Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Pertengkaran Kecil#


__ADS_3

Ketika Aiden pulang ke rumah malam ini, entah kenapa dia malah disambut oleh istrinya yang cemberut. Aiden tidak merasa melakukan kesalahan apapun hingga membuat Ayra kesal.


"Sayang, aku mau mandi. Tolong siapin airnya ya" Dengan ragu Aiden mencoba berbicara pada istrinya yang jelas terlihat kesal.


"Iya"


Ayra tidak menjawab dengan senyuman seperti biasanya. Dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju ruang ganti. Aiden hanya menggaruk tengkuknta yang tidak gatal, dia segera menyusul istrinya ke dalam ruang ganti.


"Sayang, kamu kenapa?"


Ayra yang sedang mengisi bak mandi dengan air hangat, langsung menoleh pada suaminya. Dia berdiri tepat di depan Aiden saat ini.


"Yang kamu bilang supir pribadi untuk aku itu, bukan hanya seorang supir biasa 'kan?"


Aiden terdiam beberapa saat, dia baru mengerti apa yang membuat istrinya ini sampai terlihat begitu kesal padanya. Aiden meraih tangan Ayra, namun segera di tepis dengan kasar oleh istrinya itu. Membuat Aiden langsung menghela nafas pelan.


"Sayang, aku melakukan ini supaya kamu aman kalau mau pergi kemana pun"


"Ya, tapi aku merasa tidak nyaman kalau ada seorang bodyguard seperti itu. Apalagi dia orangnya ngeselin. Lagian kamu kenapa gak bilang dulu sama aku si?"


"Karena kalau aku bilang sama kamu, sudah pasti kamu akan menolaknya. Iya 'kan?"


Ayra melengos kesal, dia benar-benar tidak habis fikir dengan keposesifan suaminya yang malah semakin menjadi. "Kamu bisa berhenti bersikap berlebihan gak sama aku. Kenapa semakin kesini kamu makin posesif gak jelas sama aku"


Aiden memegang bahu Ayra, membuat istrinya itu menatap ke arahnya. "Posesif kamu bilang? Ya, aku memang posesif, memangnya kenapa? Wajar 'kan kalau aku posesif sama istri aku sendiri"


"Tapi waktu bersama Kak Saqila, kamu tidak pernah seperti ini 'kan? Kenapa sekarang kamu jadi berlebihan begini"


"Cukup Ayra! Kamu tidak suka dengan apa yang aku lakukan? Kamu mau aku bersikap seperti saat masih dengan Saqila? Lalu nantinya aku menikah lagi dan mencintai wanita lain? Iya? Kamu maunya seperti itu? Baik akan aku lakukan"

__ADS_1


Ayra terdiam mendengar ucapan suaminya dengan nada tinggi itu. Tidak! Bukan seperti ini yang Ayra inginkan. Tentu saja dia tidak akan mau kehilangan suaminya, apalagi jika Aiden sampai menikahi wanita lain. Ayra tidak akan rela. Ketika Aiden berbalik dan ingin pergi dari hadapannya, Ayra langsung memeluknya dari belakang. Dia tidak mau jika suaminya sampai melakukan apa yang barusan dia ucapkan.


"Sayang, bukan seperti itu maksud aku?"


Aiden tersenyum tipis, ketika taktik yang dia gunakan ternyata berhasil untuk membuat istrinya tidak lagi kesal padanya. Lagian mana mungkin Aiden bisa menikah dengan wanita lain, sementara hatinya saja sudah milik Ayra sepenuhnya.


"Bukannya kau yang ingin aku berubah menjadi seperti Aiden saat bersama Saqila. Itu semua keinginan kamu 'kan? Jadi aku akan lakukan"


Ayra menggeleng cepat di balik punggung suaminya itu. "Enggak Sayang, aku gak mau kamu kembali seperti saat kamu bersama Kak Saqila. Biar kamu tetap seperti ini saja"


Aiden melepaskan lingkaran tangan Ayra di perutnya, lalu dia berbalik dan menatap istrinya itu dengan lekat. "Aku kayak gini ke kamu, karena emang aku gak mau kamu kenapa-napa. Kemarin saja, kamu sampai di culik dan terluka. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi lagi. Jadi, apa yang aku lakukan memang sepenuhnya untuk kebaikan kamu"


Ayra menatap Aiden dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia sudah tidak tahu diri sekali karena menyangka jika suaminya melakukan semua ini karena Aiden yang terlalu posesif. Tapi nyatanya Aiden memang melakukan semua ini untuk kebaikannya dan Aiden hanya berusaha untuk melindungi Ayra ketika dia berada jauh darinya.


"Maafin aku Sayang, aku salah faham sama kamu"


Ayra kembali memeluk tubuh suaminya, menyandarkan kepalanya di dada Aiden. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah berpikiran buruk tentang suaminya. Padahal kenyataannya, Aiden begitu melindunginya dan hanya ingin yang terbaik untuk Ayra.


Ayra mengangguk dalam pelukan suaminya.


Akhirnya setelah pertengkaran kecil itu berakhir dengan mandi bersama. Ayra keluar dari ruang ganti dengan sedikit meringis. Perutnya semakin terasa sakit ketika menstruasinya semakin banyak.


"Sayang kamu kenapa?"


Ayra melirik pada suaminya yang menghampirinya kita. "Perut aku sakit, efek datang bulan sepertinya"


Aiden langsung menggendong istrinya itu dan membawanya ke atas tempat tidur. "Kita ke dokter saja atau bagaiamana? Mana yang sakitnya?"


Ayra menggealeng pelan, dia meraih tangan Aiden dan meletakannya dibagian perutnya yang sakit. "TIdak perlu, memang biasa selalu seperti ini jika hari pertama dan kedua. Aku hanya perlu istirahat, nanti juga pasti akan sembuh"

__ADS_1


Aiden naik ke atas tempat tidur, dia memposisikan dirinya di belakang tubuh Ayra dengan tangan yang terus mengelus perut istrinya dengan lembut. Ayra menyandarkan kepalanya di dada Aiden dengan nyaman.


"TIdurlah, aku akan menjagamu"


Ayra tersenyum tipis, dia begitu bahagia dengan perhatian yang selalu diberikan oleh suaminya ini. Aiden menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.Ayra mulai terlelap di dalam pelukan suaminya yang begitu membuatnya nyaman.


######


Pagi ini Ayra merasa lebih baik, perutnya juga tidak terlalu terasa sakit lagi. Ayra membantu suaminya untuk memasangkan dasi. Menatap Aiden dengan senyuman tipis, merasa jika Ayra terlalu beruntung bisa mendapatkan Aiden saat ini.


"Sayang, kemarin aku mau mampir ke rumah Tami untuk memberikan oleh-oleh. Tapi Pak supir tidak mengizinkan aku, karena katanya kamu hanya bilang kalau dia hanya perlu mengantarkan aku ke rumah Kak Saqila"


"Ya, karena memang kamu yang tidak bilang sama aku kalau kamu mau ke rumah Tami juga. PaK Heru memang sangat profesional, dia tidak akan melanggar apa yang aku katakan"


"Ohh pantas saja, jadi namanya Pak Heru ya. Dia terlihat sangat menyeramkan tahu. Selama perjalanan saja dia tidak berbicara apapun"


Cup..


Aiden mengecup gemas bibir istrinya yang sedang mengomel itu. "Makanya aku mempekerjakan dia, karena dia sangat profesional dan tidak mungkin berani macam-macam pada kamu"


Ayra langsung mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan suaminya. Masa si dia pikir aku akan selingkuh dengan supir yang dia pekerjakan itu. Gumamnya.


"Udah ahh, ayo kita ke bawah"


Aiden merangkul bahu istrinya dan membawanya keluar dari kamar. Ayra menatap suaminya, masih merasa bingung dengan apa yang dibicarakan Aiden barusan.


"Sayang, kamu gak berpikir kalau aku akan berselingkuh sama Pak supir 'kan? Kamu gak percaya sama aku?"


Aiden berhenti melangkah, dia menatap istrinya itu. "AKu percaya sama kamu, tapi aku tidak pernah percaya pada pria lain"

__ADS_1


Ayra hanya menggeleng pelan melihat suaminya itu. Terkadang Ayra juga merasa heran kenapa AIden selalu menjadi pencemburu berat seperti ini.


Bersambung


__ADS_2