
Aiden mengerjap, dia membuka matanya dengan pelan. Rega yang sejak tadi menunggunya, langsungg mendekati Aiden saat melihat pergerakan dari pria itu. Aiden melirik Rega yang berdiri di samping tempat tidurnya. Kemana istrinya? Kenapa malah ada Rega disini?
"Ga, apa yang terjadi?" Aiden jelas mendengar suara Ayra yang memanggil namanya dan menyuruhnya bangun tadi. Tapi kedua matanya sangat sulit untuk dibuka.
"Kau sakit, demam tinggi. Tapi aku sudah panggil Dokter. Sekarang kau harus minum obat agar lebih baik, tapi makan dulu bubur buatan istrimu itu" Rega menggerakkan dagunya ke arah nakas, menunjukan pada Aiden jika bubur buatan Istrinya ada disana.
Aiden bangun dan Rega langsung membantunya. Memposisikan bantal di belakang tubuh Aiden agar pria itu nyaman. "Kenapa kau yang ada disini, dimana Ayra?"
"Sudahlah, kau makan dan minum obat dulu. Nanti akan aku jelaskan"
Aiden menghela nafas, memang jika Rega sudah berkata seperti itu maka dia memang harus melakukan dulu apa yang Rega katakan. Karena Rega tidak akan mengatakan apapun sebelum apa yang di ucapkannya di turuti. Itulah Rega. Aiden saja tidak bisa membantahnya soal hal ini, karena ini sudah kebiasaan Rega sejak dulu.
Rega duduk di pinggir ranjang dan mengambilkan mangkuk berisi bubur di atas nakas. Memberikannya pada Aiden. "Kau bisa makan sendiri 'kan? Aku tidak mau menyuapimu"
Aiden mengangguk "Jelas aku lebih baik makan sendiri daripada di suapi olehmu"
Dua pria itu sedang saling menatap dengan dingin. Akhirnya Aiden mengalihkan tatapannya dan segera memakan bubur buatan Istrinya itu. Fikiran Aiden terus tertuju pada Ayra. Kemana istrinya itu pergi.
Ayra kemana? Kenapa perasaanku tidak enak.
"Cepat habiskan makananmu jika kau ingin tahu tentang istrimu"
Aiden hanya memutar bola mata malas mendengar suara dingin Rega. Dia segera menghabiskan makanannya karena dia memang ingin segera mengetahui dimana istrinya sekarang. Hati Aiden mengatakan jika Ayra dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Selesai habis semangkuk bubur, Rega segera memberikan obat pada Aiden untuk di minumnya.
"Dimana Ayra?" tanya Aiden yang sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui dimana keberadaan istrinya saat ini.
"Tadi dia meneleponku jika Ibunya sakit, jadi aku biarkan dia pergi ke rumah Ibunya dan aku yang menggantikannya untuk menjagamu"
__ADS_1
"Kau!" Aiden menatap dingin dan tajam pada Rega yang baru memberi tahunya tentang masalah seperti ini. Istrinya sedang membutuhkannya, pasti dia sedang sangat sedih sekarang. "...Kenapa kau baru memberi tahuku sialan?! Cepat antarkan aku kesana"
"Baik..." Rega menatap Aiden yang sudah turun dari tempat tidur dan berajalan ke arah pintu hanya menggunakan boxer dan kaos oblong saja. "...Apa tidak sebaiknya kau mandi dan ganti baju dulu. Lihatlah penampilanmu, Ibu mertuamu akan shock melihat penampilanmu ini"
Aiden berhenti, dia melihat dirinya sendiri. Benar apa kata Rega, dia benar-benar tidak bisa pergi dengan berpenampilan seperti ini. "Tunggu aku 10 menit"
Aiden berlari ke arah ruang ganti, meski sebenarnya kepalanya masih terasa pusing. Tapi semua rasa sakitnya terkalahkan dengan rasa khawatir pada istrinya. Benar saja sepuluh menit kemudian, Aiden telah siap dengan pakaian santainya.
"Ayo cepat"
"Oke"
Mereka pun pergi ke rumah Ibunya Ayra. Sebenarnya Aiden belum tahu dimana alamat rumah Ibunya Ayra yang dia belikan. Karena yang mengurus semuanya adalah Rega. Sampai di depan rumah Ayra, Aiden melirik Rega dengan bingung saat melihat suasana rumah yang sangat ramai.
"Kau bilang Ibu mertuaku hanya sakit, ini apa sialan?" Aiden menarik kerah kemeja Rega dengan emosi. "...Sialan"
Arghh..
Aiden menjambak rambutnya frustasi, dia segera turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah Ayra. Semua orang menatapnya dengan bingung, mereka baru pertama kali melihat dua pria tampan itu. Rega mengikuti Aiden di belakangnya.
"Ayra.. Dimana Ayra?"
Seorang Ibu menghampirinya, meski agak takut melihat penampian dua pria ini. "Maaf, siapa ya?"
"Saya suaminya Ayra, dimana dia?"
"Ohh suaminya Neng Ayra, dia ada di dalam. Dia pingsan tadi"
Aiden semakin frustasi mendengar penjelasan Ibu itu. Aiden masuk ke dalam rumah mengikuti Ibu itu. Sekilas dia melirik jenazah calon mertuanya. Maafkan saya Bu, tenanglah disana. Aku akan menjaga Ayra dengan baik.
__ADS_1
Ibu tadi membawa Aiden ke sebuah kamar dimana istrinya terbaring di atas tempat tidur, Ayra telah sadar tapi dia masih diam dan menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Aiden mengucap terimakasih pada Ibu tadi, lalu dia berjalan mendekati tempat tidur. Ibu tadi menutup pintu dan membiarkan sepasang suami istri itu punya ruang berdua.
"Sayang.." Aiden mengelus kepala istrinya, dia duduk di pinggir tempat tidur. "...Maafkan aku karena baru datang"
Ayra melirik suaminya dengan tatapan penuh kesedihan. Sungguh tatapan itu membuat hati Aiden terkoyak. Ayra bangun dan langsung menghambur ke pelukan suaminya. Menangis sejadi-jadinya di pelukan suaminya.
"Aku benar-benar sendiri sekarang, kenapa Ibuku jahat. Kenapa dia meninggalkan aku sendirian. Aku ingin ikut Ibu saja..."
"Sayang.. Hey" Aiden menangkup wajah Ayra dan menatapnya dengan lekat. "....Kamu tidak sendiri, kamu punya aku. Kamu punya Mami dan Papi"
Ayra tidak menjawab, dia hanya terisak dan kembali memeluk Aiden. Kau saja bukan milikku, sebentar lagi kau akan membuangku. Setelah bayi ini lahir, kau benar-benar akan pergi meninggalkanku.
Aiden hanya membiarkan istrinya menangis dan meluapkan setiap kesedihan dalam dirinya. Aiden tahu jika kehilangan orang yang paling dia sayangi sangatlah berat. Meski Aiden belum pernah berada di posisi Ayra saat ini. Tapi dia bisa merasakan kesedihan istrinya ini.
Akhirnya setelah Ayra menumpahkan tangisannya, hatinya lebih tegar. Dia siap mengantar Ibunya ke peristirahatan terakhirnya. Ayra hanya mampu berdiri karena rangkulan suaminya, kakinya benar-benar terasa lemas apalagi saat melihat jenazah Ibunya di bawa ke dalam tanah lalu di kubur. Tangisan Ayra kembali pecah.
Aiden hanya mengeratkan pelukannya pada istrinya. Tangisan Ayra benar-benar menyayat hatinya, Aiden tidak suka melihat Ayranya menangis dan bersedih seperti ini. Hingga proses pemakaman hampir selesai Ayra kembali jatuh pingsan membuat Aiden panik dan segera menggendong istrinya. Rega, si asisten sigap dan selalu bisa di andalkan langsung menyiapkan mobil.
"Bawa saja istriku ke rumah sakit, dia terlalu lelah menangis dan keadaannya terlalu lemah. Dia butuh penanganan Dokter"
Rega mengangguk, dia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Setelah itu Rega segera kembali ke rumah Ayra untuk mengurus segalanya. Aiden hanya menunggu di ruang tunggu depan ruangan pemeriksaan. Keadaan istrinya yang seperti ini benar-benar membuat hatinya sakit. Aiden tidak bisa melihat Ayranya bersedih.
Dokter keluar dan menjelaskan keadaan Ayra pada Aiden. "Dia hanya kelelahan, biar di rawat sebentar setidaknya sampai infusan habis"
Aiden mengangguk dan menyetujui apa yang di katakan Dokter barusan.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5
__ADS_1