
Ayra begitu bersemangat saat dia memasuki mall, dia sudah tidak sabar untuk membeli segala perlengkapan untuk bayinya. Aiden langsung menahan lengan istrinya, membuat Ayra berhenti melangkah dan menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bingung.
"Kenapa?"
"Pelan-pelan jalannya, lagi hamil juga. Kalau gak hati-hati, kita gak jadi saja beli perlengkapan bayinya, biar Rega saja yang mengurus" tekan Aiden dengan menatap tajam pada istrinya.
Ayra menghela nafas pelan, suaminya memang semakin menjadi saja overprotektive nya. "Iya iya, aku akan lebih hati-hati"
Ayra merangkul lengan suaminya agar dia tidak terlalu kesal padanya. Kepalanya menyandar di lengan Aiden. "Sekarang ayo kita jalan"
Berjalan menyusuri mall dengan Ayra yang terus bergelayut manja di lengan suaminya. Tentu saja Aiden tidak merasa keberatan akan itu, dia senang dan bahagia saat istrinya tidak jauh darinya. Karena pada sebelumnya, Ayra selalu menjaga jarak saat mereka berada di luar rumah. Ayra seolah takut jika hubungan mereka ketahuan. Tapi saat ini, istrinya terlihat lebih bebas dan lebih berani menunjukan kepemilikan dirinya atas Aiden.
Aiden duduk di sofa yang berada di sebuah toko perlengkapan bayi dan anak. Menatap istrinya yang sangat antusias untuk memilih beberapa pakaian untuk calon bayi mereka.
"Sayang mau kemana?" Aiden langsung sigap saat melihat istrinya yang berjalan menjauh dari pandangannya.
Ayra menoleh, menatap ke arah suaminya yang sudah berdiri dari duduknya di sofa. "Aku mau kesana, lihat yang ada disana"
"Suruh pekerjanya saja untuk ambilkan, kamu tinggal tunjuk saja mana yang ingin kamu lihat. Gak perlu kamu yang pergi ke sana. Sayang, ingat kamu sedang hamil besar" Aiden berkata sambil melirik tajam pada pelayan toko, karena sudah membiarkan istrinya mengambil sendiri barang yang dia ingin lihat.
"Em.. Iya Nona, biar saya saja yang ambilkan. Nona mau lihat yang mana?" Si pelayan toko langsung gelagapan. Bodohnya dia karena terpesona dengan ketampanan Aiden hingga tidak sadar jika pelanggan yang sedang di layaninya sudah berjalan menjauh darinya untuk melihat-lihat barang yang berada di ujung toko.
"Yaudah Mbak, saya mau lihat yang itu. Apa ada warna lain" Ayra menunjuk salah satu barang yang ingin dia lihat. Sebenarnya Ayra sangat merasa tidak enak dengan sikap suaminya pada si pelayan toko.
__ADS_1
Ayra menghampiri suaminya selama pelayan tadi mengambilkan apa yang Ayra inginkan. "Sayang, jangan gitu dong. Kasihan pelayan tadi, kelihatannya takut banget sama kamu"
Aiden mengelus kepala istrinya dan mengecupnya. "Lagian dia berani sekali menbuat istriku ini kelelahan"
Ayra menghela nafas pelan, memang seperti ini suaminya sekarang. Selalu saja overprotektive saat semua hal yang menyangkut dirinya. Meski terkesan berlebihan, tapi Ayra senang karena dengan semua perlakuan suaminya yang ini. Ayra merasa jika dirinya begitu berarti untuk suaminya.
Setelah beberapa perlengkapan Ayra beli, Aiden langsung menghentikan Ayra yang masih ingin berbelanja perlengkapan lainnya. "Tidak Sayang, ini sudah waktunya makan siang. Kau dan bayi kita harus Mkn dulu"
Dan Ayra benar-benar tidak benar-benar menolak lagi. Dia menurut saja saat suaminya membawanya ke restaurant di dalam mall ini. Makan siang dengan tenang, Ayra memang sedikit lelah sampai kakinya terasa cukup pegal. Dia kalap juga saat melihat baju-baju mungil menggemaskan untuk calon bayinya nanti. Sampai tidak sadar jika dirinya telah menghabiskan waktu beberapa jam.
"Ayra..."
Selesai makan siang, Ayra di kejutkan dengan seseorang yang menghampiri dirinya. Ayra menoleh dan detak jantungnya langsung berdegup kencang. Dia adalah teman satu angkatannya di kampus. Tidak bisa di sebut teman, karena memang Ayra tidak merasa berteman dengannya.
"Emm. Iya?" Ayra hanya bisa menjawab itu, dia tidak terlalu akrab dengan gadis yang menyapanya ini. Namun yang Ayra takutkan saat ini, adalah gadis itu yang melihat dirinya sedang bersama Aiden. Hal itu yang pastinya membuat gadis itu menyapa Ayra.
"Wahh. Ini beneran kamu ya, kirain aku salah lihat. Kamu datang bersama siapa kesini?"
Ayra tahu tujuan gadis ini, dia melirik Aiden dengan khawatir. Ayra memang sudah mempublikasikan jika dirinya sudah menikah. Tapi Ayra tetap tidak memberi tahu siapapun tentang suaminya yang sebenarnya. Bahkan Tami saja tidak tahu siapa sebenarnya suami Ayra ini.
"Emm.. Ak-aku.."
"Hai Nona, perkenalkan saya Aiden Narendra, saya adalah suaminya Ayra"
__ADS_1
Deg..Deg..
Aiden berkata dengan tenang, dia menyodorkan tangannya pada gadis itu yang langsung di sambut olehnya dengan gelagapan. Aiden tidak tahu saja jika ucapannya barusan bagaikan bom peledak bagi Ayra. Dia tidak bisa membayangkan jika banyak orang yang tahu tentang pernikahan mereka. Maka kehidupan ke depannya akan seperti apa? Ayra pasti akan di cap sebagai perebut suami orang karena pernikahannya yang di laksana saat Aiden masih bersama Saqila hingga akhirnya mereka bercerai saat ini.
Gadis itu mengamati wajah Aiden dengan lekat. Dia seolah mengena wajah pria itu. "Emm. Maaf, bukannya ini mantan suaminya Nyonya Saqila, yang pengusaha scincare itu ya. Yang waktu itu lagi rame banget di tv gara-gara kalian bercerai, padahal kalian adalah pasangan yang sangat serasi dan selalu di idam-idamkan masyarakat"
Ayra semakin gelisah, kedua tangannya saling bertaut di bawah meja. Apalagi saat gadis itu menatap ke arahnya dengan mata menyipit. "Ohh. Aku mengerti sekarang Ayra, ternyata kamu ya yang di isu 'kan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Nyonya Saqila dan Tuan Aiden ini"
Ayra menunduk, dia bingung harus menjawab apa karena apa yang di ucapkan gadis itu memang benar adanya. Dirinya memang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Aiden dan Saqila. Itu kenyataannya, Ayra tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri jika semuanya akan tetap baik-baik saja setelah ini. Meski suaminya sudah memilihnya dan mencintainya. Tapi kehidupan mereka tidak akan cukup sampai di situ saja. Akan masih banyak cobaan lain ke depannya.
"Maaf Nona, jika anda tidak ingin saya menghancurkan hidup anda dan keluarga anda. Maka berdiamlah, jaga mulut anda untuk tidak menyebar berita yang tidak-tidak. Saya pastikan akan menemukan dimana pun anda akan bersembunyi. Jadi, lebih baik jangan menyebarkan apapun tentang kejadian hari ini. Lebih baik anda diam dan simpan saja apa yang anda ketahui hari ini, untuk diri anda sendiri. Mengerti!"
Suara dingin penuh penekanan itu benar-benar membuat gadis itu bergetar ketakutan. Akhirnya dia segera pergi dari sana tanpa berani berkata apapun lagi. Dia hanya akan menyimpan kejadian hari ini untuk dirinya sendiri. Karena ancaman Aiden bukanlah main-main.
Ayra menghela nafas, jika hari ini teman kampusnya. Maka hari-hari selanjutnya mungkin akan lebih banyak orang lagi yang mengetahui tentang statusnya. Ya, dia menikah dengan Aiden secara sah dan resmi. Namun, tidak banyak orang yang mengetahuinya. Membuat nama Ayra tetap akan ter-cap buruk di mata orang-orang.
Karena mereka semua tidak tahu apa yang Ayra alami selama ini, tidak mudah bagi Ayra untuk menjalani kehidupannya selama ini. Menjadi istri bayaran Tuan Aiden dan melahirkan anaknya. Hingga takdir berkata lain dan menjadikannya sebagai istri satu-satunya untuk Aiden, yang pria itu sangat cintai.
Apapun itu, aku serahkan padamu Tuhan. Biarkan semuanya sesuai takdirmu.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5
__ADS_1