Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
Kekhawatiran Aiden


__ADS_3

Pagi ini Ayra terbangun dengan suasana hati yang lebih baik. Setidaknya dia tidak merasakan lagi kebingungan dalam hatinya. Semuanya telah terselesaika, setidaknya Ayra tidak perlu terus merasa bersalah pada Saqila karena apa yang terjadi dalam pernikahan mereka. Namun, semuanya sudah terselesaikan dan sudah saatnya Ayra membuka lembaran baru dalam hidupnya. Biarkan dia bersama suaminya saat ini dengan perasaan tenang.


"Sayang bangun yuk, udah siang. Kamu gak kerja emangnya?" Ayra membangunkan suaminya dengan lembut, dengan caranya yang selalu mengecup pipi suaminya saat dia membangunkan Aiden. Hal itu membuat Aiden merasa senang dengan apa yang Ayra lakukan.


Aiden menggeliat pelan, dia tersenyum saat mendapati istrinya yang sedang membangunkannya. Ayra mengelus lembut rambut suaminya. Dia duduk menyandar di atas tempat tidur, dengan tangannya yang memainkan rambut suaminya dengan lembut. Bukannya bangun, Aiden malah berbalik dan memeluk kaki istrinya. Bibirnya menempel di paha Ayra.


"Cantik banget si sayangnya aku"


Ayra hanya tersenyum dengan mengelus kepala suaminya. Sejak semuanya terselesaikan, Aiden malah semakin manja pada Ayra. Mungkin dia sudah merasa lebih tenang karena semuanya sudah selesai. Saqila pun sudah menerima dan dia sudah menemukan pasangan yang lebih baik daripada Aiden. Dan Aiden bersyukur karena itu.


"Ayo bangun, kan mau kerja"


"Rasanya aku malas untuk meninggalkan kamu di apartemen sendirian. Apalagi sudah hamil besar begini"


Ayra tersenyum mendengarnya, suaminya memang selalu panik dan cemas setelah kejadian perut Ayra yang kram saat itu. Aiden selalu takut jika sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi pada istrinya. Aiden tidak akan siap jika harus kehilangan istrinya ini. Dia sudah sangat mencintainya.


"Aku 'kan baik-baik saja, kamu brangkat saja ke kantor"


Aiden mendongak, menatap istrinya masih dengan memeluk kaki istrinya. "Sayang, sehat-sehat ya, jangan membuat aku panik lagi karena melihat kamu sakit"


Ayra tersenyum, dia mengukir alis suaminya dengan jemarinya. Alis yang tegas dan tebal, membuat Aiden semakin terlihat tampan dengan itu. "Aku akan baik-baik saja Sayang, do'akan saja aku sehat dan bisa melahirkan anak kita dengan normal dan sehat"


Mendengar itu, Aiden langsung bangun dan menatap istrinya dengan serius. Aiden belum membicarakan soal kelahiran Ayra nantinya. "Sayang, apa kamu mau ambil jalur operasi saja?"


Ayra menatap suaminya dengan kening berkerut bingung. "Kenapa harus mengambil jalur operasi jika aku bisa melahirkan secara normal"

__ADS_1


Aiden menghembuskan nafas kasar, sebelumnya dia sudah lebih konsultasi dengan dokter kandungan Ayra, tanpa sepengetahuan istrinya ini. Memang istrinya bisa melahirkan secara normal. Tapi saat Aiden menanyakan bagaimana proses melahirkan normal itu, dan Aiden mulai ragu saat tahu bagaimana proses melahirkan normal.


Istrinya akan mengalami kontraksi yang cukup lama, rasa sakit yang sangat luar biasa. Bagaikan tulang rusuknya di patahkan sekaligus. Sesakit itu, hingga Aiden merasa dilema saat ini. Takut jika istri kecilnya tidak akan kuat mengalami itu.


Tangannya mengelus perut buncit istrinya, menundukkan wajahnya untuk mengecup perut istrinya itu. Lalu dia kembali menatap istrinya dengan tatapan penuh kekhawatiran dan kecemasan. "Sayang, aku pikir lebih baik operasi saja"


Aiden masih belum menjelaskan kekhawatirannya.  "Aku rasa operasi lebih baik"


Ayra malah semakin bingung dengan ucapan suaminya itu. "Kenapa kamu menginginkan aku melahirkan dengan jalur operasi? Aku bisa normal dan aku siap untuk melahikan normal"


"Tapi..." Aiden tidak melanjutkan ucapannya, dia malah memeluk istrinya dengan erat. Rasanya Aiden yang tidak akan siap untuk melihat istrinya merasakan kontraksi yang sakitnya luar biasa. Rasanya Aiden tidak akan kuat melihat itu.


Ayra akhirnya sadar kekhwatiran suaminya saat ini. Dia mengelus punggung Aiden dengan lembut. Mengecup pipi suaminya dengan penuh kasih sayang. "Aku akan baik-baik saja. Sayang, ini adalah kodratnya seorang perempuan. Kamu jangan terlalu khawatir. Aku akan baik-baik saja dan aku akan berjuang untuk melahirkan anak kita"


Aiden melerai pelukannya, dia menatap wajah istrinya yang tersenyum menenangkan padanya. "Aku takut Sayang, aku takut akan terjadi apa-apa padamu"


Aiden tidak bisa lagi membantah, istrinya sudah sangat yakin dengan keputusan yang dirinya ambil. Jadi Aiden tidak bisa berbuat apa-apa. Meski kekhawatiran dalam dirinya masih belum hilang.


"Yaudah, sekarang aku siapin air untuk mandi ya" Ayra sudah siap turun dari tempat tidur, namun lengannya di tahan oleh Aiden. Ayra menoleh dan menatap suaminya yang cenberut, sungguh wajah Aiden yang seperti ini membuat Ayra gemas dan tidak pernah menyangka jika suaminya bisa berekspresi seperti itu.


Aku jadi tidak tahan untuk tidak mencium pipinya. Kenapa memasang wajah seperti itu si.


"Aku beneran gak ke kantor hari ini, aku mau ajak kamu jalan-jalan"


Mendengar itu tentu saja wajah Ayra langsung berbinar. Setiap wanita pasti akan senang saat mendengar kata 'jalan-jalan', begitupun dengan Ayra.

__ADS_1


"Beneran? Kita belanja perlengkapan bayi ya? Kita 'kan belum menyiapkan apa-apa untuk perlengkapan bayi"


Aiden tersenyum, dia beringsut mendekati Ayra dan memeluk istrinya dari belakang. Mengecup bahunya dengan lembut. "Iya, tapi hanya sebagian saja. Sebagian lagi biar Rega yang mengurusnya. Aku tidak mau sampai kamu kelelahan nanti"


Apasi, kelelahan apanya?


"Sayang, aku bisa kok menyiapkan semuanya sendiri. Lagian kasihan Rega kalau harus di sibukan dengan urusan ini juga. Kan pekerjaannya suda banyak"


"Kenapa harus kasihan? Dia sudah siap melakukan apapun yang aku perintahkan. Apapun itu"


Ayra hanya berdecak kesal mendengarnya. Aiden memang selalu seenaknya jika menyangkut tentang orang-orang yang dia sayangi. Apalagi istrinya yang sedang hamil ini tidak boleh sampai kelelahan.


"Yaudah, terserah kamu saja"


"Sekarang ayo mandi dulu Sayang" Lagi-lagi Ayra tidak bisa bergerak karena pelukan suaminya malah semakin erat. Apalagi saat kecupan-kecupan Aiden yang mulai menjelajahi lehernya. Ayra sedikit meringis saat kecupan keras yang Aiden berikan di lehernya, kecupan yang meninggalkan bekas kemerahan.


"Sayang ayo kita mandi...Aaa.." Ayra tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Aiden sudah menarik tubuhnya hingga tidur terlentang di atas tempat tidur.


Ayra menatap suaminya yang berada di atas tubuhnya. Aiden bertumpu pada lengan dan lututnya agar dia tidak menekan perut Ayra saat dia mengukung istrinya itu.


"Sa-sayang" Ayra sudah tahu kemana berakhirnya adegan ini. Sudah pasti pada kenikmati surgawi.


"Hanya sebentar sebelum kita pergi jalan-jalan. Boleh ya Sayang?" Aiden menatap istrinya dengan wajah memohon. Jelas Ayra tidak akan bisa menolak, karena hal ini juga sudah menjadi kewajibannya. Akhirnya Ayra hanya mengangguk.


Pagi ini, mereka kembali menikmati surga dunia sebelum pergi untuk membeli perlengkapan bayi.

__ADS_1


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5


__ADS_2