
Ayra masih berada diacara Reuni, duduk di meja paling pojok dan hanya seorang diri. Benar-benar hanya seorang diri,Ayra memang selalu menjadi orang yang tidak terlihat oleh teman-temannya itu. Ayra terus mencoba menghubungi suaminya, tapi sampai saat ini Aiden masih belum bisa dia hubungi. Membuat Ayra khawatir dan juga bingung dengan keadaan saat ini.
Sampai acara hampir selesai, Aiden masih tidak juga datang. Dan tiba-tiba saja tiga orang wanita berjalan menghampiri meja yang ditempati oleh Ayra.
"Hei kamu.. Ay.. Ayra 'kan?"
Bahkan mereka tidak pernah mengingat nama Ayra yang kuliah satu angkatan dan satu jurusan juga. Ayra saja mengingat tiga wanita di depannya, sementara mereka tidak mengingat Ayra sama sekali.
"Kamu datang kesini bersama siapa?"
Ayra menunduk, dia selalu seperti ini saat bertemu dengan oraang-orang teman kuliahnya ini. "Sendiri"
"Oh, bukannya kamu sudah menikah seak kuliah ya. Bahkan kamu hamil saat kuliah. Kenapa suamimu tidak di ajak sekalian"
Ayra tediam dengan tangan yang meremas gaun yang dipakainya. "Emm. Suamiku sedang ada pekerjaan"
"Ohh begitu ya, aku kira suami kamu itu memang tidak peduli padamu. Hehe. Maaf ya karena aku suka asal ceplos" Permintaan maaf yang sebenarnya sangat tidak benar-benar bersungguh-sungguh.
"Kamu ini Ca, suka bener kalo ngomomg. Kan Ayra jadi malu begitu"
"Iya Ca, kasihan 'kan dia jadi kehilangan muka sekarang. Atau mungkin dia memang tidak pernah menikah, tapi hanya membuat anak saja.Oh ya, dimana anakmu? Atau jangan-jangan kau membuang anakmu itu ya karena memang lahir tanpa Ayah"
Mereka semua langsung tertawa mendengar pembicaraan ketiga wanita itu yang sedang memojokkan Ayra.
Oh, ayolah Ayra kamu sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Kenapa kamu masih saja menjadi Ayra yang cupu seperti ini.
Ayra meremas gaun yang dipakainya dengan kuat. Lalu dia mendongak setelah menguatkan hatinya. "Aku menikah dan mempunyai suami saat ini.Hanya saja suamiku memang tidak bisa datang karena banyak pekerjaan"
"Klise sekali alasanmu itu"
__ADS_1
Mendengar itu keberanian itu langsung membuat nyali Ayra langsung menciut seketika. Dia kembali menundukan wajahnya dan siap menerima cacian lain yang akan terlontar dari teman-temannya ini. Sebenarnya mereka semua tidak pantas di sebuat teman.
"Jangan berani mengganggu istriku!"
Suara berat penuh penekanan itu membuat semua orang yang ada disana menoleh ke arah pintu. Seorang pria tampan yang masuk ke dalam ruangan itu dan menatap tajam pada mereka semua. Apalagi saat dia jela mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan pada istrinya, jelas sekali mereka sedang memojokkan Ayra.
Aiden berjalan tegap menghampiri Ayra, duduk di samping istrinya. Menatap tajam pada tiga wanita yang berada di depanya yang jelas telah mencoba memojokan istrinya dan membuat malu Ayra juga.
"Aku, Aiden Narendra. Adalah suami dari Ayra Diandrajadi sekali lagi kalian semua berani membuat istriku ini terluka sedikit saja, maka kalian semua akan berurusan denganku"
Aiden berdiri dan meraih tangan istrinya untuk ikut berdiri. Aiden merasakan tangan Ayra sangat dingin dalam genggamannya itu. Aiden mengeluarkan sesuatu dari dalam jas yang dipakainya. Menaruhnya diatas meja dengan sedikit kasar.
"Ini adalah undangan untuk resepsi pernikahan kami untuk kalian semua, terserah kalian mau datang atau tidak"
"Kami akan datang Tuan"
"Ya,kami pasti datang Tuan. Terima kasih undangannya"
Aiden menatap pada tiga wanita itu dengan tajam. "Kecuali kalian bertiga, yang lainnya boleh datang"
Aiden langsung menarik tangan Ayra keluar dari aula itu. Sampai di depan mobil Ayra langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya.
"Sayang, aku bisa jelasin kenapa aku terlambat" Aiden langsung peka jika istrinya pasti sedang marah karena Aiden yang datang terlambat.
"Aku pulang dengan Pak Supir saja"
Aiden langsung menahan tangan Ayra yang siap pergi dari hadapannya. "Supirnya sudah aku suruh pulng"
Ayra menghela nafas pelan, lalu dia menatap tangan Aiden yang masih berada di pergelangan tangnnya. Dengan perlahan, Ayra melepaskan tangan Aiden di tangannya.
__ADS_1
"Masuk dulu yuk, aku bisa jelaskan kenapa aku datang trelambat"
Ayra tidak punya pilihan lain, dia tidak mungkin pulang sendiri dengan taksi saja pasti akan membuat Ayra menunggu cukup lama disini. Jadi, Ayra masuk saja ke dalam mobil suaminya itu.
Aiden menghela nafas lega ketika dia melihat istrinya sudah masuk ke dalam mobil. Lalu dia segera masuk ke dalam mobil.
Mobil yang mulai melaju, namun hanya ada sebuah keheningan di dalam mobil yang ditumpangi oleh sepasang suami istri ini.
"Sayang, aku terlambat karena membantu Ghea. Mobilnya menabrak trotar dan daia pingsan, ada seseorang yang menghubungi aku dengan ponsel milik Ghea. Jadi aku membantunya mengurus mobilnya dan administrasi di rumah sakit"
Penjelasan Aiden bukan membuat Ayra tenang dan memaafkannya. Tapi malah semakin membuat Ayra kesal. Bukannya dia tidak peduli pada Ghea yang mengalami kecelakaan. Tapi apa Aiden tidak bisa sebentar saja menghubunginya dan memberi tahu jika dia tidak bisa datang. Mungkin Ayra tidak akan datang ke acara Reuni itu dan tidak akan mendapatkan cacian seperti tadi.
Sampai dirumah, Ayra langsung turun dan menutup pintu mobil dengan keras. Dia berjalan menuju kamarnya, tanpa banyak berbicara. Padahal di ruang tengah juga ada Mami yang sedang bermain dengan Alerio. Mami menatap bingung pada Ayra yang tidak biasanya sampai tidak menyapa dirinya. Lalu beberapa saat kemudian di susul dengan Aiden yang berlari. Mami menghela nafas, dia sekarang tahu jika anak dan menntunya itu sedang bertengkar.
Ayra masuk ke dalam kamar disusul oleh suaminya. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut Ayra. Dia sedang benar-benar kesal dan kecewa dengan suaminya itu.
"Sayang, kenapa kamu masih marah? Aku 'ksn sudah menjelaskan semuanya"
"Sudahlah, untuk apa kamu disini sekarang. Lebih baik kamu temani Ghea yang sekarang sedang sakit itu. Kasihan, dia 'kan teman masa kecilmu yang harus kamu prioritaskan segalanya"
"Ya ampun Ayra, kenapa kamu sama sekali tidak mempunyai rasa empati si? Ghea itu kecelakaan. Benar-benar kecelakaan! Apa kau tidak faham dengan apa yang aku katakan!"
Ayra tersenyum tipis saat Aiden memanggil namanya seperti itu hanya karena Ayra yang tidak mempunyai rasa peduli pada Ghea. Ayra menatap suaminya dengan lekat.
"Ya, karena Ghea adalah teman masa kecilmu. Jadi aku cukup mengerti jika kau mengabaikan telepon dan pesan dariku. Karena aku memang tidak berarti apa-apa dibanding dengan teman masa kecilmu itu"
"Cukup Ayra! Kau benar-benar tidak punya rasa peduli sedikit pun ya. Kau bisa mengurangi kecemburuanmu yang tidak berdasar itu"
"Cemburu? Aku tidak hanya cemburu padamu, tapi aku juga kecewa padamu!"
__ADS_1
Ayra langsung berlalu ke ruang ganti dan menutup pintu dengan kasar.
Bersambung