
Entah apa yang dirasakan Ayra saat ini, tapi dia benar-benar merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Aiden setiap tidurnya. Meski sampai saat ini dia belum menemukan titik terang dari ingatannya yang hilang. Hanya kalimat yang mengatakan jika Aiden ingin menikahinya tapi hanya untuk melahirkan anak untuknya saja.
Mungkinkah jika awal pernikahan kami memang karena terpaksa. Bukan karena sebuah rasa cinta.
Ayra menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Garis wajah yang hampir sama dengan Alerio. Ayra memberanikan diri untuk mengelus pipi Aiden dengan pelan. Menoel-noel hidung mancungnya itu. Ayra tersenyum sendiri dengan apa yang dia lakukan. Merasa jika hal yang dia lakukan ini sangat menyenangkan.
"Diam Sayang atau mungkin aku tidak akan bisa menahan diri lagi"
Tubuh Ayra seketika mematung mendengar ucapan Aiden. Pria itu masih memejamkan matanya meski bibirnya berbicara. Ayra kira Aiden masih tidur, ternyata dia sudah bangun dan menyadari setiap hal yang dilakukan Ayra padanya.
"Tuan sudah bangun, kenapa tidak bilang jika sudah bangun"
Ayra menghentikan aksinya, dia membalikan tubuhnya menjadi membelakangi Aiden agar tidak terlalu terlihat wajah malunya itu. Namun Aiden malah memeluknya dari belakang dengan erat. Merasa jika dirinya tidak bisa lagi lepas dari pria ini.
"Sayang, sampai kapan aku harus menahan diri agar tidak menynetuhmu? Padahal aku sudah benar-benar sangat bergairah saat ini"
Deg..
Ayra terdiam dengan tubuh yang sedikit bergetar. Bagaimana dia jelas merasakan ada sesuatu yang menusuk bagian panggulnya.
Ya Tuhan apa ini? Apa suamiku sedang meminta haknya? Tapi apa memang aku sudah pernah melakukannya dengan Tuan Aiden ini? Kenapa Tuan Aiden seolah tidak lagi malu ketika mengatakan hal seperti ini padaku.
Seandainya Ayra bisa mengingat kembali ingatan yang hilang, mungkin dia tidak akan beraksi seperti ini ketika Aiden mengatakan hal yang seditik ful*gar seperti tadi. Tapi masalahnya, saat ini Ayra masih belum bisa mengingat apa yang dia lupakan.
"Emm. Ak-aku harus ke kamar mandi dulu"
Aya segera turun dari atas tempat tidur dan berlari ke arah ruang ganti. Dia tidak bisa terus berada di dekat suaminya dengan posisi seperti tadi. Ayra masih merasa asing dengan situasi seperti ini. Karena da;am ingatannya dia masih wanita single yang belum menikah, apalagi sampai mempunyai anak seusia Alerio.
__ADS_1
Aiden hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis dibibirnya. "Mungkin belum saatnya kau menemui kembali surgamu"
Aiden menghela nafas melihat 'jagoannya' yang sudah meronta ingin segera bertemu dengan lembah kesayangannya. Namun tetap tidak bisa karena keadaan Ayra saat ini.
Pagi ini setelah selesai mandi dan bersiap, Aiden berniat untuk membawa istrinya ke suatu tempat. Sesuai dengan anjuran Dokter, maka Aiden akan membawa Ayra ke tempat yang menyejukkan dan menenangkan hati.
Sebuah pantai dengan angin yang sejuk dan debaran ombak yang menggema di telinga. Aiden berjalan di pesisir pantai dengan tangan yang terus menggenggam tangan Ayra.Istrinya itu juga terlihat sangat senang.
"Bagaimana? Apa kau suka?"
Ayra mengangguk dengan antusias. Dia sangat senang bisa menghirup udara segar di pantai seperti ini. "Ya, aku snagat senang. Kenapa tiidak bilang jika akan pergi ke pantai, kalau gitu 'kan aku bisa bawa Alerio"
Aiden tersenyum mendengar itu, merasa jika istrinya ini mulai memiliki peduli tinggi pada Alerio. Ya, meski dalam ingatannya yang hilang tentang Aiden dan Alerio. Tapi, ikatan batin seorang Ibu dan anak tidak akan pernah terpisahkan sampai kapan pun.
Aiden beralih berdiri di belakang Ayra yang sedang menatap ke arah pantai. Memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Ayra. "Aku anggap hari ini adalah pengganti bulan madu kita yang belum terjadi sampai saat ini"
"Bulan madu? Mkasudnya?"
"Kita akan bulan madu"
Ayra memejamkan mata saat sebuah bayangan dan kalimat-kalimat itu terdengar begitu jelas ditelinganya.
"Kita akan bulan madu"
Kalimat itu terus terngiang di telinga Ayra hingga dia merasa kepalanya mulai pusing dan telinganya juga terasa sakit. Sebuah bayangan hitam tidak jelas kembali berputar dalam ingatan Ayra diiringi berbagai percakapan tentang bulan madu.
"Sayang, hey Ayra"
__ADS_1
Ayra langsung membuka kedua matanya ketika Aiden memanggilnya dengan menggoyangkan tubuhnya. Ayra menatap Aiden dengan mata sayu. Dia merasa kepalanya masih sakit dan sangat pusing ketika kembali hadir sebuah bayangan dan suara-suara yang Ayra sendiri tidak tahu jelas apa maksudnya.
"Aku ingin pulang, kepalaku sakit"
Aiden mengangguk, tanpa berkata apapun dia langsung menggendong tubuh Ayra. Mmebawanya menuju mobil. Acara jalan-jalan hari ini Aiden sudahi karena kondisi Ayra yang tidak fit.
######
Ayra hanya terdiam diatas tempat tidur dengan terus memikirkan tentang kejadian di pantai tadi. Bulan madu? Ayra terus mengingat tentang kata itu. Seolah ada yang terjadi sebelumnya tentang kata bulan madu.
Ayra menghembuskan nafas pelan, merasa lelah dengan semua ini. Dia sudah terlalu sering mengalami hal seperti ini. Merasa sakit dengan sebuah bayangan dan kalimat yang terngiang ditelinganya, namun dia tetap belum mengingat semuanya.
Ya Tuhan, aku ingin segera sembuh dan mengingat tentang semuanya.
Di lantai bawah, ada Mami, Papi dan Aiden yang masih berkumpul. Aiden sedang menceritakan tentang kejadian di pantai tadi.
"Menurut Mami, sebaiknya kamu bawa Ayra ke makam Ibunya. Dia harus tahu tentang kenyataan ini, karena tidak mungkin kita akan terus menyembunyikan semuanya. Semoga saja Ayra akan kembali mengingat semuanya ketika dia dibawa ke makam Ibunya"
Aiden terdiam mendengar saran dari Mami barusan. Dia memang belum berfikir untuk membawa Ayra ke tempat Ibunya di sembayangkan. Karena takut jika Ayra akan semakin ngedrop jika mengetahui Ibunya telah meninggal. Tapi, apa yang dibicarakan Mami ada benarnya juga. Seharusnya memang Aiden sudah memberi tahu Ayra tentang Ibunya ini. Karena Ayra akan terus bertanya tehtang keberadaan Ibunya jika tidak segera Aiden beritahu semuanya.
"Baiklah, aku akan membawa Ayra ke sana akhir pekan ini"
"Semoga saja Ayra akan mengingat sedikit demi sedikit ingatannya yang hilang. Buktinya kejadian di pantai tadi, adalah suatu kemajuan. Ayra mulai mengingat apa yang pernah terjadi, meski dia belum benar-benar mengingatnya. Hanya sebuah bayangan saja sudah kemajuan yang bagus" kata Papi
Aiden mengangguk, dia juga sangat berharap jika Ayra akan segera mengingat dirinya dan apa yang telah terjadi diantara dirinya dan Aiden.
"Iya Mam, Pi. Aku juga berharap Ayra segera mengingat semuanya"
__ADS_1
Jujur, Aiden sudah lelah ketika dia menghadapi wanita yang sangat dia cintai. Namun sama sekali tidak mengingat dirinya.
Bersambung