
Ayra merasakan pelukan suaminya yang hangat dan nyaman. Kedua tubuh mereka yang sudah polos, saling memberi kehangatan dengan pelukan. Untuk perkataan Aiden tadi sore, Ayra mencoba untuk tidak terlalu memperdulikannya. Karena semakin dia mengharapkan lebih pada suaminya, maka dia akan semakin jatuh dan sakit. Yang terpenting saat ini Ayra hanya perlu menyenangkan hatinya saat dia masih bisa bersama suaminya. Karena sebentar lagi, sudah saatnya dia pergi dari kehidupan suaminya.
Tidak perlu memikirkan itu, Ay. Kamu hanya perlu fokus pada kehamilanmu dan menyelesaikan tugasmu dengan baik.
Hingga pagi ini Ayra terbangun sedikit siang, karena semalam dia tidak bisa tidur. Saat dia bangun suaminya sudah siap dengan pakaian kerja. Ayra juga seharusnya kuliah hari ini, tapi sepertinya Ayra akan izin karena ada hal yang harus dia kerjakan hari ini, untuk suaminya.
"Aduh, aku kesiangan. Kamu gak bangunin aku si. Malah belum buat sarapan juga" Ayra terburu-buru turun dari tempat tidur hingga dia hampir terjatuh karena kakinya yang tersangkut di selimut. Untung saja Aiden langsung sigap menahan tubuhnya yang hampir membentur lantai.
"Selalu kayak gitu, kenapa si gak bisa hati-hati sedikit saja. Ingat kamu ini sedang mengandung"
Ayra menunduk saat suaminya sedikit bersuara keras padanya. Dia memegang perutnya, ya Ayra tahu jika dia memang harus melindungi bayi ini dengan segenap jiwanya. Ayra tidak boleh lalai, karena ini adalah tugasnya. Meski sebenarnya dia sudah merasa percuma menjalani pernikahan di atas perjanjian ini. Karena semua yang dia lakukan untuk melihat Ibu bahagia dan bisa menikmati masa tuanya dengan diam di rumah, tanpa harus terus bekerja untuk semua biaya kuliah Ayra.
Tapi sekarang semuanya sudah terasa sia-sia bagi Ayra. Ibunya telah pergi untuk selamanya. Semua pengorbanan yang dia lakukan seolah berakhir begitu saja. Saat ini Ayra hanya ingin segera melahirkan anak untuk suaminya dan pergi untuk memulai kembali hidupnya yang baru. Ayra tidak bisa terus-terusan berharap pada Aiden yang jelas tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya. Semua yang dia lakukan hanya demi anak dalam kandungan Ayra. Bukan karenanya. Sepertinya memang Ayra saja yang terlalu percaya diri.
Cup..
Aiden langsung mencium kening istrinya setelah sadar jika dia berbicara terlalu keras pada istrinya, sehingga Ayra terdiam seperti ini.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu dan bayi kita. Jadi, mulai sekarang bisa untuk lebih hati-hati lagi ya.." Aiden mengelus perut istrinya, lalu kembali mencium keningnya. "...Aku pergi dulu ya"
Ayra mengangguk, dia meraih tangan Aiden dan menciumnya. "Hati-hati ya, nanti pulang jam berapa?"
"Mungkin malam, ya jam 7 malam"
Ayra mengangguk mengerti, dia mengantar suaminya keluar kamar. "Nanti siang Tami mau datang kesini, boleh gak?"
__ADS_1
Ayra tentu masih mengingat saat Aiden melarangnya memberi tahu siapapun tentang apartemen ini. Takutnya, pasal itu masih berlaku hingga sekarang.
Aiden mengelus kepala istrinya, mencium keningnya dengan lembut. "Iya Sayang, Tami itu sahabat kamu 'kan? Ajak saja dia kesini daripada kamu sendirian di rumah"
Ayra mengangguk, dia tersenyum senang saat mendapatkan izin dari suaminya. "Tami sahabat aku satu-satunya"
Aiden menatap istrinya, dia cukup senang melihat keceriaan istrinya kembali. Sepertinya tidak masalah juga membiarkan Ayra sesekali mengajak sahabatnya itu ke rumah, yang penting istrinya bisa senang. "Yaudah, nanti ajak saja kesini. Aku sekarang pergi dulu ya"
Ayra mengangguk, dia mencium punggung tangan suaminya. Padahal saat di kamar pun dia sudah melakukan itu. Tapi seolah sudah menjadi kebiasaannya jika Aiden akan pergi, maka Ayra harus melakukan itu pada suaminya. Mencium punggung tangannya.
"Hati-hati ya, jangan lupa makan"
"Iya Sayang" Aiden mencium kening dan kedua pipi istrinya. Dia berbalik, namun tidak melangkah karena merasa ada yang lupa. Berbalik lagi dan mengecup sekilas bibir istrinya, barulah dia benar-benar pergi.
Ayra masih diam di tempatnya berdiri, memegang bibirnya dengan terkejut. Lalu beberapa saat kemudian, dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Ada ada aja deh"
Siang hari, Tami benar-benar datang ke apartemen sahabatnya. Dia langsung merasa takjub melihat suasan di apartemen mewah ini. Tanpa di persilahkan dia langsung duduk di sofa bed yang ada disana. Mencoba sofa empuk itu dengan senang. Ayra yang melihat itu hanya menggelengkan kepala pelan. Ya, Ayra juga akan bersikap seperti itu jika dulu Ibunya tidak kerja di rumah Aiden. Karena itu Ayra sudah terbiasa melihat barang-barang mewah di rumah suaminya, waktu dulu.
"Ay, kamu beneran dapet suami tajir ya. Ini apartemen mahal dengan fasilitas terbaik loh. Aku pernah lihat di google kalau apartemen ini semakin atas lantainya, maka fasilitas dan harganya pun semakin waw.."
Ayra tersenyum mendengarnya, dia juga tahu soal itu. Tapi sahabatnya ini pasti akan lebih terkejut jika tahu siapa sebenarnya suaminya. Pasti Tami akan terkejut lebih dari ini.
"Sudah ahh, ayo bantu aku siapkan semuanya. Atau kamu mau makan siang dulu?"
Tami berdiri, dia menaruh tas nya di atas sofa. Lalu berjalan ke arah sahabatnya. "Aku udah makan siang sama Ayah, Ibu tadi. Aku 'kan pulang dulu ke rumah pas habis kuliah"
__ADS_1
"Yaudah, kalau gitu ayo kita mulai"
"Siap.."
Kedua sahabat ini asyik mengobrol sambil mempersiapkan semuanya. Kejutan yang Ayra rencanakan sejak hari ulang tahun suaminya, namun semuanya harus tertunda dengan meninggalnya Ibu. Hingga dia baru bisa melaksanakan rencananya hari ini.
Memasang hiasan di dinding dengan tulisan Happy Brithday My Husband. Tami yang membawa balon dengan tulisan itu. Ayra sampai merasa malu sendiri mengingat bagaimana wajah Aiden saat nanti akan melihat tulisannya itu.
"Nah, kamu bisa tulis apa kata hati kamu di kertas ini. Lalu masukin deh ke dalam kotak hadiah ini" Tami menyodorkan sebuah kertas dan pena kepada Ayra. Hadiah sudah di siapkan Ayra untuk suaminya. Meski sebenarnya hadiah yang dia berikan tidak semewah yang Saqila berikan.
"Oh ya, apa kuenya sudah kamu pesan?"
Ayra mengangguk, dia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 5 sore. "Sudah, nanti di kirim satu jam lagi"
Tami mengangguk mengerti, dia membereskan sampah plastik dan kertas ke dalam kardus. "Yasudah, kalau begitu aku pulang dulu ya. Mau gantiin Ayah jualan malam ini. Ibu sedang tidak enak badan"
Ayra mengangguk "Makasih ya Mi, sudah mau di repotin sama aku"
Tami mengelus bahu Ayra, lalu dia mengambil tasnya di atas sofa. "Apasi Ay, kan sudah seharusnya sahabat itu saling membantu"
"Iya Mi, makasih ya" Ayra memeluk sahabatnya itu dengan hangat.
"Iya Ay, sama-sama"
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5