Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Telah Berakhir


__ADS_3

Saqila menatap sebuah map di tangannya, sejak tadi dia tidak berani membukanya. Aiden langsung pergi setelah menyerahkan map itu. Saqila masih terlalu terkejut dengan kedatangan Aiden, lebih terkejut lagi saat Aiden langsung menggugat cerai dirinya. Seolah semuanya sudah benar-benar akan berakhir saat ini juga.


Sepasang tangan yang memeluknya dari belakang membuat Saqila tersadar dari segala lamunannya. Dia menempelkan pipinya pada pipi Alvino yang menyandarkan dagunya di bahu Saqila.


"Apa keputusanmu setelah ini Sa? Apa kau akan mengakhiri hubungan kita atau mengakhiri pernikahan kalian?"


Pertanyaan yang sangat sulit untuk Saqila jawab. Dia memang sudah jatuh cinta pada Alvino, tapi dia juga belum sepenuhnya melupakan cintanya pada Aiden. Semuanya seolah seimbang, tapi saat ini Saqila memang harus memilih. Tidak mungkin dia akan terus memiliki dua pria dalam hidupnya. Suami dan kekasihnya. Keduanya memang sama-sama memiliki tempat yang penting di hatinya.


"Jika aku bercerai dengan Aiden, apa kau akan menikahiku dan menerima kekuranganku ini?"


Semua wanita tidak akan mungkin bisa menerima keadaan yang seperti ini. Namun apalagi yang harus Saqila lakukan, jika takdir Tuhan yang seperti ini. Saqila takut kehilangan Aiden, karena dia takut jika tidak akan ada lagi pria yang mau menerimanya denga keadaan seperti ini. Itulah sebabnya kenapa Saqila sampai melakukan berbagai cara untuk bisa membuat Aiden tetap di sisinya. Tapi sepertinya apa yang dia lakukan semuanya sia-sia. Suaminya telah benar-benar marah dan sudah mengambil keputusan untuk menceraikan Saqila saat ini.


"Dengarkan aku Sa..." Alvino memutar tubuh Saqila hingga menghadapnya. Menatapnya dengan sangat lekat. "...Aku mencintaimu. Aku akan terima apapun keadaanmu. Jika kita tidak punya anak, aku tidak masalah. Asalkan kita bisa bersama selamanya"


Deg..Deg..


Jantung Saqila mulai berdebar sangat kencang. Tidak ada kebohongan di balik tatapan mata Alvino. Semuanya terlihat jelas, jika Alvino benar-benar tulus padanya. Hari ini semuanya seolah menjadi berat bagi Saqila. Dia harus benar-benar menentukan pilihan dalam hidupnya ini.


"Apa kamu akan menikahiku dan menerima kekuranganku. Tidak akan menikah lagi hanya untuk memiliki keturunan?" Pertanyaan yang semakin Saqila perjelas untuk Alvino. Dia harus memastikan jika dia menikah dengan Alvino, maka kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi. Suaminya yang menikahi wanita lain demi mendapatkan seorang anak yang tidak bisa Saqila memberikannya.


"Aku tidak akan melakukan apa yang Aiden lakukan. Lagipula orang tuaku sudah meninggal, siapa yang akan menuntutku untuk memberikan cucu seperti Aiden. Aku bisa menikahimu dan mencintaimu sepanjang hidupku. Dan aku akan menerima semua kekuranganmu"


Hatinya mulai merasa yakin dengan keputusan yang akan dia ambil saat ini. Saqila seolah melihat harapan baru pada diri Alvino. Sepertinya dia bisa menentukan pilihan mulai sekarang. Saqila membuka map itu dan mengeluarkan isinya, mengambil bolpoin di atas meja dan Saqila duduk di sofa. Menaruh kertas itu di atas mapnya, mencoretkan tanda tangannya di sana.


Alvino tersenyum melihat itu, ternyata wanita yang dia dambakan selama ini telah menentukan pilihannya. Alvino mencium puncak kepala Saqila. "Segera selesaikan urusan perceraian kalian. Kita akan segera menikah setelah itu"


Saqila mendongak dan menatap Alvino yang berdiri di samping sofa. "Besok antar aku memberikan ini pada Aiden"

__ADS_1


"Iya"


Dan semuanya akan berakhir, pernikahan selama 3 tahun ini, berakhir saat ini. Semuanya seperti debu yang berterbarngan di sekitarnya. Semua kenangan bersama Aiden, dari sebelum menikah sampai mereka menikah. Semuanya seolah berputar di sekeliling Saqila, lalu menghilang begitu saja. Semuanya telah berakhir.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


"Sarapan, kamu baru bangun ya" Aiden menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah istrinya yang sepertinya baru bangun tidur.


Ayra mengucek sebelah matanya "Iya, baru banget bangun tidur. Apa kamu sudah bersiap untuk bekerja?"


Aiden tersenyum, sehari tidak bertemu istrinya saja membuat dirinya sangat rindu. Sampai tidak bisa tidur nyenyak semalam. "Iya, aku sedang menunggu seseo...."


Tok..tok..


"Sebentar Sayang, ada yang datang"


Ayra mengambil air minum di atas nakas lalu meminumnya, sampai dia melihat Aiden membukakan pintu dan Ayra bisa melihat jelas dari layar ponselnya siapa yang masuk ke dalam kamar Aiden. Tangannya bergetar sampai gelas yang di pegangnya jatuh ke atas tempat tidur dan membasahi selimut yang menutupi kakinya.


Jadi Tuan Aiden berasalan ada pekerjaan karena dia sedang liburan bersama Nyonya. Kenapa dia harus bohong, aku tahu jika aku bukan siapa-siapa baginya. Tapi kenapa harus berbohong.


Ayra langsung menutup sambungan panggilan video itu. Menyimpan kembali ponselnya dia atas nakas. Hatinya terasa sesak saat mengetahui jika suaminy sedang berbohong. Ayra semakin merasa jika dirinya memang tidak memiliki arti apa-apa untuk Aiden.


Tuhan, kenapa sakit sekali.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Kembali ke tempat Aiden, dia terkejut sekali melihat kedatangan Saqila yang sepagi ini. "Kau datang dengan siapa?"

__ADS_1


"Dengan Alvino, dia tunggu di luar. Katanya ingin memberikan kita waktu untuk bicara berdua...." Saqila menyodorkan map yang kemarin Aiden berikan padanya. "Ini, aku sudah menanda tangani surat ini"


"Sa..." Aiden sampai kehilangan kata-kata dengan semua ini. Tidak menyangka Saqila akan menerimanya dengan tegar seperti ini.


"Aiden, aku menikahimu karena cinta. Jadi bohong jika aku tidak terluka dengan kenyataan ini. Tapi, aku mulai sadar jika hatiku hanya singgah saja di hatimu. Nyatanya cinta sejatiku adalah pria yang tidak akan pernah berpaling dalam kondisi terberat sekalipun dalam hidupnya"


Deg..


Ucapan Saqila benar-benar membuat Aiden sedikit tersentil. Dia sadar jika dia tidak menjadi suami yang baik untuk Saqila selama ini. Dia bahkan tidak bisa mempertahankan rumah tangganya hanya karena sebuah desakan dari orang tuanya untuk memberikan mereka seorang cucu. Aiden sampai melakukan pernikahan secara diam-diam hanya untuk memenuhi keinginan kedua orang tuanya. Mungkin memang benar apa yang di katakan Saqila. Dirinya memang bukan cinta sejati untuknya. Dia hanya tempat bersinggah untuk sesaat saja.


Saqila menatap wajah Aiden dengan lekat. Ada sebuah gurat kesedihan muncul di wajah Saqila, menatap pria yang menjadi suaminya selama 3 tahun ini. "Maafkan semua kesalahanku Aiden, selama ini aku terlalu egois hingga terlalu banyak hal yang aku lakukan hanya untuk menarik perhatianmu dan aku sudah melakukan banyak kesalahan pada Ayra. Tolong sampaikan permintaan maafku, aku akan menemuinya nanti jika situasinya sudah tenang"


Aiden mengangguk, dia memeluk Saqila dan mencium keningnya untuk yang terakhir kali. Air mata Saqila menetes begitu saja, tetap saja semua kenangan bersama suaminya tidak akan hilang begitu saja. Namun saat ini Saqila sadar jika cinta sejatinya adalah Alvino. Pria yang bahkan menunggunya selama 5 tahun ini dan tidak pernah berpaling sedikit pun.


"Terimakasih untuk semuanya Aiden"


"Iya Sa, terimakasih juga untuk semu waktu yang kamu berikan untukku. Mulai sekarang mari kita mulai hidup yang baru. Berbahagialah Sa"


"Kamu juga"


Saqila keluar dari kamar hotel Aiden, dengan perasaan yang tak menentu. Meninggalkan semua kenangan bersama Aiden selama ini.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


maaf telat up.. aku lagi gak enak badan.. jadi tadi tiduran dulu

__ADS_1


__ADS_2