Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Kemarahan Aiden


__ADS_3

"Apa maksudmu berkata seperti itu di depan semua orang?"


Kemarahan Aiden sudah benar-benar memuncak. Dia tidak bisa terus-terusan membiarkan Saqila yang berbuat semaunya. Dan kemarahan Aiden kali ini benar-benar membuat Saqila takut. Awalnya dia berniat akan memberikan penjelasan dengan sedikit menggoda suaminya, maka Aiden akan luluh kembali seperti yang sering dia lakukan ketika suaminya marah. Tapi, kali ini jangankan untuk melakukan apa yang sudah di rencakan. Melihat tatapan nyalang Aiden saja sudah membuat Saqila ketakutan.


"Aku hanya sedang melindungimu, apa yang akan di katakan orang-orang jika tiba-tiba tahu kau punya anak sementara aku tidak hamil. Kau hanya akan semakin di curiga menikah lagi"


"Aku tidak peduli tentang itu! Aku akan memberi tahu semua orang tentang pernikahan kedua ku" teriak Aiden, dia sudah tidak bisa menahan emosinya. Aiden harus memberikan pelajaran pada Saqila. Apa yang di lakukan istrinya itu sudah sangat keterlaluan dan di luar batas.


"Kau gila! Bagaimana dengan reputasimu dan reputasiku jika semua orang tahu kau telah menikah lagi"


Aiden menggeleng tidak percaya, jadi yang ada di fikiran Saqila hanya tentang reputasinya. Aiden merasa kali ini tidak bisa mentolelir kelakuan Saqila. Ini sudah sangat keterlaluan. "Fikirkan saja reputasimu! Aku tidak akan peduli dengan reputasimu ataupun reputasiku. Yang aku pedulikan saat ini hanya Ayra dan calon bayiku"


Saqila langsung menahan tangan Aiden yang sudah bersiap pergi dari sana. "Kau mau kemana?"


Aiden menepis kasar tangan Saqila dan pergi meninggalkan istrinya itu tanpa menjawab pertanyaannya. Saqila menjerit penuh emosi saat Aiden sudah mulai tidak lagi menurut padanya. Aiden yang tidak lagi selalu mengalah dan mengatakan maaf duluan saat ada pertengkaran diantara mereka. Aiden tidak lagi tunduk padanya.


"Arghhhh..... Ayra telah merusak rumah tanggaku..." Saqila menghancurkan setiap barang yang ada di meja riasnya. Semuanya berhamburan di lantai.


Sementara di tempat lain, Ayra sedang menonton serial drama yang dia sukai dengan potongan buah di atas piring dan juga segelas susu. Ayra terhanyut dengan drama yang dia tonton, sampai suara pintu yang terbuka membuat dia menoleh seketika. Ayra takut jika ada orang jahat yang bisa menerobos masuk ke dalam apartemen.


Ayra menyimpan piring buah di atas meja lalu dia berdiri dengan perlahan dan berjalan menuju pintu dengan waspada. Takut jika apa yang di fikirkannya benar. Dia adalah orang jahat yang menerobos masuk. Tapi saat Ayra melihat seseorang yang berjalan gontai ke arahnya. Ayra langsung terkejut melihat keadaan suaminya yang kacau. Rambut acak-acakan, dengan kemeja yang beberapa kancing bagian atasnya terbuka.

__ADS_1


"Sa-sayang?" Ayra mendekat dan bau alkohol langsung tercium menyeruak dari tubuh Aiden. Ayra langsung menuntun suaminya dan membawanya ke sofa. "Kamu kenapa?"


Aiden duduk di atas sofa lalu mendongak pada Ayra yang berdiri di depannya. Tiba-tiba dia tersenyum membuat Ayra takut saja. "Kamu kenapa bisa seperti ini"


"Aku dimana? Apa aku sudah mati hingga bisa bertemu dengan bidadari?"


Ayra menggeleng pelan melihat kelakuan Aiden yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol. "Udah ahh, ayo ke kamar. Kamu harus ganti baju dan istirahat. Kamu mabuk berat ya, kenapa si sampai mabuk kayak gini"


Ayra membantu Aiden berdiri, dengan susah payah dia memapah tubuh mabuk Aiden ke kamar. Menjatuhkan tubuh Aiden di atas tempat tidur, Ayra menghapus peluh di keningnya. Tubuh Aiden yang tinggi tegap, benar-benar sangat berat dan membuat Ayra sangat kesusahan untuk membawa tubuhnya ke dalam kamar. Ayra membuka sepatu dan pakaian Aiden. Mengambil air hangat dan handuk ke dalam wadah. Ayra mulai mengelap tubuh Aiden yang bau alkohol dengan lembut. Hingga selesai dia menggantikan pakaian suaminya.


"Istirahatlah, aku tahu banyak beban yang ada di fikiranmu" Ayra mengecup kening Aiden lalu menarik selimut hingga ke pinggang suaminya.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Aiden merasakan kenyamanan dalam tidurnya. Dia memeluk erat tubuh hangat itu, hingga dia mulai membuka matanya dan melihat Ayra yang terlelap dnegan nyaman dalam pelukannya. Aiden tersenyum, dia mencium kening istrinya cukup lama dan penuh dengan kelembutan.


"Eumh.." Sepertinya ciuman Aiden membuat Ayra terusik dari tidur nyamannya. Aiden mengelus punggung istrinya agar Ayra kembali tertidur, tapi nyatanya Ayra memang sudah ingin bangun. Dia membuka matanya dan menatap Aiden dengan wajahnya yang terlihat imut di mata Aiden. Wajah bangun tidur Ayra yang selalu menggemaskan.


"Sudah pagi ya, gimana keadaan kamu?" tanya Ayra sambil mengelus pipi suaminya.


Aiden memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut tangan istrinya di wajahnya. "Maaf ya, semalam aku frustasi sampai tidak sadar malah mampir ke dalam tempat hiburan malam dan minum cukup banyak"

__ADS_1


Ayra tersenyum, dia menatap suaminya dengan tatapan menenangkan. "Jangan kayak gitu lagi ya. Kalau memang kamu sedang pusing dengan segala masalah kamu. Datang saja padaku, dan aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu. Jangan lari ke tempat seperti itu. Aku tidak suka"


Aiden tersenyum, dia mencium kening istrinya. Hal ini yang membuat Aiden semakin nyaman berada di samping Ayra. Wanita itu tidak hanya bisa menyalahkan pria. Tapi dia bisa membuat pria itu merasa bersalah sendiri dan memperbaiki kesalahannya. Ayra selalu memberikan pengertian dengan lembut dan sabar.


"Iya Sayang"


Ayra bangun dan duduk menyandar di tempat tidur. Aiden tetap berbaring dan memeluk kaki Ayra, menempelkan wajahnya di paha istrinya itu. Ayra mengelus kepala Aiden dengan lembut. "Jadi, ada masalah apa sampai kamu begini?"


Aiden semakin mengeratkan pelukannya, dia malas menjelaskan apapun. Lebih tepatnya dia sedang malas membahas tentang Saqila. Tapi, jika dia tidak menjelaskannya maka Ayra akan sangat kecewa jika dia tahu dari orang lain. Akhirnya Aiden ikut bangun dan duduk di samping Ayra. Menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur dengan sedikit mendongak, menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang menembus pada kejadian tadi malam.


"Saqila mengaku dirinya hamil pada semua orang. Dia bilang jika itu hanya untuk menutupi kamu sebagai istri keduaku"


Ayra menghela nafas, mungkin Saqila melakukan ini agar nanti dia bisa menjadi Ibu dari bayi ini sepenuhnya dan tidak akan ada yang curiga karena dirinya dan Aiden yang tiba-tiba mempunyai anak. Saqila mempersiapkannya sejak awal. Tangan Ayra mengelus perutnya. Lagi-lagi dia hanya perlu rela dan ikhlas jika suatu saat nanti anaknya harus di ambil oleh Aiden dan Saqila.


"Sudahlah, jangan terlalu di fikirkan"


Ayra tidak bisa berbuat apa-apa, saat ini dirinya hanya perlu mempersiapkan diri dan hatinya untuk bisa menerima jika kedepannya dirinya akan berpisah dengan anaknya.


Bersambung


Like komen di setiap chapter... Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


__ADS_2