
"Apa yang kau bicarakan saat kau dan Saqila bertemu secara diam-diam?"
Ayra terdiam mendengar pertanyaan Aiden. Rasanya lidahnya langsung kelu, tidak bisa mengatakan apapun lagi. Seolah semua kata yang ingin dia katakan langsung tercekat di tenggorokannya. Ayra menatap suaminya yang masih menatapnya dengan dingin. Aiden seolah tahu apa yang Ayra coba sembunyikan saat ini.
"Jadi, apa yang kau sembunyikan dariku Ayra?" tekannya
Ayra menghembuskan nafas pelan, dia bingung harus bagaimana. Menceritakan semuanya? Rasanya tidak mungkin. Dia akan semakin berada dalam satu masalah yang besar. Lagian belum tentu Aiden akan percaya begitu saja padanya.
"Emm. Aku hanya di ajak makan sama Nyonya, dia baik sekali sampai selalu datang dan mengajak aku makan bersama"
Entah kenapa jawaban Ayra bisa sama dengan jawaban Saqila. Aiden jadi tidak bisa menekan Ayra lagi, karena tidak mungkin dua orang berbohong dengan sama dalam satu waktu. Tidak mungkin juga mereka saling berkontekan agar bisa membuat jawaban yang sama. Setahu Aiden tidak pernah ada chat Ayra dan Saqila di ponsel istrinya itu. Setiap malam Aiden selalu diam-diam mengecek ponsel Ayra setelah dia tertidur. Aiden hanya ingin tahu apa ada chat atau apapun yang mencurigakan di ponselnya. Tapi bedanya Ayra dengan Saqila adalah, ketika gadis itu bahkan tidak memakai kunci ponselnya. Sehingga siapa saja bisa membuka ponselnya.
"Bener hanya itu? Apa tidak ada yang lain?" Rasanya Aiden masih merasa ada yang janggal dengan semua ini. Tapi dia juga tidak bisa menuduh Saqila yang tidak-tidak jika Ayra saja menjawab seperti itu. Lalu, apalagi yang harus Aiden curigai?
"Iya Sayang, aku tidak mungkin berbohong padamu. Emangnya aku berani?"
Maafkan aku, semuanya aku lakukan agar tetap terlihat baik-baik saja. Biarkan aku yang mengalah dan membiarkan kalian hidup bahagia bersama anak di dalam kandunganku nanti.
Akhirnya Aiden beringsut dan membawa Ayra ke dalam pelukannya. Mencium keningnya dengan hangat. "Awas saja kalau berani bohong, aku akan marah"
"Iya Sayang" Aku berbohong juga karena aku tidak mau semakin menghancurkan hubungan pernikahan kalian. Aku merasa kehadiran ku menjadi segala penyebab di setiap pertengkaran kalian.
Berakhir dengan saling berpelukan, Aiden sudah tenang kembali setelah mendengar jawaban dari kedua istrinya. Namun entah kenapa hatinya masih tidak langsung percaya begitu saja. Seolah masih ada hal yang mengganjal di hatinya. Tapi Aiden tidak bisa untuk memaksa dan menuduh Saqila ataupun Ayra. Mereka sudah menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sama. Jadi, Aiden tidak seharusnya terus menuduh Saqila dan memaksa Ayra untuk menjawab jika Saqila telah menekannya atau mengancamnya.
Pagi ini Ayra terbangun dengan suasana hati tidak terlalu baik. Pertanyaan Aiden semalam benar-benar mengganggu fikirannya semalaman. Jika seperti ini, maka Ayra benar-benar harus hati-hati ketika Saqila yang menemuinya secara diam-diam.
Apa Nyonya sudah tahu ya jika Tuan Aiden mengetahui tentang pertemuan diam-diam kita?
__ADS_1
Ayra mengaduk masakan di dalam wajan dengan fikiran melayang entah kemana. Sampai sepasang tangan kekar yang melingkar di perutnya membuat Ayra tersadar. Hampir saja masakannya gosong, jika Aiden tidak datang dan memeluknya.
"Ya ampun" Ayra segera mematikan kompor dan mengangkat masakannya ke atas piring. Ayra menatap masakannya dengan wajah terkejut. "...Untung saja tidak gosong"
"Lagian kamu ngelamunin apa? Sampai tidak sadar dengan masakan yang hampir saja gosong"
Ayra berbalik dan menatap suaminya, dia berjalan ke arah meja makan dan menaruh piring berisi masakan tadi di atas meja makan. "Aku hanya sedang memikirkan tugas kuliah, Sayang. Lagi numpuk banget, nanti malem kamu bantuin aku kerjain ya"
Aiden mengikuti Ayra, dia mengecup keningnya. "Iya nanti aku bantu"
Karena Ayra yang sedang tidak mood, jadi pagi ini mereka hanya sarapan dengan satu menu saja yang baru saja Ayra masak dan hampir saja gosong. Untungnya masih terselamatkan.
Selesai sarapan, Aiden dan Ayra segera berangkat. Sampai di tempat biasa Aiden menurunkan Ayra jika mengantarnya kuliah. " Pulang jam berapa?"
"Sekarang waktunya biasa lagi, gak ada kelas tambahan"
Aiden mengangguk, dia mengelus kepala Ayra lalu mengecupnya. "Hati-hati ya, apalagi kamu yang sedang hamil. Jadi jangan terlalu terburu-buru kalau jalan"
"Iya Sayang, oh ya lusa jadwal aku periksa kandungan"
Aiden tersenyum, selalu ada debaran bahagia saat dia mengantar Ayra memeriksa kandungannya. Mendengar detak jantung anaknya, melihat kondisi anaknya di layar monitor. Hal itu selalu menjadi momen mengharukan bagi Aiden.
"Iya Sayang, nanti aku antar ya"
Ayra mengangguk, dia meraih tangan kanan suaminya dan menciumnya. "Berangkat ya, hati-hati di jalan"
Dan setiap kali Ayra melakukan ini pun, selalu membuat Aiden tersentuh. Dia selalu merasa sangat di hargai sebagai seorang suami saat Ayra memperlakukannya seperti ini.
__ADS_1
"Iya Sayang"
Ayra turun dari mobil dan berjalan menuju kampusnya. Sampai di gerbang masuk dia langsung di sambut oleh sahabatnya, Tami yang juga baru datang. Dia sedang memarkirkan motornya.
"Pagi Ay, bagaimana debay apa baik-baik saja" Sudah seperti seorang suami saja, Tami selalu mengelus perut buncit Ayra saat mereka bertemu atau akan berpisah.
"Baik Mi, ayo ke kelas"
Tami mengangguk, mereka saling merangkul tangan dan berajalan menuju kelas. Sepanjang jalan, Tami sesekali mengelus perut Ayra. Memikirkan bagaimana jika tubuh mungilnya yang nanti akan hamil. Tapi, bagaimana bisa hamil. Jangankan suami, calon pacar saja tidak ada. gumamnya.
"Ay, hamil itu enak gak sih?"
Mereka telah sampai di kelas, Tami dan Ayra duduk di bangku masing-masing. Tami sengaja membalikan tubuhnya ke bangku belakang, dimana Ayra yang duduk disana. Dosen belum datang, jadi dia masih bisa mengobrol dengan Ayra.
Ayra tersenyum, dia mengelus perutnya. Terasa ada pergerakan dari dalam sana, membuat senyumnya semakin mengembang. "Ada enaknya, ada gak enaknya juga Mi. Enaknya karena kita bisa merasakan bagaimana proses untuk menjadi seorang Ibu, bisa merasakan gerakan dari bayi kita. Pokoknya ada perasaan yang benar-benar tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata. Gak enaknya, ya karena suka mual di trimester pertama, gerak juga terbatas saat kehamilan sudah besar. Ya pokoknya hamil itu nano nano deh Mi, kamu akan tahu rasanya setelah kamu hamil"
Tami memukul lengan Ayra yang berada di atas meja. "Ya ampun Ay, jangan dulu membicarakan itu. Calon pacar saja gak punya, lagian siapa si yang mau sama cewe berkacamata kayak aku"
Ayra tersenyum, dia mengelus punggung tangan Tami. "Tami Sayang, kamu coba deh pake kacamatanya kalau lagi baca buku sama belajar aja. Kan kalau lagi gak ngelakuin kegiatan itu, kamu bisa lepas kacamatanya. Lagian kamu cantik kok pakai kacamata"
Tami berdecak, tahu jika Ayra hanya sedang mencoba menghiburnya saja. "Karena sudah terbiasa, aku justru gak percaya diri kalau aku tidak memakai kacamata Ay"
"Yasudah kalau gitu, percaya diri saja dengan gayamu. Ini kamu dan jangan pernah berubah menjadi mereka. Kamu ya diri kamu, jangan ingin berubah menjadi orang lain"
"Iya Ay, makasih ya sudah mau menajdi sahabatku"
Ayra tersenyum mendengar itu. Seorang Dosen masuk dan Tami segera membalikan tubuhnya. Mereka pun fokus dengan kelas hari ini.
__ADS_1
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. Berikan bintang rate 5