Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Panggil Aku Sayang


__ADS_3

Aiden membuka kamar istri keduanya, namun saat membuka pintu Aiden merasa ada yang mengganjal sehingga pintu tidak terbuka lebar. Aiden masuk dengan memiringikan tubuhnya, menyesuaikan dengan ukuran pintu yang terbuka.


"Ya ampun Sayang.." Aiden menemukan Ayra yang tergeletak di depan pintu kamar. Aiden panik dia langsung menggendong Ayra dan membawanya ke tempat tidur. "Sayang, bangun..."


Ayra mengerjap saat mendengar suara keras Aiden. "Tuan.."


Aiden menghembuskan nafas lega, dia fikir Ayra pingsan. Ternyata istrinya hanya tertidur. Aiden duduk di samping istrinya, mengecup tangannya yang sedari tadi di genggam. "Kamu kenapa tidur di lantai?"


Ayra mengerjap, dia ketiduran setelah menangis di depan pintu. "Ketiduran saja Tuan"


Aiden menatap lekat wajah Ayra, matanya sembab dengan sedikit sisa air mata di ujung matanya. Aiden mengelus pipinya, mengusap sisa air mata di ujung matanya. "Menangis lagi ya? Mendengar pertengkaran aku dan Saqila? Sayang, jangan memikirkan hal itu. Biarkan aku saja yang menanggung semuanya. Kamu hanya perlu menjaga kesehatanmu dan bayi kita"


Bayi kita? Benarkah aku masih bisa memiliki hak atas bayi ini. Tidak! Aku tidak boleh lemah lagi. Tutup hatimu Ayra.


"Tuan, kenapa anda kesini? Bukannya tidur bersama Nyonya?"


"Shutt. Jangan dulu membahasnya, aku sedang tidak ingin membahasnya. Sekarang ayo kita tidur saja dulu" Aiden menarik selimut hingga ke dada Ayra, lalu memberikan kecupan di kening dan bibir gadis itu.


"Selamat malam Sayang"


"Malam Tuan"


Terlelap dengan Aiden yang memeluknya dengan nyaman. Akhirnya Aiden bisa merasakan kenyamanan ini lagi setelah beberapa hari ini dia hanya tidur dengan gelisah setiap malamnya. Aiden merindukan kehangatan ini. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Ayra. Seolah takut jika istrinya akan pergi.


Bertahanlah Sayang...


Tidur berpelukan semalaman membuat pagi ini Aiden merasa lebih segar. Dia melihat istrinya yang sedang duduk menyandar di tempat tidur. Aiden baru saja selesai mandi, dia berjalan menghampiri Ayra. Mengecup kepalanya sebelum dia duduk di pinggir tempat tidur.


"Mau mandi? Aku bantu ya, sudah aku siapkan air hangat"


Ayra menggeleng, pipinya sudah memerah memikirkan apa yang akan terjadi di kamar mandi jika Aiden membantunya mandi. Duh Ayra kenapa jadi berfikiran kotor kayak gini si.


"Saya bisa mandi sendiri Tuan"


"Sayang, sampai kapan akan berbicara formal padaku? Kapan kau akan kembali bicara santai seperti dulu, aku sudah sangat senang karena kau sudah mau bicara non formal padaku"


"Tidak bisa Tuan, saya sedang membatasi diri saya sebelum saya harus kembali terjatuh karena harapan yang terlalu tinggi"


Aiden tahu jika istrinya sedang mencoba untuk membangun tembok pembantas di hatinya. Ayra seolah tidak mau mempunyai lagi harapan atau perasaan yang lebih pada Aiden.

__ADS_1


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Tidak semudah yang di fikirkan Ayra, nyatanya Aiden malah semakin menunjukan perhatiannya. Bahkan Ayra sampai sulit untuk menghindar darinya. Sudah dua hari ini, Ayra tidak masuk kuliah karena Aiden yang selalu bilang jika Ayra sedang sakit. Padahal Ayra sudah lebih baik.


"Tuan, Nyonya sebenarnya kemana?" tanya Ayra yang tidak melihat keberadaan Saqila sejak dia mendengar pertengkaran Saqila dan Aiden.


"Tidak tahu, dia bilang ada pekerjaan di luar kota"


Ayra menatap Aiden dengan sendu, pasti karena dirinya mereka sampai bertengkar dan sekarang Saqila sampai pergi. Ayra tahu jika ini adalah cara Saqila untuk menghindari permasalahan di antara mereka.


"Maaf ya"


Aiden menatap Ayra dengan bingung. "Maaf untuk apa?"


"Karena aku, Nyonya harus pergi"


Aiden langsung memegang tangan istrinya. "Apasi? Ini bukan salah kamu, ini hanya karena urusan pekerjaan saja"


"Emm. Tuan apa boleh saya tinggal di apartemen saja seperti dulu?"


Aiden menghela nafas, dia tahu jika keputusannya menuruti keinginan Saqila untuk tinggal bersama. Nyatanya ini hanya membuat Ayra tertekan. "Kamu mau tinggal lagi disana?"


Ayra mengangguk, rasanya dia tidak bisa terus-terusan tinggal bersama di satu atap. Hatinya yang sudah tertekan akan semakin tertekan karena terus mendengar pertengkaran Aiden dan Saqila. "Kalau tidak saya bisa tinggal sama Ibu saja. Sudah lama juga saya tidak ke rumah Ibu, saya merindukan Ibu saya"


"Apa?"


"Panggil aku Sayang dan jangan lagi bicara formal. Apa saya anda, masa bicara sama suami sendiri seperti itu" Akhirnya Aiden menemukan cara untuk membuat Ayranya kembali memanggilnya Sayang dan bicara non formal padanya.


"Tapi Tuan..."


"Yasudah kalau tidak mau jadi pindah"


Ayra cemberut, suaminya benar-benar pandai memanfaatkan keadaan. "Yaudah iya"


Aiden menatap Ayra dengan tatapan menggoda. "Iya apa?"


Ayra menghembuskan nafas kasar "Iya Sayang. Gitu 'kan?"


Cup..Cup..Cup..

__ADS_1


Senangnya Aiden sampai dia menghujani wajah Ayra dengan ciuman. "Gitu dong, kan enak dengarnya"


"Dasar aneh" gumam Ayra yang hampir tidak terdengar.


"Apa?"


"Ehh. Tidak-tidak, bukan apa-apa"


Aiden menarik Ayra ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepalanya beberapa kali. "Jadi mau pindah kapan?"


"Sekarang aja bisa?" Ayra benar-benar harus segera pindah jika dia tidak mau menjadi gila karena tertekan.


"Boleh, nanti aku suruh orang untuk membereskan semua barang-barangmu"


Ayra mendongak, menatap wajah suaminya. "Aku bisa sendiri kok, lagian tidak banyak juga barang yang aku bawa kesini"


"No" Aiden menoel hidung Ayra dengan gemas. "Orang sakit diam saja"


"Ya ampun aku sudah sembuh, sebenarnya hari ini juga bisa kalau aku masuk kuliah"


"Mulai nakal deh, gak dengerin kata suami..." Aiden mencubit gemas pipi Ayra. "...Pokoknya sampai kamu benar-benar sehat, aku larang kamu masuk kuliah. Aku sudah minta izin pada dosen kamu"


Ayra cemberut, suaminya memang terlalu berlebihan. Tapi Ayra senang dengan itu. Aiden begitu menunjukan perhatiannya. Tapi hal ini juga yang membuat Ayra semakin sulit untuk tidak jatuh cinta pada suaminya. Aiden yang dia kenal sebagai pria dingin, kini telah berubah sebagai pria yang penuh dengan perhatian dan kasih sayang. Membuat Ayra sulit untuk mengendalikan perasaannya sendiri.


"Gemes..Gemes.."


Ayra tersentak saat tiba-tiba Aiden menciumi seluruh bagian wajahnya. Tidak ada yang terlihat bahkan dengan bibir dan hidungnya. "Tuan apaan si...Aw.."


Ayra menjerit saat gigitan Aiden di bahunya. "Sakit"


"Lagian kenapa masih manggil Tuan?"


Ayra menatap Aiden yang memalingkan wajahnya dengan kesal. Dia tidak suka terus-terusan di anggap sebagai Tuannya oleh Ayra. Nyatanya dia adalah suami Ayra.


"Sayang.." Ayra memeluk dada Aiden yang masih memalingkan wajahnya. "..Maaf ya, aku lupa. Iya Sayang deh, Sayang"


Ada debaran senang di hati Aiden. Seolah ada letupan-letupan bunga bermekaran di hatinya. Aiden menoleh dan balas memeluk Ayra dengan hangat. "Aku akan suruh orang untuk beres-beres semua barang-barangmu. Kita sekarang duluan saja ke apartemen"


Ayra mengangguk, dengan dia pindah ke aparteman. Mungkin setidaknya suasana hatinya akan lebih aman. "Iya Sayang"

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2