
Beberapa bulan berlalu..
Hari ini Ayra sudah siap denga gaun yang panjangnya di bawah lutut. Gaun yang senada dengan warna jas yang di pakai suaminya dan anaknya.
Alerio Narendra, nama untuk anak pertama mereka yang usianya baru 5 bulan. Ayra sudah siap dengan menggendong Alerio, menunggu suaminya keluar dari ruang ganti. Entah apa yang Aiden lakukan hingga lama sekali berada di dalam ruang ganti.
"Sayang, lagi apa? Kenapa lama sekali..." teriak Ayra yang mulai kesal menunggu suaminya. "....Aku keluar duluan ya, temui Mami"
Ayra berjalan ke luar kamar dengan menggendong Alerio. Sejak melahirkan, memang Aiden memilih pindah dan membawa keluarga kecilnya ke kediaman Narendra. Aiden tidak mau jika istri dan anaknya sampai kenapa-napa dan tidak ada siapapun yang mengawasinya. Setidaknya jika tinggal di rumah, akan ada Mami dan beberapa pelayan.
Ayra menghampiri Mami yang sedang duduk di depan televisi. Dia juga sudah siap dengan gaun senada dengan Ayra. Mami tersenyum saat melihat menantunya datang, lalu dia mengambil alih Alerio dari gendongan Ayra. Mendudukan bayi itu di atas pangkuannya.
"Cucu Oma sudah tampan ya, wangi lagi"
Ayra tersenyum melihat anaknya yang tertawa geli saat Omanya menciumnya dengan gemas. Rasanya, Ayra tidak pernah menyangka jika hidupnya akan sesempurna saat ini. Ayra yang awalnya hanya menjadi seorang istri bayaran untuk suaminya. Tapi tidak di sangka dia bisa menjadi istri satu-satunya untuk Aiden. Takdir Tuhan memang tidak bisa di tebak.
"Sayang, kamu gak tungguin aku ihh"
Mami langsung memutar bola mata malas saat putranya datang. Setelah tinggal satu rumah lagi dengan anak dan menantunya, Mami merasa sangat terkejut melihat sifat Aiden yang benar-benar berubah drastis dari Aiden yang dulu. Tapi, Mami senang karena perubahan Aiden juga menjurus pada kebaikan. Aiden yang selalu dingin dan tegas, meski dengan keluarganya. Berubah menjadi Aiden yang hangat dan penyayang. Apalagi saat bersama istrinya, Aiden adalah sosok suami yang manja.
Ayra tersenyum, dia berdiri dan menghampiri suaminya yang berdiri di dekat ujung sofa yang di dudukinya. Ayra sedikit merapikan jas dan dasi yang di pakai oleh suaminya.
"Lagian kamu kok lama sekali? Apa aku salah menyiapkan pakaian?"
Aiden menggeleng pelan, dia mencium kening istrinya dengan lembut. "Aku hanya sedang mencari jam tanganku yang ini.." Menunjukan lengan kirinya yang terpasang arloji.
__ADS_1
Ayra mengerutkan keningnya, itu adalah jam tangan yang Ayra berikan pada suaminya saat genap satu tahun pernikahan mereka. Itu bukan sebuah jam tangan berharga, bahkan Ayra saja merasa malu saat memberikannya. Apalagi saat suaminya memberikan sebuah kalung permata yang indah. Sudah pasti harganya bisa mencapai beberapa digit. Ayra memegang lengan suaminya dan menatap jam tangan yang melingkar di lengan kiri suaminya itu.
"Kenapa pakai yang ini? Kan masih banyak jam tangan kamu yang lain. Itu lebih bagus, jangan pakai yang ini ahh" Aku merasa harga dirimu akan jatuh saat memakai jam tangan murahan itu.
"Kenapa memangnya? Aku ingin memamerkannya pada semua orang, jika ini adalah hadiah dari istriku tercinta" Aiden mencium pipi istrinya setelah mengatakan itu, lalu dia berjalan ke arah Mami dan anaknya yang mengacuhkan percakapan mereka. Mami sudah tahu sebucin apa putranya pada Ayra.
"Mam, Papi mana?"
"Masih di kamar, kamu susul sana. Kita harus segera berangkat sebelum acaranya di mulai"
Aiden mengangguk, lalu dia berjalan ke arah kamar Ayahnya. Mengetuknya sebelum dia membuka pintu. "Pi, ayo berangkat. Kata Mami kita tidak boleh terlambat di acara pernikahan Saqila"
"Iya sebentar.." Papi membuka laci meja rias dan menghela nafa lega saat menemukan barang yang sedang di carinya.
Aiden menghampiri Ayahnya, dia menepuk bahu Ayahnya pelan. "Papi sedang cari apa?"
Rasanya Aiden ingin tertawa, karena kelakuan dirinya dan Ayahnya sangatlah sama. Selalu merasa senang danĀ bangga saat memakai barang yang di hadiahkan oleh istri tercinta. Meski harga dan merek barang yang tidak terkenal dan biasa saja. Tapi, mereka selalu merasa bangga dan senang menggunakan barang yang di berikan istri tercinta.
"Yaudah, ayo kita keluar. Mami dan Ayra sudah menunggu kita"
"Oke"
Kedua pria tampan beda usia itu keluar dari kamar. Ketampanan keduanya yang memang sangat mirip, hanya usia saja yang membedakan. Kedua pria itu langsung menggandeng pasangan masing-masing.
Akhirnya sampai juga mereka di tempat acara pernikahan Saqila dan Alvino di laksanakan. Aula gedung yang sudah di hias sedemikian rupa. Ayra dan Aiden duduk di kursi paling depan dengan karpet merah yang tergelar. Di samping Ayra ada Mami dan Papi. Pengantin wanita berjalan anggun dengan gaun mewah dan satu buket bunga di tangannya. Berjalan menuju pengantin pria yang sudah berdiri gagah di ujung karpet merah ini. Di sampingnya ada kedua orang tuanya yang mendampinginya. Sampai di depan pria yang akan menjadi suami keduanya, dan menjadi suami terakhir baginya.
__ADS_1
Papa menyerahkan tangan putrinya yang sejak tadi dia genggam pada tangan pria yang akan menjadi suami dari putri pertamanya ini. Pria yang akan menjaga putrinya selamanya, menggantikan dirinya. Papa dan Mama hanya berharap jika ini adalah pernikahan terakhir bagi Saqila.
"Papa serahkan jiwa dan raga putri Papa padamu Vin. Tolong di jaga dan bahagiakan dia. Terima segala sifat buruknya dan segala kekurangannya, jangan hanya kelebihannya saja"
Alvino mengangguk, dia menggenggam tangan Saqila dengan kedua tangannya. "Aku berjanji akan selalu membahagiakan Saqila, tidak akan aku menyakitinya. Pegang janjiku Pa, aku akan selalu mencintainya dan membahagiakannya"
Janji yang terucap dari hartinya, Alvino mencintai Saqila dengan sepenuh hatinya. Perjuangannya selama ini akhirnya tidak sia-sia. Menunggu seorang perempuan yang bahkan telah menikah dengan temannya sendiri. Namun, ternyata takdir masih berpihak padanya.
"Baik, Papa akan pegang janjimu"
Papa dan Mama pergi dari sana dan duduk di antara para tamu yang hadir. Sementara Alvino mulai membuka penutup wajah istrinya. Mengaitkannya ke belakang kepala istrinya. Alvino begitu terpesona dengan wajah istrinya. Beberapa menit yang lalu, dia telah resmi menikahi wanita di depannya ini.
"Baiklah, mari kita saksikan persatuan cinta mereka dengan ciuman.." Seorang MC sedang mengambil alih acara, memprovokasi para penonton untuk bersorak agar sepasang pengantin itu berciuman.
Mendengar sorak sorai dari para tamu yang hadir, membuat Saqila tersenyum dengan wajah yang memerah. Meski ini adalah pernikahan keduanya. Tapi, tetap saja dia merasa malu.
Alvino meraih tengkuk leher Saqila, lalu mencium bibirnya dengan lembut. Suara tepuk tangan meriah memenuhi ruangan.
Aiden langsung mencium pipi istrinya, dia bahagia melihat Saqila bahagia dan dia juga bahagia karena bisa bersama Ayra.
"Aku mencintamu"
Ayra menoleh dan tersenyum "Aku juga mencintaimu, selamanya akan mencintaimu"
Tidak ada lagi kalimat 'Suamiku Dan Suamimu'. Saat ini, suami Saqila dan Ayra berbeda. Mereka telah bahagia dengan pasangan masing-masing dan juga bahagia menjadi sebuah keluarga besar yang saling menyayangi. Menerima kenyataan jika Saqila dan Ayra adalah saudara satu Ayah.
__ADS_1
Mama dan Papa akan segera kembali ke luar negara, tempat tinggal mereka. Itulah alasannya kenapa dia tidak tahu apa-apa tentang pernikahan anaknya. Karena memang mereka sangat jarang berkunjung. Dan itulah sebabnya kenapa Papa tidak pernah bertemu dengan Ibu Sumi saat bekerja di rumah Saqila.
...END.....