Suamiku Dan Suamimu

Suamiku Dan Suamimu
S2 #Masalah Kontrasepsi Dan Bulan Madu?!#


__ADS_3

Ayra benar-benar tidak bisa menahan Aiden yang ternyata sudah melaporkan Noval pada polisi dengan bukti yang dia punya. Dan pagi ini mereka harus datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Apalagi ada laporan medis juga tentang keadaan Ayra pasca kecelakaan itu. Sudah pasti akan sedikit memberatkan Noval.


"Sayang, ayolah kenapa harus melakukan hal ini? Kamu 'kan tahu sendiri alasan Kak Nov...."


"Berhenti menyebut namanya dengan mulutmu! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku ketika mengetahuii kamu yang sama sekali tidak mengingat aku. Kamu yang aku cintai, yang hampir saja akan meninggalkan aku selamanya. Kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan saat itu"


Ayra terdiam ketika melihat tatapan Aiden yang penuh dengan keputus asaan. Jelas sekali jika Aiden sedang meluapkan kesedihannya ketika Ayra yang tidak mengingatnya waktu itu. Ayra memeluk suaminya dan tidak lagi membahas tentang Noval. Ayra hanya tidak ingin jika suaminya bersedih lagi.


"Aku sangat takut kehilangan kamu dan yang kau takutkan jika kamu tidak akan mengingat aku lagi. Kau tahu betapa hancurnya aku saat itu. Aku benar-benar hancur, hanya saja aku tidak menunjukannya. Karena bagiku, kamu adalah segalanya"


Ayra tidak bisa menahan air matanya lagi ketika mendengar ucapan suaminya barusan. Ayra sangat terharu dengan cinta suaminyayang benar-benar tulus untuknya.


"Iya Sayang, iya. Aku mengerti perasaan kamu"


Ayra benar-benar tidak tahu jika Aiden akan sehancur ini ketika dia dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ayra sangat merasakan Aiden yang sedang dalam keadaan yang sangat rapuh saat ini.


Ayra mengelus punggung tegap suaminya dengan lembut. Mengecup bahu Aiden yang memeluknya dengan erat. "Sudah ya, aku sudah sembuh dan tidak akan melupakanmu lagi"


Aiden melerai pelukannya, menatap mata Ayra dengan lekat. "Janji untuk baik-baik saja dan tidak akan membuat aku khawatir lagi"


Ayra mengangguk dengan tersenyum lembut pada suaminya. Mengelus pipi Aiden lalu mengecupnya dengan lembut. "Aku akan berusaha untuk bisa tetap baik-baik saja"


Ayra  hanya akan berusaha untuk tidak membuat auaminyasedih dan khawatir lagi. Tapi dia juga tidak bisa memastikan jika akan selalu baik-baik saja, karena semua yang terjadi padanya adalah sebuah takdir Tuhan. Semuanya sudah ada yang mengatur.


Dan akhirnya Aiden sendiri yang mencabut laporan pada Noval itu. Dia merasa jika hidupnya dan istrinya sedang tenang dan tidak mau jadi rumit karena kasus kecelakaan yang sudah lama terjadi.

__ADS_1


Di perjalanan pulang, Ayra menatap suaminya dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Merasa senang dengan keputusan yang telah suaminya ambil untuk kasus kecelakaan ini.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau sesenang itu ketika pria itu tidak jadi  masuk penjara?"


Ayra terkekeh lucu mendengar nada ketus dari suaminya itu. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Aiden yang sedang mengemudi. "Aku hanya senang karena kamu sudah lebih bisa memikirkan hal yang akan kamu lakukan sebelum benar-benar melakukannya"


"Aku melakukan itu juga karena memang aku sedang malas untuk banyak panggilan ke kantor polisi karena kasus ini"


"Baguslah, jadi kamu juga tidak perlu memperpanjang masalah ini"


Lagian Ayra memang sangat yakin jika Noval memang sedang dalam keadaan urgent saat itu sampai dia harus mengendarai mobilnya dengan sangat cepat.


"Sayang, kita mampir dulu di Restaurant Alvaro ya. Sudah lama aku tidak makan disana"


Ayra mengangguk, dia juga memang sudah lama tidak mampir ke Restaurant milik sahabat suaminya ini.


"Sayang, terima kasih ya karena kamu sudah menjaga aku dan selalu sabar ketika aku sakit kemarin sampai tidak mengingat kamu"


Aiden tersenyum mendengar itu, dia meraih tangan istrinya yang berada di atas meja. Mengecup punggung tangan Ayra yang berada dalam genggamannya.


"Semuanya akan aku lakukan asalkan kamu bahagia dan kembali mengingat aku. Sekarang aku hanya ingin kamu terus sehat dan bisa melahirkan adik untuk Alerio"


Suasana yang hampir terasa sangat romantis ini langsung  buyar seketika. Ayra mendengus pelan mendengar ucapan suaminya itu. "Sayang, Alerio masih terlalu kecil. Nanti aku akan kerepotan kalau harus mengurus dua anak kecil di rumah. Kasihan Mbak kalau harus mengurus dua anak. Mengurus Alerio saja dia sudah sangat kewalahan, apalagi sekarang Alerio sedang dalam masa aktif-aktifnya"


"Kita bisa mencari pengasuh yang baru untuk anak kedua kita itu"

__ADS_1


Ayra mencebikan bibirnya ketika suaminya benar-benar tidak mau menyerah. "Kamu lupa ya, aku 'kan masih memakai kontrasepsi. Jadi tidak mungkin hamil"


Aiden langsung cemberut mendengar itu. "Yaudah kalau gitu, kamu harus lepas kontrasepsi itu sebelum kita pergi bulan madu"


"Hah? Bulan madu? Maksud kamu?"


"Ya, kita akan berbulan madu setelah kondisi kamu benar-benar stabil dan kamu juga sudah harus melepas kontrasepsi"


Ayra terdiam dengan keterkejutannya, dia tidak menyangka jika Aiden masih memikirkan tentang rencana bulan madu itu. Padahal rencana itu sudah lama berlalu, dan Ayra kira jika suaminya itu sudah melupakan tentang rencana bulan madu yang terlambat ini. Tapi ternyata tidak.


Benar saja ketika sampai di rumah Aiden langsung membahas tentang bulan madu ini pada kedua orang tuanya. Membuat Ayra merasa malu saja, karena usia pernikahan mereka juga sudah berjalan ke 4 tahun, kenapa Aiden begitu maemaksa untuk melakukan bulan madu yang terlambat ini.


"Mam, apa Mami bisa mengantar Ayra untuk melepas kontrasepsi? Aku ingin dia hamil lagi"


"Ya ampun Aiden" Mami saja sampai merasa heran dengan ucapan anaknya ini. Mami melirik menantunya yang menunduk dengan wajah yang memerah. Sudah pasti Ayra sangat malu dengan kelakukan suaminya ini.


"Kamu pergi sendiri dan antar istrimu untuk melepas kotrasepsinya. Jangan mau enaknya saja kamu!" tekan Mami pada Aiden


Dan Aiden hanya mengiyakan tanpa keberatan sama sekali. Papi yang sejak tadi hanya duduk diam disamping istrinya hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala kecil melihat kelakuan anaknya yang benar-benar hampir mirip dengannya.


Akhirnya setelah obrolan diruang tamu, Aiden membawa istrinya ke dalam kamar. Aiden menatap istrinya yang duduk di sofa dengan wajah kesal. Membuat Aiden bingung saja kenapa Ayra jadi kesal begitu saja. Aiden duduk di samping istrinya dan merangkul bahu Ayra, namun langsung di tepis pelan oleh istrinya itu.


"Sayang kamu kenapa?" Kesal juga karena lengannya yang ditepis oleh istrinya itu.


"Kamu apaan si pake suruh Mami untuk mengantar aku lepas kontrasepsi. Aku 'kan malu"

__ADS_1


Aiden menghela nafas pelan, kini dia tahu kenapa istrinya itu kesal padanya. Aiden memeluk Ayra dengan erat. "Maaf Sayang, besok biar aku saja yang mengantar kamu untuk pergi ke dokter"


Bersambung


__ADS_2