
Sejatinya tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan. Aiden berhasil mengajak bicara Saqila baik-baik hingga semuanya bisa terselesaikan. Aiden memberi pengertian tentang Ayra yang pindah kembali ke apartemen. Saqila tidak terlalu menanggapi tentang itu, dia sudah mulai tidak peduli dengan pernikahan kedua suaminya. Sudah lelah terus-terusan meminta Aiden lebih memperhatikannya daripada Ayra. Karena nyatanya Aiden tetap lebih memperhatikan istri keduanya. Saqila bukan tidak sadar, jika hati suaminya sudah mulai berubah sejak menikahi Ayra.
Ada apa dengan Aiden? Kenapa saat dia bersama Saqila malam ini, justru dia tidak bisa tidur. Fikirannya hanya tertuju pada Ayra yang tinggal seorang diri di apartemen. Seolah kenyamanan Aiden dengan Saqila hilang begitu saja. Aiden juga bingung ada apa dengan dirinya. Kenapa hatinya bisa berubah seperti ini? Saqila adalah cinta pertamanya, tapi kenyamanan lebih dapatkan dari Ayra.
Aiden turun perlahan dari tempat tidur. Berjalan keluar kamar dengan membawa ponselnya. Aiden mencoba menelepon Ayra, ingin menanyakan apa gadis itu baik-baik saja dia tinggal sendiri atau mungkin Ayra sudah tidur. Tapi baru dering ke dua, sambungan telepon langsung terjawab. Berarti Ayra belum tidur, padahal sudah pukul 10 malam.
"Sayang belum tidur?"
"Belum, baru bikin susu"
"Ohh. Minum susunya sampai habis ya"
Ayra tersenyum, dia meminum sedikit susu di tangannya . "Kok belum tidur Sayang?"
Aiden memasukan satu tangannya ke saku celana panjang yang di pakainya. Tatapannya tertuju pada pemandangan di luar sana dari jendela yang tirainya dia sedikit terbuka. "Aku tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan kamu yang sendiri disana"
Ayra tersenyum, dia meninum sisa susunya sampai habis lalu menyimpan gelas kosong di atas nakas. "Kan ada Nyonya, kenapa malah memikirkan aku?"
"Entahlah.. Fikiran aku hanya tertuju padamu"
"Gombal, Tuan Aiden jadi raja gombal ya sekarang" Ayra tertawa kecil di akhir kalimatnya
Aiden tersenyum, mendengar tawa renyah istrinya entah kenapa membuat hatinya bahagia. Aiden merasa senang jika Ayra sudah mulai tenang, tidak lagi tertekan seperti saat berada di rumah.
"Yaudah, kamu tidur ya. Udah malam, besok libur kuliah 'kan?"
"Besok weekend, jadi gak kuliah. Kamu ke kantor besok?"
"Ya, enggak dong Sayang. Aku besok datang kesana"
"Nyonya gimana?"
"Tidak papa, aku ingin menemuimu"
"Jangan sampai jadi masalah lagi"
__ADS_1
"Tidak akan"
Rasanya Aiden sudah mulai tidak peduli, dia hanya ingin bersama Ayra. Jika Saqila marah, Aiden hanya akan mengalah dan minta maaf duluan. Tanpa harus menurutinya untuk tidak betemu Ayra.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Suara pintu terbuka membuat Ayra menoleh saat dirinya sedang masak di dalam dapur. "Loh kok datang?"
Aiden berjalan mendekati istrinya dan memeluknya, mencium seluruh bagian wajah Ayra. "Apa aku tidak boleh menemui istriku ini?"
"Bukan begitu, tapi 'kan ada Nyonya"
"Sayang, jangan terus mengalah demi Saqila. Kamu juga tetap istriku"
Tapi hanya beberapa bulan lagi.
"Yaudah, kamu awas dulu. Aku lagu masak, kita makan siang sama-sama"
Aiden mengangguk, dia mengecup pipi istrinya sebelum dia pergi dan duduk di kursi meja makan. Aiden memperhatikan Ayra yang sedang mengaduk masakan di dalam wajan. Dia terlihat sudah terbiasa dengan peralatan dapur. Berbeda sekali dengan Saqila yang memegang pisau saja, entah kapan. Karena mengupas buah saja selalu menyuruh asisten rumah tangga.
Mungkin karena Ayra sedang mengandung anakku. Jadi aku lebih perhatian padanya.
Seolah ingin membuktikan jika setelah anaknya lahir, apa perasaan nyaman Aiden masih sama. Aiden mengira jika perasaannya hanya karena Ayra yang sedang mengandung anaknya. Aiden masih percaya jika dirinya hanya satu kali jatuh cinta, yaitu pada Saqila.
Ayra menata makanannya di atas meja makan. "Makan dulu"
Aiden mengangguk, tersenyum saat Ayra langsung mengambilkan makanan untuknya. Perhatian seperti ini yang mungkin membuat Aiden merasakan kenyamanan pada Ayra. Bukan karena cinta.
Mereka makan dengan tenang dengan Aiden yang sesekali melirik istrinya. Masih sedang memastikan keraguannya, apa benar dia jatuh cinta pada Ayra, seperti yang pernah di katakan Rega padanya. Atau mungkin hanya rasa nyaman biasa saja.
"Nanti malam aku tidur di rumah lagi, Ay. Gak papa? Saqila memintaku untuk datang karena akan ada arisan teman-temannya yang di adakan di rumah. Kalau aku tidak datang, akan menjadi bahan obrolan tidak nyaman di antara teman-teman Saqila"
Ayra mengangguk "Iya, gak papa kok. Lagian aku betah tinggal disini. Oh ya besok aku akan ke rumah Ibu. Sebelum perutku semakin terlihat, jadi aku akan memberi tahu Ibu jika aku tidak akan bisa datang beberapa bulan ke depan. Mungkin sampai aku lahiran"
Aiden menghela nafas, dia seolah melupakan tentang ini. Ibu dari istrinya memang tidak tahu tentang pernikahan mereka, jadi tidak mungkin Ayra datang menemuinya dengan keadaan hamil besar. "Yaudah aku antar ya"
__ADS_1
"Jangan!" Ayra langsung mengiyakan tangannya. Dia menatap Aiden. "...Kalau di antar pasti Ibu akan curiga. Lagian aku hanya butuh waktu sebentar saja. Aku bisa naik taxi online ya"
Hah...
Aiden menghela nafas kasar, wajah memelas istrinya selalu membuat dirinya tidak bisa menolak. "Yaudah iya, tapi hati-hati. Jangan kecapean juga, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku"
"Iya Sayang"
Akhirnya setelah seharian bersama istri keduanya, sore hari Aiden harus kembali ke rumah. Menemui Saqila yang pastinya selalu memamerkan kemesraan dengannya. Terus menyombongkan kehebatan Aiden dalam dunia bisnis. Hal ini yang selalu membuat Aiden jengah dan malas saat harus menemani Saqila ke acara teman-teman sosialitanya.
Mereka selalu menjadi perbincangan sebagai pasangan paling serasi. Cantik dan tampan, juga memiliki bisnis yang sukses. Sepasang suami istri dengan perusahaan masing-masing. Siapa yang tidak akan menganggap jika keluarga itu sangat bahagia karena berlimpah harta. Meski belum ada kehadiran seorang anak di antara mereka.
Namun, Aiden tidak bisa berkata-kata saat malam ini dia mendengar ucapan Saqila pada teman-temannya. Saqila mengatakan jika dirinya sedang mengandung. Apa maksudnya?
"Ya ampun Nyonya Narendra, selamat ya. Akhirnya penantian kalian selama ini tidak sia-sia. Setelah kecelakaan waktu itu, akhirnya anda bisa mengandung juga. Selamat ya Tuan Aiden"
Antusias orang-orang disana justru malah membuat Aiden semakin naik darah. Saqila langsung memegang tangan Aiden yang mengepal erat. Aiden menoleh dan menatap Saqila dengan tajam.
"Diam, aku hanya sedang melindungimu agar mereka tidak curiga saat nanti tiba-tiba kau mempunyai anak" bisik Saqila
Aiden tidak bisa berucap apapun, dia tidak pernah berfikir jika Saqila akan melakukan ini.
"Berapa bulan usianya?"
"Tiga bulan, masih belum terlihat"
Saqila asyiknya mengobrol dengan teman-temannya. Tidak memperdulikan Aiden yang mulai jengah dengan semua ini. Aiden memilih segera pergi dari sana.
"Kenapa Tuan Aiden pergi?"
"Aahh. Mungkin lelah, dia ingin istirahat"
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1