Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Aku Tidak Percaya Jika Mereka Bercerai?!#


__ADS_3

Ayra terbangun pagi ini dengan keadaan yang semakin membaik dari sebelumnya. Meski kepalanya yang masih terasa sakit dan pusing. Ayra masih terlalu bingung dengan kejadian yang menimpa dirinya ini.


"Aku hilang ingatan? Tapi apa yang sebenarnya aku lupakan? Apa tentang aku yang sudah menikah dengan Tuan Aiden? Benarkah? Aku rasa tidak"


Sampai saat ini Ayra masih merasa jika dirinya baik-baik saja dan tidak kehilangan ingatan apapun. Namun entah kenapa setiap dia tidur, makaselalu ada bayangan-bayangan tidak jelas dalam mimpinya. Ayra tidak tahu apa itu.


Ceklek..


Pintu ruangan yang terbuka membuat Ayra menoleh ke arah pintu dan melihat seorang pria yang masuk ke dalam ruangannya. "Loh, Kak Noval?"


Noval adalah teman sekelas Ayra saat dia masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Pria itu cukup baik padanya dan selalu membela Ayra disaat gadis itu sedang dalam kesusahan atau menjadi korban bully teman-temannya yang lain.


"Hai Ay, maaf ya baru bisa jenguk kamu hari ini"


Ayra tersenyum, dia mengambil buket bunga yang diserahkan oleh Noval padanya. "Tidak papa Kak, lagian aku juga tidak kenapa-napa"


Noval tersenyum tipis, dia duduk di pinggir tempat tidur dan menatap Ayra yang masih terbalut perban di kepalanya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kamu beneran baik-baik saja Ay?"


Ayra mengangguk, lalu dia sadar ketika Noval menatap ke arah kepalanya yang masih terbalut perban. Membuat Ayra langsung menyentuh perban dikepalanya itu.


"Iya Kak, aku tidak papa. Ya, meski kepalaku masih sedikit sakit sekarang. Tapi aku benar-benar tidak papa"


Noval tersenyum mendengar itu, dia mengelus pelan kepala Ayra yang terbalut perban itu. "Mau jalan-jalan keluar gak? Cari udara segar"


"Emangnya boleh?"


"Tentu saja, aku sudah minta ixin pada Dokter untuk membawa kamu ke taman rumah sakit, dan Dokter juga mengizinkannya"

__ADS_1


Ayra tersenyum senang mendengar itu, jelas dia sudah merasa sangat bosan karena terus berada di dalam ruangan perawatan selama hampir satu minggu ini. Dan sampai sekarang dia juga belum diizinkan untuk pulang.


Akhirnya dengan menggunakan kursi roda, Noval membawa Ayra ke taman rumah sakit. Gadis itu terlihat senang sekali saat dia bisa melihat taman bunga dan bisa menghirup udara segar. Merasa sudah lama dia tidak merasakan udara yang sejuk seperti ini. Ayra melirik ke sekelilingnya dan memang banyak pasien lain yang juga sedang menikmati udara segar di sini.


"Kamu senang 'kan Ayra?"


"Iya Kak, terima kasih ya sudah membawa aku ke sini"


"Iya Ay"


Di lorong rumah sakit, Aiden sedang berjalan dengan buket bunga di tangannya. Dia ingin menemui istrinya saat ini. Setelah Mami yang mengabarkan jika Ayra sedang sendiri di rumah sakit saat Mami juga terpaksa harus pulang dulu dan tidak bisa terus menjaga Ayra di rumah sakit. Itupun secara bergantian dengan Saqila dan juga kedua orang tuanya.


"Sayang, aku datang...." Aiden terdiam ketika dia membuka pintu dan tidak melihat keberadaan istrinya disana. Aiden hanya melihat satu buket bunga diatas nakas.


"Kemana Ayra?"


Aiden berjalan ke arah rajang pasien dan meletakan bunganya di atas ranjang. Lalu dia berjalan ke arah kamar mandi dan melihat ke dalamnya, mengira Ayra ada disana. Namun ternyata istrinya itu memang tidak ada di ruangan ini. Aiden mulai panik, dia takut jika istrinya itu pergi meninggalkannya. Aiden segera menelepon pihak rumah sakit dan bertanya  keberadaan Ayra yang tidak ada di ruangannya.


Aiden mengerutkan keningnya bingung, dia tidak pernah mendengar jika istrinya mempunyai seorang teman. Karena Aiden juga tahu jika istrinya itu memang sangat sulit bergaul hingga dia nyaris tidak mempunyai teman. Lalu siapa yang mengaku temannya Ayra dan datang menjenguknya kesini? Gumamnya bingung.


Aiden segera mencari Ayra ke taman rumah sakit sesuai pemberitahuan dari pihak rumah sakit. Namun langkah cepat Aiden langsung melambai ketika dia melihat istrinya yang sedang tertawa senang bersama seorang pria di taman itu.


Sial, siapa pria yang berani sekali mendekati istriku.


Dengan rahang mengeras dan tangan yang mengepal erat, Aiden berjalan menghampiri dimana Ayra dan Noval berada. Langsung berdiri di depan Ayra dengan wajah dingin dan tatapan yang tajam.


" Tu-tuan, ada apa Tuan datang kesini?" Tanya Ayra yang sedikit gugup ketika dia melihat wajah dingin dan tatapan tajam Aiden.


"Kau yang sedang apa berada disini? Berduaan dengan seorang pria, apa kau lupa jika kau sudah menikah Hah?" Aiden sedang termakan api cemburu, hingga dia melupakan keadaan Ayra yang sebenarnya dengan membentak gadis itu membuatnya ketakutan.

__ADS_1


"Tuan, maaf. Tolong di jaga nada bicaranya, Ayra jadi ketakutan"


Aiden langsung melirik tajam pada pria yang duduk disamping kursi roda yang diduduki istrinya itu. "Kau tidak perlu ikut campur. Lagian mau apa kau mendekati istriku?"


Noval terdiam dengan hembusan nafas pelan. "Maaf Tuan, saya hanys menjenguk Ayra saja. Sebagai teman"


"Tidak ada kata teman diantara laki-laki dan perempuan. Kau faham?!"


Aiden langsung mendorong kursi roda Ayra dan membawanya pergi dari sana. Aiden masih benar-benar kesal ketika melihat istrinya yang sedang bersama pria lain dan tertawa begitu lepasnya.


"Tuan, saya tidak mau kembali ke ruangan. Saya masih ingin disini"


"Jangan membantah! Kau tidak boleh terlalu lama berada di luar ruangan. Keadaanmu belum stabil"


Ayra menghembuskan nafas kasar, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuat Aiden berhenti bersikap aneh seperti ini padanya.  Meski puluhan kali Aiden mengatakan jika Ayra ini adalah istrinya, Ayra tetap tidak bisa percaya soal itu disaat dirinya saja tidak ingat apapun tentang apa yang terjadi diantara dirinya dan Aiden.


"Tuan, saya tahu jika saya sedang hilang ingatan. Tapi Tuan tidak bisa memanfaatkan keadaan saya hanya untuk kesenangan Tuan saja"


Aiden menutup pintu ruangan, menatap Ayra dengan lembut. Kemarahannya karena cemburu sudah hilang ketika dia ingat keadaan Ayra saat ini. Aiden berlutut diatas lantai, dengan tangan berada diatas paha Ayra yang masih duduk diatas kursi roda.


"Setelah kau pulang ke rumah, aku akan tunjukan semua bukti jika kita memang sudah menikah. Agar kau percaya jika aku adalah suamimu"


Ayra menatap mata Aiden dengan lekat, jelas tidak ada kebohongan dibalik tatapan mata itu. Namun, Ayra merasa kepalanya kembali sakit ketika dia menatap mata Aiden terlalu lama. Seolah ada bayangan masa lalu di mata itu, namun tidak Ayra ketahui bayangan tentang apa itu.


"Kalau memang saya menikah dengan Tuan, lalu bagaimana dengan Nyonya Saqila?" Tanya Ayra dengan memalingkan wajahnya karena dia tidak bisa terlalu lama menatap wajah Aiden, kepalanya selalu terasa sakit.


"Aku dan Saqila sudah bercerai"


Ayra terdiam dengan perasaan tidak percaya. Karena yang dia tahu jika rumah tangga Aiden dan Saqila sangat harmonis dan romantis. Jadi rasanya cukup mustahil jika mereka bercerai.

__ADS_1


Aku tidak percaya jika mereka bercerai.


Bersambung


__ADS_2