dan gadis yang berada di foto itu adalah saudara. Ya, memang kami memiliki kisah yang rumit sampai kami harus menjadi istri dari pria yang sama"
Para wartawan langsung menanyakan beberapa alasan. Kenapa sampai semua ini terjadi. Namun Saqila hanya tersenyum saat banyak wartawan yang menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah Saqila siapkan jawabannya.
"Kami adalah adik kakak yang terpisah. Gadis itu adalah adik saya, kejadian dan kesalahan Ayah saya di masa lalu membuat kami terpisah. Dan sekarang kami telah di pertemukan kembali, walau dalam keadaan yang kurang nyaman. Tapi, yang perlu kalian tahu jika dia tidak salah. Aku memang mempunyai kekurangan, hingga aku tidak bisa lagi hamil selepas kecelakaan 2 tahun lalu...."
"...Dan kehamilan yang aku lakukan beberapa waktu lalu adalah sebuah kebohongan untuk menutupi gadis itu yang memang sudah menikah dengan Aiden. Jadi, disini benar-benar tidak ada yang bersalah. Kami semua salah, dan takdir Tuhan yang telah menggariskan cerita hidup kami. Jadi, aku minta kalian semua untuk setop menjadikan berita ini sebagai alasan bercerainya aku dan Aiden"
"Rumah tangga kami memang sudah tidak baik-baik saja sebelum gadis itu masuk ke dalam pernikahan kami" Saqila berdiri dan berlalu dari tempat dimana dia melakukan konferensi pers atas berita yang memojokkan Ayra.
"Kak Saqila..." Ayra terdiam saat mendengar semua yang di ucapkan Kakaknya di layar televisi. Tidak pernah menyangka jika Saqila akan bisa berbuat seperti itu demi dirinya.
__ADS_1
Aiden menoleh, dia belum menyadari keberadaan Istrinya yang berada di belakang sofa yang dia duduki. "Sayang, sini duduk dulu"
Ayra mengerjap, dia menatap suaminya lalu mengangguk dan segera duduk di samping suaminya. Ayra masih sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Saqila padanya. Ternyata Kakaknya begitu peduli padanya, hingga dia rela melakukan semua ini hanya demi kembalinya nama baik Ayra.
"Semuanya sudah terselesaikan Sayang, Saqila telah selangkah mendahuluiku yang baru saja ingin melakukan konferensi pers. Tapi ternyata dia sudah lebih dulu melakukannya"
Aiden merangkul bahu istrinya, mengecup kepala Ayra dengan lembut dan dengan perasaan yang lega. Akhirnya istrinya tidak akan tertekan dengan berita yang ada. Dan saat ini Aiden sudah mulai bisa mempublikasikan Ayra pada semua orang.
Ayra terisak pelan, dia sangat terharu dengan apa yang di lakukan oleh Kakaknya. Tidak pernah menyangka jika Saqila akan melakukan semua ini. "Aku semakin merasa bersalah padanya, Sayang. Dia sudah sebaik ini dan aku malah menghancurkan rumah tangga kalian"
"Ngomong apasi kamu ini? Apa kamu tidak dengar apa yang Saqila katakan barusan. Rumah tangganya denganku memang sudah tidak baik-baik saja sejak awal. Bahkan sebelum kamu masuk ke dalam pernikahan ini. Di situasi seperti ini, seharusnya aku yang merasa sangat bersalah. Karena aku yang telah membawa kamu masuk me dalam pernikahan ini"
Ayra mengangguk, dia memeluk suaminya dengan erat. Sepertinya memang sudah saatnya Ayra membuka lembaran baru dalam hidupnya. Tidak terus terbelenggu dengan masa lalu itu. Ya, dia memang tidak salah dengan apa yang terjadi pada pernikahan Saqila dan Aiden. Semuanya sudah menjadi takdir Tuhan. Dan Ayra tidak mungkin bisa merubah semuanya.
Setelah hari ini, maka Aiden lebih tenang karena tidak akan ada yang memojokkan istrinya lagi dengan sebutan wanita penggoda suami orang, atau bahkan sebagai perusak rumah tangga orang. Sejak klasifikasi Saqila waktu itu, berita tentang Ayra seolah musnah di makan waktu. Tergantikan dengan beberapa berita yang baru saja muncul.
Hari ini Ayra baru saja selesai di periksa oleh Dokter. Aiden membantunya berdiri dan menbenarkan baju istrinya. Menuntun istrinya menuju meja kerja Dokter dan duduk saling berhadapan dengan Dokter kandungan itu.
"Semuanya normal, seperti keinginan Nona untuk melahirkan secara normal. Saya fikir bisa dan tidak masalah melihat dari kesehatan Nona dan posisi bayi yang juga sudah ideal untuk bisa melahirkan normal"
Aiden menghela nafas berat mendengar itu, dia memang sudah tidak bisa memberikan bantahan lagi pada istrinya. Memang ini yang di ingikan Ayra dan juga pilihannya. Meski sebenarnya Aiden sangat takut jika hari itu tiba. Takut jika istrinya tidak akan kuat menahan sakit saat akan melahirkan.
Ayra menoleh ke arah suaminya saat mendengar helaan nafas suaminya yang terdengar sangat berat. Ayra menggenggam tangan Aiden di bawah meja, dia mencoba untuk menenangkan suaminya dar segala gelisah dan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Baik Dok, terima kasih untuk waktunya. Kalau begitu kami permisi dulu" Ayra berdiri dan menggandeng suaminya keluar dari ruangan Dokter.
Berjalan melewati lorong rumah sakit dengan perasaan yang lega. Setidaknya Ayra benar-benar bisa melahirkan secara normal, karena Dokter telah memberikan persetujuan atas itu. Namun saat Ayra melihat wajah suaminya yang berjalan di sampingnya, dia langsung menghela nafas pelan. Wajah suaminya masih saja di penuhi dengan kekhawatiran dan cemas berlebihan.
"Sayang, sudah dong. Kamu jangan terlalu khawatir. Kamu dengar sendiri 'kan apa kata Dokter, aku bisa melahirkan normal. Keadaan aku dan bayiku sehat dan bisa untuk melahirkan secara normal"
Aiden menghembuskan nafas kasar, dia mengecup kepala istrinya tanpa berkata apapun. Dia lanjut berajalan dengan merangkul bahu istrinya. Setidaknya Aiden harus lebih tenang setelah mendengar penjelasan Dokter barusan. Tapi, entah kenapa hatinya malah semakin takut.
Semoga semuanya akan baik-baik saja seperti yang di katakan Dokter.
Sampai di apartemen, Ayra langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa bed di ruang tengah. Perut besarnya membuatnya semakin gampang lelah. Padahal dia tidak melakukan apapun. Aiden menghampiri istrinya, ikut merebahkan tubuhnya tepat di belakang istrinya. Memeluknya dengan erat.
"Berjanjilah untuk tetap baik-baik saja"
Ayra tersenyum mendengarnya, dia mengelus lengan suaminya yang melingkar di bagian dadanya. "Iya Sayang, aku berjanji akan baik-baik saja. Aku dan bayi kita akan tetap baik-baik saja dan hidup bersamamu selamanya"
Aiden sedikit merasa tenang setelah mendengar itu. Lalu dia memejamkan matanya dan mereka pun terlelap di atas sofa bed dengan saling berpelukan.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
Segera end..
__ADS_1