Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Takut Aiden Mengkhianatinya#


__ADS_3

Keluarga kecil ini telah sampai di taman bermain. Alerio tentu sangat senang saat dia di bawa ke tempat ini. Dimana ada banyak permainan dan beberapa wahana. Banyak juga yang berjualan mainan. Ayra dan Aiden tertawa melihat keceriaan anaknya yang berlari kesana kemari dan mencoba setiap permainan.


"Kan, untung saja aku bawa pengasuh. Kalau tidak, pasti kamu akan semakin kelelahan mengejar-ngejar Alerio yang sangat aktif itu"


Memang sebelumnya pergi ke tempat ini ada sedikit perdebatan kecil. Dimana Ayra yang tidak mau membawa pengasuh Alerio karena dia pikir ingin pergi jalan-jalan bersama keluarga kecilnya ini. Tapi Aiden yang tetap kekeuh karena Aiden tahu jika Ayra akan kelelahan jika tidak membawa seorang pengasuh disaat anaknya yang sedang aktif seperti ini.


Ayra menghembuskan nafas panjang, dia memang merasa sangat lelah. Aiden tersenyum melihat itu, dia meraih kepala istrinya untuk bersandar di dadanya. Mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Capek ya, yaudah ayo kita duduk dulu disana" Aiden membawa istrinya untuk duduk di salah satu bangku yang ada disan.


Ayra menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Menatap hilir mudik orang-orang yang mengunjungi teman bermain ini dengan membawa anak dan keluarga mereka.


"Sayang, jangan pernah mengkhianati aku ya. Karena aku tidak akan sanggup bertahan dan pada akhirnya aku akan pergi dan kamu tahu sendiri aku harus pergi kemana. Meski aku mempunyai Papa, tapi tetap saja karena aku tidak pernah merasa lebih dekat dengan Papa. Sampai saat ini aku masih mersa tidak percaya jika aku juga memiliki seorang Ayah"


Aiden terdiam mendengar itu, dia menyadari jika istrinya masih memikirkan tentang kejadian kemari. Aiden tahu jika Ayra merasa kebingungan jika dia harus pergi dari Aiden, maka dia akan pergi kemana. Ayra sedang memikirkan kegelisahan itu.


"Sayang, kamu jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku tidak akan mengkhianati kamu. Kamu tidak perlu memikirkan kamu akan pergi kemana. Karena kamu tidak akan pernah pergidari kehidupanku"


"Aku takut jika mungkin suatu saat nanti kamu akan menemukan wanita yang lebih baik dari aku dan tentunya yang lebih pantas untuk bersanding bersama kamu"


Aiden mengelus kepala istrinya yang bersandar dibahunya itu. "Tidak akan pernah itu terjadi,  cukup satu kali saja aku mengalami gagal dalam sebuah pernikahan.Tidak akan terulang lagi"


Aya menoleh pada suaminya, menatapnya dengan lekat dan tidak ada kebohongan yang terlihat di balik mata itu. Ya, Aiden memang berkata apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.


"Terima kasih ya"


"Nda..Nda.."


Ayra langsung menoleh pada anaknya yang berlari ke arahnya dengan diikuti pengasuh di belakangnya. Ayra langsung merentangkan tangannya. Alerio pun langsung memeluk Ibunya itu. Ayra mengangkat Alerio dan mendudukannya diatas pangkuannya.


"Alerio senang main disini Nak?''


"Senang"

__ADS_1


Ayra gemas dengan anaknya itu, dia membersihkan keringat yang membasahi kening Alerio. "Terlalu aktif si, sampe keringatan begini"


Aiden yang menata itu langsung tersenyum bahagia. Aiden selalu melihat sosok Mami dalam diri Ayra, bagaimana dia memperlakukan anaknya dengan begitu lembut. Sama seperti saat dulu Mami memperlakukannya.


"Sayang, kita pulang saja ya. Kasian Alerio sudah sangat lelah sepertinya"


Aiden mengangguk, dia segera membawa keluarga kecilnya ini keluar dari taman bermain. Menuju parkian dimana mobilnya berada.


"Kita kemana dulu? Atau mau langsung pulang saja?"


Ayra menatap anaknya yang sudah sangat lemah diatas pangkuannya itu. "Pulang saja, kasihan juga Ale sudah sangat lelah sepertinya"


Aiden mengangguk, dia melajukan mobilnya menuju rumah. "Apa tidak akan makan dulu?"


"Kita makan di rumah saja"


Benar saja, ketika mereka telah sampai di rumah. Alerio langsung tidur setelah dia selesai mandi. Anak itu pasti kelelahan karena terlalu aktif selama di taman bermain.


"Tolong jaga Alerio ya Mbak, aku mau lihat suamiku dulu"


Ayra kembali ke kamarnya setelah melihat Alerio yang sudah terlelap itu. Aiden yang sedang duduk diatas tempat tidur dengan ponsel ditangannya.


"Sayang, mau makan siang dulu?"


Aiden menoleh pada istrinya yang duduk di pinggir tempat tidur. Dia mematikan layar ponselny dan menyimpan diatas nakas. "Kamu masakin ya, aku ingin masakan kamu. Bosen makan masakan pelayan terus"


Ayra tersenyum, suaminya ini memang paling menyukai makanan yang dia masak. Bersyukur karena memang tidak ada kelebihan lain di diri Ayra yang bisa di banggakan oleh suminya selain msakannya.


"Yaudah, ayo kita turun ke bawah. Kamu mau makan apa?"


"Apa saja yang penting kamu yang memasaknya"


"Baiklah ayo kit ke bawah"

__ADS_1


Berada di dalam dapur, Aiden duduk dikursi meja makan sambil menatap setiap gerak istrinya yang sedang menguasai dapur saat ini. Apron yang terpasang ditubuhnya dan juga rambut Ayra yang dicepol asal, membuat Ayra malah semakin terlihat cantik dimata Aiden.


"Makanannya sudah siap, Mami dimana ya. Apa dia sudah makan siang"


"Sepertinya masih di kamar, Mbak tolong panggilkan Nyonya ya" kata Aiden pada pelayan yang membantu Ayra selama memasak tadi.


"Sayang, mau makan sama apa? Biar aku ambilkan"


"Semuanya, tapi nasinya sedikit saja"


Ayra mengangguk, dia mengambilkan makanan untuk suaminya itu. Dia senang melihat Aiden yang selalu makan dengan lahap ketika Ayra memasak untuknya.


"Wahh, kalau sudah menantu Mami yang masak. Pasti Mami akan nambah lagi makannya"


Ayra tersenyum pada Mami yang baru saja datang di meja makan. Keluarga bahagia ini makan bersama dengan suasana keluarga yang hangat.


"Papi masih di kantor Mam?" tanya AIden


"Iya, paling nanti sore pulangnya. Oh ya, ada undangan pesta untuk keluarga kita akhir pekan ini.Datang ya kalian, gak enak Mami kalau tidak datang. Ini teman baik Mami"


"Iya nanti diusahakan datang, lagian masih cukup lama juga"


Ayra hanya diam sambil mengunyah makanannya. Dia selalu merasa tidak nyaman jika harus terpaksa menghadiri acara suaminya itu. Ayra selalu merasa rendah di depan mereka yang terlihat sangat luar biasa.


"Oh ya Ay, nanti kita pergi ka butik ya. Beli gaun untuk kita pergi ke acara nanti"


"Emm. Kan masih ada yang waktu nikahan Kak Saqila saja belum pernah di pakai lagi Mam"


Aiden tersenyum dengan kepolosan istrinya yang selalu memikirkan hal sederhana. Sangat berbeda dengan Ibunya yang selalu menginginkan sesuatu yang baru untuk sebuah pesta. Apalagi ini adalah pesta temannya.


"Yaudah Mam, pakai yang itu aja. Lagian kenapa harus beli lagi si. Baju Mami sudah banyak begitu di lemari"


Mami tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa malu dnegan ucapan anaknya itu di depan menantunya yang sangat sederhana dan tidak suka berbelanja seperti dirinya.

__ADS_1


"Iya kita pakai yang itu saja"


Bersambung


__ADS_2