Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Butuh Waktu Untuk Menenangkan Diri


__ADS_3

Aiden pulang ke apartemen dengan keadaan yang kacau. Ayra yang sedang memasak langsung menghampiri suaminya yang baru masuk ke apartemen. Dia menatap suaminya dengan khawatir, rambut yang acak-acakan. Penampilannya sungguh di penuhi kekacauan.


"Sayang, ada apa?"


Aiden tidak menjawab, dia hanya memeluk Ayra. Menjatuhkan dagunya di bahu gadis itu. Perasaan Aiden sedang kacau setelah dia mengetahui tentang apa yang Saqila lakukan. Semuanya hanya karena dirinya yang telah membawa Ayra masuk ke dalam pernikahan ini. Sehingga sekarang Ayra harus mendapatkan kekesalan dari Saqila. Aiden juga tidak menyangka jika Saqila bisa melakukan hal sampai sejauh itu.


"Maafkan aku Ayra, aku telah membawamu ke dalam kekacauan rumah tanggaku"


Deg..


Ayra tidak mengerti apa maksud dari ucapan suaminya. Tapi entah kenapa hatinya mulai merasa jika bukan kabar baik yang di bawa suaminya. Jelas saja, karena melihat kekacauan Aiden juga tidak mungkin jika suaminya membawa kabar baik.


"Sayang, ada apa?"


Aiden melerai pelukannya, dia memegang kedua lengan Ayra dan menatapnya dengan lekat. "Sayang, maafkan aku karena aku yang membawamu ke dalam pernikahan ini, dan membuat Saqila menghancurkan segalanya. Aku bingung Ay, aku bingung"


"Apa yang membuatmu bingung?"


Aiden menghela nafas berat, dia semakin merasa bersalah saat menatap wajah polos Ayra. Gadis yang dia paksa untuk menikah hanya untuk mendapatkan seorang anak. "Saqila datang menemui Ibumu sebelum dia meninggal"


Ayra mematung, dia mendengar ucapan tentangga Ibunya yang meneleponnya. Jadi seorang perempuan yang mendatangi Ibu adalah Nyonya Saqila. Tapi untuk apa dia datang pada Ibunya? Saqila ingin menghancurkan apalagi dari Ayra? Semuanya telah benar-benar hancur. Masa depan Ayra, cinta, bahkan kehidupan kedepannya pun Ayra tidak tahu akan bagaimana. Setelah suaminya mendapatkan apa yang dia inginkan darinya, Ayra akan menjadi gadis terbuang dengan menyedihkan.


"Un-untuk apa Nyonya datang menemui Ibu?"


Aiden menundu, dia genggam kedua tangan Ayra dengan lembut. Jujur, Aiden takut mengatakannya. Aiden tidak mau Ayra akan benar-benar kecewa dan meninggalkannya. "Dia mengatakan tentang pernikahan kita pada Ibu"


Deg..

__ADS_1


Ayra lunglai, hampir saja tubuhnya jatuh ke atas lantai jika Aiden tidak sigap menahannya. "Sayang..."


Aiden menggendong Ayra dan membawanya ke sofa bed yang ada disana. Ayra masih diam, fikirannya benar-benar kacau. Jika benar Saqila datang pada Ibunya untuk membicarakan itu, maka Ibu pasti akan sangat kecewa pada anaknya. Ibu meninggal karena kekecewaan dia pada Ayra. Dada Ayra rasanya sangat sesak membayangkan itu semua.


Air mata luruh begitu saja di pipinya, mulai mengalir deras dengan isakan yang terdengar begitu menyakitkan. "Jika Ibu tahu semuanya, dia meninggal karena aku. Dia kecewa pada anaknya, dia kecewa pada aku yang selalu dia banggakan sebagai anaknya. Aku penyebab Ibu meninggal, Tuhan kenapa harus seperti ini"


Aiden segera memeluk Ayra yang menangis. Aiden tidak akan pernah bisa melihat wajah menyedihkan istrinya ini. Hatinya selalu sakit setiap melihat ada air mata kesedihan yang mengalir di pipi istrinya.


"Ibu..Maafkan Ayra, maaf Ibu, Ay telah mengecewakan Ibu"


Suara lirih itu semakin membuat hati Aiden tersayat. Istrinya seperti ini karena Saqila. Mengingat itu, Aiden mengepalkan tangannya di belakang tubuh Ayra.


"Sayang, ini bukan kesalahanmu. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini"


Ayra melerai pelukan suaminya, dia menatap Aiden dengan wajah sendu. Pipinya basah dengan air mata kesedihan itu. Tatapan Ayra yang seperti itu malah semakin membuat Aiden sakit.


Deg..


Ucapan Ayra bagaikan hujaman sebuah pedang tepat di ulu hatinya. Aiden tidak mau meninggalkan Ayra, dia tidak ingin jauh dari Ayra. Tapi ucapan Ayra sudah menunjukan jika dia tidak ingin Aiden untuk menemuinya.


"Gak Sayang, aku tidak mau!" Seperti waktu Ayra meminta Aiden untuk melepaskannya pergi. Reaksi Aiden tetap sama. Dia menolak tegas permintaan Ayra itu.


"Aku mohon, tolong biarkan kita menjaga jarak ini. Tidak lama, satu bulan saja"


Aiden langsung berdiri, dia menatap Ayra dengan tatapan tidak suka. "Satu bulan kamu bilang? Ayra, satu bulan bukan waktu yang sebentar. Aku tidak akan pernah menyetujui keputusan konyolmu ini!"


Ayra meraih tangan suaminya, namun langsung di tepis oleh Aiden membuatnya hanya menghela nafas kasar. "Aku mohon, ini hanya untuk meyakinkan Nyonya jika kamu masih mencintainya. Kamu sadar tidak, jika Nyonya melakukan semua ini karena dia merasa terancam dengan posisinya sebagai istri pertamamu dengan kehadiran aku ini"

__ADS_1


Aiden menatap istrinya, apa yang di ucapkan Ayra memang benar. Aiden tahu itu. Saqila melakukan semua ini hanya karena takut posisinya tersisihkan oleh kehadiran Ayra diantara mereka. Namun apapun alasannya, cara Ayra terlalu tidak masuk akal untuk Aiden. Bagaimana dia bisa tinggal bersama Saqila selama satu bulan dan sama sekali tidak menemui istri keduanya ini. Aiden tidak akan bisa melakukan itu. Lagipula hubungannya dengan Saqila sudah terlanjur hancur sejak awal.


"Tolong, biarkan aku sendiri dulu. Biarkan aku menenangkan diriku untuk saat ini. Tinggalah bersama Nyonya dan yakinkan dia agar kamu masih sangat mencintainya":


Aiden menggeleng tegas, dia menatap Ayra dengan lekat. "Aku akan memberikanmu waktu, tapi hanya satu minggu. Itupun aku tidak akan tinggal bersama Saqila, aku sudah terlanjur kecewa dengannya"


Aiden pergi dengan menyambar kunci mobilnya setelah mengatakan itu. Setelah Aiden pergi, tangisan Ayra langsung pecah. Sebenarnya dia tidak ingin membuat keputusan seperti ini.


Tapi, Ayra tidak bisa membiarkan Saqila terus-terusan mencoba menghancurkan hidupnya. Apalagi masalahnya saat ini, Saqila sudah berani menemui Ibunya dan akhirnya berakibat sangat fatal. Ibunya meninggal karena mengetahui tentang pernikahan Ayra dan Aiden. Ayra bisa membayangkan bagaimana terkejutnya Ibu saat mengetahui semuanya. Dia tidak akan pernah menyangka jika putri polosnya rela menikahi majikan Ibunya hanya demi uang. Oh.. Tuhan.. Kenapa sesakit ini yang Ayra rasakan.


"Ayra, kamu bodoh! Kamu telah membuat Ibumu sangat kecewa padamu"


Hatinya terus merutuki dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri atas meninggal Ibu. Ayra tidur meringkuk di atas sofa bed, dengan sisa air mata yang masih membekas di wajahnya.


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Aiden menatap Rega dengan serius, kali ini dirinya benar-benar harus mengambil tindakan atas apa yang Saqila lakukan pada Ayra. Semuanya sudah sangat keterlaluan. Namun, kabar dari Rega benar-benar mengejutkan Aiden. Seolah apa yang telah dia siapkan untuk membuat Saqila jera dengan semuanya, langsung sirna seketika dengan apa yang dia dengar dari asistennya ini.


"Saqila pergi ke luar negara, ke tempat orang tuanya. Entah apa yang kali ini akan dia lakukan, tapi tempat orang tuanya adalah pelarian dia kali ini untuk menghindari masalah denganmu"


Aiden menggeleng tidak percaya, istri pertamanya masih seperti anak-anak. Selalu pergi di saat ada masalah dengan suaminya. Menghidari masalah adalah kebiasaan Saqila.


"Biarkan saja dia pergi, ini sudah biasa untukku"


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5

__ADS_1


Akhir Bulan ini di pastikan sudah end ya.. karena aku sudah punya cerita Rega dan Alvaro dalam judul terpisah nanti.


__ADS_2