Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Tetap Jalani Tugas Seperti Awal Perjanjian!


__ADS_3

Bercerita banyak hal pada Ibu, membuat Ayra kembali ceria. Meski tentu yang dia ceritakan hanya seputar kuliahnya saja. Tidak mungkin Ayra menceritakan tentang pernikahan dan kehamilannya saat ini. Ibu juga sudah mulai sakit-sakitan, mungkin karena usianya yang tidak lagi muda dan juga karena pekerjaannya yang selalu melelahkan tubuh rentannya itu.


"Bu, sudah tidak usah buka toko kalau Ibu masih sakit. Periksa ke dokter ya, ini uang untuk Ibu" Ayra mengambil uang yang memang sudah dia siapkan untuk Ibunya. "...Bu, mungkin beberapa bulan ke depan Ay tidak bisa datang kesini lagi. Pekerjaan sedang banyak-banyaknya. Jadi Ay harus tetap di sana dan bekerja dengan baik, supaya bisa membahagiakan Ibu dan bisa segera lulus kuliah"


Ibu mengelus kepala anaknya dengan senyuman hangat. "Iya Nak, Ibu mengerti. Kamu gak usah khawatirin Ibu. Ibu baik-baik saja disini, para tetangga juga baik pada Ibu. Kamu bisa bekerja dengan tenang, dan kuliah juga dengan benar"


"Iya Bu, kalau begitu sekarang Ay pergi dulu ya. Ibu jaga diri baik-baik ya, jangan kecapean kalau misalkan gak enak badan, gak usah buka toko"


"Iya Nak, iya" Ibu memeluk anaknya dan mencium keningnya. Tapi ada yang aneh yang Ibu rasakan saat memeluk Ayra. "Ay, kamu gemukan ya sekarang?"


Deg..


Refleks tangan Ayra langsung menutupi bagian perutnya. Takut jika Ibu akan tahu tentang kehamilannya. "Emm. I-iya Bu, aku gemukan. Banyak ngemil sekarang"


"Bagus kalau begitu, biar kamu gak kurus kering lagi. Ibu senang kalau anak Ibu gemukan, jadi dia benar-benar menikmati pekerjaannya"


Ayra mengangguk dan tersenyum "Iya Bu"


Akhirnya dia kembali sore ini setelah berpamitan pada Ibu. Ayra pulang dengan naik taxi online untuk pulang. Bingung juga kalau dia meminta suaminya menjemput, tidak mungkin juga karena Ayra takut akan ada yang melihatnya. Sampai di depan pintu apartemennya, Ayra segera menempelkan acces card apartemen. Pintu terbuka dan Ayra masuk yang langsung di sambut oleh wajah cemberut suaminya. Aiden memeluk Ayra dan mencium keningnya. "Kok gak kabari aku kalau mau pulang. Kan aku mau jemput"


"Iya Sayang, aku pesan taxi online"


"Aku kangen tau, kamu sama sekali beri kabar apapun sama aku. Kasih aku pesan singkat juga tidak"


"Maaf Sayang, aku keasyikan ngobrol sama Ibu"

__ADS_1


Aiden berjalan ke arah sofa tanpa melepaskan pelukannya pada Ayra. Berjalan mundur, menuju sofa lalu duduk disana dan mendudukan Ayra di pangkuannya. Tangannya memeluk perut Ayra dengan sesekali mengelusnya. Saat merasakan getaran dari perut istrinya, Aiden terperanjak kaget.


"Sayang..."


Ayra tertawa kecil "Haha. Udah 4 bulan Sayang, jadi udah mulai ada getaran yang terasa. Nanti pasti akan mulai tendangan-tendangan kecil yang terasa"


"Wahh. Apa dia menyakitimu? Dia menendang perutmu loh Sayang"


Ayra kembali tertawa mendengar ucapan Aiden yang di luar nalar. "Ya enggak dong, justru aku senang loh karena sudah mulai bisa merasakan gerakan bayi dalam perutku ini"


Aiden mengelus pipi istrinya, tatapan lembut dan hangat yang di berikan Aiden pada Ayra membuat gadis itu salah tingkah. "Sayang, sehat-sehat ya biar anak kita juga sehat"


Ayra tersenyum, hatinya sangat tersentuh mendengar ucapan Aiden yang terdengar sangat tulus. Tapi, apa bisa dia bisa mengakui anak ini juga anaknya. Bisa mempunyai hak tentang anaknya. Tidak hanya mengandung dan sampai melahirkan anaknya saja, tapi juga bisa menjadi Ibunya dan mengurusnya.


"Besok aku jadwal periksa"


"Iya, tapi apa sekarang kamu gak akan pulang ke rumah?"


Aiden melengos, dia malas membahas soal Saqila. Hatinya masih di liputi rasa kecewa pada istri pertamanya itu. "Aku akan tinggal disini bersamamu untuk beberapa waktu"


Ayra memainkan rambut suaminya, dia tahu jika Aiden sedang marah pada Saqila. Sebenarnya Ayra juga tidak menyangka jika Saqila akan melakukan itu. Tapi, Ayra hanya mencoba berfikir positif jika Saqila melakukan itu memang untuk melindungi identitasnya sebagai istri kedua Aiden. Istri bayaran yang sebatas menjadi pencetak anak saja.


"Jangan begitu, kan Nyonya juga istri kamu. Nanti dia akan semakin marah dan semakin mengira jika aku melarang kamu untuk datang menemuinya. Status aku yang hanya istri kedua, pasti akan semakin buruk di mata Nyonya. Kamu harus bisa adil, Sayang. Biarkan saja semuanya berjalan sesuai rencana"


Aiden memeluk tubuh Ayra, membenamkan wajahnya di dada sang istri. Rencana awalnya adalah meninggalkan Ayra setelah dia melahirkan anaknya. Tapi sekarang rencana itu seolah menjadi sebilah pisau tajam yang menusuk hatinya. Aiden tidak ingib meninggalkan Ayra. Tapi bagaimana juga dengan Saqila? Dia tidak mungkin siap untuk di madu selamanya. Baru beberapa bulan saja, Saqila sudah emosional seperti ini. Apalagi jika Aiden memutuskan untuk tidak meninggalkan Ayra.

__ADS_1


Aiden benar-benar sedang dalam pilihan sulit.


"Kamu udah makan siang?" tanya Ayra, dia masih mengelus dan memainkan rambut Aiden yang memeluknya itu.


Aiden menggeleng, terdengar gumaman tidak jelas darinya. Ayra hanya tersenyum melihat suaminya yang seperti anak kecil. Tapi, Ayra senang dengan sikap Aiden yang seperti ini. Aiden tidak lagi menjadi pria dingin seperti dulu. Namun, sepertinya Ayra salah menduga. Aiden tetaplah Aiden yang dulu, pria dingin dan tegas. Tapi dia memiliki sikap berbeda saat bersama istri-istrinya. Dengan Saqila pun Aiden sudah menjadi suami yang hangat, meski terkadang dia selalu merasa jengah dengan sikap istrinya yang selalu seenaknya jika melakukan sesuatu. Tidak pernah kompromi dulu dengan suami. Seperti yang di lakukannya tadi malam.


"Aku masak dulu ya, kamu tunggu disini"


Aiden mendongak, sedikit menarik tengkuk Ayra agar wajahnya lebih dekat lalu membarikan kecupan di bibir istrinya itu. Ayra hanya diam dengan wajah memerah dengan kecupan singkat Aiden yang mengejutkannya. Ayra berdiri dan berlalu ke dapur untuk memasak.


Tatapannya menerawang ke kejadian tadi siang, dimana sebelum dia berangkat ke rumah Ibu. Ayra mengaduk makanan di atas wajan dengan fikiran yang tertuju pada kejadian tadi siang.


Ayra yang baru saja keluar dari lift dan berjalan keluar kawasan apartemen, tapi seseorang yang berdiri di dekatnya membuat Ayra terhenti. Dia menunduk pada orang itu. Jujur tatapan Saqila saat ini jauh berbeda dengan dulu. Tidak ada lagi kehangatan di balik tatapannya.


"Ay, kamu pasti sudah tahu dari Aiden tentang kejadian semalam. Aku akan menceritakan semuanya. Ayo ikut aku" Saqila menarik tangan Ayra dan membawanya ke dalam mobil miliknya. Masuk dan Saqila melajukan mobil menjauhi kawasan apartemen. Mobil berhenti di pinggir jalan dekat taman. Saqila tidak berniat untuk turun, dia hanya ingin bicara di dalam mobil saja bersama Ayra.


"Reputasi Aiden akan hancur jika media dan semua orang tahu tentang pernikahan kalian. Terutama rekan-rekan bisnisnya. Jadi, kamu cukup faham 'kan kenapa aku melakukan itu semalam?"


Ayra mengangguk, tangannya memegang perutnya. Di saat menegangkan seperti ini, Ayra selalu merasa jika Saqila akan segera merampas bayinya. Jadi dia seolah sedang melindungi bayinya dengan memeluk perutnya sendiri.


"Jadi, lakukan saja tugasmu sesuai perjanjian jika kamu tidak mau reputasi dan hidup Aiden hancur karenamu. Kau mengerti?!"


"I-iya Nyonya"


Bersambung

__ADS_1


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2