Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Ada Apa Dengan Rega Dan Alvaro?


__ADS_3

Acara yang di adakan di restaurant Alvaro adalah acara untuk merayakan dirinya yang telah kembali ke tanah air setelah lama berada di luar negara. Hanya beberapa rekan kerja dan teman dekat saja yang datang. Tentunya Aiden dan Rega adalah tamu spesial malam ini.


Mereka berkumpul di sebuah meja bundar dengan minuman masing-masing. Disini yang terlihat antusias bercerita tentu yang menjadi tokoh utama di pesta ini. Alvaro Sugarda. Dia adalah pembisnis di bidang kuliner. Memiliki cukup banyak cabang restaurant di negara ini. Bahkan sekarang sedang memulai membuat restaurant baru di luar negara. Dia memang sukses dengan bisnisnya satu ini. Jika Aiden yang sukses dalam mengurus perusahaan dan beberapa cabangnya. Maka Alvaro sukses dalam bidang kuliner. Keduanya memang memiliki kesuksesan masing-masing.


"Lama sekali kau disana? Apa restoran mu di sana sudah buka?"


"Belumlah, masih proses. Aku lama disana karena aku memang harus memantau sendiri pembangunan dan konsepnya"


Aiden mengangguk mengerti, dia mengambil minumannya dan meminumnya.


"Ke luar negeri bersama siapa kau?" tiba-tiba Rega bertanya dengan dingin, setelah cukup lama dia hanya menyimak percakapan itu.


"Bersama asistenku" jawab Alvaro singkat.


Rega mengangguk-ngangguk kecil "Baguslah, ada kemajuan juga kau mempunyai asisten sekarang"


"Memangnya hanya Aiden yang bisa memiliki asisten dingin kayak kutub utara sepertimu"


"Sudahlah, kalian kenapa masih musuhan seperti ini"


Rega hanya tersenyum miring menatap Alvaro. Mungkin dia masih dendam karena kejadian sewaktu kuliah.


"Honey, aku kesana bentar ya. Mau ambil makanan"


"Oke"


Saqila berdiri dan berjalan menjauh dari tempat Aiden dan teman-temannya berkumpul.


"Aku juga izin ke sana bentar, mau sapa tamu yang baru datang" kata Alvaro yang di jawab anggukan oleh Aiden. Sementara Rega acuh saja.


Aiden memukul lengan Rega "Kau ini kenapa selalu sinis sama Alvaro si?"


"Karena dia melakukan kesalahan yang besar"


Aiden menatap bingung Rega, jika hanya masalah di waktu kuliah dia tahu. Hanya karena masalah seorang gadis, rasanya tidak mungkin jika Rega sampai semarah ini. Lagian kejadian itu sudah terlalu lama.


"Terserah kau saja, aku pergi dulu. Ingin menghubungi Ayra"

__ADS_1


Aiden berlalu dari sana, membiarkan Rega berdiam sendiri dengan wajah datarnya. Aiden menuju tempat yang lebih sepi, rufttof restaurant. Duduk di sebuah kursi yang ada disana. Lalu mengeluarkan ponselnya dari kantung jaketnya. Segera Aiden menghubungi Ayra.


"Hallo Sayang"


"Iya, udah selesai acaranya?"


"Belum, aku sempatkan saja untuk menghubungimu"


Ayra tersenyum, dia yang sedang duduk menyandar di atas sofa bed sambil menyalakan televisi. Selalu menunggu kehadiran suaminya dan mendapat telepon darinya saja sudah membuat hati Ayra senang. "Ohh. Bagaimana acaranya? Apa menyenangkan?"


Aiden mengetukan jarinya di pegangan kursi yang dia duduk. "Tidak terlalu menyenangkan karena kau tidak ada disini"


"Dih, apasi kamu ini. Kan ada Nyonya"


Entahlah, aku sudah merasa berbeda dengan Saqila. Seolah kehadirannya tidak lagi membuat aku bahagia. Entah apa yang terjadi padaku saat ini.


"Kan tetap saja ada yang kurang jika tidak ada kamu"


Di balik dinding Alvaro berdiri dan mendengarkan percakapan Aiden dengan orang yang di teleponnya. Yang dia yakini jika itu adalah istri kedua Aiden.


Syukurlah jika kau sudah menemukan cinta yang baru Den.


"Kau sedang menelepon istrimu?"


Aiden memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jaket setelah selesai menghubungi Ayra. "Ya, ada apa kau kesini?"


"Tidak papa, hanya penasaran saja kemana kau pergi. Ternyata kesini"


Aiden tidak menjawab, dia berdiri di samping Alvaro. Menatap langit malam yang bertabur bintang.


"Jadi, apa kau benar-benar mencintainya?"


Pertanyaan yang hampir sama dengan yang di tanyakan Rega. Aiden hanya menjawab dengan deheman saja. Memang saat ini hatinya hanya tertuju pada Ayra. Entah apa yang terjadi padanya. Hingga dia lebih mengutamakan Ayra di bandingkan dengan Saqila yang jelas adalah istri pertamanya.


Alvaro menepuk bahu Aiden "Aku senang kau telah menemukan kebahagiaanmu"


Alvaro pergi darisana setelah mengatakan hal itu. Gurat kesedihan terlihat saat dia berjalan menjauh dari Aiden.

__ADS_1


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Aiden masuk ke dalam apartemennya, setelah melewati drama cukup panjang dengan Saqila, akhirnya dia bisa pulang ke apartemen. Membuka sepatu dan menaruhnya di rak. Menggantinya dengan sandal rumah. Aiden berjalan menuju kamarnya, namun saat melewati ruang tengah dia melihat televisi yang menyala dan Ayra yang tertidur di sofa bed disana.


"Ya ampun, ketiduran pasti" Aiden melangkah menuju sofa bed, meraih remot televisi dia atas meja lalu mematikan televisi. Tanpa berniat membangunkan Ayra, Aiden langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar.


Saat baru saja akan menidurkannya di atas tempat tidur, Ayra malah terbangun saat merasakan tubuhnya yang melayang. Mengerjap dan melihat suaminya saat dia membuka mata.


"Loh Sayang sudah pulang ya"


Cup...


Aiden mengecup bibir Ayra, menarik selimut hingga ke pinggang istrinya. "Maaf telat ya"


"Gak papa, emang ini jam berapa si?" Ayra menoleh ke jam dinding. "...Pukul 12 ya"


Ayra bangun kembali setelah Aiden membaringkan tubuhnya. Matanya tidak lagi mengantuk. "Kamu kenapa pulang kesini? Udah malem banget, padahal tidur saja di rumah"


"Apasi, gak boleh kalau aku pulang?" Aiden memeluk Ayra dan menyandarkan dagunya di bahu Ayra. "..Aku 'kan merindukanmu"


Ayra tersenyum, dia mengelus belakang kepala Aiden yang memeluknya. "Yaudah, sekarang ayo istirahat. Kamu pasti lelah"


Aiden menggeleng, menjauhkan wajahnya dari istrinya. Dan Ayra merasa sinyal berbahaya saat melihat tatapan nakal suaminya. "Apa?"


"Main dulu sebentar, aku mau nengok bayiku"


Dan akhirnya semuanya di mulai dengan ciuman di kening lalu turun ke bibirnya. Saling melu*mat dengan kehangatan yang di berikan. Aiden mendorong pelan bahu istrinya hingga Ayra terlentang di atas tempat tidur. Dia membuka pakaiannya dan mulai menyusuri setiap inci tubuh istrinya. Berhenti sejenak di bagian perut Ayra yang sudah semakin terlihat. Mengecupnya dua kali.


"Baik-baik di perutnya Bunda ya, Daddy akan menengok kamu"


Ayra menggeleng pelan dengan ucapan suaminya pada calon bayi yang masih berada di dalam kandungannya. Saat Aiden mulai turun ke bagian bawah, Ayra mulai bergelinjang dengan apa yang di lakukan suaminya itu.


Dan malam ini mereka kembali melakukan kegiatan yang selalu membuat lemas keduanya. Sampai entah pukul berapa Aiden baru menyelesaikan kegiatannya. Ayra terdiam dengan Aiden yang memeluknya dari belakang. Selimut tebal melindungi tubuh polos mereka dari hawa dingin malam ini. Tiba-tiba saja air mata Ayra menetes begitu saja. Hatinya selalu sakit ketika Aiden selesai melakukannya. Seolah hal ini hanya terajdi saat ini dan akan segera berakhir.


Setidaknya aku menjadi istri yang melayani suaminya dengan baik, jika suatu hari nanti aku harus pergi meninggalkannya. Aku ikhlas Tuhan, asalkan suamiku bahagia bersama keluarga kecilnya.


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter... Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2