Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Malam Pertama Saat Bulan Madu#


__ADS_3

Aiden hanya mengikuti istrinya yang berlari dan begitu antusias dengan matahari yang akan terbenam sebentar lagi. Ayra duduk diatas pasir dengan lutut yang ditekuk. Ayra begitu antusias ketika langit berwarna jingga.


Aiden hanya tersenyum melihat itu, dia duduk tepat di belakang istrinya dan memeluknya dengan lembut. "Bagaimana apa kau senang sekarang? Padahal hanya tinggal lihat di kamar Villa saja tidak perlu keluar"


Ayra hanya tersenyum mendengar itu, dia menyandarkan kepalanya di dada Aden. "Kan sensasinya beda Sayang"


"Ya memang berbeda, seperti saat kita melakukannya di kamar mandi tadi ya"


Mata Ayra langsung terbelalak kaget, dia malu sendiri ketika mengingat hal yang terjadi di kamar mandi tadi. Ayra tidak habis fikir dengan suaminya yang seolah tidak pernah puas dengan tubuhnya itu.


"Lihat, mataharinya sudah mulai terbenam. Sayang mana ponsel kamu" Ayra menengadahkan tangannya pada Aiden.


Aiden merogoh saku celananya dan memberikan ponselnya pada Ayra. "Untuk apa meminta ponsel? Memangnya ponsel kamu dimana?"


"Tidak aku bawa, ada di dalam kamar. Aku ingin memotret pemandangan alam ini yang jarang sekali bisa aku lihat setiap saat"


Aiden mengelus kepala istrinya dengan memberikan kecupan lembut di puncak kepala istrinya itu. Merasa bahagia ketika melihat Ayra yang juga bahagia. Rasanya semua yang telah Aiden rencanakan tidak sia-sia ketika melihat senyuman istrinya itu.


"Sayang, ayo kembali ke Villa. Disini dingin, nantinya kamu akan masuk angin"


"Emm. Sebentar lagi dong Sayang, aku masih ingin disini, suasananya sejuk"


Aiden membuka kemeja yang di pakainya, memakaikannya di tubuh Ayra. Aiden tidak mau jika istrinya sampai masuk anginĀ  dan sakit karena kedinginan dengan cuaca di luar ini.


Ayra tersenyum dengan menarik ujung kemeja itu untuk semakin merapat ditubuhnya. "Terima kasih Sayang"


"Sudah ayo, tangan kamu sudah dingin begini. Nanti kamu sakit"


Meski Ayra tidak mau segera pergi dari sana, tapi dia tidak bisa melakukan apapun ketika Aiden sudah mengangkat tubuhnya agar berdiri dari duduknya diatas pasir.


"Sayang, aku masih ingin disini. Lagian juga baru jam berapa si? Yang lain saja masih berada disini"


Aiden merangkul bahu Ayra dan menggiringnya untuk kembali ke Villa. "Sudah jangan memabantah, sudah tahu angin malam tidak baik untuk kesehatan. Apalagi angin pantai"


Aiden membuka pintu Villa dan membawa istrinya yang masih cemberut itu masuk ke dalam Villa. Aiden membawa Ayra ke kamar. "Mandi dulu, atau mau aku mandikan?"

__ADS_1


"TIdak perlu, aku akan mandi sendiri saja"


Ayra segera berlari ke kamar mandi, dia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika dirinya haru kembali mandi bersama dengan suaminya. Yang ada bukan hanya mandi saja yang terjadi. Gumamnya sambil mengisi air di bak mandi.


Di dalam kamar Aiden sudah selesai mandi, dia mandi di kamar mandi di luar kamar, Tapi ketika dia masuk kembali ke dalam kamar, dia belum menemukan istrinya keluar dari dalam kamar mandi Padahal Ayra sudah lama berada di dalam kamar mandi.


Tok..tok..


"Sayang kamu ngapain di dalam, cepat keluar"


Di balik pintu kamar mandi, Ayra masih kebingungan. Ayra masuk ke kamar mandi tapi dia melupakan handuk. Jadi saat ini dia tidak bisa keluar dari kamar mandi. Karena kamar di dalam Villa ini hanya tersedia kamar mandi saja, tidak ada ruang ganti yang menjadi pembatas kamar dan kamar mandi.


"Sayang kamu sedang apa di dalam, buka pintunya atau aku akan memaksa untuk mendobrak pintu ini"


Ayra menghembuskan nafas kasar, jelas dia sudah mendengar nada suara suaminya sudah naik satu oktaf.


"Sayang tolong ambilkan handuk, aku lupa membawa handuk ke kamar mandi tadi"


Akhirnya Aiden mengerti kenapa Ayra tidak kunjung keluar sampai sekrang. Aiden mengambilkan handuk untuk istrinya itu, namun dengan senyuman yang jahil.


Ayra menghela nafas lega karena suaminya langsung menurut dan membantunya mengambilkan handuk. Ayra membuka sedikit pintu dan mengeluarkan satu tangannya untuk mengambil handuk dari suaminya itu.


"Mana Sayang, sini handuknya"


Grepp..


Aiden langsung memegang tangan Ayra dan menarik istrinya itu keluar dari kamar mandi. Ayra yang tidak punya persiapan tentunya langsung terkejut dan tertarik begitu saja oleh suaminya. Tubuhnya jatuh menubruk dada Aiden yang langsung memeluknya.


"Sayang, kamu apaan si?"


Ayra benar-benar malu saat ini ketika dia berada dekat sekali dengan tubuh suaminya dengan tubuh yang benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.


"Kenapa memangnya? Lagian kenapa kamu tidak langsung keluar saja, tidak memakai apapun juga tidak papa. Toh aku sudah melihat setiap inchi dari tubuh kamu ini. Memangnya apalagi yang ingin kamu semunyikan dariku?"


Ayra menunduk dengan wajah merah, dia tahu apa yang diucapkan Aiden memang benar. Apalagi yang akan disembunyikan oleh Ayra pada suaminya itu. Tapi tetap saja dia merasa malu.

__ADS_1


"Lepas ihh, aku mau pakai baju dulu"


Aiden menundukan pandangannya, menatap Ayra yang berada di dalam pelukannya itu. "Kenapa harus memakai baju jika nanti juga akan dibuka lagi"


"Sayang, aaa"


Ayra langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Aiden ketika suaminya itu yang tiba-tiba menggendong tubuhnya tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu.


"Diam, kau ingin membuat orang-orang diluar sana mendengar teriakanmu ini"


Ayra yang beteriak karena terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya ini langsung bungkam sketika. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Aiden.


"KIta akan memulai permainannya malam ini Sayang. Kau bersiaplah" bisik Aiden yang membuat Ayra merinding sketika.


######


Ayra bahkan harus melewatkan bagian terindah ketika di pagi hari di pantai. Yaitu melihat matahari terbit dengan indahnya untuk menyinari bumi. Semalam dia benar-benar kelelahan karena ulah syaminya itu. Sampai hari menjelang saing, Ayra masih meringkuk diatas tempat tidur.


Aiden yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan nampan di tangannya, hanya tersenyum melihat istrinya yang masih betah bergelung di bawah selimut. Aiden menaruh nampan diatas nakas, lalu dia duduk di pinggir tempat tidur. Mulai membangunkan istrinya dengan memberikan kecupan hangat di pipinya beberapa kali.


"Sayang ayo bangun"


"Emm"


Ayra menggeliat pelan denga suara gumaman yang terdengar di balik selimut. Ayra membuka selimut yang hampir menutupi seluruh bagian wajahnya itu dan menatap suaminya yang tersenyum padanya.


Aiden mengelus kepala dan pipi Ayra dengan lembut. "Kamu pasti sangat kelelahan ya. Maaf ya karena semalam aku tidak bisa mengendalikan diriku"


Ayra tidak menjawab, dia bangun terduduk diatas tempat tidur dengan tangan menahan selimut agar tetap menutupi bagian dadanya.


"Aku lapar"


"Sini biar aku suapin kamu ya"


Dengan telaten Aiden menyuapi istrinya yang sedang kelelahan akibat perbuatannya semalam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2