Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Akhirnya Pergi Berbulan Madu#


__ADS_3

Ayra benar-benar tidak menyangka jika ternyata suaminya sudah menyiapkan acara bulan madu ini dengan benar-benar matang. Ayra merasa sangat berat ketika dia harus pergi meninggalkan anaknya itu saat ini. Tapi mau bagaimana lagi karena Aiden yang terus mengajaknya untuk buan madu dan seolah dia tidak bisa menunggu lagi mulai saat ini.


"Mungkin ini memang bentuk cinta Aiden buat kamu. Dia ingin membuat kamu merasakan apa yang dirasakan kebanyakan wanita setiap dia menikahi laki-laki yang tepat"


Ucapan Mami yang membuat Ayra tidak mampu lagi menolak ajakan suaminya ini. Jelas Ayra tahu bagaimana Mami yang begitu mengerti anaknya. Dan, ya Ayra juga faham kenapa Aiden sampai ingin melakukan ini. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Mami jika suaminya itu memang sedang mewujudkan apa yang orang lain rasakan setelah menikah pada Ayra. Aiden ingin jika Ayra juga mengalami hal yang sama dengan yang dirasakan banyak wanita di luar sana.


Sudah berada di sebuah bandara internasional, Ayra hanya terdiam di samping suaminya berdiri yang terus menggenggam tangannya itu. Ayra tidak tahu kemana tujuan mereka pergi saat ini. Dia hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya saja.


Ketika masuk ke dalam pesawat, Aiden mulai merasakan tangan istrinya yang terasa dingin dan berkeringat. Adena mengajak Ayra untuk duduk dan menatap wajah istrinya yang terlihat tegang itu.


"Sayang tenang ya, kamu tidak perlu takut. Kita akan baik-baik saja"


Ayra menatap suaminya yang sedang memasangkan sabuk pengaman di tubuh Ayra. Karena sebentar lagi pesawat iap lepas landas. Sudah ada pemberitahuan yang terdengar beberapa menit yang lalu.


"Tenang ya, sini kamu pegang tangan aku"


Ayra mengangguk saja dan memegang tangan suaminya dengan erat. Apalagi ketika pesawat mulai terasa bergerak dan ada guncangan yang terasa. Ayra mencengkram tangan Aiden dengan sangat erat hingga Aiden sedikit meringis. Setelah pesawat mengudara, barulah Ayra bisa lebih rileks karena sudah tidak terasa lagi guncangan yang keras seperti saat pesawat lepas landas.


"Sudah tenang, sekarang sudah aman. Kamu tidak perlu takut lagi ya"


Ayra menatap suaminya yang mengusap tangannya yang terdapat bekas kuku Ayra yang menancap  disana. "Ya ampun Sayang, maaf ya karena aku tangan kamu sampai terluka begini"


Aiden tersenyum, dia menatap Ayra yang meraih tangannya dan meniup-niup bagian yang terdapat bekas kukunya yang menancap di lengan Aiden.


"Sakit banget ya pasti, maaf ya"


Aiden mengelus kepala istrinya yang menatap ke arah AIden dengan tatapan bersalah. "Tidak papa Sayang, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil saja"


Ayra menatap suaminya dengan helaan nafas panjang. " Lagiankita ini sebenarnya mau kemana? Kenapa harus naik pesawat segala, kan bisa pakai mobil atau kereta saja. Memangnya kita mau kemana?"

__ADS_1


"Sayang, tidak bisa menggunakan mobil atau kereta. Karena kita pergi bukan ke luar kota, tapi ke luar pulau"


"Luar Pulau? Kamu beneran kita akan pergi kesana? Ya ampun, kamu ini benar-benar ya, kenapa harus jauh sekali"


"Ya 'kan kita mau berbulan madu, jadi harus mencari tempat yang bagus agar kita tidak bisa melupakan saat ini ketika nanti akan menjadi sebuah kenangan"


Ayra tidak menjawab, dia hanya diam dengan kepala menyandar pada sandaran kursi dan dengan matanya yang terpejam. Ayra hanya mencoba untuk menenangkan dirinya yang sudah memikirkan apa saja. Mungkin karena Ayra yang tidak pernah naik pesawat sekalipun. Jadi wajar saja jika sekarang dia begitu takut dan tegang saat naik pesawat untuk yang pertama kalinya.


Aiden tersenyum melihat istrinya yang begitu ketakutan dan tegang ketika dia naik pesawaat. Aiden mengelus kepala Ayra dengan lembut. "Tidur saja biar kamu tidak merasakan jauhnya perjalanan"


Ayra memegang lengan suaminya dan menggenggam diatas pangkuannya. Masih dengan mata terpejam karena Ayra tidak akan bisa merasa tenang jika dia tidak menggenggam tangan suaminya seperti saat ini.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Ayra benar-benar terlelap hingga dia terbangun ketika suaminya mengelus pipinya dengan lembut. Ayra mengucek kedua matanya yang terasa perih.


"Sayang apa kita sudah sampai?"


Ayra menatap sebuah nampan yang sudah berada diatas pangkuan suaminya dengan berisi menu makan siang yang lengkap dengan buah untuk makanan penutupnya.


"Suapin"


Aiden tersenyum mendengar suara manja istrinya. Dengan telaten Aiden terus menyuapi istrinya. Hingga makanan di tangannya habis tak bersisa.


"Sayang, minum dulu terus makan buahnya"


Ayra menerima segelas air yang disodorkan suaminyaitu. Meminumnya hingga hampir tandas.


Akhirnya setelah melewati perjalanan yang cukup memakan waktu beberapa jam itu. KIni Ayra dan Aiden telah sampai disebuah pulau yang terkenal dengan keindahan pantai dan wisatanya yang juga cukup banyak.

__ADS_1


Ayra menatap hamparan pasir di pesisir pantai dari salam jendela kamar sebuah Villa yang saat ini sedang ditempati olehnya. Aiden memeluk istrinya itu dari belakang. Dagunya berada di puncak kepala Ayra.


"Apa kamu menyukainya?"


Ayra mengangguk, tentu dia sangat suka dengan pemandangan disini. "Sangat suka, indah sekali. Nanti kita bisa melihat matahari tenggelam disana ya"


"Disini juga akan kelihatan, kenapa harus keluar kamar"


Ayra langsung melepaskan lingkaran tangan suaminya dan berbalik lalu menatap suaminya dengan bibir yang cemberut. "Sayang, kan suasananya akan terasa berbeda ketika kita berada disana. Duduk diatas pasir dan menatap matahari yang terbenam"


"Lebih enak disini, kita bisa melihatnya sambil melakukan apa saja yang ingin kita lakukan diatas tempat tidur"


Ayra memukul lengan suaminya itu dengan kesal. Bisa-bisanya Aiden malah berpikir jika dia akan melakukan hal diatas tempat tidur sambil melihat matahari terbenam di sore hari.


"Kamu ini kenapa si, kita 'kan disini untuk menikmati suasana disini, bukan untuk hanya bermain di dalam kamar saja"


Aiden meraih pinggang Ayra dan menarik tubuh istrinya itu untuk semakin merapat dengan tubuhnya. Menatap Ayra dengan senyuman tipis penuh arti.


"Sepertinya ada yang kamu lupa, jika kita datang kesini untuk berbulan madu. Bukan untuk berjalan-jalan saja. Jadi waktu kita harus lebih banyak berada di dalam kamar"


Ayra menelan salivnya dengan susah payah ketika dia melihat tatapan suaminya itu. Sudah pasti Ayra akan habis di makan oleh suaminya ini.Aiden tidak akan membiarkan Ayra lepas begitu saja dari cengkramannya.


"Sa-sayang, sepertinya aku lapar sekali"


Aiden terkekeh melihat tingkah istrinya yang masih saja malu ketika AIden membahas soal ranjang.


"Katanya lapar, kenapa malah mau ke kamar mandi?"


Ayra terdiam saat suaminya menahan lengannya yang sedang melangkah menuju kamar mandi. Ayra memejamkan matanya ketika merasakan hembusan nafas hangat suaminya di lehernya itu.

__ADS_1


"Apa kamu ingin memulai semuanya di kamar mandi? Sepertinya akan seru" biaik Aiden yang membuat Ayra mematung seketika.


Bersambung


__ADS_2