
Ketika semuanya sudah hampir selesai, tiba-tiba saja Ghea menghubungi Aiden. Namun Aiden tentu tidak langsung mengangkat telepon dari Ghea. DIa menatap pada istrinya yang sekarang sedang berada dalam pelukannya. Mereka bahkan dalam keadaan polos tanpa busana.
"Kenapa tidak diangkat? Angkat saja, tapi aku ingin dengar percakapan kalian berdua"
Aiden menuruti ucapan Ayra barusan, dai menekan icon hijau di layar ponselnya dan juga mengaktifkan loudspeaker agar istrinya juga bisa mendengar percakapan dirinya dan Ghea. Aiden tidak mau jika sampai harus bertengkar dengan istrinya lagi dan membuat rumah tangga mereka akan kacau da bernatakan. Aiden hanya ingin mempertahankan keharmonisan keluarganya ini.
"Ada apa Ghe?"
"Hallo Aiden, semuanya sudah siap tinggal nunggu fitting baju kamu dan istri kamu selesai. Apa bisa diselesaikan besok, soalnya waktu yang mulai mepet juga"
Aiden menatap istrinya yang terlihat biasa saja. Karena memang Ayra yang menganggap jika percakapan itu hanya sebatas percakapan biasa saja.
"Besok aku akan datang ke butik bersama Ayra"
Aiden segera menutup sambungan teleponnya bersama Ghea. Lalu dia memeluk erat istrinya dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Gak marah lagi 'kan?"
Ayra terkekeh pelan, dia mendongak dan menatap suaminya dengan lekat. "Apa kamu takut ketika aku marah?"
"Tentu saja, aku merasa sangat sedih ketik kamu mendiamkan aku. Kamu tahu sendiri jika aku tidak bisa hidup tanpa kamu"
Ayra tertawa mendengar itu, suaminya ini memang pandai sekali menggombal. "Sayang, aku tidak akan marah jika masih dalam batas wajar seperti itu percakapan kalian. Tapi kalau sampai kamu berani bermain gila diluar sana dengan wanita lain, maka aku akan bertanya apa yang kamu tidak suka dari aku dan apa kekurangan aku yang membuat kamu berpaling dariku"
Cup..
Aiden sedikit menundukan wajahnya dan mengecup bibir istrinya yang berada dalam pelukannya itu. Kecupan yang berubah menjadi sebuah ciuman yang hangat dan dalam.
"Aku tidak akan pernah berpaling darimu, karena memang kamu yang sudah paling terbaik untukku"
Ayra tersenyum mendengar itu, dia bangun dari sandaran nyamannya di dada Aiden. Menatap suaminya dengan senyuman penuh arti, Ayra memberanikan diri untuk mencium bibir suaminya lebih dulu. Karena dia sangat jarang sekali melakukan itu jika bukan karena Aiden yang memintanya. Tapi kali ini benar-benar inisiatif dirinya sendiri untuk mencium suaminya lebih dulu.
__ADS_1
Dan malam ini kegiatan kedua mereka baru saja dimulai.
...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...
Pagi ini Ayra dan Aiden sedang diperjalanan menuju butik. Aiden tersenyum senang sambil melirik istrinya yang menunjukan wajah malu itu.
"Sayang terima kasih ya, karena semalam kamu benar-benar membuat aku puas"
Semakin merah saja wajah Ayra ketika mendengar ucapan suaminya itu. Dia benar-benar merasa malu dengan apa yang dia lakukan semalam pada suaminya. Lagian kenapa aku bisa se-agresif itu si semalam. Gumamnya Â
"Aku merasa jika goyang..."
"Sayang stop! Jangan di bahas lagi, aku tidak bisa mendengarnya, aku malu."
Aiden tertawa melihat wajah istrinya yang memerah itu. Wajah Ayra yang selalu terihat menggemaskan dimatanya. "Kenapa memangnya? Aku senang bisa melihat kamu yang semalam, ingat Sayang jika menyenangkan hati suami itu memang sudah tugasnya seorang istri. Jadi kamu tidak perlu malu, karena semalam aku sangat senang dengan apa yang kamu lakukan"
Ayra tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajah malunya ke arah jendela mobil. Dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu tadi malam. Tapi jujur saja, Ayra juga menikmatinya.
Sampai saat ini aku tidak pernah menyangka jika pernikahan aku dan suamiku bisa sampai ke titik ini.
Ayra menatap pantulan dirinya sendiri dengan mata yang berkaca-kaca. Saat ini dirinya sedang memakai gaun pengantin bak seorang putri kerajaan. Tidak seperti saat dirinya menikah dengan Aiden dulu, dia tidak memakai gaun indah seperti ini. Justru hanya memakai kebaya putih sederhana.
"Apa kau suka gaun ini?"
Entah sejak kapan Aiden masuk ke dalam ruang ganti ini. Tapi dia sudah berada di belakang Ayra dan memluk istrinya itu dari belakang. Mengecup bahu Ayra dengan lembut. Istrinya ini benar-benar terlihat sangat cantik dengan gaun yang dipakainya.
"Sayang, apa gaun ini tidak terlalu mewah hanya untuk acara resepsi kita yang sudah terlewat ini?"
Aiden mengecup bahu Ayra lagi dengan sedikit memberi gigitan disana. "Tentu saja tidak. Ini sudah sangat pas dan cocok untuk kamu pakai diacara resepsi kita nanti"
__ADS_1
Ayra mengelus tangan suaminya yang berada di perutnya itu. "Sayang, terima kasih sudah memberikan segala yang terbaik untuk aku dan Alerio"
"Ya, karena kamu memang istri kesayangan aku"
Ayra tersenyum dengan menatap suaminya dari balik pantulan cermin. Betapa Ayra bersyukur sekarang karena dirinya bisa mendapatkan cinta tulus dari Aiden.
Setelah semuanya selesai, Aiden langsung membawa istrinya pulang. "Sayang, nanti kita langsung bulan madu ya"
Uhuk..uhuk
Ayra langsung tersedak air liurnya sendiri saat mendengar ucapan suaminya barusan. Bulan madu dia bilang? Apanya yang bisa dibilang bulan madu jika mereka saja sudah mempunyai seorang anak.
"Sayang, kamu jangan aneh-aneh deh"
"Loh, apanya yang aneh? Kan wajar untuk sepasang suami istri berbulan madu"
"Ya, kan kita ini bukan pengantin baru Sayang. Jadi tidak perlu berbulan madu lagi, apanya yang harus di bulan madukan jika kita saja sudah tahu satu sama lain"
Aiden menoleh dan menatap istrinya dengan senyuman penuh arti. "Maksudnya satu sama lain apa? Karena kamu tahu aku tanpa pakai baju, gitu?"
Plak..
Ayra memukul pelan bahu suaminya, merasa jika Aiden sudah benar-benar berubah menjadi suami yang mesum. Sejak bersama Ayra, Aiden memang banyak mengalami perubahan yang drastis. Bagaimana dia yang menjadi sosok hangat di keluarganya, menjadi suami yang selalu manja pada istrinya. Dan lebih parah, Aiden telah berubah menjadi suami yang mesum.
"Sayang, aku tidak mau bulan madu. Malu Sayang ihh, kita nikah sudah hampir 3 tahun. Masa iya baru berbulan madu sekarang? Untuk mengadakan acara resepsi saja aku sedikit malu, apalagi jika harus berbulan madu. Ingat Sayang, kita ini bukan pengantin baru"
"Kenapa harus malu? Kita yang menjalani ini dan kita juga yang melewati ini semua. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kita. Dan aku hanya ingin membuat kamu bahagia. Aku ingin kamu juga mengalami apa yang wanita-wanita lain alami ketika menikah"
Ayra terdiam beberapa saat, mencerna setiap ucapan Aiden. Ternyata suaminya ini sedang mencoba membuat Ayra bisa merasakan apa yang wanita-wanita lain rasakan ketika mereka menikah. Intinya, tujuan Aiden melakukan ini hanya untuk membuat Ayra bahagia.
__ADS_1
Bersambung