
Pergi ke toko ole-oleh, Ayra begitu antusias memilih beberapa barang dan makanan yang khas dari tempat liburan ini. Ayra memilih untuk beberapa orang yang dia kenal dan ingin dia berikan oleh-oleh.
Memilih banyak barang dan makanan sampai akhirnya dia merasa lelah juga. Selesai berbelanja, Aiden langsung membawa istrinya untuk makan di sebuah Restraurant. Jelas Ayra begitu kelelahan karena terlalu asyik memilih beberapa barang.
"Kamu si suka gak nurut sama aku, jadinya kelelahan 'kan. Sekarang ayo makan yang banyak dan kita langsung pulang ke Villa"
Ayra hanya mengangguk mendengar omelan suaminya itu. Jelas Aiden kesal karena dia sudah beberapa kali mengingatkan untuk berhenti dulu. Tapi ternyata Ayra malah tidak mendengarkannya dan terus berkeliling pusat perbelanjaan itu.
Selesai makan siang, mereka langsung kembali ke Villa. Ayra yang kelelahan langsung tidur begitu saja setelah dia mandi. Aiden yang baru saja selesai mandi dan masuk ke dalam kamar hanya bisa menghela nafas pelan ketika melihat istrinya yang terlelap diatas tempat tidur.
"Dia pasti lelah banget, suka gak nurut si kalau di kasih tahu"
Aiden ikut naik ka atas tempat tidur dan menatap istrinya yang tidur sangat lelap itu. Aiden mengelus lembut kepala istrinya dengan lembut. Mencium keningnya juga.
"Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah"
Entah pukul berapa sekarang, tapi Ayra terbangun ketika dia merasakan pelukan yang hangat ditubuhnya. Ayra tersenyum ketika dia melihat wajah tenang suaminya yang sedang terlelap itu. Dengan jahil tangan Ayra menjept hidung Ayra hingga suaminya itu tidak bisa bernafas dan akhrinya membuka matanya. Ayra tertawa senang ketika melihat ekspresi suaminya yang kesulitan bernafas itu.
"Sayang kamu senang hmm, ngerjain suami sendiri ya" Aiden memeluk Ayra dengan erat dan menciumi wajah istrinya dengan gemas. Melihat tawa istrinya yang begitu renyah membuat Aiden gemas.
"Sayang geli ih udah. Haha.. Ampun Sayang, ampun"
Aiden dan Ayra begitu memperlihatkan kebahagiaan ini. Keduanya benar-benarĀ merasa bahagia dengan pasangannya. Aiden juga tidak pernah menyangka jika dia bisa bersama dengan wanita yang dlu hanya dia jadikan sebagai istri bayaran saja. Namun ternyata Ayra yang menjadi cinta sejati untuknya.
"Sayang, aku tidak bisa berpikir bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu"
Ayra hanya tersenyum mendengarnya, dia memegang kedua pipi Aiden dan mecium bibir suaminya dengan lembut. Ciuan kejutan dari istrinya ini selalu membuat Aiden berdebar senang. Ciuman ini Ayra lakukan sebagai tanda cintanya pada Aiden.
######
Akhirnya setelah beberapa hari berada di pulau yang penuh dengan keindahan alam. Pagi ini Ayra dan Aiden sudah bersiap untuk pulang dan meninggalkan tempat ini. Bukannya tidak ingin berlama-lama di tempat indah ini. Tapi Ayra tidak bisa terlalu lama jauh dari anaknya. Jadi mereka hanya bisa bertahan hampir dua minggu saja di tempat ini.
__ADS_1
"Sekarang gak akan takut lagi 'kan untuk naik pesawat"
Ayra menoleh dan menatap suaminya dengan helaan nafas panjang. "Tetap saja aku takut"
Aiden terkekeh melihat wajah polos istrinya yang selalu apa adanya itu. Aiden merangkul bahu istrinya. "Yaudah, nanti kamu pegangan saja padaku seperti waktu itu"
Ayra sudah menggenggam tangan Aiden ketika dia mulai melangkah masuk ke dalam pesawat itu. Ayra begitu tegang, sama saja seperti pada saat dirinya naik pesawat untuk pertama kalinya waktu itu.
"Sayang aku takut"
Aiden langsung menggenggam tangan istrinya, dia memasangkan sabuk pengaman di tubuh Ayra. "Tidak pap. guncangannya hanya sebentar kok"
Dan Ayra tetap merasakan takut seperti pada saat itu. Dan setelah pesawat mengudara, barulah dia merasa lebih tenang. Ayra menoleh pada suaminya yang selalu siaga berada disampingnya dan memberikan ketenangan ketika Ayra yang sedang ketakutan ini.
"Sayang, sudah tidak papa sekarang? Kamu sudah lebih tenang?"
Ayra mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan menatap ke arah jendela pesawat yang menunjukan keindahan udara saat ini. Saat naik pesawat kemarin Ayra benar-benar tidak menikmati apapun. Karena dia yang terus berpikir tentang yang tidak-tidak ketika untuk pertama kalinya dia naik pesawat.
Ayra menatap Aiden yang menepuk pahanya. Ayra tahu isyarat apa itu, dia hanya ingin Ayra duduk diatas pangkuannya. Tapi ini di dalam pesawat, Ayra merasa takut untuk melakukan itu.
"Sayang, kamu jangan aneh-aneh deh. Ini kita sedang berada di dalam pesawat"
"Iya terus kenapa? Lagian sekarang sudah aman, kenapa harus takut si.Sudah ayo duduk disini" Aiden melepaskan sabuk pengaman ditubuhnya dan ditubuh Ayra.
"Sayang disini juga banyak orang, apa kamu tidak malu?" Ayra menatap sekelilingnya dan melihat banyak orang disana, semua kursi penuh dan juga beberapa pramugari yang berjalan mengecek setiap keadaan penumpang pesawat.
"Memangnya kenapa? Kau istriku, kenapa juga harus malu segala"
Aiden menarik tangan Ayra hingga istrinya itu tidak bisa melakukan apapun lagi. Ayra hanya bisa pasrah ketika Aiden mendudukan dirinya diatas pangkuannya.
"Sudah diam seperti ini saja, aku sangat lelah"
__ADS_1
Ayra menatap suaminya yang sedang memeluk tubuhnya dengan kepala yang berada diatas dadanya itu. Ayra mengelus pelan kepala suaminya itu. Meski dia sadar jika saat ini sedang menjadi pusat perhatian banyak orang.
#####
Ayra turun dari dalam mobil dan langsung berlari ke dalam ruamh. Dia benar-benar sangat merindukan anaknya itu. Jadi Ayra tidak bisa bersabar untuk segera bertemu dengan anaknya. Aiden yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Tunggu aku Sayang"
Aiden segera mengejar Ayra yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Ayra langsung memeluk anaknya yang sedang bermain di depan televisi itu.
"Sayang, Bunda benar-benar sangat merindukan kamu"
Aiden langsung duduk diatas sofa dan membiarkan istrinya itu melepaskan kerinduannya pada sang buah hati.
"Nda.. Nda.."
"Iya Sayang, ini Bunda. Maaf ya karena Bunda sudah meninggalkan kamu terlalu lama" Ayra memangku Alerio diatas pangkuannya dan mencium pipinya dengan lembut.
"Bunda sangat merindukan kamu, Nak"
Kayak yang pergi berapa bulan saja, padahal tidak sampai dua minggu. Gumamnya. Aiden benar-benar merasa heran dengan Ayra yang bersikap seolah sudah sangat lama tidak bertemu dengan anaknya itu. Padahal mereka pergi hanya terhitung sebentar dari bulan madu yang sesungguhnya.
"Loh kalian sudah pulang?"
Ayra dan Aiden langsung menatap pada Mami yang baru saja datang menghampiri mereka. Mami duduk disamping Aiden.
"Iya Mam, abisnya Ayra terus merengek ingin segera pulang karena merindukan Alerio"
Mami tersenyum mendengar itu, dia menatap menantunya yang memang sedang meggendong Alerio diatas pangkuannya. "Ya, begitulah seorang Ibu, dia akan merasa sangat rindu dengan anaknya ketika dia berjauhan dengan anaknya itu. Meski hanya sebentar"
Bersambung
__ADS_1