Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Jalan-jalan Bersama Mertua


__ADS_3

Ayra terdiam saat tamu yang datang ke apartemen adalah Ibu mertuanya. Hari ini hari libur, tapi Aiden tetap pergi ke perusahaan. Ayra segera mempersilahkan Ibu mertuanya masuk. Ayra pun membuatkan minum dan membawa beberapa cemilan untuk mertuanya.


"Gimana kandungan kamu?" tanya Mami


Ayra mengelus perutnya dengan tersenyum. "Baik Mam"


Mami pindah duduk ke dekat Ayra. Mengelus perut menantunya dengan lembut. "Sehat-sehat ya Ay, jangan sampai membuat dirimu tertekan. Biarkan saja apa yang terjadi ini menjadi takdirmu. Mami akan menyayangimu, begitupun Saqila. Kalian berdua adalah menantu kami"


Ayra tersenyum, hatinya begitu tenang mendengar ucapan Mami. Seolah dirinya tidak lagi sendiri, Ibu mertuanya begitu baik dan tidak membeda-bedakan dirinya dan Saqila dari status sosial mereka. "Terimakasih ya Mi, telah memberikan Ayra kasih sayang"


"Iya Sayang, sekarang ayo kita pergi jalan"


Ayra menatap Mami dengan bingung "Pergi kemana Mam?"


"Jalan-jalan saja, biarkan dirimu juga bahagia. Haru refreshing kita"


"Emm. Tapi Ay harus izin dulu sama Mas Aiden Mam"


"Ck. Dia posesif banget ya sama kamu, perasaan sama Saqila juga gak segininya loh"


Entahlah, Ayra juga merasakannya. Jika sikap dan perhatian Aiden padanya dan juga pada Saqila sedikit berbeda. Namun, Ayra berfikir jika itu hanya karena dirinya yang sedang hamil. "Mungkin memang karena aku sedang hamil Mam"


Mami sedikit menipiskan bibirnya. "Mami rasa tidak, karena ini juga pertama kali Mami lihat Aiden seperti itu. Dulu, pas Saqila hamil juga gak seperti ini. Atau mungkin karena Saqilanya juga yang keras kepala dan susah di atur"


Ayra tidak menanggapi itu, karena dia tidak mau tembok pembatas yang sedang susah payah dia bangun akak runtuh lagi. Ayra tidak mau terjebak dengan harapan lagi. "Aku telepon Mas Aiden dulu ya Mam"


Mami mengangguk.


Ayra berlalu ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan menelepon suaminya. "Hallo Sayang, ada Mami datang ke apartemen"


"Iya Sayang, aku tahu. Tadi Mami sudah mengabari aku"


"Emm. Mami ajak aku jalan-jalan, apa boleh?"


Hati Aiden menghangat mendengarnya, istrinya sampai minta izin hanya untuk pergi jalan-jalan. Itupun bersama Ibunya, tapi istrinya tetap meminta izin padanya. Betapa Aiden merasa di hargai oleh istrinya.

__ADS_1


"Boleh, tapi jangan terlalu kelelahan"


"Iya Sayang, kamu udah makan siang belum?"


"Udah Sayang, kamu gimana?"


"Kayaknya sekarang sambil keluar sama Mami"


"Yaudah kalau gitu kamu hati-hati"


"Iya Sayang"


Setelah meminta izin pada suaminya, Ayra segera bersiap-siap dan berjalan keluar kamar. Menghampiri Mami yang sejak tadi menunggunya. "Ayo Mam, aku sudah izin sama Mas Aiden"


"Gimana suamimu? Tidak bertanya aneh-aneh 'kan?"


Ayra menggeleng pelan "Tidak Mam"


"Iyalah, masa jalan sama Mami sendiri sampai gak di izinin. Lagian dulu Saqila kalau pergi juga gak pernah izin dulu sama suaminya"


Ayra hanya diam, mungkin memang begitu gaya wanita karir. pikirnya.


Ayra dan Mami berjalan di lantai mall, menyusuri setiap toko dan melihat-lihat. Ayra hanya mengikuti saja, dia tidak berniat membeli apapun karena semua kebutuhannya sudah Aiden jamin. Mulai dari pakaian dan perlengkapan lainnya. Jadi, hari ini Ayra hanya menemani Mami jalan-jalan saja. Sambil sedikit menyenangkan diri sendiri sesuai dengan ucapan Mami.


"Ra, beli ini yuk. Biar samaan sama Mami" Menunjukan sebuah tas dengan model dan merek yang sama tapi warna yang berbeda.


Ayra tersenyum, dia berjalan menghampiri Mami dan melihat salah satu dari tas itu. Melihat bandrol tas itu dan Ayra benar-benar hampir di buat pingsan melihat harganya. Tas sekecil ini bisa seharga ratusan juta. Ini bisa buat beli rumah. gumamnya.


"Gimana, bagus 'kan? Udah biar Mami saja yang belikan. Kan selama pernikahan kalian, Mami belum pernah membelikan hadiah apapun untuk kamu"


Tanpa menunggu jawaban Ayra, Mami langsung membeli dua tas itu. Ayra menggeleng tidak percaya. Dua tas berarti dua kali lipat juga harganya. Sudah pasti akan membuat Mami merogoh kocek cukup lumayan. Tapi Ayra juga tidak bisa menolak. Ini adalah pemberian mertuanya, jadi akan sangat tidak sopan kalau dia sampai menolaknya.


Keluar dari toko tas dengan dua paper bag di tangan Mami. "Ini kamu pakai yang warna coklat, biar Mami yang warna hitam"


Ayra mengangguk saja dan dia menerima paper bag dari mertuanya itu. "Terimakasih Mam"

__ADS_1


"Iya Ay, tidak usah sungkuan begitu..." Mami merangkul bahu Ayra. "...Kita 'kan keluarga. Kamu sudah seperti anak Mami"


Ayra merasa kehangatan dan ketulusan dari setiap apa yang Mami lakukan. Rasanya tidak pernah menyangka jika Ayra akan mendapatkan mertua sebaik Mami. Bahkan Mami tidak membedakan status sosialnya. Sungguh Mami adalah wanita kaya yang rendah hati.


Ibu mertua dan menantu ini berakhir berada di restaurant di dalam mall. Mereka makan siang bersama. Mami sangat senang saat bisa berjalan-jalan dengan menantunya yang satu ini. Jika bersama Saqila, rasanya terlalu biasa saja karena Saqila yang sudah terbiasa shopping seperti ini. Tapi Ayra sangat berbeda. Gadis itu sangat sederhana dan apa adanya.


Selesai makan, mereka masih bersantai di restaurant itu. "Ay, kamu tahu kalau Aiden ulang tahun lusa"


Ayra menggeleng pelan, dia memang tidak tahu apa-apa tentang suaminya. Karena Aiden yang tidak memberi tahunya dan dirinya yang juga tidak pernah bertanya. "Tidak Mam"


"Lusa Aiden ulang tahun, di kantornya selalu mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahunnya. Tapi, kali ini Aiden belum mengatakan apa-apa sama Mami. Apa tahun ini dia tidak berniat merayakan ulang tahunnya?"


Ayra menggeleng pelan "Nanti biar Ay tanyakan ya Mam"


"Ohh, nanti malam Aiden tidur di apartemen"


Ayra mengangguk "Iya Mam, dua hari kemarin tidur di rumah"


Mami mengangguk mengerti, mereka pun memutuskan untuk pulang setelah selesai mengisi perut. Dan malam ini Ayra menunggu suaminya yang pulang agak terlambat. Mungkin karena memang terlalu banyak pekerjaan. Suara pintu apartemen yang terbuku membuat Ayra berdiri dan langsung menghampiri suaminya yang baru saja pulang bekerja.


Aiden yang sedang membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah, terkejut saat tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


"Sayang"


Ayra menyandarkan pipinya di punggung lebar suaminya. Aiden berbalik dan menciumi seluruh bagian wajah istrinya. "Lelah banget aku Sayang, lagi ada proyek baru"


Pantasan saja Aiden pulang terlambat. Memang urusan pekerjaan yang sedang menumpuk. Ayra menyuruh Aiden duduk di sofa dan dia segera mengambilkan minum untuk suaminya. Aiden tersenyum mendapatkan perhatian ini dari istrinya.


Ayra duduk di samping suaminya, membantu Aiden melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya. "Sayang, lusa kamu ulang tahun ya"


Aiden tersenyum, sudah pasti Ibunya yang memberi tahu Ayra. Tidak mungkin Ayra tahu dari orang lain. Cup... Aiden mengecup singkat bibir Ayra. "Iya, memangnya kenapa? Kamu mau kasih aku hadiah? Sekarang aja yuk di kamar hadiahnya"


Ayra memukul kesal suaminya, dia tahu jelas apa yang di maksud Aiden dari ucapannya itu. "Apaan si, bukan itu...Aaa.."


Ayra menjerit saat tubuhnya yang tiba-tiba melayang. Aiden sudah menggendongnya dan membawanya ke kamar. Sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Hanya mereka yang tahu.

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5


__ADS_2