
Ayra terdiam saat melihat berita di televisi. Ini adalah berita yang sedang hangat di perbincangkan. Tapi kenapa? Ayra tidak menyangka jika foto dirinya bersama Aiden saat kemarin di mall bisa tersebar luas. Siapa yang telah memfoto mereka berdua. Hingga bisa tersebar di televisi seperti ini. Akhirnya apa yang Ayra takutkan tersebar juga. Statusnya sebagai orang ketiga sudah tersebar luas. Saat ini Ayra tidak bisa melakukan apapun. Semuanya telah terjadi, dan Ayra tidak bisa melakukan apapun.
Saat mendengar pintu yang terbuka, Ayra langsung meraih remot televisi dan mematikannya. Dia tidak mau jika suaminya semakin kepikiran tentang berita itu. Belum lagi Aiden yang masih terlalu khawatir dengan keadaan Ayra saat melahirkan nanti. Dia akan semakin merasa kacau jika ternyata sebuah berita tidak mengenakan tentang dirinya dan Ayra sedang tersebar luas di luaran sana.
Ayra berdiri dan menghampiri suaminya yang sudah siap dengan pakaian kerjanya. Padahal hari ini Aiden sangat malas masuk kantor karena dia ingin menemani istrinya di rumah. Namun, tuntutan pekerjaan membuatnya tetap harus pergi ke perusahaan. Aiden tidak bisa menolak karena ini adalah bentuk tanggung jawabnya terhadap perusahaan.
Ayra merapikan jas dan dasi yang di pakai oleh suaminya. "Berangkat sekarang?"
Aiden mengangguk, dia mencium kening istrinya dan memeluknya sebelum dia benar-benar berangkat bekerja. Aiden benar-benar menjadi sosok yang manja pada Ayra. Entah kemana perginya Aiden yang dingin, yang selalu membuat Ayra takut.
"Sebenarnya aku sangat malas, aku ingin menemanimu di apartemen. Takutnya kamu kenapa-napa saat aku tidak ada di sampingmu"
Ayra tersenyum tipis, tangannya mengelus punggung lebar suaminya. "Sayang, aku baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa-apa padaku. Lagian aku hanya berdiam di apartemen"
Akhirnya Aiden benar-benar pergi bekerja setelah banyak drama kepada istrinya. Sampai di perusahaan, Aiden yang masuk ke dalam ruangannya langsung di sambut oleh Rega yang duduk di sofa. Jika seperti ini, pasti ada sesuatu yang ingin Rega bicarakan padanya tanpa bisa menunda-nunda lagi. Aiden menghampiri Rega dan duduk di sofa depan asistennya ini.
"Ada apa?"
Rega memutar laptop di atas meja dan menunjukan sesuatu pada Aiden. Pria itu mengambil alih laptop dan melihat apa yang ingin asistennya beritahukan padanya.
"Ini..." Aiden mengepalkan tangannya saat sebuah artikel yang mengatakan jika dirinya tidak setia dan seorang gadis yang bersama Aiden di mall di duga sebagai penghancur rumah tangganya dan Saqila.
__ADS_1
"Kapan berita ini tersebar luas?" Tanya Aiden dengan mata menyipit tajam pada Rega.
"Tadi malam, sepertinya ada seorang paparazi yang menangkap gambar kamu saat bersama Ayra. Dan yang menjadi masalahnya sekarang, adalah wajah Ayra yang terpampang jelas. Membuat semua orang akan tahu tentangnya. Aku khawatir Ayra telah melihat berita ini"
"Jadi, ini alasanmu menyuruhku ke kantor dengan sangat segera?" Aiden sudah menyerahkan beberapa pekerjaan pada Rega selama dia menemani Ayra yang sebentar lagi akan segera melahirkan. Namun, tapi pagi Rega meneleponnya dengan alasan ada sesuatu yang sangat penting yang harus di bicarakan. Sehingga Aiden benar-benar tidak bisa menolaknya.
Rega menghela nafas, dia bersandar di sandaran sofa. Menatap Aiden dengan datar. "Ya, sekarang aku akan mencoba mencari jalan keluarnya untuk masalah ini"
Rega membalikan kembali laptop di atas meja dan mengotak-ngatiknya untuk bisa mencari cara untuk men-take down berita ini. Namun, Rega terdiam saat melihat suatu postingan yang benar-benar membuatnya tidak menyangka jika akan ada hal seperti ini terjadi.
"Kau lihat ini" Rega memutar laptopnya ke arah Aiden agar pria itu melihat apa yang dia lihat barusan.
"Ini..." Aiden juga begitu terkejut dengan apa yang di lihatnya.
Ayra terdiam menatap pemandangan di luar jendela di kamarnya. Tangannya mengelus perutnya yang besar. Ayra tentu kepikiran tentang berita itu. Saat dia sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan, tiba-tiba perutnya mengencang. Ayra mencoba tenang dan mengatur nafasnya dengan perlahan. Ayra ingat pesan Dokter untuk tidak terlalu banyak pikiran saat ini. Karena perutnya bisa saja kembali kram jika Ayra terus banyak pikiran.
Tangannya terus mengelus bagian perutnya yang mengencang. "Tenang ya Nak, maafkan Bunda karena Bunda membuat kamu tidak tenang di dalam sana. Mulai saat ini, Bunda tidak akan memikirkan apapun. Biarkan saja apa yang terjadi di luar sana, Bunda tetap tidak akan memikirkannya"
Perutnya mulai kembali normal, rasa sakitnya mulai berkurang. Ayra berdiri dari duduknya di atas sofa, lalu dia berjalan ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Ayra memilih tidur untuk menghilangkan segala pikiran tentang berita itu. Ayra tidak mau membahayakan keselamatan anaknya hanya karena dia yang terus kepikiran tentang berita yang tersebar.
Sore hari, Aiden kembali dari kantor. Saat dia memasuki apartemen dan tidak menemukan istrinya, Aiden segera menuju kamar karena yakin jika sang istri berada disana. Saat dia membuka pintu kamar, Aiden langsung menghampiri tempat tidur dimana istrinya berbaring disana. Aiden duduk di pinggir tempat tidur, mengelus kepala istrinya lalu mengecupnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu tenang ya. Aku yakin berita itu akan segera hilang dan kamu akan tetap menjadi Ayra yang baik. Nama baikmu akan kembali. Maafkan aku karena telah memaksa kamu untuk masuk ke dalam kehidupan yang rumit ini" Aiden menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya sebelum dia berlalu ke ruang ganti.
Ayra membuka matanya tepat saat suara pintu tertutup. Aiden telah masuk ke dalam ruang ganti dan Ayra tentu mendengar apa yang Aiden bicarakan padanya barusan.
Ternyata dia sudah tahu ya. Sebenarnya aku tidak papa jika orang-orang di luar sana menganggap aku sebagai wanita perebut suami orang. Karena memang pada awlanya, aku juga tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini. Yang aku pikirkan saat ini, hanya tentang suamiku yang pasti akan lebih mengkhawatirkan keadaanku. Padahal aku tidak apa-apa.
Mengingat bagaimana Aiden sangat mengkhawatirkan tentang proses persalinannya yang sebenarnya belum apa-apa. Ayra tahu jika suaminya pasti akan lebih mengkhawatirkan keadaannya saat ini, ketika dia tahu tentang berita itu.
Ayra bangun, dia duduk menyandar di atas tempat tidur. Tangannya terus mengelus lembut perut buncitnya itu. Tendangan dari bayinya di dalam sana membuat Ayra tersenyum.
"Sayang sudah bangun..." Aiden keluar dari ruang ganti. Pria itu sudah terlihat segar dengan rambutnya yang masih setengah basah. Aiden naik ke atas tempat tidur dan memeluk istrinya. Mencium pipi Ayra dengan lembut. "...Sudah makan?"
Ayra mengangguk, dia mengelus lengan suaminya yang berada di dadanya. "Kamu sudah makan?"
Aiden mengangguk sebagai jawaban. Dia melepaskan pelukannya, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan paha Ayra sebagai bantalan. Aiden memeluk pinggang Ayra hingga bibirnya benar-benar menempel pada perut buncit istrinya.
Ayra memainkan rambut suaminya yang masih setengah basah. Dia cukup lega karena suaminya tidak terlihat terlalu khawatir setelah dia mengetahui tentang berita yang tersebar.
"Sayang, aku sudah mulai ambil cuti bekerja sekarang. Aku akan menemanimu sampai kamu melahirkan"
Ayra hanya tersenyum saja mendengarnya. Memang suaminya sudah sangat overprotektive padanya sejak tragedi kram perut yang terjadi pada Ayra waktu itu. Aiden tidak mau jika hal itu terulang kembali. Apalagi jika saat dirinya tidak berada di sisi istrinya.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5