
Masih di balik selimut tebal dengan tubuh yang sama-sama polos. Aiden memeluk istrinya dari belakang dengan terus mengecup bahu dan punggungnya. Seolah dia belum puas saja dengan permainan yang baru saja selesai.
"Tadi kamu nanya ulang tahun ku, emangnya kenapa?"
Ayra menggeleng pelan, dia berbalik dan menatap suaminya. Mengelus pipi suaminya dengan lembut. "Kata Mami, kamu suka adain acara pesta ya sama rekan kantor kamu. Tapi, katanya sekarang enggak. Kenapa?"
Apa mungkin karena kehadiranku?
Aiden berbalik, jadi tidur terlentang menatap langit-langit kamar. "Aku malas saja mengadakan pesta, meningan kita makan berdua saja. Dinner"
"Emm. Kamu adakan saja pesta seperti biasanya, aku gak papa kok kalau aku gak hadir juga. Nah nanti kita rayainnya lain waktu berdua saja"
Aiden menoleh, tidak menyangka jika istrinya bisa tahu isi hatinya. Ya, Aiden tidak berniat mengadakan pesta untuk ulang tahunnya kali ini. Semuanya karena dia menghargai perasaan Ayra. Karena Aiden tidak mungkin bisa mengenalkan Ayra di saat dia masih menjalin pernikahan dengan Saqila. Semuanya akan menjadi semakin rumit.
"Sayang..." Aiden berbalik dan memeluk Ayra, istrinya selalu mengerti keadaannya. "...Aku gak mau kamu akan terluka karena merasa tersisihkan sebagai istriku"
Ayra tersenyum, dia mengecup sekilas pipi suaminya. Kecupan kejutan ini selalu membuat Aiden berdebar senang. Telinganua langsung terasa panas, mungkin sudah memerah. "Aku tidak papa, atau aku bisa ikut ke pesta kamu. Tapi aku akan berada di pojokan dan tidak akan mendampingi mu"
Karena tetap Nyonya yang akan menjadi pendampingmu.
Aiden menggeleng, dia tidak mau melakukan itu. Ayra terlalu berharga untuk dirinya sakiti. Sudah cukup Ayra tersakiti dengan pernikahan ini. Jangan lagi Aiden melakukan hal yang akan semakin membuat hati istrinya sakit.
"Sayang, aku tidak papa. Kamu tenang saja, aku tidak akan merasa sakit hati kok. Kan ini kebiasaan kamu setiap tahunnya. Jadi, sekarang juga tetap harus di laksanakan. Aku akan hadir sebagai tamu undangan ya? Aku benar-benar tidak papa"
Ayra mengelus pipi suaminya, dia tidak mau menjadi perubahan pada setiap hal yang selalu di lakukan Aiden. Seperti setiap tahun di hari ulang tahunnya selalu ada acara pesta.
Aiden menghela nafas, dia juga tidak bisa menolak keinginan istrinya ini. Mungkin memang benar dia harus tetap menjalankan kebiasaan setiap tahunnya. "Sayang, sebenarnya ini bukan sekedar pesta. Jadi setiap tahunnya aku selalu mengadakan pesta rakyat tepat di hari ulang tahunku. Aku membebaskan untuk setiap orang yang hadir dan datang kesana, menikmati makanan dari para pedagang kaki lima dan pedagang pinggir jalan, juga pasokan buah dan makanan-makanan lain dari para petani. Aku hanya membantu mereka, dan membiarkan mereka juga merasakan kebahagiaan yang sama di hari ulang tahun ku"
__ADS_1
Ayra tersenyum bangga, suaminya memang berbeda dari setiap orang kaya yang sering Ayra dengar. Dia sanga rendah hati dan mempunyai hati yang besar untuk semua orang. Bahkan untuk orang-orang yang dia tidak kenal sekalipun. Wajar saja jika Saqila bahagia menikah dengan Aiden. Nyatanya Ayra juga merasakan itu, dia bahagia mempunyai suami seperti Aiden. Tapi sepertinya rasa bahagia Ayra dan Saqila berbeda alasan.
"Apalagi jika seperti itu, kamu harus tetap lakukan kebaikanmu itu Sayang. Itu adalah hal yang sangat mulia. Kamu membagi kebahagiaanmu pada orang lain. Itu akan membawa berkah tersendiri untuk hidupmu"
Aiden tersenyum, dia semakin erat memeluk istrinya dan mengecup puncak kepalanya. "Ya, karena sekarang aku juga sedang mendapatkan berkah karena bisa memiliki istri sepertimu"
Ayra hanya tersenyum mendengarnya. Mereka berpelukan sampai terlelap hingga pagi menjelang.
Pagi ini seperti biasa Ayra akan di antar kuliah oleh suaminya.
"Nanti kita jadi periksa ya, kemarin-kemarin gak jadi terus. Dokternya sudah aku suruh pulang" Aiden kesal sendiri saat Dokter kandungan Ayra sudah tiga hari tidak ada karena ada tugas ke luar kota. Jadi dia terpaksa mengundur pemeriksaan kandungan istrinya. Sampai semalam Aiden meneleponnya langsung dan memintanya segera kembali. Akhirnya hari ini dia bisa membawa Ayra periksa kandungan.
"Iya Sayang, kamu tega banget deh sampai maksa dokternya buat cepat pulang"
Aiden mengelus kepala istrinya, lalu tangannya beralih pada perutnya yang buncit. Tendangan dari bayinya dari dalam sana selalu membuat Aiden antusias. "Sayang, dia nendang-nendang terus. Mungkin ingin Daddy menengoknya lagi"
Apasi? Semalam kan udah, kok malah udah mau nengok lagi.
"Apaan si, udah ahh aku berangkat dulu ya. Kamu hati-hati di jalan, dan semoga persiapan acara pesta ulang tahun kamu lancar ya"
Aiden mencium kening dan bibir Ayra. "Iya Sayang, makasih ya. Kamu juga hati-hati. Jangan terlalu kelelahan"
Ayra mengangguk, dia mencium punggung tangan suaminya sebelum keluar dari mobil.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Aiden terus memegangi tangan istrinya saat Dokter sedang melakukan pemeriksaan. Perut buncit Ayra terlihat jelas saat Dokter sedikit mengangkat pakaian yang Ayra kenakan untuk pemeriksaan. Keduanya fokus pada layar monitor dan mendengarkan setiap penjelasan dokter. Dan sampai saat ini setiap menemani istrinya periksa kandungan, apalagi saat Aiden mendengar langsung detak jantung dari bayinya. Hatinya selalu berdebar.
__ADS_1
Aiden tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Menemani lagi istrinya periksa kandungan, meski istri yang berbeda. Tapi sensasinya tetap sama. Aiden sangat menantikan kehadiran anaknya ini. Dokter selesai memeriksa Ayra, Aiden segera membantu istrinya untuk bangun dan membenarkan pakaiannya. Lalu membantu Ayra turun dari ruangan pemeriksaan. Berjalan menuju meja dokter.
"Keadaan Nona dan bayinya sehat, semuanya baik-baik saja. Pola makannya tetap di jaga ya, susunya juga tetap di minum"
Ayra mengangguk, Dokter memberikan vitamin dan beberapa obat untuk kandungan Ayra. Setelahnya mereka langsung pergi. Di dalam mobil, Aiden tidak hentinya menggenggam tanga Ayra dan sesekali mengecupnya. Meski dirinya yang sedang mengemudi sekarang.
"Sayang berhenti dulu disana, aku mau rujak"
Aiden menatap arah tunjuk Ayra, dia mengangguk. "Baiklah, tapi jangan terlalu pedas"
Ayra cemberut, makanan pedas adalah favoritnya. Pokoknya semua makanan yang pedas Ayra suka. "Agak pedas ya"
Aiden menggeleng pelan, mobil berhenti di depan penjual rujak dengan gerobak dorong. "No, gak pedas atau tidak sama sekali?"
Ayra berdecak kesal, tapi dia tidak bisa membantah suaminya juga. Dia selalu marah kalau Ayra ketahuan makan makanan pedas tanpa sepengetahuannya. "Yaudah deh iya"
"Ini juga demi kesehatanmu Sayang, terlalu banyak makan pedas tidak baik juga untukmu"
Aiden membuka kaca jendela mobilnya dan memesan satu porsi rujak pada si penjual. Setelah menerima rujak itu, Aiden membayarnya dengan uang lebih. Dia selalu memberikan uang lebih pada pedagang pinggir jalan seperti ini. Karena dia tahu, sepeser yang dia berikan bisa menjadi sangat bermanfaat bagi mereka dan keluarganya.
"Terimakasih Tuan, semoga anda dan keluarga sehat selalu" Si pedangan rujak membungkukan tubuhnya dengan rasa hormat dan terimakasih pada Aiden.
"Amin Pak, terimakasih"
Aiden melajukan kembali mobilnya, dia melirik Ayra yang memakan rujak dengan ngilu. Apalagi saat istrinya memakan mangga muda. Terlihat sangat menikmati.
"Gak pedas ahh" Masih saja Ayra menggerutu dengan itu. Aiden tidak mau mendengarnya dan pura-pura tidak dengar saja.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5